
Beno membaringkan Reni di atas kasur setelah keduanya sampai di rumah, lalu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh istrinya itu. Saat Beno ingin melangkah pergi, Reni menahan tangannya dan menariknya. "Jangan pergi Mas!"
"Mas tidak pergi, Mas hanya mau keluar sebentar menyiapkan makanan dan obat." jawab Beno.
"Tidak perlu, aku tidak mau makan dan juga minum obat. Berbaringlah di sini bersamaku!" pinta Reni dengan air muka yang terlihat sangat pucat.
"Tapi kamu belum makan sayang," selang Beno.
"Aku tidak lapar Mas," sahut Reni yang sudah kehilangan tenaganya, suaranya nyaris menghilang setelah berjibaku memuntahkan semua isi perutnya tadi.
Beno mengangguk lemah, mau tidak mau dia terpaksa mengalah dan merangkak menaiki kasur. Dia berbaring dan membawa Reni ke dalam dekapan dadanya. "Istirahatlah, Mas tidak akan kemana-mana!"
Reni mengukir senyum lalu meminta Beno melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah Beno melakukan itu, Reni membenamkan wajahnya di belahan ketiak Beno dan memeluknya dengan erat. Matanya mulai terpejam dengan perlahan.
Beno mengusap rambut Reni dan mengecup dahinya. Dia sebenarnya masih bingung tapi tidak mau berdebat akan hal ini. Melihat Reni seperti ini saja sudah cukup membuatnya senang, yang penting Reni tidak menjauh lagi darinya. Tidak lama, Beno ikut tertidur tanpa melepaskan pelukannya.
Di hotel, Elkan dan Yuna sudah kembali ke kamar utama. Si kembar pagi ini dibawa Diah dan Lili ke kamar mereka untuk bermain. Sedangkan Amit dan Sari masih berada di bawah mengitari hotel mewah itu.
Elkan membuka baju yang melekat di tubuhnya dan duduk di atas sofa. Dada bidangnya terpampang nyata dengan perut kotak yang berbentuk roti sobek. Yuna yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil sesekali menggaruk kepalanya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu? Ayo, kemarilah!" panggil Elkan sambil mengulurkan sebelah tangannya.
"Malas ah, nanti-"
"Jangan buat Abang marah! Cepat sini!" Elkan menajamkan tatapannya.
"Iya, iya," Yuna menggembungkan pipinya dengan bibir mengerucut. Mau tidak mau dia terpaksa mendekat dan mengulurkan tangannya.
Baru saja tangan mereka saling bertautan, Elkan langsung menarik Yuna hingga terjatuh di atas pangkuannya.
"Aaaaa..."
"Plak Plak Plak"
__ADS_1
Yuna memukuli dada bidang suaminya itu berulang kali. "Abang apa-apaan sih? Bikin Yuna jantungan saja,"
"Hahahaha... Maaf sayang, habisnya lama banget sih." Elkan tertawa terbahak-bahak dan mendekap Yuna dengan erat. Yuna pun mengalungkan tangannya di tengkuk pria bertubuh atletis itu.
Sejenak kamar mereka menjadi hening saat keduanya sama-sama terdiam berbagi kehangatan. Yuna menenggelamkan wajahnya di leher Elkan, sedangkan Elkan sendiri asik mengusap lengan Yuna dan mencium rambut istrinya itu.
Beberapa menit berlalu Yuna akhirnya bersuara dan bertanya. "Apa Abang tidak ke rumah sakit?"
"Pengen sih, tapi malas." jawab Elkan dengan entengnya.
"Kok ngomongnya gitu sih Bang? Bagaimanapun wanita itu tetaplah Ibu Abang, suka tidak suka Abang harus menunjukkan rasa simpati Abang sebagai seorang anak." terang Yuna.
"Yuna benar, tapi bagaimana cara bersimpati setelah semua yang dia lakukan pada Abang. Dia tidak hanya menyakiti Abang tapi juga-"
"Setidaknya lakukan demi Edward, dia pasti butuh dukungan dari Abang. Bagaimanapun kalian berdua adalah saudara kandung. Apa Abang tidak-"
"Iya, iya, Abang pergi, tapi Yuna ikut ya." ajak Elkan.
"Kan ada Diah sama Lili yang jagain, Yuna tidak usah khawatir!" potong Elkan.
"Merepotkan mereka lagi?" Yuna menautkan alisnya.
"Tidak sayang, mereka tidak akan kerepotan. Lagian ada Amit dan Sari juga kan?" jelas Elkan.
"Ya sudah kalau itu mau Abang. Sekarang lepasin Yuna dulu, Yuna mau ke kamar mereka sebentar."
"Biar Abang saja yang ke kamar mereka, Yuna siap-siap dulu!"
Elkan mengecup kening Yuna dan melepaskan pelukannya. Setelah Yuna beranjak dari pangkuannya, Elkan mengenakan bajunya dan berjalan meninggalkan kamar.
Yuna kemudian melangkah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dan merias wajahnya di depan cermin dan mengenakan pakaian. Tidak lama, Elkan kembali dan segera bersiap-siap.
Setengah jam kemudian, keduanya meninggalkan hotel dan masuk ke dalam mobil. Elkan duduk di bangku kemudi sedangkan Yuna duduk di sebelahnya. Mobil mewah itu melesat meninggalkan gerbang hotel dan melaju menyisir jalan raya.
__ADS_1
"Bang, mampir di toko buah dulu ya! Yuna tidak enak kalau tidak bawa apa-apa." pinta Yuna sambil menoleh ke arah Elkan.
"Iya sayang, nanti saja. Dekat rumah sakit ada toko buah, beli di sana saja!" sahut Elkan yang masih fokus dengan stir nya.
Tidak lama, mobil itu menepi tepat di depan toko buah yang hanya berjarak beberapa toko saja dengan rumah sakit. Setelah mematikan mesin mobil, Elkan turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk istri cantiknya. Elkan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, Yuna pun membalasnya sambil memberikan tangannya lalu keduanya masuk ke dalam toko buah itu.
Setelah mendapatkan parsel buah segar, keduanya meninggalkan toko dan masuk ke dalam mobil. Elkan kembali mengemudikan mobilnya dan memasuki parkiran rumah sakit. Mereka berdua kembali turun dan berjalan sembari bergandengan tangan.
Setibanya di dalam, mata keduanya langsung menangkap keberadaan seorang pria yang tengah gelisah di depan ruang operasi. Mata pria itu memerah dan berkaca, ada kekhawatiran di dalam dirinya karena rasa takut kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi.
"Edward, apa yang terjadi?" Suara Elkan itu membuat Edward terperanjat. Dia mendongak dan membulatkan matanya dengan sempurna.
Melihat sang kakak yang sudah berdiri di hadapannya, Edward langsung berhamburan dan memeluk Elkan dengan erat. Tangisannya pecah diiringi isak yang menyesakkan dada.
"Sudah, jangan cengeng! Kau itu laki-laki, apapun yang terjadi kau harus kuat!" Elkan mencoba menenangkan adiknya itu. Dia menepuk-nepuk pundak Edward dan mengusap punggungnya.
Edward berusaha mengatur emosinya, dia menyeka wajahnya dengan kasar dan melepaskan pelukannya. "Maaf Kak, aku takut Ibu pergi secepat ini. Kata dokter beliau masih kritis pasca operasi barusan."
"Berdoa saja yang terbaik, kita tidak bisa menolak rencana Tuhan. Apapun yang akan terjadi kau tidak boleh lemah!" Elkan mengusap kepala Edward dan menghapus jejak air mata adiknya itu dengan ibu jarinya.
Edward menghela nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Saat matanya menyadari kehadiran Yuna, Edward langsung membungkukkan punggungnya.
"Hai Kak, Kakak pasti istrinya Kak Elkan." Edward menyapanya dengan sopan dan mengulurkan tangannya.
"Iya, aku istri Kakakmu. Kamu yang sabar ya." Yuna memberikan tangannya, Edward pun menciumnya untuk menunjukkan rasa hormat sebagai seorang adik ipar.
"Iya Kak, makasih sudah mau datang ke sini."
Edward benar-benar malu kepada dua insan manusia itu. Setelah apa yang dilakukan Elena, keduanya masih berbesar hati menjenguk ibunya ke rumah sakit.
Andai saja Elena tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan sebagian harta kekayaan Bramasta, mungkin Edward akan sangat bahagia mengenalkan dirinya sebagai keturunan Bramasta.
Bersambung...
__ADS_1