Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 177.


__ADS_3

Setelah memberikan parsel buah yang dia bawa kepada Edward, Elkan dan Yuna duduk di kursi tunggu menemani Edward yang masih dalam suasana gundah. Meski air matanya tak lagi berjatuhan tapi tetap saja ada guratan kesedihan yang terlukis di wajahnya.


Walaupun selama lima belas tahun ini dia tidak lagi tinggal bersama Elena, tapi rasa sayangnya sebagai seorang anak tidak pernah luntur sedikitpun. Dia sudah kehilangan sosok seorang ayah sebelum sempat mengenalnya, dia tidak ingin kehilangan ibunya juga.


Tidak berselang lama, suara pintu yang ditarik terdengar jelas hingga tatapan mereka bertiga mengarah pada pintu. Seorang suster keluar dari ruangan itu, Edward langsung berhamburan menghampirinya. Elkan dan Yuna ikut bangkit dan duduk di belakangnya.


"Bagaimana keadaan Ibu saya Sus?" tanya Edward dengan air muka yang terlihat menyedihkan. Pikiran buruk mulai bersarang di benaknya.


"Sudah mulai stabil. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang inap." jawab suster itu.


Edward menghela nafas lega dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Makasih Sus, makasih."


Elkan yang mendengar itu ikut bernafas dengan lega. Setidaknya hal itu bisa membuat Edward merasa sedikit tenang.


Setelah suster itu masuk lagi ke dalam ruangan, mereka bertiga kembali duduk di kursi panjang. Elkan merangkul pundak Edward dan mengusapnya dengan pelan.


Di kediaman Bramasta, Reni tiba-tiba terbangun saat merasakan mual di perutnya. Dia mendorong Beno dan melompat turun dari kasur.


Setelah tiba di kamar mandi, Reni memuntahkan semua isi perutnya. Kali ini yang keluar hanya cairan berwarna kuning yang terasa sangat pahit, pandangan Reni mendadak gelap hingga dia pun menyandarkan punggungnya di dinding.


Beno yang menyadari itu langsung bangkit dari pembaringannya, dia berlari menyusul Reni dan mendorong pintu dengan kasar. Seketika matanya melebar mendapati tubuh ringkih istrinya yang hampir saja merosot ke lantai kamar mandi. Beno segera menangkapnya dan memeluknya dengan erat. "Sayang, kamu kenapa sih? Kita ke rumah sakit saja ya!"


"Mas..." lirih Reni yang sudah lemas tanpa tenaga.


"Iya sayang, ini Mas." Beno mengangkat tubuh Reni dan membawanya ke luar lalu membaringkannya di kasur.


Setelah menyeka wajah Reni dan menggantikan pakaiannya. Beno berpikir sejenak, rasanya tidak mungkin membawa Reni ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Lalu Beno mengambil ponselnya dan menghubungi seorang dokter yang pernah menangani kakek Bram.


Setelah berbicara panjang lebar dan menceritakan tentang keadaan istrinya, dokter itu tertawa terkekeh-kekeh dan mengatakan akan mengirim dokter lain ke kediaman Bramasta.


Setelah selesai berbicara, Beno meninggalkan kamar dan masuk ke dapur. Dia membuatkan teh hangat untuk Reni dan mengambil roti tawar lengkap dengan selai, lalu kembali ke kamar membawa sebuah nampan.

__ADS_1


Setibanya di kamar, Beno menaruh nampan itu di atas nakas lalu membantu Reni bangun dari tidurnya. Beno menaruh bantal di kepala ranjang dan menyandarkan punggung Reni di sana.


"Isi perutnya dulu ya!" Beno menyendok teh itu dan meniupnya, lalu menyodorkannya ke mulut Reni. Reni membuka mulutnya dan menelan teh itu dengan susah payah.


Beno kemudian membuka roti tawar yang masih terbungkus rapi dan mengolesi sepotong roti itu dengan selai. "Makan ini dulu!"


"Tidak mau Mas, selai nya bau." tolak Reni sambil menutup hidungnya. Perutnya kembali mual mengendus aroma selai itu. Beno pun menyipitkan matanya.


"Ini selai baru sayang, expired nya saja masih lama." Beno kemudian menggigit roti yang sudah dilipat dua itu. Tidak ada yang salah dengan rasanya. "Enak kok,"


"Tapi aku tidak suka Mas, tolong jauhkan selai itu!" lirih Reni.


"Ya sudah kalau tidak mau, makan rotinya saja ya!" Beno menyingkirkan selai itu dari hadapan Reni, lalu mengambil roti yang baru dan mencelupkannya ke dalam teh. Kali ini Reni mau memakannya.


Setelah menghabiskan dua potong roti dan secangkir teh manis buatan suaminya, Reni kembali berbaring dan memicingkan matanya. Sekujur tubuhnya terasa lemah dan kepalanya pun masih terasa pusing.


Beno meninggalkan kamar membawa nampan yang berisi cangkir kosong dan bungkusan roti yang masih tersisa. Setelah menaruhnya di dapur, Beno berniat kembali ke kamar tapi langkahnya terhenti saat penjaga rumah memanggilnya.


"Tuan Beno, ada dokter yang datang mencari Anda." ucap penjaga itu.


Baru saja kaki Beno menginjak ruang tamu, seorang dokter wanita sudah berdiri di hadapannya dengan jas putih dan tas hitam berukuran sedang di tangannya.


"Siang Pak. Kenalkan, nama saya Siska. Saya diutus oleh dokter Salman untuk memeriksa keadaan istri Bapak." sapa dokter itu.


"Iya Dok, maaf merepotkan. Ayo, silahkan masuk! Istri saya ada di kamar." Beno mempersilahkan dokter Siska masuk dan membawanya ke kamar.


Setelah membukakan pintu, Beno mempersilahkan dokter itu masuk ke kamarnya lebih dulu. Selepas dokter Siska mengayunkan kakinya menuju ranjang, Beno pun menyusulnya di belakang.


"Permisi," sapa dokter Siska tanpa tau siapa pasien yang akan dia periksa.


Reni yang tengah meringkuk di dalam selimut sontak mendongakkan kepalanya. Awalnya dia curiga saat mendengar suara wanita lain di kamarnya, tapi ketika menangkap wajah familiar itu seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. "Dokter Siska...???"

__ADS_1


"Reni...???"


Keduanya sama-sama tercengang karena sudah saling mengenal satu sama lain. Beno yang melihat itu hanya mematung sambil mematut keduanya secara bergantian.


"Wah, tak disangka bisa ketemu kamu di sini. Pantas sudah tidak pernah terlihat lagi di rumah sakit, ternyata sudah jadi Nyonya rumah ini." seloroh dokter Siska sambil duduk di sisi ranjang.


"Iya Dok, maaf tidak sempat kasih tau. Awalnya aku di sini hanya untuk merawat anak kembar Pak Elkan, tapi ternyata dipenjara sama pria itu." Reni menunjuk Beno dengan bibir manyun nya.


"Hehehe... Pria itu suami kamu Reni, tidak boleh begitu ngomongnya!" selang dokter Siska sambil membuka resleting tasnya, lalu mengeluarkan beberapa alat medis untuk memeriksa keadaan Reni.


"Iya suami, tapi kan tetap dipaksa awalnya." Reni masih saja menyudutkan suaminya, tapi Beno hanya diam mendengarkan.


"Dipaksa pun kalau kamu nya tidak mau ya tidak akan jadi. Itu artinya kamu juga mau hingga bersedia menerima dia jadi suamimu." Sambil berbincang, dokter Siska pun mulai melakukan pemeriksaan.


"Mau bagaimana lagi Dok, kalau tidak dituruti dia bisa marah." Reni menggembungkan pipinya, sementara dokter Siska masih memeriksanya dengan teliti.


"Hehehe... Lucu banget sih kamu. Bagaimanapun dia sekarang adalah suamimu, ayah dari anak yang ada di rahimmu."


"Deg!"


Sontak ucapan dokter Siska itu mampu mengguncang tubuh Beno dan Reni secara bersamaan. Mata keduanya membesar dan saling menatap satu sama lain. Beno bahkan kehilangan tenaga untuk bertanya.


"Maksud Dokter...?" Reni memutar pandangannya ke arah dokter Siska dan menatapnya dengan heran.


"Kamu hamil sayang, usianya belum bisa dipastikan. Kalau ingin tau lebih lanjut, kalian ke rumah sakit saja. Kalau mau ke klinik juga bisa. Alat di sana lebih memadai." jelas dokter Siska, lalu menyimpan kembali alat medis yang baru saja dia gunakan.


"Hamil...?" Reni mengulangi kata itu seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Hehehe... Selamat ya, jaga kandungannya baik-baik. Biasanya calon ibu baru agak rentan karena belum mengerti apa-apa. Kamu tidak boleh banyak gerak, makanannya juga harus dijaga!"


"Pak Beno, ini resep obat dan vitamin untuk Reni. Kalau masih penasaran, kita lakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit atau klinik. Terserah kalian saja mau dimana!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu dan memberikan resep kepada Beno, Dokter Siska meminta izin untuk kembali ke rumah sakit. Beno mengantarnya sampai pintu utama.


Bersambung...


__ADS_2