Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 49.


__ADS_3

Elkan membaringkan tubuh molek Yuna di atas kasur. Sebelum melayangkan aksi panasnya, Elkan berbalik dan bergegas mengunci pintu.


"Sayang, bisakah kita menundanya hingga nanti malam?" pinta Yuna sembari bangkit dari pembaringannya.


Dia merasa tidak aman melakukan hubungan suami istri di dalam kantor, apalagi mengingat jam kerja belum usai. Bisa saja seseorang masuk dan memergoki mereka.


Elkan hanya tersenyum, lalu membuka satu persatu pakaian yang dia kenakan. Persetan meski di kantor sekalipun, lagian tidak akan ada yang berani memasuki ruangannya kecuali Beno.


Kini tak ada sehelai benang pun yang tersisa di tubuh Elkan, benar-benar polos hingga Yuna bisa melihat jelas seberapa perkasa tubuh suaminya, memiliki ukuran pusaka di atas normal, dada bidang nan menonjol dan perut bak roti sobek.


"Sayang, apa kamu tidak malu seperti ini di depanku?" keluh Yuna dengan mata membulat sempurna. Dia tidak memungkiri bahwa tubuh Elkan memang membuatnya terkesima.


"Kenapa harus malu? Kamu lupa siapa aku? Sudah berapa kali kamu melihatnya? Sudah berapa kali pula kamu menikmatinya?" cecar Elkan dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat Yuna akhirnya terdiam, benar juga yang dikatakan Elkan barusan.


Elkan kian mendekat dan meraih tengkuk Yuna lalu menyentuh dagu istrinya itu. Dengan gejolak hasrat yang sudah menguasai diri, Elkan mengecup bibir Yuna dengan lembut, perlahan melu*matnya dan mengulurkan lidahnya, bermaksud meminta Yuna membuka mulut.


Yuna seakan mengerti maksud dan keinginan suaminya. Dia membuka mulut memberi celah untuk Elkan agar masuk semakin dalam. Dia tidak memungkiri kalau permainan lidah Elkan sudah membuatnya sangat candu. Keduanya semakin mabuk menikmati penyatuan bibir mereka, bahkan lidah keduanya semakin lincah membelit satu sama lain.


Yuna mulai terhanyut dibuai asmara nan menggelora, nadinya berdenyut dengan dada yang kini terasa ngilu. Detak jantungnya bergemuruh kencang mengikuti aliran darah yang semakin cepat. Terlebih saat tangan Elkan sudah merayap di dadanya, rasanya benar-benar menyesakkan dada.


Elkan melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan Yuna. Sama seperti dirinya, dia tak membiarkan sehelai benang pun menempel menutupi kulit putih mulus Yuna yang membuatnya separuh gila.


Dengan tuntutan gejolak yang tengah meletup di jiwanya, Elkan menyerang leher jenjang Yuna layaknya vampir yang haus darah. Lidahnya berguling lincah, menghisap dalam meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana, lalu semakin turun menjelajahi tubuh bohay istrinya.


Saat bibir Elkan tenggelam di ujung dadanya, Yuna mende*sah ngilu. Rasanya begitu nikmat hingga tubuhnya menegang tak tentu arah. Apalagi saat Elkan memainkan mutiara kecil berwarna merah muda itu dengan lidahnya, menggigitnya dan melahapnya hingga pipi Elkan menggembung, membuat gairah Yuna semakin membara dibakar api gairah.


"Aahh... Sayang...," de*sah Yuna dengan suara nan menggoda, sulit sekali menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara.


"Enak?" gumam Elkan dengan suara serak, deru nafas keduanya terdengar kian memburu layaknya banci kaleng yang tengah berlarian di kejang kamtib.


Yuna memicingkan mata, dia malu menjawab pertanyaan Elkan barusan. Anggukkan kepala menyatakan bahwa dia sangat menyukainya, membuat Elkan semakin tertantang memainkan perannya sebagai aktor utama.

__ADS_1


Elkan melanjutkan aksinya. Setelah puas bermain di kedua dada kenyal milik istrinya, Elkan mengecup setiap titik sensitif yang ada di tubuh Yuna. Lagi-lagi Yuna dibuat melayang bagaikan mengambang di langit ke 7.


Elkan lantas tak berhenti sampai di sana. Tangannya bergerak membuka lebar kaki Yuna, mendaratkan jarinya pada kelopak bunga yang bermekaran di inti istrinya.


"Aahh... Aahh... Sayang...," Bola mata berwarna coklat Yuna menghilang meresapi permainan nakal suaminya. Dia sampai tergelinjang merasakan sensasi yang entah, sangat sulit digambarkan dengan kata.


Menyadari Yuna yang sudah hanyut dalam kendalinya, wajah Elkan seketika menghilang di tengah paha istrinya. Jeritan kecil menyembur dari bibir Yuna, seolah kenikmatan ini tak akan ada habisnya.


Yuna terkulai lemas dengan hembusan nafas pendek. Dia sudah tak sanggup menahan keinginan untuk menyatu di titik kenikmatan, melepaskan segala rasa yang tertahan.


"Sayang... Aahh...," de*sah Yuna sembari meremas rambut Elkan, menekan kepala suaminya agar masuk semakin dalam. Dia kemudian menggigit bibir bawahnya lalu membuka kakinya lebar. Seakan meminta Elkan agar segera masuk mengobrak-abrik benteng pertahanan miliknya.


Elkan menyeringai puas melihat reaksi Yuna yang membuat gairahnya kian membara. "Kenapa sayang? Enak ya?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Elkan membuat Yuna mengangguk pelan, memberi isyarat pertanda dirinya merasakan nikmat tiada tara, bahkan rasa malunya hilang begitu saja. Bertahan dalam ego pun rasanya sudah tak berguna, tidak mengapa jika dia terlihat seperti gadis nakal yang haus belaian mesra.


Elkan meraih bantal dan menaruhnya pada sandaran tempat tidur. Bukannya mengukung Yuna, Elkan malah menyandarkan punggungnya pada tampuk ranjang.


"Ayo naik!" pinta Elkan dengan suara serak. Dia sudah tak sabar ingin menggapai surga dunia bersama istri tercinta, menciptakan desa*han manja di tengah teriknya sinar mentari di luar sana.


Mana mungkin dia bisa menuruti keinginan Elkan, berada di bawah kungkungan Elkan saja sudah membuatnya sangat malu, apalagi kalau di atas? Membayangkannya saja sudah membuat pipi Yuna merona merah.


"Gimana cara mengetahui bisa atau gak nya, dicoba aja belum. Atau kamu nya aja yang lemah, gak bisa memuaskan suami." ejek Elkan yang berniat membangkitkan emosi istrinya, dengan begitu Yuna akan terpancing dan menuruti keinginannya.


Seketika tatapan Yuna berubah masam. Bagaimana mungkin Elkan mengecilkan kemampuannya sebelum melihat sendiri. "Kamu meremehkan aku?" geram Yuna menggertakkan giginya, tubuhnya memanas bukan lagi karena sentuhan Elkan, melainkan karena kata-kata Elkan yang menjengkelkan.


"Tidak ada yang meremehkan. Jika kamu merasa mampu, ayo buktikan!" tantang Elkan yang membuat Yuna semakin kesal.


"Baiklah, kamu kira aku takut. Tinggal duduk di atas doang apa susahnya sih?"


Yuna segera beranjak menaiki tubuh Elkan, tepat di atas tiang yang sudah sedari tadi mengalami tegangan tinggi, keras seperti batu dengan urat yang menonjol sangat jelas.

__ADS_1


Merasa ada yang menekan benda keramat miliknya, dada Elkan semakin berdegup sangat kencang. Apalagi melihat posisi duduk Yuna yang tengah membusungkan dada, sangat menantang sehingga membuat sekujur tubuh Elkan berdenyut ngilu.


Elkan meluruskan kembali posisi duduknya, menarik tengkuk Yuna dan mengesap bibir ranum istrinya tanpa jeda, melu*mat dengan rakus seakan tak ingin melepas lagi. Lidah yang saling melilit sambil sesekali meneguk liur yang sudah membaur jadi satu. Bahkan sebelah tangan Elkan tak henti meremas benda kenyal milik Yuna, menciptakan sejuta rasa yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.


Sesekali de*sahan manja keluar dari mulut Yuna, tak tahan menantikan serangan yang sudah ditunggu sedari tadi. Bahkan kini tangan Elkan tengah bergerak menuntun benda keras itu untuk masuk ke liang surganya.


"Aahh...," Jeritan kecil muncrat dari mulut Yuna. Sakit, perih, namun terasa nikmat saat menancap semakin dalam.


"Sakit?" tanya Elkan dengan tatapan iba.


Yuna mengangguk, namun sedetik kemudian menggeleng. Membuat Elkan ingin tertawa melihat ekspresi istrinya, lama-lama dia bisa dibuat gila melihat wajah cantik Yuna yang begitu menggemaskan.


"Ayo, bergeraklah sesuka hatimu!" pinta Elkan yang semakin tak sabar menikmati goyangan liar istrinya.


Yuna memicingkan mata, perlahan mengangkat pinggulnya dan menekannya kembali. Begitu seterusnya hingga membuat tubuhnya serasa melayang di udara.


"Aahh..., Elkan...,"


"Sedikit lebih cepat sayang! Aahh...,"


Kamar yang tadinya hening menjadi bergemuruh seiring de*sahan dan erangan keduanya yang terdengar sahut menyahut. Udara yang tadinya sejuk karena AC yang cukup dingin, berubah menjadi panas seiring keringat jagung yang mulai menetes membasahi tubuh polos keduanya.


Semakin panas, semakin gencar pula keduanya melakukan pergerakan. Hingga pada akhirnya Elkan tak sanggup lagi menahan lahar panas yang ingin segera menyembur.


Elkan dengan cepat membalikkan tubuh Yuna, membuat Yuna merangkak layaknya anak kecil yang belum bisa berjalan. Memasuki dari belakang dan menggempur milik istrinya bertubi-tubi.


"Elkan..., Aahh...," teriak Yuna sembari mencengkram sprei sekuat tenaga.


Yuna tak lagi mende*sah, namun berteriak menahan gempuran yang masuk semakin dalam. Satu batang penuh keluar masuk begitu leluasa, membuat kaki Yuna bergetar hebat dengan peluh yang semakin mengucur deras. Semakin Elkan menekan, semakin keras pula teriakan Yuna. Untung saja kamar tersebut sudah terpasang alat peredam suara, jadi Elkan tak perlu khawatir akan ada yang mendengar jeritan istrinya.


Lama bergulat berpacu dengan detak jantung yang tak menentu, Elkan akhirnya tumbang. Menyemburkan seluruh lahar panasnya hingga tak bersisa. Seiring erangan Elkan yang menggema, saat itu pula tubuh Yuna menggelinjang hingga terjatuh di permukaan kasur.

__ADS_1


"I love you," bisik Elkan sembari mencium tengkuk Yuna. Sayangnya Yuna sudah tak sanggup berbicara, matanya seketika terpejam. Bukan hanya sekali, tapi Elkan sudah membuatnya menikmati pencapaian beberapa kali.


Bersambung...


__ADS_2