
"Pagi semuanya," sapa Elkan dengan senyum mengembang. Secerah sinar matahari pagi, secerah itu pula senyum Elkan kepada semua orang. Pagi ini suasana hatinya benar-benar baik sebab sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tumben, ada angin apa nih?" Beno mengerutkan kening melihat senyum Elkan yang tak biasa.
"Mau tau saja atau mau tau banget?" balas Elkan. Saking senangnya si kembar yang ada di gendongan Elkan yang menjadi imbasnya. Elkan tak hentinya mengecup pipi gembul keduanya bergantian.
"Dasar aneh," Beno tersenyum kecut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Reni.
Setelah Elkan duduk di meja makan, Yuna langsung ke dapur membuatkan bubur untuk si kembar. Tidak lama, Yuna kembali membawa semangkok bubur dan air putih.
"Abang sarapan saja dulu, biar si kembar sama Yuna." Yuna mengambil si kembar dan menaruh keduanya di dalam stroller, lalu memakaikan celemek agar baju mereka berdua tidak ketumpahan makanan.
"Sayang Mama makan dulu ya, biar cepat besar dan gendut. Nanti biar bisa jalan-jalan sama Mama dan Papa." Yuna menyendok bubur yang ada di dalam mangkok, lalu menyuapi Elga dan Edgar bergiliran.
Setelah Elkan selesai sarapan dia menghampiri Yuna dan duduk di sampingnya. "Yuna sarapan dulu gih, biar Abang yang lanjutin suapi anak-anak!" ucap Elkan.
"Nanggung Bang, dikit lagi kok." sahut Yuna yang masih fokus menyuapi si kembar. Elkan yang melihat itu hanya tersenyum dan menyentuh pinggang Yuna.
"Wajah fokusnya bikin gemas sayang, rasanya pengen lagi." seloroh Elkan mengulum senyum.
Yuna membulatkan mata. "Apaan sih, pagi-pagi sudah ngeres saja otaknya."
"Habisnya punya istri menggoda banget, maunya nempel mulu kayak perangko." goda Elkan. Seketika pipi Yuna bersemu merah bak kepiting goreng.
"Sudah dong Bang, malu tau. Jangan bahas yang begituan di sini!" ketus Yuna dengan bibir mengerucut.
"Tuh kan, bibirnya itu loh. Abang tidak kuat lihatnya, ke kamar bentar yuk!" ajak Elkan dengan tampang memelas.
"Abang..." Yuna memelototi Elkan dan mencubit pinggangnya kesal. Gregetan sekali Yuna melihat kelakuan mesum suaminya itu.
"Aww... Sakit sayang, jangan dicubit gitu dong!" Meski sakit tapi Elkan tetap tersenyum melihat air muka malu-malu kucing istrinya. Makin memerah pipi Yuna makin senang pula Elkan dibuatnya.
"Sudahlah, bikin kesal saja." Setelah memberi si kembar minum, Yuna meninggalkan mereka dan masuk ke dapur menaruh piring kotor lalu duduk di meja makan menikmati sarapan.
"Semuanya, Sari berangkat sekolah dulu ya."
__ADS_1
Sari menyalami dan mencium punggung tangan semua orang bergiliran, lalu meninggalkan rumah.
Sementara Beno dan Amit masih duduk di sofa memperhatikan Elkan yang tengah bermain dengan si kembar.
"Ben, bagaimana rencana semalam? Sudah kau hubungi pihak-"
"Sudah, jam sembilan nanti mereka akan ke sini. Aku juga sudah memberitahu bagian mana saja yang akan dipasang CCTV, katanya alat yang akan mereka pasang ini sangat kecil. Produk terbaru, jadi tidak akan ada yang ngeh bahwa sekeliling rumah ini ada kamera pengintai." jelas Beno.
"Baguslah, sekarang tinggal memeriksa dokumen keuangan bulan ini. Aku dengar penjualan kita melonjak drastis." ucap Elkan.
"Untuk sementara lima kali lipat, tidak tau juga ke depannya." balas Beno.
"Tidak salah menjadikan ibu dua anak itu sebagai model kita, emak-emak semakin di depan." seloroh Elkan sambil memutar leher ke arah Yuna.
Yuna menggembungkan pipi saat mendengar itu, lalu membelakangi Elkan saking kesalnya. "Emak-emak? Kamu pikir aku sudah tua." oceh Yuna pelan, tapi ternyata ucapannya di dengar oleh Elkan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Bicara apa?" tanya Elkan sambil membungkukkan punggung dan meletakkan tangannya di bahu Yuna.
"Heh?" Yuna terlonjak dengan mata membesar. "Bikin kaget saja,"
"Malas ngomong sama orang stres, isi otaknya limbah semua." Tanpa diminta, Yuna langsung meraih tangan Elkan dan mencium punggung tangan suaminya itu. "Dah, hati-hati ya." seru Yuna, lalu mengalihkan pandangannya.
"Loh, Abang belum pamit sayang. Main usir saja," Elkan mengerutkan kening.
"Sama saja, ya sudah pergi sana! Lama-lama selera makan Yuna bisa hilang jika melihat Abang terus."
"Yakin hilang?" seloroh Elkan.
"Mmm..."
Tidak lama, akhirnya Elkan pergi juga meninggalkan rumah. Yuna mengerucutkan bibir sambil menggeleng-gelengkan kepala.
...****************...
"Ma, kita pulang ke Surabaya saja yuk! Edward janji akan menjaga dan merawat Mama sampai sembuh."
__ADS_1
"Mama tidak mau, Mama mau di sini saja dan tinggal bersama kakakmu."
"Ma, jangan mengganggu hidup Kak Elkan. Biarkan dia bahagia bersama keluarganya!"
"Kita juga keluarganya, kita juga berhak tinggal bersama kakakmu."
"Tapi keadaannya sudah berbeda Ma, Kak Elkan tidak membutuhkan kita. Tolong mengertilah!"
"Harusnya kamu yang mengerti sama Mama. Mama hanya ingin menghabiskan sisa hidup Mama bersama kakakmu. Kamu jangan egois!"
"Loh, kok aku sih Ma? Bukankah Mama yang egois? Mama yang ninggalin Papa sampai aku kehilangan kasih sayang seorang Ayah. Kenapa menyalahkan aku?"
"Cukup Edward, Mama tidak ingin mendengar kamu bicara apa-apa lagi! Kalau kamu tidak setuju, pulanglah ke Surabaya sendirian! Mama akan tetap di sini sampai ajal menjemput."
Setelah perdebatan panjang itu, Edward meninggalkan ruangan Elena dan duduk di kursi tunggu. Kepalanya mulai pusing memikirkan permintaan Elena yang tidak masuk akal itu.
Kenapa setelah sekian lama baru sekarang Elena mengakui Elkan sebagai putranya? Apa sebenarnya yang direncanakan ibunya itu? Dia benar-benar tidak habis pikir. Jika benar Elena menyayangi Elkan, kenapa tidak dari dulu dia kembali? Kenapa baru sekarang setelah Elkan menemukan kebahagiannya sendiri?
Edward tidak akan membiarkan Elena merusak kebahagiaan kakaknya. Edward yang akan menjadi pelindung pertama jika Elena memiliki niat tersembunyi dibalik ini semua.
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Edward segera menghubungi Elkan. Dia ingin Elkan menolak permintaan Elena.
Sayang ternyata Elkan menyetujuinya dan meminta Edward membawa Elena pulang ke kediaman Bramasta. Tentu saja Elkan sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang. Apalagi rencana semalam sudah dijalankan. Kamera pengintai sudah terpasang di setiap sudut rumah.
Mau tidak mau Edward terpaksa menurut dan mengiyakannya.
Setelah panggilan mereka terputus, Edward masuk ke dalam ruangan Elena dan menyampaikan semua itu pada sang mama.
Elena tersenyum sumringah, dia tau Elkan tidak akan menolaknya. Dia meminta Edward untuk segera berkemas dan pulang ke kediaman Bramasta.
Sementara Elkan sendiri nampak begitu antusias menyambut kedatangan Elena. Dia kemudian mengajak Amit dan Beno pulang ke kediaman mereka.
Tapi sebelum pulang, Elkan meminta Beno mampir di toko perlengkapan bayi. Elkan ingin membeli baby walker atau kereta dorong untuk si kembar.
Bersambung...
__ADS_1