Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 96.


__ADS_3

Pukul 3 sore mobil yang dikendarai Beno sudah terparkir di depan gang menuju rumah Reni. Keduanya turun dari mobil dan melangkah menyusuri gang.


Baru saja keduanya tiba di depan rumah, Amit dan Sari sudah menyambut mereka dengan antusias. Keduanya berhamburan memeluk Reni, tak lupa pula keduanya menyalami Beno yang kini sudah resmi menjadi kakak ipar mereka.


"Ayo, masuk Kak!" ajak Sari sembari menarik tangan Reni. Beno dan Amit pun menyusul mereka dari belakang.


Di dalam rumah, mereka berempat duduk di lantai yang hanya beralaskan tikar. Beno pun memberikan kantong yang berisikan makanan tadi kepada Sari.


"Makan dulu, abis itu siap-siap!" ucap Beno sembari menatap kedua adik iparnya itu bergantian.


"Mau kemana Kak?" tanya Amit ingin tau.


"Ke rumah Kak Beno, hehe... Maksudnya rumah Kak Elkan, pemilik rumah yang sebenarnya." jelas Beno, terlalu berlebihan jika dia mengatakan rumah itu miliknya. Bagaimanapun Beno sadar bahwa dirinya hanya menumpang di sana.


"Yee, akhirnya kita bisa main juga ke rumah itu." Sari mengambil kantong yang disodorkan Beno tadi, lalu mengajak Amit menyantapnya.


Sembari menunggu kedua remaja itu menghabiskan makanannya, Reni masuk ke dalam kamar untuk mengemasi barang yang dia perlukan. Tidak lama, Beno menyusul masuk dan membaringkan diri di atas ranjang usang yang nampak sudah lapuk dan hanya beralaskan kasur kapuk yang keras.


"Ngapain tidur di sana? Nanti pinggang kamu sakit loh, kasurnya keras." terang Reni sembari mengemasi pakaian yang masih layak pakai.


"Gak papa, kan udah ada tukang urut." jawab Beno enteng.


"Huh, jadi kamu memperistri aku hanya untuk jadi tukang urut?" ketus Reni dengan air muka menggelap.


"Begitulah kira-kira," sahut Beno sambil mengulum senyumannya, lalu menelungkup dan memejamkan matanya.


"Dasar suami gila!" ketus Reni menggertakkan giginya.


"Bukan gila sayang, tapi tergila-gila sama kamu." gumam Beno dengan suara beratnya, mendadak matanya mengantuk setelah merebahkan diri hingga tak butuh waktu lama baginya untuk masuk ke alam mimpi.


Reni menatap Beno dengan intim, lalu mengukir senyum melihat perangai suaminya yang sangat menyebalkan itu.


Setelah selesai mengemasi barang, Reni keluar dari kamar untuk melihat kedua adiknya yang masih asik menyantap makanannya. Reni pun duduk di hadapan keduanya.


"Enak?" tanya Reni dengan tatapan sendu.


"Enak banget, beruntung Kak Reni punya suami seperti Kak Beno. Gak hanya tampan, tapi juga baik dan dermawan." sahut Sari dengan mulut yang dipenuhi makanan.

__ADS_1


"Dermawan?" Reni menautkan alisnya bingung.


"Iya, sebenarnya yang waktu itu bayarin uang sekolah kami itu Kak Beno. Dia juga yang ngasih kami uang jajan." ungkap Sari jujur.


Reni membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tak menyangka bahwa Beno lah yang sudah membantu kedua adiknya waktu itu. Kenapa Beno menyembunyikan itu darinya? Bukankah Reni berhak tau?


"Ya udah, lanjutin aja makannya. Setelah itu mandi dan siap-siap, Kakak ke kamar dulu. Kak Beno sepertinya tertidur," Reni meninggalkan kedua adiknya dan masuk ke dalam kamar.


Mata Reni menyipit memandangi wajah lelap suaminya dengan intim, Reni ikut berbaring dan melingkarkan tangannya di pinggang Beno lalu menyentuh rahang suaminya itu dengan jemarinya.


"Kenapa gak bilang kalau kamu yang udah bantuin kedua adikku? Kenapa kamu begitu baik pada kami?" lirih Reni dengan tatapan sendu.


"Karena aku mencintaimu sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini?" gumam Beno dengan mata tertutup rapat.


Reni terlonjak dengan mata terbuka lebar. "Kamu gak tidur?"


Reni menarik tangannya dan segera menjauh, namun tangan Beno lebih sigap menariknya hingga terbaring kembali di samping pria itu. Beno pun menindihnya dan mengunci tangan Reni di atas kepala.


"Beraninya nyentuh aku diam-diam, coba secara langsung seperti ini!" geram Beno dengan gigi menggertak kuat.


"Beno, lepasin aku!" pinta Reni dengan tatapan nanar.


"Beno, jangan bercanda terus! Cepat, lepasin aku!" pinta Reni memelas.


"Cium dulu, terus panggil Mas atau Abang!" desak Beno.


"Muach..." Reni mengecup pipi sebelah kanan Beno dengan lembut.


"Sebelah lagi!" pinta Beno.


"Muach..." Reni mengecup pipi sebelah kiri Beno.


"Bibir juga!" pinta Beno lagi.


"Huh, curang." rengek Reni dengan bibir mengerucut.


Beno menurunkan kepalanya dan mengesap bibir Reni penuh kelembutan. Perlahan Beno melu*matnya hingga Reni melenguh menikmati kenyalnya bibir suaminya itu.

__ADS_1


"Udah Beno!" gumam Reni dengan nafas tersengal.


"Gak sopan, masa' manggil nama terus." keluh Beno dengan pipi menggembung.


"Mas, Mas Beno." Reni mengulum senyumannya.


"Nah, gitu dong. Itu baru istrinya Mas," Kembali Beno mengesap bibir Reni, lalu membawa istrinya itu ke dalam dekapan dadanya.


Di luar, Sari sudah menunggu bersama Amit. Namun keduanya tidak berani memanggil sang kakak yang masih berada di dalam kamar, takut mengganggu apalagi tadi Reni berkata bahwa kakak iparnya sedang tidur. Terpaksa keduanya menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan.


Tidak lama, Reni dan Beno keluar dari kamar dengan tangan saling menggenggam.


"Cie cie, kirain malah ketiduran." seloroh Sari sembari tertawa kecil.


"Apaan sih? Anak kecil jangan banyak omong!" ketus Reni dengan mata melotot tajam.


"Kalian udah siap?" timpal Beno hingga membuat Sari langsung terdiam.


"Udah Kak," sahut Amit yang terlihat sangat tampan dengan kemeja biru muda dan celana jeans hitam yang melekat di tubuhnya, sementara Sari sendiri mengenakan kaos oblong putih dengan rok plisket selutut. Sederhana namun terlihat cantik. Betapa meruginya orang tua yang sudah tega menelantarkan mereka bertiga.


Mereka berempat meninggalkan rumah dan berjalan menyusuri gang sempit itu. Sampai di mobil, Reni duduk di sebelah Beno. Sementara Amit dan Sari duduk di bangku penumpang. Mobil sedan mewah itu pun melaju menyusuri jalan raya.


Di kediaman Elkan, nampak Diah dan Lili tengah sibuk menyiapkan makan malam sekaligus menyambut kedatangan pengantin baru yang baru saja sah mengikat hubungan mereka.


Yuna nampak begitu antusias, tentu saja dia sangat bahagia karena Beno sudah melepas masa lajangnya. Apalagi wanita pilihan Beno itu adalah wanita yang baik dan lembut. Yuna sangat menyayanginya meski baru sebulan lebih menjadi pengasuh buah hatinya.


"Senang banget mukanya," seru Elkan sembari menghampiri Yuna yang tengah duduk di depan cermin.


"Beruntung banget ya Reni dapatin suami seperti Beno. Udah ganteng, baik, gak pelit lagi. Baru sehari aja Reni udah dibeliin ini itu." jawab Yuna dengan santainya.


Elkan mengerutkan keningnya bingung. Maksudnya apa coba? Apa Elkan pelit? Apa Yuna sengaja membandingkan dirinya dengan Beno?


"Maksudmu aku ini pelit?" ucap Elkan dengan tatapan menggelap. Selama menikah dia memang belum pernah membelikan apa-apa untuk Yuna sebab hubungan awal mereka tidak sebaik hubungan Beno dan Reni. Apalagi Yuna sempat mengalami koma dalam waktu yang cukup lama.


"Gak kok, perasaan kamu aja mungkin." Yuna bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan kamar. Sebagai seorang perempuan tentu ada perasaan iri menyelimuti hatinya saat melihat barang-barang Reni tiba di rumahnya.


Dia juga tidak mau menuntut apa-apa karena dia sendiri tau bagaimana hubungannya dengan Elkan. Begini saja sudah cukup membuatnya bahagia asal Elkan tidak mengkhianatinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2