Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 170.


__ADS_3

Pukul empat sore dua mobil mewah masuk ke area parkiran sebuah hotel bintang lima yang nanti malam akan menjadi tempat launching produk terbaru BMS Beauty Glow.


Satu persatu dari mereka nampak turun dari mobil itu, beberapa pegawai datang menghampiri dan menyambut kedatangan pemilik hotel itu dengan ramah lalu membawakan koper mereka ke kamar masing-masing.


Elkan melangkah lebih dulu sembari menggendong si kembar yang bertengger di dadanya, Yuna sendiri berjalan di samping Elkan sambil memegang lengan suaminya itu.


Berbeda dengan Reni yang malah menjauh dari Beno, padahal pria itu sudah mengulurkan tangannya tapi tak diacuhkan oleh Reni. Beno hanya bisa mengurut dada karena tak mengerti dengan perubahan sikap istrinya itu.


Sementara di belakang mereka, ada Amit, Sari, Diah dan juga Lili yang berjalan beriringan.


"Selamat datang Tuan Elkan, Nyonya." sapa beberapa orang pegawai hotel yang sudah berbaris di pintu masuk untuk menyambut kedatangan pemilik hotel itu.


"Terima kasih," sahut Elkan dan Yuna bersamaan, lalu melanjutkan langkah mereka mengikuti seorang pegawai yang akan menuntun mereka sampai kamar yang ada di lantai dua puluh lima.


"Selamat datang Tuan Beno, Nyonya." sapa mereka lagi saat melihat kedatangan Beno yang mereka ketahui sebagai tuan muda kedua keluarga Bramasta.


"Terima kasih," sahut Beno saja. Sementara Reni hanya melengos dengan wajah masam nya, dia bahkan tidak mau melihat wanita cantik yang tengah berbaris itu.


"Dasar ganjen!" gumam Reni. Meski pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Beno. Sontak mata Beno menyipit melihat reaksi aneh istrinya itu. Entah siapa yang ganjen? Para wanita itu bahkan tidak menggoda Beno sama sekali, lalu salahnya dimana? Beno semakin bingung dibuatnya.


"Selamat datang semuanya," sapa pegawai itu lagi pada keempat orang yang menyusul di belakang.


"Terima kasih," sahut mereka berempat bersamaan.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam dua lift yang berbeda, sampailah mereka di lantai dua puluh lima yang sengaja di dekor dengan indah untuk menyambut kedatangan mereka semua. Ada lima kamar khusus yang disediakan untuk mereka.


Setelah para pegawai yang menunggu membukakan pintu, mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Di kamar utama, Elkan menaruh si kembar di atas permadani yang sengaja dibentangkan agar si kembar bisa bebas main di bawah sana lalu Elkan berbaring di samping keduanya.


Sedangkan Yuna sendiri tengah asik merapikan pakaian dan menyusunnya di dalam lemari agar nanti dia tidak kerepotan mencari pakaian yang akan mereka kenakan. Terlebih pakaian si kembar yang lebih banyak dari pada pakaian mereka.


Di kamar kedua, Reni membuka pintu balkon dan duduk sembari menikmati suasana sore. Air mukanya nampak masam sejak pertama menginjak hotel. Beno yang melihat itu mulai kehilangan akal, entah apa yang terjadi dengan istrinya itu.


Lalu Beno menyusul ke balkon dan duduk di sebelahnya, Beno melingkarkan tangannya di pinggang Reni dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.


"Kamu kenapa sih sayang? Cerita sama Mas!" pinta Beno sembari menangkup tangannya di pipi Reni.


Kemudian Reni menarik diri dari dekapan Beno dan masuk ke dalam kamar, dia berbaring sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Dari kejauhan, Beno meliriknya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah kehilangan akal dan tak tau harus bagaimana membujuk istrinya itu.


Lalu Beno merebahkan dirinya di kursi itu dan menutup matanya perlahan. Percuma juga membujuk Reni kalau ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan permasalahan diantara mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul enam sore, seorang pria tampan bertubuh tinggi keluar dari bandara dan masuk ke dalam sebuah taksi. Dia meminta sang sopir mengantarnya ke suatu alamat yang sudah sangat lama tidak dia kunjungi.


Lima belas tahun yang lalu dia meninggalkan ibukota untuk menenangkan diri, sekali pun dia tidak pernah pulang karena ingin menutup luka hatinya yang mendalam ulah kebohongan yang dibuat ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Sebelum pergi, pria itu harus menelan pil pahit saat tau bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari sang papa yang telah membesarkannya.


Semua berawal saat umurnya baru menginjak sepuluh tahun, pria itu mengalami kecelakaan saat pulang dari sekolah. Kondisinya saat itu sangat kritis, dia membutuhkan transfusi darah tapi kenyataannya darahnya tidak cocok dengan sang mama dan juga papanya.


Setelah dokter melakukan tes DNA sesuai permintaan sang papa, di sanalah fakta sebenarnya terungkap. Dia bukan anak kandung pria itu, hal itu menjadi masalah besar diantara kedua orang tuanya hingga akhirnya mereka pun bercerai.


Edward akhirnya mendapatkan transfusi darah dari orang lain hingga kondisinya membaik. Sayangnya dia harus kembali menelan pil pahit saat tau bahwa ayah kandungnya sudah tidak ada lagi di dunia ini dan itu ulah kelakuan mamanya sendiri. Wanita yang haus cinta itu sudah meninggalkan pria yang sangat mencintainya demi pria yang dia cintai. Luka di hati Edward semakin melebar hingga akhirnya memilih pergi dari ibukota.


Selama ini Edward tinggal bersama neneknya di Surabaya, dia tumbuh menjadi anak yang gagah dan pintar hingga berhasil mendirikan perusahaannya sendiri. Meski kecil tapi Edward sangat bangga karena semua itu hasil jerih payahnya sendiri.


Kini Edward terpaksa kembali demi permintaan sang mama, Edward sebenarnya tidak ingin tapi dia juga tidak bisa menentang keinginan mamanya yang sudah sering sakit-sakitan akibat asma yang dideritanya selama ini.


Edward tidak suka dengan cara wanita paruh baya itu. Menghalalkan segala cara demi ambisinya yang ingin mengeruk harta putra sulungnya, Edward bahkan sudah berulang kali mengatakan bahwa dia tidak menginginkan harta itu tapi wanita itu bersikeras karena ingin putra bungsunya mendapatkan hak yang sama.


Edward turun dari taksi yang dia tumpangi. Setelah mengambil koper dan membayar tagihan, dia memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu mewah. Rumah kediaman sang mama yang saat ini ditempatinya bersama seorang wanita yang merupakan asisten pribadinya. Tidak hanya membantunya di kantor, wanita itu juga membantunya di rumah.


Saat Edward memasuki rumah, keadaan di dalam nampak sepi seperti tidak ada kehidupan. Edward mengayunkan langkahnya dan mengitari ruangan tapi tetap tak melihat siapa-siapa di sana. Edward semakin masuk dan mendekati pintu kamar sang mama lalu membukanya, lagi-lagi tak ada siapa-siapa di sana.


Akhirnya Edward berjalan ke kamarnya dan menaruh kopernya di sisi lemari. Edward kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setengah jam kemudian, Edward keluar dan segera mengenakan pakaiannya. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, Edward duduk di sofa dan membuka layar ponselnya.


Beberapa notifikasi dari akun sosial media miliknya bermunculan di layar ponsel itu. Dia membuka satu persatu dan bergeming melihat berita tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2