
Setelah rasa khawatir Yasmine mereda, kini sepasang suami istri itu tengah menikmati waktu berdua di atas tempat tidur. Mereka berdua hanya saling memeluk satu sama lain, tidak lebih. Elvier dan Yasmine tengah menikmati masa masa pengantin baru mereka yang sempat tertunda selama beberapa bulan ini, karena termakan ke egoisan masing masing.
Elvier yang masih memakai handuk tidak membuat Yasmine risih sama sekali, wanita itu bahkan terlihat begitu nyaman menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Bahkan jari jemari nakalnya sudah bergelayar menyusuri lekuk otot perut Elvier, membuat pria berkulit tan itu memejamkan kedua mata.
Gerakan jari jemari Yasmine terhenti saat sudut matanya melihat aksara kecil di lengan atas Elvier. Ukiran aksara itu membuat rasa penasarannya muncul, padahal Elvier sering menunjukan tatonya saat pria itu naked.
Namun entah kenapa kali ini Yasmine begitu terpesona, jemari lentik itu bergerak mendekat- membelai perlahan membuat Elvier membuka kedua mata.
"Sejak kapan?"
Mulut Yasmine begitu gatal untuk bertanya, walaupun rasa penasarannya tidak berarti apa apa untuk Elvier, karena Yasmine tahu kalau tato itu sudah ada sebelum mereka di pertemukan oleh Tuhan.
"Sejak Ibu meninggal," sahut Elvier tenang.
Gerakan jari jemari Yasmine yang sempat berhenti, kini kembali menyusuri satu persatu kata yang tidak di mengerti olehnya. Kata kata itu seperti bahasa yang tidak ada di perkamusan dunia, atau mungkin otak dia saja yang sedikit lemot. Elvier membuatnya sejak Ibunya meninggal, berarti saat itu usia Elvier sekitar 16 sampai 17 tahunan, usia yang bisa dibilang masih cukup labil.
"Apa ini enggak sakit?" ringis Yasmine kala membayangkan bagaimana rasanya saat jarum tajam mengoyak kulitnya.
__ADS_1
"Tidak! lebih sakit saat tahu Ibu mu tiada karena Ayahmu sendiri." ucap datar Elvier.
Yasmine berdehem pelan mendengar jawaban yang di lontarkan suaminya, ada rasa tidak enak kala mendengar nada dingin Elvier. Dia yakin kalau sang Pangeran Kedua tengah menahan sesuatu didalam dirinya saat ini.
"Tidak perlu merasa tidak enak, Mine. Memang begitulah kenyataannya, saat itu aku banyak membangkang perintah Ayahku, hingga membuat dia marah. Dan puncaknya saat ada kejadian yang membuat Lavera mampu mengusirku dari istana ini, tanpa uang sepeser pun. Hingga akhirnya aku di rawat oleh Paman Ahmet- adik kandung Ibu ku satu satunya selama satu tahun." ucap Elvier lagi, saat menyadari Yasmine merasa canggung padanya setelah bertanya tentang ukiran yang ada di tubuhnya.
Dan secara tidak sadar sekarang Elvier tengah menceritakan alur hidup yang selama ini dia jalani.
"Aku kembali bangkit saat mengingat ucapan Ibu ku untuk terakhir kalinya, ' jangan pernah bersandar pada bahu seseorang terlalu nyaman, saat sang pemilik bahu itu pergi kau akan terjatuh, karena kau kehilangan pegangan mu'," lanjut Elvier, sembari mengeratkan pelukannya pada Yasmine.
Sementara sang Princess terus saja menyimak dengan baik, kini dia tahu kenapa Elvier bersikap buruk. Sang Pangeran ingin membuktikan kalau dia bisa berdiri diatas kakinya sendiri, mendapatkan yang dia mau tanpa campur tangan orang lain. Menutupi luka yang menganga dengan sikap angkuh, arogan, sombong, otoriter, mata duitan dan sedikit kejam, agar orang lain tidak dapat melihat kelemahan yang ada didalam dirinya, termasuk dia- Yasmine sendiri.
Bahkan ucapannya itu berhasil membuat Elvier menundukkan kepalanya, pria itu terkekeh kecil sembari mengecup pucuk kepala Yasmine gemas.
"Justru aku berharap kalau kau akan terus bersandar padaku, tidak akan menjauh sedikit pun." sahut Elvier terlihat serius.
Yasmine bahkan berkedip cepat kala melihat Elvier menatap dalam padanya, saat Yasmine mendongak agar dia bisa melihat wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Seperti ini contohnya-," lanjut Elvier
Nyott!
"Aakkhh!"
Yasmine memekik, kedua matanya membulat saat merasakan remasan nakal di area dadanya. Elvier dengan nakal meremas kedua bukit botak kembar miliknya bergantian. Bahkan pria itu terlihat menyeringai mesum padanya saat ini. Persis seperti Om Om pedofil yang sedang mengincar gadis kecil nan polos sepertinya. Kedua bukit kebanggaannya terasa ngilu dan sakit, akibat remasan yang di lakukan Elvier. Bukannya terangsang, tapi malah membuat emosi Yasmine terpancing.
"Tangannya ya! gak sopan mencet mencet, kalau mau bilang aja jangan mencet! sakit tau!" protes Yasmine, dia bahkan membalasnya dengan mengigit put*ing kecil Elvier tanpa perasaan, membuat pria itu terpekik karena kesakitan.
"Aaakhh! astaga Mine, jangan digigit." keluh Elvier.
Pria yang masih bertelanjang dada itu menggosok put*ingnya yang terasa sakit dan ngilu, akibat gigitan ganas Sang Princess.
"Lihat aja, aku gigit Lobak kamu ya!" ancam Yasmine dengan mata memicing penuh peringatan.
__ADS_1
AKU GIGIT NIH, RRRRWWWW