
Akhirnya air mata itu mengalir membasahi pipi Elena. Ada sedikit perasaan lega di hatinya setelah mengungkapkan kenyataan itu.
"Elkan, kamu boleh membenci Mama. Kamu juga boleh tidak mengakui Mama. Mama memang bersalah Nak, tapi tolong jangan membenci adikmu! Dia tidak tau apa-apa, dia sama menderitanya denganmu."
"Edward adalah adikmu, dia adik kandungmu. Kalian memiliki Papa yang sama, dia juga keturunan Bramasta Nak."
"Atas dasar apa aku harus percaya pada kata-katamu itu? Kau meninggalkan aku dan Papa saat umurku masih satu tahun. Mana mungkin dia itu adikku?"
"Waktu Mama meninggalkan Papa, Mama benar-benar tidak tau kalau ada janin di dalam perut Mama. Mama mengetahui itu saat adikmu berusia sepuluh tahun, karena itulah Mama bercerai dengan suami Mama yang kedua. Dia tidak mau menerima Edward karena bukan darah dagingnya."
"Edward juga terpukul saat mengetahui kenyataan ini. Dia memilih tinggal bersama nenek kalian di Surabaya. Percaya sama Mama, dia anak yang baik. Dia sudah berulang kali melarang Mama mengganggu kehidupan mu tapi Mama tidak pernah mendengarnya."
"Hari ini pun dia masih berusaha melarang Mama menceritakan ini. Kamu lihat sendiri tadi kan? Dia sangat menyayangi kamu, dia tidak ingin kakaknya terluka."
"Mama tidak pernah berniat untuk menghancurkan kamu, itu semua reflek karena Mama ingin Edward mendapatkan pengakuan yang sama. Kalian sedarah, kalian terlahir dari Mama dan Papa yang sama."
"Heh, sulit dipercaya."
"Elkan, umur Mama tidak akan lama lagi Nak. Mama hanya ingin Edward menjadi bagian dari keluarga Bramasta. Mama akan tenang jika kamu mau menerima adikmu itu."
"Mama juga minta maaf atas segala kesalahan yang sudah Mama perbuat. Mama tidak pernah membenci kamu, Mama juga tidak pernah membenci menantu dan cucu Mama. Mama hanya tidak ingin membebani kalian semua. Mama takut kalian akan terluka setelah kepergian Mama nanti."
"Masalah harta yang Mama minta itu, itu semua semata-mata hanya untuk Edward. Mama ingin dia mendapatkan hak yang sama dengan kamu meski adikmu itu tidak pernah menginginkannya. Dia hanya ingin kamu bahagia. Dia bahkan tidak butuh pengakuan darimu. Jika memungkinkan, temui dia sekali saja! Anggap saja ini permintaan Mama yang terakhir."
"Bug!"
Setelah mengatakan itu, Elena tiba-tiba tumbang dan tersungkur di dasar lantai. Darah segar keluar dari lobang hidungnya, dia tersenyum namun akhirnya menutup mata secara perlahan.
Elkan yang melihat itu seketika tersentak dibuatnya. Sontak dia berjongkok dan membawa Elena ke pangkuannya.
"Ma..." Tanpa Elkan sadari, panggilan itu tiba-tiba saja melompat dari mulutnya.
Elkan menepuk-nepuk pipi Elena, tapi wanita itu sudah tidak sadarkan diri.
Tanpa berpikir, Elkan langsung mengangkat tubuh ringkih itu dan membopongnya menuju parkiran. Seorang satpam menghampiri dan memberikan kunci mobil. Segera Elkan membaringkannya di bangku belakang.
Elkan yang sudah kehilangan akal langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Elkan kembali membopong Elena memasuki lobby. Para perawat berhamburan saat mendengar teriakan Elkan yang mampu mengguncang seisi rumah sakit itu.
Sebelum Elena dibawa masuk ke ruang IGD, Elkan merogoh kantong jaketnya dan menemukan sebuah ponsel. Beruntung ponsel itu tidak memiliki kata sandi sehingga Elkan bisa membukanya dengan mudah.
Saat membuka riwayat panggilan, Elkan menemukan kontak Edward dan segera menghubunginya.
"Halo Ma,"
__ADS_1
"Edward, kemari sekarang! Mama masuk rumah sakit,"
"Apa?"
"Cepat Edward!"
Setelah mengatakan itu, Elkan langsung mematikan sambungan teleponnya dan mengirim share lok agar Edward tidak kesusahan mencari alamat rumah sakit itu.
Elena sudah ditangani oleh tim dokter di dalam sana. Sementara Elkan sendiri masih mondar mandir seperti setrikaan rusak, wajahnya terlihat panik. Meski kebencian itu sudah mendarah daging di tubuhnya, tapi tetap saja Elena adalah orang tuanya. Wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
Dalam kekalutan pikiran yang tengah memecut otaknya, Elkan teringat dengan Yuna dan segera menghubunginya. Elkan takut Yuna mengkhawatirkan dirinya karena belum juga kembali ke kamar mereka.
"Halo Bang, tumben nelpon. Abang sudah di depan pintu ya?" jawab Yuna.
"Sayang, maafin Abang ya. Abang belum bisa kembali. Abang sekarang di rumah sakit, wanita itu jatuh pingsan." jelas Elkan.
"Apa? Kenapa bisa pingsan Bang? Apa yang Abang lakukan padanya?" tanya Yuna.
"Tidak sayang, Abang tidak melakukan apa-apa. Abang juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba pingsan, Yuna jagain si kembar dulu ya. Abang akan kembali secepatnya." terang Elkan.
"Iya Bang, Abang di sana saja dulu. Yuna tidak apa-apa kok," sahut Yuna.
"Makasih atas pengertiannya, Abang sayang sama Yuna. Mmuach..."
Setelah memberikan kecupan sayang untuk istri tercintanya, Elkan memutuskan sambungan telepon itu dan duduk di bangku panjang. Dia kemudian membuka jas yang melekat di tubuhnya karena banyak sekali darah yang menempel di sana.
"Edward..."
Elkan langsung bangkit dari duduknya, kali ini matanya membulat dengan sempurna. Dia bisa melihat dengan jelas perawakan Edward yang sangat mirip dengan dirinya. Elkan seketika bergeming menatap lekat wajah pria itu.
"Terima kasih banyak karena sudah bersedia membawa mamaku ke sini, Anda boleh pergi!" ucap Edward.
Hal itu sontak menyulut kemarahan di hati Elkan. Tangannya tiba-tiba mengepal, ingin sekali dia menghajar pria tidak tau sopan santun itu tapi tidak mungkin mengingat keberadaan mereka yang tengah berada di dalam rumah sakit.
Edward kemudian duduk di bangku panjang itu, dia tidak lagi menatap wajah Elkan. Dia merasa malu setelah apa yang dilakukan Elena pada kakaknya itu.
Elkan ikut duduk dan melirik ke arah Edward, matanya menyipit memperhatikan garis wajah pria itu. Benar-benar sangat mirip seperti pinang dibelah dua. Elkan masih kesulitan mempercayai semua ini.
"Hei, siapa namamu?" tanya Elkan.
"Lucu sekali, bukankah di telepon tadi Anda sudah memanggil namaku. Kenapa masih bertanya?" Edward menjawab tanpa berani menatap Elkan.
"Dasar tidak sopan! Aku sedang bicara denganmu, harusnya lihat kemari!" ketus Elkan.
Edward memutar lehernya beberapa derajat. Setelah tatapan keduanya saling bertemu, Edward membuang pandangannya dengan cepat.
__ADS_1
"Apa kau sudah tau bahwa kau mempunyai seorang kakak?" tanya Elkan.
"Tidak..." geleng Edward.
"Hm... Dasar pembohong!" umpat Elkan.
"Aku bukan pembohong," geram Edward.
"Huh... Masih mengelak," Elkan memiringkan bibirnya.
"Sudah, cukup! Jika Anda tidak memiliki kepentingan lagi, maka pergilah! Aku tidak mau diganggu," bentak Edward.
"Kau berani mengusirku? Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya dicium sama sepatu?" Elkan menggertakkan giginya.
"Jangankan sepatu, aku bahkan pernah dicium sama panci dan sutil. Sekarang pergilah, jangan menggangguku!" Edward memutar tubuhnya hingga membelakangi Elkan.
Mendengar itu, Elkan akhirnya tertawa tanpa bisa ditahan. "Hahahaha... Siapa yang melakukan itu?"
"Nenek..." ketus Edward.
"Apa nenek orangnya galak?" tanya Elkan lagi.
"Sangat galak, dia sering memarahiku. Dia juga sering memarahi Mama kalau pulang ke Surabaya." jelas Edward.
"Kenapa?" Elkan mengerutkan keningnya.
"Karena Mama tidak pernah membawa Anda bertemu-"
Tiba-tiba Edward menghentikan ucapannya. Dia memilih berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu tapi Elkan dengan sigap menghadang langkahnya.
"Kenapa tidak dilanjutkan?" Elkan menajamkan tatapannya.
"Ti-Tidak, tadi aku salah bicara." Edward menundukkan wajahnya agar Elkan tak melihat linangan air matanya.
"Kau tidak kangen dengan kakakmu?" Elkan menyipitkan matanya. "Apa kau tidak ingin memeluknya?" imbuh Elkan.
Elkan tau Edward tengah berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, tapi sayangnya Elkan sudah mendengar semuanya dari Elena. Percuma Edward membohonginya.
"Iya, aku kangen. Aku ingin sekali memeluknya. Tapi aku tidak punya hak untuk itu, aku-"
"Dasar bodoh!" Elkan memukul kepala Edward dan menariknya ke dalam pelukannya.
Air mata Edward mengucur deras merasakan sentuhan tangan kakaknya itu. Begitupun dengan Elkan yang tidak kuat menahan dirinya.
Dia tak menyangka ternyata dirinya tidak sendiri, dia masih memiliki adik dari ayah yang sama.
__ADS_1
Bersambung...