
**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam
Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**
**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya
Happy Reading**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mencuci muka dan merapikan pakaian masing-masing, Yuna melingkarkan tangannya di lengan Elkan. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan.
Sesampainya di lobby, mata semua orang kembali tertuju pada mereka. Kali ini, Yuna tak mau tau dan tak mau ambil pusing. Dia terus saja melenggang mengikuti langkah Elkan.
Saat hendak keluar dari pintu kaca, keduanya berpapasan dengan Beno yang baru saja kembali usai makan siang di luar.
"Elkan, Yuna," sapa Beno yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Hai Beno, apa kabar?" tanya Yuna sembari tersenyum lebar.
"Seperti yang kamu lihat, kalian mau kemana?" tanya Beno sembari menautkan alisnya.
"Keluar sebentar Ben, kau dari mana?" jawab Elkan dengan pertanyaan pula.
"Dari cafe sebelah, kalau begitu pergilah! Aku masuk dulu," balas Beno, kemudian melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di dalam, Beno mengerutkan keningnya menyaksikan tatapan para karyawan yang masih tertuju pada Elkan dan Yuna, padahal keduanya sudah tiba di luar.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Beno penasaran.
"Ti_tidak ada Tuan," jawab salah seorang karyawan.
Satu persatu dari mereka kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.
"Lain kali, jangan menatap mereka seperti itu! Apa kalian tidak tau siapa wanita itu?" tanya Beno sembari menumpukan tangannya pada permukaan meja.
"Tidak Tuan, memangnya siapa dia?" jawab seorang resepsionis.
"Namanya Yuna, dia pernah menjadi brand ambassador produk kita. Mungkin dari kalian banyak yang tidak mengenalnya, dia hanya sebentar bergabung di perusahaan ini." jelas Beno.
"Kenapa sekarang dia kembali lagi? Apa Tuan Elkan dan dia memiliki hubungan istimewa?" tanya karyawan lainnya.
"Tidak hanya istimewa, mereka itu pasangan suami istri." ungkap Beno sembari tersenyum kecil.
"Hah, jadi Tuan Elkan sudah menikah?" tambah karyawan yang lain.
"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Beno.
"Ti_tidak Tuan, kenapa diantara kami tidak ada yang tau akan hal ini. Bukankah seharusnya Tuan Elkan mengundang kami di pesta pernikahannya?" tanya karyawan itu satu persatu.
"Belum ada resepsi, tapi keduanya sudah sah menjadi suami istri." jelas Beno.
"Oh, apa mereka berdua terlibat cinta lokasi?" tanya resepsionis tadi.
__ADS_1
"Tidak, sebelum Yuna menjadi brand ambassador kita, mereka sudah lebih dulu menikah."
"Sekarang kalian sudah tau kan siapa wanita itu. Tolong jaga sikap kalian di depan mereka! Jangan sampai Elkan murka melihat tatapan kalian seperti tadi!" saran Beno.
"Baik Tuan, kami mengerti."
Setelah menjelaskan semuanya, Beno berlalu meninggalkan lobby, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift.
Di waktu yang bersamaan, Elkan memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe. Setelah keduanya turun, Elkan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Yuna, lalu melangkah masuk mencari tempat duduk.
"Mau makan apa sayang?" tanya Elkan yang sudah duduk di sebuah sofa.
"Terserah kamu aja!" jawab Yuna sembari merebahkan kepalanya di lengan Elkan.
"Kok terserah sih? Di sini gak ada makanan yang namanya terserah," ucap Elkan sembari tertawa geli.
"Elkan ih, maksudnya bukan itu." ketus Yuna kesal, kemudian mencubit lengan Elkan.
"Aduh, sakit sayang." rintih Elkan sembari mengusap lengannya.
"Makanya, jangan bercanda mulu!" gerutu Yuna dengan bibir manyunnya.
"Iya, iya, jangan ngambek gitu dong! Jelek tau," bujuk Elkan, lalu menarik hidung Yuna gemas.
Setelah memesan makanan, Elkan menyandarkan punggungnya pada tampuk sofa, lalu menarik pinggang Yuna hingga tubuh keduanya saling menempel.
"Elkan, jangan gini dong! Malu tau," keluh Yuna sembari beringsut dari posisinya.
Yuna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Elkan. Namun dari lubuk hati yang terdalam, dia merasa senang melihat sikap Elkan tersebut.
Selang beberapa menit, makanan yang mereka pesan pun datang. Dua orang pelayan cafe meletakkannya di atas meja.
"Silahkan Tuan, Nona!" seru seorang pelayan dengan ramah.
"Terima kasih," sahut Yuna tak kalah ramahnya.
Setelah kedua pelayan itu berlalu dari hadapan mereka, Elkan dan Yuna mulai menikmati makan siang mereka.
Saking laparnya, Yuna nampak begitu lahap menghabiskan makanannya, Elkan hanya bisa tersenyum melihat cara makan istrinya yang menggemaskan. Apalagi melihat pipi Yuna yang semakin gembul saat mengunyah makanannya.
"Pelan-pelan aja sayang, nanti keselek!" ucap Elkan sembari tersenyum lebar.
Yuna mengangguk kecil, dia tak bisa menyahut sebab mulutnya masih dipenuhi dengan makanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, mau balik ke kantor pun rasanya nanggung. Elkan akhirnya membawa Yuna berkeliling menjelajahi pusat kota.
"Elkan, kita mau kemana? Dari tadi mutar mutar mulu, apa kamu gak lelah?" tanya Yuna sembari menautkan alisnya.
Elkan tersenyum kecil, "Selagi bersamamu, tubuh ini gak akan pernah lelah."
Yuna mengulum senyumannya, "Gombal ih, kebiasaan."
__ADS_1
"Gak apa-apa dong gombalin istri sendiri," goda Elkan, kemudian menggenggam sebelah tangan Yuna.
"Pulang aja yuk! Ngapain keliling gak jelas seperti ini?" ajak Yuna.
"Yakin mau pulang?" tanya Elkan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kok nanyanya gitu sih?" lirik Yuna.
"Gak, kalau di rumah tuh bawaannya pengen gituan aja. Apa kamu sudah siap?" goda Elkan.
"Elkan," Yuna menggertakkan giginya, lalu mencubit pinggang Elkan saking geramnya.
"Aduh, sakit sayang." rintih Elkan sembari mengusap pinggangnya.
"Makanya, jangan ngeres mulu otaknya!" ketus Yuna kesal.
"Mau gimana lagi sayang, aku kan juga pengen ngerasain bagaimana nikmatnya menggapai surga dunia bersama istriku. Kata orang-orang rasanya nikmat sekali,"
"Astaga Elkan, kamu ini benar-benar ya." gerutu Yuna yang mulai kehabisan kata-kata.
Seketika, Elkan terkekeh melihat reaksi istrinya. Pipi yang merona dengan wajah cemberut Yuna membuatnya semakin gemas.
Mengingat hari yang sudah semakin sore, Elkan pun memutar stir mobilnya menuju arah pulang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Yuna tak bersuara sama sekali. Dia hanya fokus menatap jalanan sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran jok. Begitupun dengan Elkan yang hanya fokus mengendalikan stir mobilnya.
Sekitar setengah jam menempuh perjalanan, tibalah mereka di depan kediaman mewah Elkan.
Elkan mematikan mesin mobil, kemudian turun dan membukakan pintu untuk Yuna.
"Ayo turun!" ajak Elkan sembari mengulurkan tangannya.
Yuna menatap Elkan dengan intim, tatapannya membuat Elkan mengerutkan keningnya.
"Ayo sayang!" ajak Elkan lagi.
Yuna meraih tangan Elkan. Setelah menapakkan kakinya di halaman rumah, dia menepis tangan Elkan dan melenggang masuk tanpa mempedulikan Elkan yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Elkan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, kemudian berlari kecil menyusul Yuna yang sudah tiba di ujung anak tangga.
"Sayang, kok suaminya ditinggalin begitu aja?" tanya Elkan sembari meraih tangan Yuna.
"Kamu punya kaki kan? Jalan aja sendiri!" lirik Yuna tanpa ekspresi sedikitpun, lalu melanjutkan langkahnya.
"Sayang, kok jadi dingin gini sih?" lirih Elkan sembari mengekori langkah Yuna hingga lantai atas.
Yuna mengangkat bahunya dengan bibir sedikit maju. Setelah membuka pintu kamar, dia melangkah menuju ranjang dan menaruh tasnya di sana, kemudian berlalu memasuki kamar mandi.
Elkan mengusap wajahnya kasar, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Hembusan nafasnya terdengar berat memikirkan Yuna yang tiba-tiba berubah dalam sekejap mata.
"Yuna, Yuna," gumam Elkan sembari menatap langit-langit kamar.
Bersambung...
__ADS_1