Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 84.


__ADS_3

Seorang DJ cantik tengah asik memainkan musiknya, bau alkohol menyeruak menyengat penciuman. Banyak pasangan muda mudi tengah duduk menikmati minuman mereka, ada juga yang tengah menari dan saling berpelukan dengan pasangan berlain jenis. Remang-remang cahaya membuat suasana di dalam sana semakin tak terkendali.


Di dalam sebuah kamar, Reni sudah didandani dengan begitu cantik. Dia juga terpaksa mengenakan gaun seksi yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih berisi. Sementara bagian bawahnya tertutup hanya sebatas paha. Aset pribadinya yang selama ini dia tutupi akhirnya terbuka di hadapan orang lain.


Malam ini dia harus melayani seorang pria hidung belang yang sudah membayarnya dengan mahal. Reni hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan perlawanan. Dia dijaga ketat oleh dua orang anak buah ayahnya yang terlihat begitu menyeramkan.


"Bawa dia ke hotel! Bos sudah menunggu," seru Jenny yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Kenapa kalian begitu tega menjual ku? Apa kalian tidak punya hati?" teriak Reni dengan suara seraknya, bahkan nyaris menghilang.


"Anak nakal. Ingat, aku sudah membeli mu dengan harga yang sangat mahal. Jika mau marah, marahlah pada ayahmu karena dialah yang menjual mu padaku. Kau pikir aku mau rugi?" bentak wanita yang berbobot lebih kurang 100 kg itu.


"Kalian sama aja, sama-sama binatang!" umpat Reni menelan tangisannya.


"Hahahaha..." Jenny malah tertawa dan berbalik meninggalkan kamar itu. "Ayo, bawa dia!" imbuhnya.


Reni ditarik paksa hingga tangannya memerah karena genggaman dua pria menyeramkan itu. Apa daya kekuatannya tak cukup kuat melawan tenaga besar kedua pria itu. Pasrah tapi tak rela, gambaran itulah yang cocok disematkan untuk Reni saat ini.


Beno tiba di depan tempat pela*curan berkedok diskotik itu. Kakinya mulai melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam sana.


"Dimana ruangan Mami Jenny?" tanya Beno kepada seorang waiters yang melintas di hadapannya.


"Di lantai dua Tuan," sahut wanita itu sembari menunjuk arah tangga.


Segera Beno berlari dengan perasaan takut bercampur cemas. Berharap dia belum terlambat dan masih bisa menyelamatkan Reni dari jurang neraka itu. Bagaimanapun gadis itu memiliki tempat di hati Beno.


"Dimana Reni?" tanya Beno saat memasuki sebuah ruangan, rahangnya mengerat kuat menahan emosi yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.


Jenny menatap Beno dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari tampilan Beno dia bisa menyimpulkan kalau pria tampan itu bukanlah pria sembarangan.


"Kenapa menanyakan dia? Di sini masih banyak gadis cantik yang bisa memuaskan Tuan muda," sahut Jenny dengan entengnya.


"Aku mau wanita itu, berapa aku harus membayarnya?" tegas Beno penuh penekanan.

__ADS_1


"Hahahaha... Sayang sekali, Tuan terlambat. Dia baru saja dibawa ke hotel untuk melayani tamu pertamanya." Wanita gendut itu malah tertawa hingga membuat Beno tersulut emosi.


"Jangan main-main denganku jika kau tidak ingin melihatku menghancurkan tempat ini!" ancam Beno dengan tatapan membunuhnya, kedua tangannya mengepal erat menahan emosi yang tengah membakar keseluruhan jantungnya.


Baru saja Beno ingin bertindak, terdengar derap langkah dari arah luar hingga membuat Beno urung melakukan aksinya.


Ferry muncul dengan beberapa orang preman yang baru saja menyelesaikan semua anak buah wanita itu.


"Katakan kemana kau membawa gadis itu? desak Beno menggertakkan giginya.


"Katakan jika kau tidak mau berakhir seperti anak buah mu! Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri," timpal Ferry yang sudah siap dengan belati kecil yang ada di tangannya.


"Rudi, Eko, Salman, Agung, dimana kalian?" teriak wanita itu memanggil anak buahnya.


"Bug!"


Seorang pria bertubuh tinggi besar melempar anak buah Jenny tepat di hadapannya, seketika mata Jenny membulat dengan sempurna. Dia sampai kesulitan meneguk liur saking syok nya melihat anak buahnya yang sudah tak bergerak.


"Pilihan ada di tanganmu, katakan atau kau akan berakhir seperti curut ini!"


"Ayo, katakan!" bentak Beno sembari menggebrak meja hingga membuat Jenny terperanjat dengan keringat jagung yang mulai mengalir di pelipis dahinya.


"I-iya, hotel Luxury lantai 18 kamar 3015." ucap Jenny terbata.


"Dani, Jon, kalian ikut Tuan Beno! Biar aku yang membereskan wanita sialan ini," seru Ferry kepada kedua rekannya.


Beno segera berlari disusul dua pria itu. Nafasnya mulai tercekat. Apakah dia terlambat? Bagaimana keadaan Reni saat ini? Otak Beno mulai kalut dipenuhi pikiran buruknya.


Di waktu yang bersamaan, Reni tengah menangis sembari menepi di sudut kamar. Seorang pria tua bangka yang baru saja meneguk minuman beralkohol mendekatinya dan mulai menyentuh lengannya. Reni meronta-ronta hingga sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Tubuh ringkih Reni terpental di lantai, darah segar mengalir di sudut bibirnya.


"Dasar ja*lang! Ingat, aku sudah membayar mu sangat mahal!" bentak pria itu sembari berjongkok dan mencengkram rahang Reni dengan kasar.


"Binatang, aku tidak sudi melayani pria bajingan sepertimu. Lebih baik aku mati daripada memberikan tubuhku untuk pria tidak tau malu sepertimu." tantang Reni sembari meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa..." Reni menjerit saat pria itu menarik rambutnya hingga kepalanya tertarik ke belakang.


"Mati saja, tapi sebelum itu layani aku dulu!"


Pria yang sudah bau tanah itu mengangkat tubuh ringkih Reni dan membantingnya di atas kasur.


"Aaaaaaaaa..." Kembali Reni menjerit saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Pria itu bergegas melepaskan kemeja dan celananya hingga menyisakan boxer saja. Dia menindih tubuh Reni di bawah kungkungan nya. Reni meronta-ronta tapi tenaganya sudah tak kuat untuk melawan.


"Jangan sentuh aku, aku mohon!" isak Reni sembari mendorong kepala pria itu.


Reni meraung sejadi-jadinya saat bibir pria itu menyentuh lehernya, kepala Reni bergerak ke sana kemari menolak sentuhan bajingan itu tapi tak dihiraukan olehnya.


"Jangan! Aku tidak mau melayani mu, tolooooooong...!" teriak Reni dengan suara yang nyaris menghilang.


Pria yang sudah dikuasai nafsu bejatnya itu menarik gaun Reni hingga robek, tubuh Reni nyaris separuh telanjang dibuatnya. Tentu saja pria itu semakin tak sabar ingin mencicipi tubuh Reni yang putih mulus itu. Tangannya mulai bergerak menyentuh buah dada Reni dan meremasnya.


"Jangaaaaaan...! Aku tidak mau melayani mu," teriak Reni sekencangnya, berharap ada keajaiban yang datang membantunya.


"Braaak!"


Pintu terbuka lebar, seorang pria mengepalkan tangannya saat menyaksikan pemandangan menjijikkan itu.


"Bug!"


Tubuh tua bangka itu terpental ke lantai, pria itu tidak hanya menendangnya tapi juga melayangkan bogem mentahnya dengan sekuat tenaga.


"Aaaaaaaaa..." Reni menjerit histeris saking takutnya melihat kejadian itu. Dia meringkuk menutupi tubuhnya yang sudah menganga.


Segera pria itu membuka jasnya dan membaluti tubuh Reni yang hanya menyisakan bra dan segitiga saja. "Jangan takut, aku di sini."


Pria itu membantu Reni turun dari ranjang dan membawanya keluar. "Urus bajingan itu, jadikan dia santapan buaya agar tak ada lagi korban selanjutnya!"

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab kedua pria itu dan bergegas masuk menyelesaikan tua bangka itu.


Bersambung...


__ADS_2