
Waktu berlalu begitu cepat, sudah satu minggu saja Yuna merasakan cinta dan kasih sayang yang begitu besar dari Elkan, bahkan keduanya nampak semakin lekat.
Hari ini adalah hari pertama Yuna bergabung kembali dengan perusahaan. Setelah membujuk Yuna dengan berbagai macam cara, istri Elkan itu akhirnya luluh dan menerima kembali tawaran untuk menjadi brand ambassador di perusahaan suaminya.
Usai sarapan, Beno berangkat lebih dulu meninggalkan rumah. Sejak Yuna kembali, Beno sudah sangat jarang berangkat ke kantor bersama Elkan.
Tidak lama, Elkan dan Yuna ikut meninggalkan rumah menyusul Beno yang sudah lebih dulu pergi.
Di lantai 10, beberapa karyawan nampak berkumpul di ruangan pemotretan. Kabar kembalinya Yuna ke perusahaan sudah menyebar ke mana-mana.
Ada yang bahagia mendengar kembalinya Yuna, ada juga yang merasa iri. Apalagi setelah merebaknya kabar bahwa Yuna sudah menikah dengan pemilik perusahaan yang tak lain adalah Elkan, pria tampan yang memiliki kharisma tersendiri yang membuat para wanita tergila-gila.
Sayangnya, banyak dari mereka yang patah hati setelah mengetahui kabar pernikahan CEO Bramasta Corp tersebut.
"Katanya, hari ini Yuna akan kembali ke perusahaan."
"Iya, aku juga mendengar itu."
"Menurut kabar yang aku dengar, Yuna sudah menikah dengan Tuan Elkan. Apa itu benar?"
"Sepertinya begitu, aku juga mendengar itu saat di lobby."
"Bagaimana mungkin? Selama di sini, mereka tidak pernah terlihat dekat."
"Iya benar, aku malah berpikirnya Yuna dekat dengan Tuan Beno."
"Aneh. Tapi yang menjadi pertanyaan ku, katanya mereka berdua sudah menikah sebelum Yuna bergabung di perusahaan. Lalu, kenapa keduanya tidak terlihat seperti suami istri?"
"Entahlah! Hanya mereka dan Tuhanlah yang tau,"
__ADS_1
Suara di ruangan itu bergemuruh, terdengar sahut menyahut mempertanyakan keanehan hubungan antara CEO perusahaan dan model produk mereka.
"Apa yang kalian perdebatkan? Sudah jelas wanita itu memiliki tujuan lain. Jika tidak, untuk apa dia kembali? Bukankah dia sendiri yang menolak menandatangani perpanjangan kontrak pada saat itu?"
Suara seorang wanita yang bernada ketus membuat semua orang yang ada di ruangan terdiam. Lirikan matanya nampak tajam dengan senyum sinis yang memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Yuna.
"Apa yang kau katakan? Jangan bicara sembarangan! Jika Tuan Elkan mendengarnya, tamatlah riwayatmu!"
"Tuan Elkan tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sini, kecuali dalam keadaan terdesak!" Sudut bibir wanita itu kembali terangkat.
"Kalian jangan bodoh! Wanita itu tidak sebaik yang kalian pikirkan, aku sudah sering bertemu wanita seperti itu. Dia pasti mengincar harta Tuan Elkan dan menukarnya dengan kemolekan tubuh yang dia miliki."
Wanita itu berusaha keras mencuci otak para staf dan karyawan yang bertanggung jawab di bidang promosi dan pengiklanan. Memupuk kebencian agar tumbuh di hati mereka untuk Yuna.
"Ah sudahlah, jangan bicara omong kosong! Kami sudah mengenal Yuna sebelumnya, dia tidak seburuk yang kau pikirkan!" bela Ferry yang merupakan fotografer andalan di perusahaan.
"Dasar kepala batu! Lihat saja, kalian akan menyesal setelah mengetahui kebusukannya!" Wanita itu merengut kesal, kemudian meninggalkan ruangan begitu saja.
Semua karyawan menyoraki wanita yang bernama Vira itu. Entah apa yang membuatnya berpikiran seperti itu terhadap Yuna. Untung saja diantara mereka tidak ada yang termakan dengan omongan asalnya.
Selama mereka mengenal Yuna, tidak ada yang salah dengan wanita itu. Mungkin mereka saja yang tidak tau bagaimana kehidupan Yuna yang sebenarnya.
"Tap Tap"
Derap langkah kaki membuat suasana di ruangan itu menjadi hening, satu persatu dari mereka mulai menyebar melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Pagi Tuan, Nyonya," sapa para karyawan sembari membungkukkan badan.
Pemandangan langka yang tak pernah terlihat di lantai tersebut membuat semua mata memandang bingung, hari ini mereka menyaksikan sendiri bagaimana intimnya hubungan diantara Elkan dan Yuna.
__ADS_1
Senyuman manis nan tipis terukir jelas di bibir keduanya dan menyapa balik semua karyawan. Elkan masih berdiri tegak dengan sebelah tangan yang melingkar di pinggang Yuna. Dia bahkan tak malu menjadi pusat perhatian semua orang, baginya hal itu tidaklah penting.
"Semangat ya sayang, good luck!" Elkan menyentuh pipi Yuna dan mengusapnya dengan ibu jari, lalu melabuhkan kecupan sayang di kening istrinya. Semua mata memandang kaget ke arah keduanya.
"Jika pekerjaanmu sudah selesai, datanglah ke ruangan ku!" pinta Elkan sembari berbisik di telinga Yuna, hembusan nafas Elkan yang hangat membuat jantung Yuna bergemuruh tak menentu. Ada perasaan canggung saat dirinya dan Elkan menjadi tontonan semua orang.
"Iya, pergilah! Jangan membuatku semakin malu di hadapan semua orang!" bisik Yuna dengan nafas tersengal, pipinya merona merah menahan perasaan malu yang berkecamuk di dirinya.
Setelah punggung Elkan menghilang dari pandangannya, Yuna menghela nafas berat. Entah apa yang akan dikatakan orang-orang setelah ini, sepengetahuannya tidak seorangpun yang tau tentang pernikahan mereka.
"Selamat bergabung kembali Nyonya, senang melihatmu ada di sini." Seorang karyawan wanita yang bernama Maya membuka suara menyambut kedatangan istri dari CEO mereka.
"Selamat ya Nyonya, kalian pasangan serasi." timpal karyawan lainnya.
"Terima kasih. Jangan panggil Nyonya, panggil Yuna saja seperti biasa!" Yuna merasa tidak pantas dipanggil dengan sebutan Nyonya, dia merasa statusnya sama saja dengan yang lain. Seorang karyawan yang harus bekerja secara profesional.
Puas berbasa-basi, Maya mengajak Yuna ke ruang make up. Hari ini dia lah yang ditugaskan membantu Yuna mempersiapkan segala keperluannya.
Setelah satu jam, Yuna keluar dengan wajah yang sudah dihias sedemikian cantik. Sebuah kimono berwarna pink muda melekat indah di tubuh moleknya.
Sebenarnya Yuna diminta menggunakan lingerie saja. Tapi karena merasa tidak nyaman, Yuna pun melapisi lingerie tersebut dengan kimono. Dia tidak ingin kemolekan tubuhnya terekspos, menurutnya hanya Elkan lah yang boleh menikmati keindahan tubuhnya.
"Yuna, kau cantik sekali. Tapi sayang, dirimu sudah ada yang memiliki." batin Ferry menatap kagum. Pria itu sebenarnya sudah menaruh hati sejak pertama Yuna bergabung di perusahaan. Sekarang impiannya pupus, mana mungkin dia sanggup bersaing dengan seorang Elkan. Pria tampan, smart, kaya raya dan memiliki segudang prestasi.
"Ayo Nyonya, eh Yuna!" ajak Maya.
Kenapa Yuna harus menggunakan baju tidur? Sebab kali ini mereka akan melakukan pemotretan dan pembuatan video untuk iklan krim malam yang baru saja diluncurkan BMS BEAUTY GLOW. Penampilan tentunya menunjang sebuah hasil, hasil yang diharapkan maksimal agar bisa menghipnotis para konsumen dan pasar.
Di lantai 15, Elkan tengah sibuk dengan beberapa dokumen penting yang menumpuk di atas meja kerjanya. Satu persatu Elkan pelajari dengan seksama, guratan sebuah pena terlukis jelas saat Elkan menyetujuinya.
__ADS_1
Sebenarnya, Elkan sendiri tidak perlu bekerja keras untuk semua ini. Dia hanya perlu mengoreksi bila mana ada yang bertentangan dengan idenya. Semua sudah ditangani oleh Beno dan sekretarisnya. Elkan hanya perlu duduk manis dan menandatangani dokumen yang perlu dia tandatangani.
Bersambung...