
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kantor polisi, Elkan turun bersama Amit lalu keduanya melangkah masuk menghampiri petugas kepolisian yang tengah berjaga.
Meski sebenarnya amarah Elkan tengah memuncak, dia berusaha terlihat santai di depan semua orang. Dia sadar tidak boleh gegabah dalam bertindak.
"Selamat datang Pak Elkan, silahkan duduk!" sapa seorang polisi yang sudah lama mengenal Elkan.
"Terima kasih," sahut Elkan dengan sedikit senyum yang mengembang di bibirnya.
Setelah Elkan duduk, Amit pun ikut duduk di sampingnya. Mereka berbincang beberapa saat sebelum akhirnya Elkan meminta izin untuk menemui pria yang kini menjadi tersangka atas kasus yang sudah merugikan perusahaan. Seorang petugas kepolisian mengantar Elkan ke dalam untuk menemui pria itu.
Elkan duduk di sebuah bangku dengan tatapan tajam seperti mata elang, rahangnya mengerat kuat dengan tangan mengepal erat sambil sesekali mengetuk permukaan meja.
Tidak lama, seorang petugas membawa tersangka itu ke hadapan Elkan. Elkan mengerutkan keningnya, ingin sekali dia menghajar pria itu sampai mati tapi tak mungkin karena kasus ini sudah menjadi tanggung jawab kepolisian. Andai saja mereka berdua berada di tempat lain, tentu saja ceritanya akan berbeda.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Elkan dengan suara bariton nya. Tatapannya sangat tajam seperti macan liar yang tengah mengintai mangsanya.
Pria itu menundukkan pandangannya, dia sama sekali tidak mau bicara walau hanya sepatah dua patah kata. Tentu saja hal itu membuat Elkan geram hingga memukul meja dengan keras.
"Aku bertanya padamu, katakan siapa yang menyuruhmu!" hardik Elkan dengan suara sangat lantang.
Mendengar kemarahan Elkan yang sudah menggebu-gebu, pria itu pun memberanikan diri menatap wajah Elkan. Air mukanya nampak menyedihkan seperti kucing yang tengah kedinginan.
"Tidak ada," jawabnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Bug!"
Akhirnya Elkan tak bisa lagi menahan diri, dia menendang pinggang pria itu hingga tersungkur ke dasar lantai bersamaan dengan kursi yang dia duduki.
"Jangan menguji kesabaran ku!" geram Elkan dengan tatapan membunuhnya. Dia langsung berdiri dan berjongkok di hadapan pria itu. "Aku janji akan membebaskan mu jika kau mau bekerja sama denganku. Jika tidak-"
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada yang menyuruhku, aku melakukannya hanya untuk menghancurkan produk mu saja. Ini hanyalah persaingan bisnis, tidak ada hubungannya dengan orang lain." jelas pria itu sambil meringis menahan sakit di bagian pinggang.
"Hahahaha..." Tawa Elkan menggelegar seperti seseorang yang tengah kerasukan setan. "Kau pikir aku ini bodoh?" Elkan meraih kerah pria itu dan bersiap ingin melayangkan bogem mentahnya.
__ADS_1
"Pak Elkan," Suara petugas kepolisian itu mengacaukan pemikiran Elkan.
Elkan mengangguk lemah dan segera melepaskan tangannya dari kerah pria itu.
"Karena dia tidak mau mengaku, pastikan dia akan membusuk di dalam jeruji besi! Satukan dia dengan napi yang memiliki tempramen buruk agar dia merasakan bagaimana rasanya mati secara perlahan!"
Elkan bangkit dari jongkoknya dan menepuk-nepuk telapak tangannya untuk menghilangkan jejak kotor pria itu.
"Baik, sesuai perintah Anda Pak." jawab polisi itu dengan anggukan kepala. Pria itu melotot kan matanya panik.
"Jangan-" seru pria itu dengan air muka memilukan. Dia sudah merasakan bagaimana rasanya disatukan dengan napi yang memiliki tempramen buruk, dia tidak ingin mati konyol gara-gara itu.
"Pilihan ada di tanganmu," Setelah mengatakan itu, Elkan berlalu menuju pintu keluar.
"Tolong aku Pak, jangan lakukan ini padaku! Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur." sorak pria itu.
Langkah Elkan langsung terhenti saat mendengar itu. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya, dia berbalik dan menatap pria itu dengan intens.
Elkan mengerutkan keningnya. "Siapa orang yang sudah menyuruhmu?"
"Ada, dia baru saja dari sini. Dia mengancam ku kalau aku buka mulut. Jika kau bersedia membebaskan aku, aku janji akan mengatakan semuanya. Tolong biarkan aku pergi dari sini, aku punya anak kecil yang harus aku besarkan." jelasnya.
Mendengar itu, tatapan Elkan tiba-tiba berubah sendu. Jujur dia kasihan melihat pria itu, dia sendiri memiliki anak-anak yang harus dia besarkan. Dia juga tau bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ayah.
"Aku janji akan mencabut laporan ini. Aku akan memberimu uang, kau harus pergi dari sini dan bawa anakmu ke kota lain. Mulailah hidup yang baru!" ucap Elkan.
Pria itu mengangguk lemah dengan mata berkaca-kaca. Dia kemudian menceritakan semua yang terjadi dari awal sampai akhir tanpa ada yang ditutupi. Dia mengaku terpaksa melakukan itu untuk membiayai kebutuhan anaknya yang baru berusia enam tahun. Tidak ada pilihan lain saat itu, dia memang sangat tergiur dengan tawaran yang cukup menjanjikan itu.
Setelah mendengar pengakuan pria itu, Elkan mendekatinya dan menepuk bahunya. "Lain kali jangan memberi makan anakmu dengan uang haram, itu tidak baik."
Bagaimana pun Elkan hanyalah manusia biasa. Dia bisa menjadi pemarah dan bisa juga menjadi melankolis disaat-saat tertentu, apalagi sudah menyangkut masalah anak. Dia sungguh tidak tega memisahkan seorang ayah dari anaknya.
"Terima kasih karena sudah jujur padaku. Ambil uang ini!" Elkan menyodorkan segepok uang kepada pria itu. "Aku mencabut laporannya, selesaikan proses hukum yang harus kau jalani lalu pergilah dari kota ini jika kau ingin anakmu selamat. Aku yakin orang itu tidak akan membiarkanmu tenang setelah mengatakan ini padaku."
__ADS_1
"Iya Pak, terima kasih. Maafkan aku, aku benar-benar terpaksa melakukan itu. Aku tidak punya pilihan lain saat itu," lirihnya penuh penyesalan.
"Tidak masalah, aku bisa memahami itu. Aku sudah merasakan bagaimana susahnya hidup tanpa orang tua, jangan sampai anakmu memiliki nasib yang sama denganku. Rasanya tidak enak,"
Setelah mengatakan itu, Elkan berlalu meninggalkan ruangan lalu mengurus dokumen pencabutan laporan dan menandatanganinya.
Setelah semua beres, Elkan mengajak Amit meninggalkan kantor polisi itu dan melajukan mobilnya menyusuri jalan raya.
Di tengah-tengah perjalanan, Elkan kembali teringat dengan ucapan pria itu. Air mukanya berubah sendu, tak terpikir olehnya bagaimana jika dia yang berada di posisi pria itu. Dia pasti akan melakukan hal yang sama demi kedua buah hatinya yang sangat dia sayangi.
Elkan mengusap wajahnya dengan kasar, hembusan nafasnya terdengar berat.
"Amit, temani Kak Elkan ke mall dulu ya!" ucap Elkan di tengah keheningan yang sempat tercipta.
"Kenapa bertanya dulu Kak? Aku siap menemani Kak Elkan kemana pun Kak Elkan pergi. Bukankah sudah menjadi tugasku sebagai asisten pribadi Kakak?" jawab Amit dengan lirikan mata seolah mengejek.
"Kau ini, sekali-sekali tidak usah banyak omong! Cukup jawab iya atau tidak saja!" geram Elkan dengan gigi menggertak kuat.
"Hahahaha... Sorry Kak, sudah kebiasaan soalnya." Amit tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Meski pun kesal, Elkan mengakui bahwa dia merasa senang melihat keceriaan bocah itu. Rasanya benar-benar seperti memiliki adik yang selama ini dia rindukan.
Walau sudah ada Beno, tapi rasanya sedikit berbeda karena Beno seumuran dengannya. Beno lebih pantas dianggap teman dan sahabat, tapi Amit benar-benar seperti seorang adik yang mampu menumbuhkan rasa sayangnya sebagai seorang kakak.
Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai Elkan masuk ke dalam parkiran mall terbesar di kota itu. Keduanya turun dan berjalan menjelajahi mall tersebut.
Elkan membelikan berbagai macam mainan buat si kembar, lalu membelikan pakaian yang lucu-lucu buat keduanya. Tak lupa pula Elkan membelikan beberapa barang yang dibutuhkan oleh Yuna, dia berharap sang istri akan suka dengan apa yang dia belikan untuk pertama kali setelah cincin dan kalung waktu itu.
Terakhir mereka berdua mampir ke toko pakaian pria, Elkan membelikan pakaian untuk Amit. Dia ingin bocah itu berpenampilan gagah dan rapi selayaknya pria kantoran seperti dirinya.
Setelah dua jam berbelanja ria dengan Amit, keduanya memilih pulang ke kediaman Bramasta dengan banyaknya paper bag yang tersusun di bangku penumpang.
Bersambung...
__ADS_1