Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 181.


__ADS_3

"Mas..." panggil Reni yang sudah berdiri di ambang pintu dan berpegangan pada tepi dinding untuk menopang tubuh ringkih nya agar tidak terjatuh.


"Iya sayang, Mas datang." sahut Beno.


Dia buru-buru bangkit dari duduknya dan segera menyusul Reni, tiba-tiba mata Beno terbelalak melihat istrinya yang sudah keluar dari kamar mandi. "Loh, kok sudah di luar saja." Beno langsung merangkul pundak Reni dan memapahnya menuju tempat tidur lalu meletakkan bantal pada kepala ranjang dan menyandarkan punggung Reni di sana.


"Reni..." Suara lembut Yuna tiba-tiba mengalihkan perhatian Reni. Saat mengedarkan pandangannya, dia mendapati Yuna dan Elkan yang tengah duduk di sofa kamarnya bersama si kembar.


"Kak Yuna, Kak Elkan, kalian di sini?" Reni mengukir senyum menyambut kedatangan mereka.


Yuna langsung berdiri dan berjalan menghampiri Reni, dia duduk di tepi ranjang sambil memangku Elga yang sedari tadi asik mengoceh dengan bahasa planetnya. Sementara Beno sendiri kembali ke sofa menemani Elkan.


"Nananana," Elga mengoceh.


Sontak aksi menggemaskan Elga itu membuat semua orang tertawa saking lucunya. Apalagi lidah bayi bontot itu selalu menjulur hingga menumpahkan air liurnya di baju Yuna.


"Hahahaha... Ngomong apa sih Nak?" kekeh Yuna sambil mencubit pipi Elga saking gemesnya.


"Elga pintar banget sih, kangen ya sama Aunty Reni?" Reni ikut terkekeh dan mencubit hidup bayi mungil itu.


"Mungkin maksud Elga begini. Aunty cepat sembuh ya, biar bisa main lagi sama Elga dan Kak Edgar." timpal Elkan menjelaskan dengan menirukan suara anak kecil.


"Bisa jadi, pintar juga kau." Beno ikut menimpali dan menatap Elkan dengan senyum mengejek.


"Ck," desis Elkan.

__ADS_1


"Hahahaha... Iya kali ya," sambung Yuna dan Reni secara bersamaan. Tawa keduanya pecah memenuhi seisi kamar.


Sesaat suasana di kamar itu menghangat, tubuh Reni yang tadinya sangat lemah seketika seperti mendapatkan transferan energi dari keceriaan bayi gemoy itu. Tidak hanya pintar tapi sangat menggemaskan hingga membuat semua orang ingin sekali menggigit bibir basah berwarna pink muda itu.


"Bagaimana keadaan kamu, Reni?" Yuna kembali pada intinya. "Kenapa kabar bahagia ini tidak dikasih tau sama kami? Apa kami tidak boleh ikut merasakan atmosfer kebahagiaan ini? Apa kami segitu asingnya sampai-sampai kalian tidak mau-"


"Kak Yuna..." Reni menyela ucapan Yuna. "Kakak jangan salah paham dulu, kami juga ingin memberitahukan ini pada kalian semua. Kami hanya menunggu waktu yang tepat saja Kak, kami tidak ingin mengganggu weekend kalian."


"Bohong..." Yuna menggembungkan pipinya. "Kalau ada niat, setidaknya telepon kek, apa kek. Ini apa? Kalian berdua sama saja, aku marah sama kalian." Yuna menatap tajam Reni dan Beno secara bergantian, matanya nampak nyalang menyemburkan kobaran api yang menyala. Jika ada bensin yang tumpah, mungkin akan menjalar kemana-mana.


"Sayang, apaan sih? Jangan berlebihan gitu! Mungkin maksud mereka baik. Kalau mereka memberitahu kita sebelumnya, pasti weekend kali ini jadi berantakan. Yuna tidak kasihan dengan Amit, Sari, Diah dan Lili, mereka lagi senang-senangnya menikmati weekend pertama ini. Masa' diajak pulang lebih awal?" Elkan mencoba menjelaskan dan meyakinkan istrinya.


"Iya, Abang benar tapi bagaimanapun mereka berdua tetap salah!" Yuna masih bersikukuh dengan pendiriannya yang menganggap tindakan Beno dan Reni itu salah. Apalagi Reni, jika dia menganggap Yuna sebagai seorang kakak dia tidak mungkin menyembunyikan apapun darinya.


"Kak Yuna, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu." lirih Reni yang mulai mengambil hati atas ucapan Yuna barusan, matanya tiba-tiba berkaca menyaksikan kekecewaan di mata ibu dua anak itu.


"Hahahaha... Aku cuma bercanda Reni, jangan melow gitu ih!" Yuna mengangkat tangan kanannya dan mencubit pipi Reni saking gemasnya, lalu mendekap Elga dengan erat dan mencium pipi gembul gadis kecil itu.


"Aww... Sakit Kak," keluh Reni, namun akhirnya dia ketularan tawanya Yuna. Elkan dan Beno yang tadinya menegang ikut ketawa juga dibuatnya.


"Astaga sayang, bikin orang jantungan saja. Abang pikir-"


"Abang pikir apa hah? Abang cuma bisa menilai kejelekan Yuna saja kan?" Yuna memelototi Elkan hingga nyali suaminya itu langsung menciut.


"Ah sudahlah, Abang mau ke kamar dulu. Capek, mau mandi biar segar." Elkan lebih memilih mengalah dan bangkit dari duduknya, jika dilayani perdebatan mereka tidak akan ada ujungnya sampai pagi.

__ADS_1


"Kalian bicara saja dulu, aku juga mau keluar sebentar!" Beno pun ikut meninggalkan kamar dan memilih masuk ke dapur. Dia kemudian meminta Diah membuatkan bubur untuk makan siang Reni.


Di kamar, Reni masih heboh bercengkrama dengan Yuna. Meski tidak ada ikatan darah diantara mereka, tapi Yuna sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Yuna sudah sejak dulu mendambakan adik perempuan sehingga kehadiran Reni dan Sari di rumah itu benar-benar membuatnya sangat bahagia. Dia bisa mencurahkan rasa sayangnya sebagai seorang kakak yang selama ini belum pernah dia tumpahkan.


Hampir satu jam Yuna berada di kamar Reni tapi tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan menghentikan obrolan receh itu. Elga bahkan sudah tertidur di pangkuan Yuna saking lelahnya menunggu obrolan itu selesai.


Tidak lama, Beno masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan di tangannya. Di atasnya tertata semangkok bubur, segelas air putih dan segelas susu ibu hamil yang direkomendasikan oleh dokter kandungan.


"Ih, si gemoy Elga udah tidur saja." ucap Beno saat menaruh nampan yang dia bawa di atas nakas.


"Iya, habis menyusu langsung ketiduran." Yuna mengusap kepala putrinya dengan sayang. Kalau begitu aku ke atas dulu ya, mungkin Edgar juga haus. Kamu makan yang banyak ya Reni, biar cepat sembuh dan kuat tenaganya!"


"Iya Kak, makasih. Semoga Kak Yuna cepat nyusul ya!" seloroh Reni mengulum senyum. Yuna yang tadinya hendak berdiri terpaksa duduk kembali setelah mendengar celetukan istri Beno itu. Keningnya mengerut matanya menyipit.


"Ish, jangan ngaco kamu. Si kembar masih terlalu kecil buat punya adek, biarin mereka puas dulu menikmati kasih sayang dari papa dan mamanya." geram Yuna.


Meski sebenarnya dia sangat ingin hamil lagi, tapi dia tidak mau egois memikirkan dirinya sendiri. Si kembar masih membutuhkan kasih sayang penuh darinya dan Elkan. Setidaknya sampai mereka berdua bisa berjalan dan bisa menyibukkan diri sendiri.


"Hehehe... Canda kok Kak, jangan marah gitu!" Reni tertawa kecil.


"Hm... Tidak marah,"


Setelah Yuna benar-benar pergi meninggalkan kamar itu, Beno menutup pintu dan duduk di tepi ranjang. Dia mengambil mangkok yang berisikan bubur dan menyuapi Reni dengan sabar.


Beruntung kali ini perut Reni mau menerima bubur itu, entah sampai kapan Beno sendiri tidak tau. Yang jelas perut Reni terisi dulu untuk sementara waktu. Kalau keluar lagi setidaknya sudah dicerna dan menghasilkan tenaga untuknya.

__ADS_1


Selepas menghabiskan setengah mangkok bubur, Beno menyodorkan gelas berisi air putih ke mulut Reni. Setelah Reni menyesapnya, dia meminta Reni meminum susu ibu hamil untuk menekan rasa mualnya agar tidak terjadi berkepanjangan. Tak lupa pula Beno memberikan obat dan vitamin yang diresepkan dokter Siska kemarin.


Bersambung...


__ADS_2