
Yuna turun dari kamar setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian. Hingga detik ini pengakuan Beno tadi masih terngiang-ngiang di telinganya, sulit sekali menahan tawa mengingat bodohnya Beno kala itu.
Dia juga tak menyangka ternyata ngidamnya saat mengandung si kembar berpindah pada Elkan. Memangnya bisa ya seorang suami merasakan itu, dia sama sekali tidak tau karena memang tidak memiliki pengalaman sebelumnya.
"Udah, jangan ketawa terus! Nanti kencing lagi," ejek Beno membalikkan keadaan. Justru kini Yuna lah yang menjadi bahan candaan bagi mereka yang duduk di sana.
Yuna mengukir senyum hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Kalau kencing tinggal mandi dan ganti baju lagi, apa susahnya?"
"Hahahaha... Emak sama anak gak ada bedanya, hobinya ngompol di celana." timpal Reni yang masih setia menertawakan Yuna. Dia juga merasa lucu saat mendengar pengakuan Beno tadi, ditambah saat Yuna berlari terbirit-birit setelah ngompol tadi.
"Hmm... Sekali-sekali gak apa-apa dong, habisnya lucu. Masa' seorang Beno bisa ditipu sama anak kecil, kirain suhu ternyata cupu." ledek Yuna, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Beno.
Sebenarnya Elkan kesal melihat Yuna menjulurkan lidahnya seperti itu, apalagi kepada pria lain. Lalu dia menarik tangan Yuna hingga terjatuh di atas pangkuannya. "Udah sayang, ngapain bahas itu terus?"
Tiba-tiba suasana menjadi hening untuk sementara waktu, tidak lama mereka berempat kembali tertawa terbahak-bahak.
Saat mereka berempat masih asik bercengkrama, orang-orang dari dekorasi mulai berdatangan untuk mendekor bagian rumah yang akan digunakan untuk syukuran si kembar besok.
Sedangkan untuk acara malam harinya, mereka berempat sepakat untuk menjamu tamu di luar rumah. Suasana outdoor nampaknya lebih mendukung, apalagi halaman rumah cukup luas dan yang paling penting tidak membuat para tamu jenuh tentunya. Banyak pemandangan yang bisa mereka nikmati di luar sana.
"Ben, tolong simpan dulu amplopnya! Kami mau ke atas, kasihan si kembar kalau dibiarin di sini. Berisik soalnya," Elkan bangkit dan mengambil kedua bayinya. "Oh ya, tolong suruh Diah membuatkan makanan dan minuman buat para pekerja!" imbuh Elkan, lalu meninggalkan ruangan bersama Yuna.
Setelah Elkan dan Yuna meninggalkan ruangan, Reni langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Sementara Beno, dia masih asik menyusun amplop yang sudah diisi uang dan meletakkannya di dalam dus kecil lalu menyimpannya di dalam lemari.
Setengah jam kemudian Reni dan Diah meninggalkan dapur dengan membawa ketel, beberapa gelas dan juga cemilan lalu menaruhnya di atas meja.
Diah kembali ke belakang sementara Beno dan Reni masih duduk di sana melihat para pekerja mendekor ruang tengah.
Di atas sana, Yuna membaringkan diri di atas karpet bulu setelah menyusui kedua buah hatinya. Siang hari dia memang lebih suka berbaring di sana sembari main hp sekaligus menjaga si kembar yang tengah tertidur lelap.
__ADS_1
"Kok malah tidur di sini sih, nanti pinggangnya sakit loh. Ke kamar aja yuk!" ajak Elkan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Gak apa-apa, udah kebiasaan. Kalau sakit tinggal minta tolong suami buat pijitin," jawab Yuna dengan enteng, sudut bibirnya nampak melengkung.
Mendengar itu, garis bibir Elkan ikut terangkat. "Gimana kalau Abang pijitin sekarang?"
"Hmm... Sekarang belum sakit Bang," sahut Yuna datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Bukan itu maksud Abang, tapi pijit yang lain." goda Elkan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Yuna memajukan bibirnya beberapa senti. "Mulai deh, apa Abang gak capek tiap hari minta mulu?"
"Mana ada capek, yang ada makin semangat Abang dibuatnya. Asal Yuna tau aja, Yuna tuh ibarat obat bagi Abang, makin sering ditelan makin sehat pula tubuh Abang jadinya." Seringai tipis terurai jelas di bibir Elkan saat mengatakan itu.
"Puft... Gombalan basi," Yuna segera bangkit dari pembaringannya dan melenggang menuju kamar.
Yuna memang bukanlah cinta pertama bagi Elkan, tapi kehadiran Yuna mampu mengubah hidupnya yang kaku jadi lebih berwarna. Setiap hari ada-ada saja yang menggelitik hatinya hingga tanpa sadar cintanya semakin bersemi menjerat dirinya.
Elkan mengusap wajahnya berulang kali, kemudian menyusul Yuna yang kini sudah berbaring di atas tempat tidur. Segera Elkan berbaring di sampingnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.
"Gimana dengan penawaran Abang tadi, jadi dipijit gak?" goda Elkan sambil mendekatkan bibirnya di tengkuk Yuna. Hembusan nafasnya yang hangat membuat bulu kuduk Yuna meremang seketika.
Yuna yang tengah membelakangi Elkan langsung saja mengulum senyumannya. "Gak mau, capek."
Tiba-tiba air muka Elkan berubah kecut setelah mendengar jawaban Yuna barusan. "Hmm... Masa' gitu aja capek sih, apa Yuna udah bosan sama Abang?"
"Mungkin," jawab Yuna enteng.
"Deg!"
__ADS_1
Elkan menelan liurnya dengan kasar, dadanya mendadak nyeri mendengar itu. Lalu Elkan melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi Yuna.
Yuna yang menyadari itu langsung tertawa dan membungkam mulutnya dengan cepat. Tak disangka ternyata Elkan bisa juga merajuk seperti bocah kecil.
Yuna berbalik dan tersenyum menatap punggung Elkan. "Bang..."
Elkan sama sekali tak menyahut, sepertinya dia benar-benar kesal setelah mendengar ucapan Yuna tadi.
"Bang, jadi gak?" goda Yuna sambil menyentuh pinggang Elkan dan mengelusnya dengan lembut.
Tentu saja hal itu membuat sekujur tubuh Elkan merinding, tapi sekuat hati dia mencoba menahan diri agar Yuna tidak besar kepala dibuatnya.
Karena tak ada respon dari Elkan, Yuna pun mengikis jarak diantara mereka. Sebuah kecupan lembut mendarat di belakang telinga Elkan hingga lidah Yuna mulai menari di daun telinganya.
Seakan mendapatkan serangan fajar, Elkan langsung berbalik dan menerkam Yuna seperti binatang buas yang siap mencabik-cabik mangsanya.
Lenguhan demi lenguhan lolos begitu saja dari mulut Yuna saat bibir Elkan sudah sepenuhnya menguasai dirinya. Kecupan demi kecupan dilayangkan Elkan di setiap area sensitif Yuna hingga tubuhnya mulai mengejang bak disengat aliran listrik.
Namun sayang, gairah yang sudah menggelora itu harus terhenti saat tangisan Elga menyurutkan keintiman mereka. Padahal tongkat perkasa Elkan baru saja mau memasuki benteng pertahanan Yuna. Terpaksa Elkan menariknya kembali dengan air muka datar tanpa ekspresi.
"Maaf ya Bang, nanti kita lanjut."
Yuna berhamburan turun dari ranjang, langkahnya membesar saat berjalan menuju kamar si kembar sambil merapikan pakaiannya kembali.
Elkan mengerutkan keningnya dengan ekspresi mata yang sama sekali tidak bisa ditebak. Di sini dia lah yang merasa paling teraniaya, bisa-bisanya tuyul kecil itu bangun disaat-saat seperti ini. Bukankah hal ini begitu menyiksa bagi Elkan?
Segera Elkan menaikkan celananya dan berjalan memasuki kamar mandi. Mau marah tapi sama siapa? Bagaimanapun tuyul kecil itu adalah darah dagingnya sendiri. Terpaksa Elkan mengisi bathtub dan memilih berendam sambil menunggu Yuna kembali ke kamar mereka.
Bersambung...
__ADS_1