Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 51.


__ADS_3

Pagi hari, Yuna bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk Elkan. Tidak ada kecurigaan sedikitpun karena memang dia tidak mengetahui apa yang dibicarakan Elkan dan Beno semalam. Baginya tidak semua harus dijelaskan pada dirinya, bisa saja kedua pria itu membicarakan masalah pekerjaan.


Semalam, Elkan pun masuk ke kamar sedikit larut. Bahkan Yuna sendiri sudah tertidur lebih dulu.


Usai berjibaku dengan peralatan masak dan menghidangkan makanan di meja, Yuna kembali ke kamar untuk membangunkan Elkan. Namun kali ini tampaknya sang suami agak sedikit sulit untuk dibangunkan, tidak seperti biasanya.


"Elkan, ayo bangun! Ini sudah kesiangan, bukankah hari ini ada rapat?" seru Yuna sembari menggoyang bahu Elkan.


Elkan tak merespon, bergumam pun tidak. Membuat Yuna bertanya-tanya dengan kening yang mengerut.


"Elkan, ayo bangun! Ini sudah jam 8 sayang." seru Yuna lagi.


Kali ini Elkan sedikit menggeliat, namun masih setia dengan mata yang tertutup rapat. "Aku ngantuk Yuna, jangan menggangguku!" sahut Elkan meninggikan suaranya.


"Deg!"


Yuna terperangah mendengar jawaban Elkan barusan. Keras, dingin, mampu menusuk hingga relung hati terdalam, aneh tapi nyata.


Biasanya dalam sekali sentuhan saja Elkan sudah terbangun dari tidurnya, tapi kali ini sungguh berbeda. Apa yang salah dengan ini?


Yuna mencoba berpikir positif, mungkin saja Elkan sangat lelah sehingga berat sekali matanya untuk dibuka.


Tak ingin mengganggu, Yuna pun memilih masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Lelah setelah menyiapkan sarapan membuat tubuhnya terasa lengket. Berendam adalah satu-satunya cara agar tubuhnya kembali segar.


Setengah jam berlalu, Yuna keluar dari kamar mandi. Karena hari ini tidak ada jadwal pemotretan, Yuna memilih tinggal di rumah dan menyibukkan diri dengan tugasnya sebagai seorang istri.


Yuna memang bukan wanita yang sempurna, dia masih perlu banyak belajar membenahi diri. Berbagi kehangatan di ranjang saja baginya belum cukup untuk menjadi istri yang sempurna, dia tentunya ingin melayani semua kebutuhan Elkan dengan sebaik-baiknya.


Setelah merapikan diri, Yuna kembali menghampiri Elkan. Duduk di sisi ranjang dan menyentuh pipi Elkan dengan lembut. "Sayang, ayo bangun!"


Lagi-lagi Yuna terperangah karena Elkan tak meresponnya sama sekali. Tak ingin mengundang pertengkaran, Yuna memilih keluar meninggalkan kamar.


Di meja makan, wajah Yuna nampak lesu menatap makanan yang ada di piringnya. Tak satupun masuk ke mulutnya, yang ada makanan itu hanya diacak-acak tak menentu.


"Yuna, kenapa makanannya diacak doang?" tanya Beno sembari mengerutkan keningnya.


Yuna tak menyahut, bahkan kalimat yang diucapkan Beno sama sekali tak sampai ke telinganya. Hanya raganya saja yang ada di sana, tapi pikirannya tengah melayang entah kemana.


"Yuna, kamu gak dengar aku?" Beno menepuk pundak Yuna, seketika itu juga Yuna tersadar dari lamunannya.


"I-iya Elkan, kenapa?" ucap Yuna gelagapan.

__ADS_1


"Hey, aku Beno bukan Elkan?" sanggah Beno yang kian bingung melihat keanehan Yuna.


Yuna mendongak dan menatap Beno dengan intens. "Beno, maaf ya. Aku sepertinya kurang enak badan." Yuna mencoba memberikan alibi.


"Kamu sakit?" tanya Beno sedikit khawatir.


"Gak kok, cuma sedikit lelah. Aku ke kamar dulu ya." Yuna bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan meja makan.


Sesampainya di lantai atas, Yuna malah berbelok menuju balkon. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya berubah jadi tak menentu, dia sendiri bingung karena tidak tau alasannya.


Sementara di kamar sana, Elkan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia segera mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Yuna untuknya. Tampaknya Yuna sudah gesit melayani keperluannya, sudah hafal juga pakaian warna apa yang akan dikenakan Elkan setiap harinya.


Tiba di bawah, Elkan tercengang karena hanya Beno lah yang duduk di meja makan. Dia segera duduk dan mengisi perutnya dengan sedikit makanan.


"Dimana Yuna?" tanya Elkan sembari mengunyah makanannya.


"Gak tau, bukankah dia itu istrimu? Kenapa nanya sama aku?" jawab Beno dengan pertanyaan pula, bahkan keningnya langsung mengkerut.


"Em," Elkan melanjutkan makannya.


Lama saling terdiam, Beno akhirnya bersuara lagi.


"Em," gumam Elkan.


"Apa Yuna sakit?" tanya Beno.


"Sakit?" Elkan malah kebingungan sendiri. "Semalam biasa aja, gak ada tanda apa-apa." imbuh Elkan.


"Semalam?" Kini giliran Beno yang kebingungan. "Apa kalian bertengkar?" tambah Beno.


"Mana ada, perasaanmu aja kali." jelas Elkan.


"Kau lihat aja itu, makanannya gak disentuh sesuap pun. Cuma diacak doang kek kobokan," Beno menunjuk piring yang masih tergeletak di atas meja.


Elkan mengerutkan keningnya menatap arah telunjuk Beno, mungkin benar yang dikatakan Beno padanya. Hatinya mulai tidak tenang dan dengan segera menghabiskan sarapannya.


Usai sarapan, Elkan berlari ke kamar. Nyaris saja dia terjungkal di tangga karena terlalu terburu-buru hingga tidak memperhatikan langkahnya dengan seksama.


Setibanya di kamar, ternyata Yuna sudah berbaring di atas ranjang. Posisi miring dengan mata tertutup rapat, sementara kedua telapak tangannya menyatu di bawah pipi. Dia bahkan tak menyadari kedatangan Elkan sama sekali.


Kaki Elkan melangkah perlahan mendekati Yuna, duduk di sisi ranjang dan menyentuh dahi istrinya. Memastikan kalau Yuna baik-baik saja, tidak sama dengan yang Beno ucapkan di bawah tadi.

__ADS_1


Benar saja, tidak ada yang aneh dengan istrinya. Suhu tubuh Yuna normal saja, tidak panas sama sekali. Tapi kenapa Yuna tidak memakan makanannya?


"Yuna," panggil Elkan.


"Em," gumam Yuna, namun matanya masih enggan untuk dibuka.


"Kamu kenapa? Kok sarapannya gak dimakan?" tanya Elkan.


"Capek, mau tidur aja." sahut Yuna dengan dinginnya. Sejak semalam dia merasa diacuhkan begitu saja.


"Makan yuk! Aku temenin," ajak Elkan.


"Gak mau, aku gak lapar." jawab Yuna.


"Loh, kok ngomongnya gitu? Nanti kamu sakit, makan dulu sedikit!" bujuk Elkan.


"Biar aja sakit, apa peduli mu?" ketus Yuna dengan suara serak.


"Tentu saja aku peduli pada istriku, jangan kayak anak kecil begini!" ucap Elkan.


Yuna menahan diri agar tidak menangis, baru saja Elkan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun tadi saat Yuna membangunkannya, suara pria itu meninggi hingga membuat Yuna terperangah.


Apa mungkin Elkan membohonginya? Apa mungkin Elkan hanya mempermainkan perasaannya?


Entahlah, terkadang cinta itu membingungkan.


"Yakin gak mau makan? Aku buru-buru mau ke kantor," tanya Elkan lagi.


"Pergi saja! Untuk apa mengatakan itu padaku?" Yuna menarik selimut dan menutupi keseluruhan tubuhnya tanpa ada yang tersisa.


Tak ingin berdebat lagi, Elkan pun memutuskan untuk pergi. Pagi ini ada rapat yang harus dia hadiri. Mungkin sore nanti mereka berdua bisa berbicara kembali.


Elkan meninggalkan kamar, turun ke bawah menemui Beno. Keduanya berlalu meninggalkan rumah.


Sementara di kamar sana Yuna kembali membuka selimutnya, meluapkan segala kegundahan hatinya dengan menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.


Kenapa Elkan berubah secepat ini? Kenapa kelembutannya kembali sirna? Apa salah Yuna?


Yuna hanya ingin menjadi istri yang baik dan sempurna untuk suaminya. Meskipun sebenarnya dia tidak akan pernah bisa sempurna.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2