Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 102.


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar, Elkan mengusir Elena dari rumahnya. Kali ini emosi Elkan sepertinya tak bisa dibendung lagi, entah apa yang baru saja mereka bicarakan sehingga Elkan benar-benar sampai pada puncak kemurkaan nya.


Lalu Elena menangis sembari memegangi tangan Elkan, dia berharap Elkan bisa menerima keberadaannya. Bagaimanapun Elena merasa berhak atas Elkan dan juga rumah itu.


Elkan menghempaskan tangannya dengan kasar sehingga genggaman tangan Elena terlepas seketika itu juga. Air muka Elkan menggelap menahan amarah yang semakin membuncah hingga ubun-ubun.


"Pergi!" teriak Elkan dengan sangat lantang hingga menggema ke seluruh penjuru rumah.


Yuna yang berada di kamar si kembar seketika terperanjat, begitu pun dengan Reni yang masih ada di sana.


"Reni, titip si kembar bentar ya!"


Yuna berhamburan keluar dan berlari menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah dia segera menarik Elkan agar tidak gegabah dalam bertindak. Yuna takut hal itu akan merugikan suaminya sendiri.


"Sayang, cukup! Tenangkan dirimu!" Yuna memeluk lengan Elkan dan mengusapnya turun naik.


Elkan mengusap wajahnya dengan kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Gak papa sayang, aku gak papa." lirih Elkan dengan mata berkaca dan memeluk Yuna untuk menenangkan dirinya.


Elena yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dengan kesal, air matanya terus mengalir menahan kekecewaan yang begitu dalam. Dia pikir Elkan akan langsung menerimanya, tapi kenyataan tak sama dengan apa yang dia harapkan.


"Puas kau hah, ini pasti karena ulah mu. Apa yang sudah kau berikan pada putraku sehingga dia begitu membenciku? Dasar wanita licik, ular betina tidak tau diri!" umpat Elena menyalahkan Yuna yang tak tau apa-apa.


Yuna mendongakkan kepalanya dan menatap Elena dengan intens. "Putra?"


Yuna mengulangi kata itu dan beralih menatap Elkan yang masih memeluknya. "Sayang, apa dia itu Ibumu?"


Elena tersenyum sinis. "Jangan berlagak sok polos di depanku! Kau pasti sudah mencuci otak putraku, dasar wanita ja*lang!" umpat Elena dengan air muka penuh kebencian.


Elkan mengeratkan rahangnya kuat. "Jaga bicaramu, jangan pernah berani mengatai istriku seperti itu! Pergi dari sini sebelum aku khilaf dan bertindak kasar padamu!" teriak Elkan yang sudah geram melihat wanita yang mengaku ibunya itu.

__ADS_1


"Elkan, aku ini Ibumu. Harusnya kau membelaku bukan malah membela wanita sialan itu!" bentak Elena meninggikan suaranya.


Dalam perdebatan yang mulai memanas itu, terdengar derap langkah kaki yang berasal dari arah luar.


"Ada apa ini?" tanya Beno mengerutkan keningnya.


Elkan langsung menoleh ke arah Beno. "Ben, tolong usir wanita itu dari sini! Aku tidak sudi melihat wajahnya apalagi mengakuinya sebagai Ibuku." geram Elkan menilik Beno sangat tajam.


Beno mengalihkan pandangannya ke arah Elena. Dia ingat sekali bahwa wanita itulah yang waktu itu datang ke kantor mengajukan kerja sama dengan perusahaan.


"Bu Elena? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Beno mengerutkan keningnya bingung. Ada urusan apa hingga wanita itu tiba-tiba datang ke kediamannya.


"Beno, tolong aku! Aku ini Ibunya Elkan, tolong jelaskan padanya!" pinta Elena dengan air muka memelas. Berharap Beno mau berpihak padanya.


"Deg!"


"Beno, kenapa kau diam saja? Tolong bantu aku!" desak Elena sembari mengguncang lengan suami Reni itu.


Beno tersentak dari lamunannya dan menilik Elena dengan intens. "Maaf Bu, sebaiknya Ibu pulang dulu. Elkan sedang marah saat ini, tidak mudah meyakinkannya dalam keadaan seperti ini." sahut Beno meyakinkan wanita itu.


Mendengar itu, Elena malah mendorong Beno dengan kasar. "Kalian semua sama saja. Lihat saja nanti, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan putraku kembali. Kalian semua akan menyesal setelah putraku sadar."


Setelah mengatakan itu, Elena menatap Elkan dengan air muka memilukan. "Ibu akan kembali secepatnya, Ibu akan membuatmu sadar dan menerima Ibu di rumah ini. Dan kalian semua akan menerima akibatnya karena sudah berani mempengaruhi putraku."


Elena segera menyambar tasnya yang ada di atas meja, kemudian berlalu meninggalkan rumah itu dengan penuh kekecewaan di hatinya.


Setelah wanita paruh baya itu pergi, Elkan langsung duduk dan memangku Yuna di atas pahanya lalu memeluknya dengan erat. Tanpa disadari, air mata Elkan jatuh berguguran di lengan Yuna.


"Elkan, kamu gak apa-apa kan?" tanya Yuna sembari mengusap rambut Elkan.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa sayang, gak perlu khawatir! Tolong jangan dengarkan ucapan wanita gila itu ya! Walau dia benar Ibuku sekalipun, aku akan tetap mencintaimu dan memilihmu sebagai istriku." lirih Elkan sembari menyapu wajahnya dan mengecup pundak Yuna.


Beno yang masih berdiri di dekat lemari pajang langsung mendengus dengan kesal. "Kalau mau mesra-mesraan sebaiknya di kamar aja, berasa jadi nyamuk aja aku di sini." keluh Beno dengar pipi menggembung.


Yuna terperanjat dan langsung bangkit dari pangkuan Elkan. "Hehe... Sorry Beno, duduklah! Aku akan mengambilkan minum untuk kalian,"


"Istriku mana?" tanya Beno sembari melangkah menuju sofa.


"Ada di kamar si kembar,"


Setelah menjawab pertanyaan Beno, Yuna segera berlalu menuju dapur dan menyiapkan minuman serta cemilan untuk kedua pria tampan itu.


Sementara di luar sana, Beno masih setia menilik muka Elkan yang terlihat sangat kacau.


"Maafkan aku Elkan, aku gak ada maksud membohongimu. Sebenarnya aku udah tau kalau Ibumu masih hidup, Kakek pernah menceritakannya padaku sebelum beliau meninggal dunia. Tapi aku gak pernah nyangka kalau Ibumu itu ternyata wanita tadi. Rasanya sangat sulit dipercaya." ungkap Beno dengan raut penyesalan di wajahnya.


"Untuk apa minta maaf? Aku juga udah tau. Waktu Kakek menceritakannya padamu, aku gak sengaja mendengarnya. Aku juga tau alasan dia pergi meninggalkanku, wanita seperti dia tidak layak menjadi Ibuku. Lebih baik aku gak punya Ibu sekalian. Berani sekali dia menghina istriku, Ibu macam apa itu?" jelas Elkan dengan santainya.


Elkan sama sekali tidak ingin ambil pusing dengan kejadian tadi. Hatinya sudah lama mati untuk ibunya yang begitu tega meninggalkannya hanya demi pria lain yang lebih berharga baginya.


Enak saja wanita itu meminta hak nya atas harta yang Elkan miliki saat ini, memangnya dia siapa. Dia hanya seorang menantu di rumah itu dan sudah bercerai dengan almarhum sang ayah sejak lama. Apa hak nya meminta bagian untuk adik yang sama sekali tidak dikenali Elkan.


Apalagi yang tak ada hubungan darah dengannya sedikitpun. Lain halnya jika anak yang dikatakan wanita itu adalah darah daging ayahnya. Tentu saja dia punya hak atas warisan Bramasta. Tapi tidak, anak ibunya bukan keturunan Bramasta. Jadi tidak akan ada sepersen pun warisan Bramasta yang akan jatuh ke tangannya.


Satu-satunya yang berhak atas warisan itu hanyalah Elkan karena dia adalah pewaris tunggal keturunan Bramasta dan nantinya semua itu akan jatuh ke tangan Edgar yang merupakan putra pertama Elkan. Di samping itu ada jatah Beno juga yang sudah jelas diberi hak waris oleh sang kakek.


Setelah meneguk minuman yang dibawakan Yuna, Elkan meninggalkan ruang tengah dan naik ke lantai atas untuk melihat kedua buah hatinya. Beno menyusulnya dari belakang karena dia juga ingin melihat keponakannya sekaligus istri tercintanya. Tidak lama, Yuna juga menyusul setelah mengantarkan piring kotor ke dapur.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2