Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 131.


__ADS_3

Pukul lima sore pesawat yang ditumpangi Reynold sudah mendarat di kota Purwokerto. Kota dimana kereta api yang ditumpangi Laura mengalami kecelakaan.


Berdasarkan informasi terakhir yang Reynold dapatkan, tubuh Laura sudah ditemukan dan kini tengah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Reynold langsung memanggil taksi dan meminta sang sopir mengantarnya ke rumah sakit tersebut.


Di sebuah ruangan, tubuh ringkih Laura terbujur lemah tak berdaya. Dia sudah siuman, tapi penglihatannya masih nanar. Seluruh tubuhnya terasa remuk karena tertindih diantara puing-puing kereta api yang hancur, bahkan sebelah kakinya sangat sulit digerakkan.


"Ibu sudah sadar? Syukurlah Ibu selamat dari kecelakaan tersebut." ucap seorang suster, lalu mengganti infus Laura yang sudah habis.


"Kenapa kalian menyelamatkan saya? Seharusnya biarkan saja saya mati, saya tidak punya alasan lagi untuk hidup." lirih Laura dengan mata berkaca.


Bukankah bagus jika dia mati dalam kecelakaan tersebut, lagian tidak akan ada yang menangisi kepergiannya. Dia cuma sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Hidupnya juga sudah hancur tanpa sisa, tidak ada harapan lagi untuk bahagia.


"Sadar Bu, tidak boleh bicara seperti itu. Harusnya Ibu bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup." jelas suster itu.


"Tidak ada yang patut disyukuri, mati adalah jalan terbaik agar terbebas dari penderitaan ini. Hidupku sudah hancur, tidak ada yang menginginkan orang sepertiku. Bahkan tidak ada kasih sayang sedikit pun, mereka semua meninggalkan aku. Aku sendirian, aku tidak punya tempat lagi untuk bersandar." isak Laura menangisi keadaannya.


"Bu, hidup terkadang memang tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Ibu harus kuat, jangan mudah menyerah. Yakinkan pada hati Ibu bahwa suatu hari nanti akan ada kebahagiaan yang datang menghampiri." ucap suster itu.


Laura mengangkat sudut bibirnya dan mengusap wajahnya dengan pelan. Meski ucapan suster itu tidak akan mungkin terjadi pada dirinya, setidaknya mampu membuat hatinya tenang untuk sesaat.


Setelah suster itu pergi, Laura memejamkan matanya. Baru beberapa menit, dia kembali terbangun saat pintu ruangannya terdengar bergeser. Derap langkah kaki membuatnya menoleh ke arah pintu.


Tak disangka Laura tiba-tiba terpaku saat menangkap keberadaan seorang pria yang sangat dia kenal, bahkan sudah membuatnya nyaman dalam dua hari terakhir ini. Air mata Laura kembali jatuh, begitupun dengan pria yang sedang menatapnya tersebut.


"Hiks..." Isak Laura terdengar lirih hingga membuat Reynold terenyuh.


Reynold berlari menghampirinya dan merebahkan kepalanya di dada Laura, lalu memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Hiks..." Lagi-lagi Laura hanya bisa terisak tanpa sanggup berkata-kata.


"Jangan nangis lagi, Mas di sini." lirih Reynold sambil mengangkat kepalanya, lalu menyeka pipi Laura dengan jemarinya.


"Kenapa Mas di sini? Kenapa mencari ku? Aku tidak ingin membebani Mas lagi, pergilah!" isak Laura sesegukan, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sssttt... Jangan bicara seperti itu! Mas minta maaf, Mas yang salah." lirih Reynold penuh penyesalan.


"Tidak, aku yang salah. Aku seharusnya tau diri, aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak punya hak menganggap Mas siapa-siapa di hidupku. Pernikahan kita ini salah, pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" pinta Laura memohon.


"Tidak sayang, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian. Kamu istri Mas, Mas sayang sama kamu. Tolong maafin Mas, tadi Mas emosi. Kenapa kamu gak marahi Mas saja? Kamu juga bisa mukul Mas kalau kamu tidak suka. Kenapa harus pergi?" tanya Reynold.


"Aku tidak punya hak untuk itu, aku sadar dimana posisiku. Mas pergilah, Mas berhak bahagia. Aku tidak bisa bersama Mas lagi, biarkan aku memilih jalanku sendiri!" Laura mendorong dada Reynold, dia mencoba untuk bangkit tapi sebelah kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan.


"Aahhhh..." rintih Laura merasakan sakit yang teramat sangat.


Reynold terlonjak mendengar rintihan istrinya itu. "Sayang, kamu kenapa?"


Dia tidak ingin Reynold tau bagaimana kondisinya saat ini. Dia tidak mau membebani pria itu lagi.


"Aku tidak apa-apa," Setelah mengatakan itu, Laura memaksakan diri untuk tersenyum.


Kenapa Reynold harus datang disaat seperti ini? Laura tidak mau dikasihani, dia tidak mau menjadi beban untuk orang lain. Jika saja dia bisa berlari, dia akan berlari sekencangnya agar Reynold tak bisa lagi menemukannya.


Mana mungkin dia bisa bersama Reynold dalam keadaan seperti ini? Keadaan tak lagi sama, dia bahkan tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Bagaimana bisa dia menjadi seorang istri untuk pria yang begitu sempurna seperti Reynold? Jelas dia hanya akan menyusahkan saja.


"Maaf, aku mau tidur sebentar. Mas pergi saja!" Setelah mengatakan itu, Laura langsung memejamkan matanya. Berharap setelah bangun nanti Reynold sudah tak ada lagi di dekatnya.

__ADS_1


Reynold membiarkan Laura untuk beristirahat. Dia menyeka pipi istrinya yang masih menyisakan jejak air mata itu, lalu mengusap pucuk kepalanya dan mengecupnya dengan sayang.


Kemudian Reynold menarik kursi dan duduk di samping ranjang sembari menggenggam tangan Laura dengan erat. Berkali-kali Reynold mengecupnya dan menempelkan punggung tangan Laura di pipinya.


"Mas sayang sama kamu, jangan tinggalkan Mas lagi!" gumam Reynold penuh penyesalan.


Dia tak menyangka masalah sepele seperti tadi pagi akhirnya berakibat fatal untuk Laura. Jika saja waktu bisa diulang, tentu saja dia tidak akan menentang keinginan istrinya itu. Sayangnya nasi sudah jadi bubur, nikmat tidak nikmat telan saja.


Sekitar pukul tujuh malam, seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Laura. Dia masih tertidur dan tidak menyadarinya sama sekali.


Kemudian dokter itu menjelaskan keadaan Laura yang sebenarnya kepada Reynold. Tentu saja hal itu membuat Reynold tercengang, dia tak menyangka Laura akan menderita setelah mengalami kecelakaan naas itu.


Tapi Reynold tetap bersyukur karena Laura masih selamat dari kecelakaan itu, setidaknya Reynold masih memiliki kesempatan untuk merawatnya dan menebus kesalahannya.


Reynold berjanji akan menjaga Laura dan merawatnya sampai sembuh. Dia tidak peduli meski Laura harus duduk di kursi roda sekalipun, yang penting Laura tetap berada di sisinya. Dia sudah terlanjur mencintai gadis malang itu dan ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Laura.


Beberapa menit setelah dokter yang menangani Laura meninggalkan ruangan, tiba-tiba ponsel Reynold berdering. Dia kemudian menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Rey, bagaimana keadaan Laura?" tanya Yuna dari ujung sana.


"Sudah membaik, hanya saja sebelah kakinya tidak bisa digerakkan. Butuh waktu untuk memulihkannya." jawab Reynold dengan suara beratnya.


"Kamu yang sabar ya, jangan putus asa. Kamu harus tetap kuat, Laura membutuhkan kamu dalam keadaan seperti ini." ucap Yuna memberi semangat kepada sepupunya itu.


"Makasih, tolong bantu doanya! Semoga secepatnya kami bisa kembali ke Jakarta, aku akan mengenalkan mu padanya." sahut Reynold.


"Iya, aku dan yang lainnya pasti mendoakannya. Jaga dia dengan baik!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Yuna mengakhiri panggilan mereka. Meski Yuna tau Laura adalah mantan kekasih suaminya, tapi dia sudah ikhlas dan berdamai dengan keadaan. Yang lalu biar berlalu, mereka sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri.


Bersambung...


__ADS_2