
Yuna menekuk wajahnya, deru nafasnya kian memburu melihat Elkan yang hanya mengenakan boxer ketat berwarna hitam, jelas sekali menonjolkan benda pusaka miliknya.
Saat Elkan merangkak naik ke kasur, Yuna memicingkan matanya perlahan. Dadanya seketika sesak hingga membuat balon kenyal miliknya bergerak turun naik.
"Kenapa sayang?" tanya Elkan sembari tersenyum sumringah.
Yuna membuka matanya perlahan, seketika dia tergugu melihat Elkan yang sudah duduk di hadapannya.
"Ga_gak apa-apa," gumam Yuna dengan pipi merona menyala, jantungnya berdegup kencang secepat kilat.
Elkan kembali tersenyum, lalu mengangkat dagu Yuna hingga tatapan keduanya saling bertemu.
"Kenapa wajahnya ditekuk terus? Kamu belum siap ya?" tanya Elkan dengan tatapan menuntut, belum apa-apa pusaka miliknya sudah menggeliat di bawah sana.
"Gak kok, aku siap. Tapi aku takut Elkan, ini kali pertama bagiku melakukannya. Apa...,"
Belum selesai Yuna berbicara, Elkan sudah mengecup bibir merekah istrinya dengan lembut dan melu*matnya bak permen. Membuat Yuna terpaku menikmati kenyalnya bibir Elkan yang mulai memasuki rongga mulutnya.
Yuna semakin gugup saat tangan Elkan merayap di dadanya, jantungnya bergemuruh dan berdenyut ngilu. Bagaimana cara menghadapi serangan Elkan, dia bahkan tak punya pengalaman akan hal ini.
"Jangan takut ya! Ini juga kali pertama bagiku melakukannya." Deru nafas Elkan terdengar kian memburu, gejolak hasrat di dirinya semakin memuncak saat menyaksikan balon kenyal Yuna yang sudah menganga di depan matanya.
Elkan melepas kimono yang melekat di tubuh Yuna, lalu menurunkan tali lingerie tipis yang dikenakan istrinya.
Seketika, jantung Elkan bergemuruh melihat kulit putih mulus istrinya, jakunnya naik turun meneguk ludahnya kasar.
Elkan kembali melu*mat bibir Yuna tanpa ampun, bahkan lidahnya mulai menari-nari menyusuri rongga mulut Yuna.
Yuna mulai hanyut dalam permainan Elkan, dia mengalungkan tangannya di leher Elkan, lalu membalas setiap gerakan yang dilayangkan suaminya itu.
Puas mengesap bibir istrinya, Elkan turun dan menenggelamkan bibirnya di leher Yuna. Lagi-lagi Yuna dibuat tak berdaya olehnya, Elkan dengan leluasa mengecup setiap lekuk lehernya, menjilatinya dan menggigitnya penuh gairah.
"Akhh," Lenguhan manja Yuna terdengar merdu di telinga, membuat Elkan semakin tak kuasa menahan li*bi*do nya.
Elkan melepaskan pengait bra yang dikenakan Yuna, seketika matanya melotot tajam dengan mulut sedikit menganga. Balon kenyal itu benar-benar bersih tanpa cacat, mutiara kecil berwarna pink muda nampak indah menghias di ujung sana.
"Elkan...," seru Yuna.
Yuna membulatkan matanya gugup, lalu menarik Elkan ke dalam pelukannya, deru nafasnya terdengar kian memburu.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Elkan dengan suara beratnya, dia bisa merasakan kenyalnya dada Yuna yang melekat di dadanya.
"Aku malu Elkan," gumam Yuna dengan pipi merah merona, lalu menggigit pundak Elkan pelan.
Elkan tersenyum kecil sembari membelai rambut Yuna. "Kenapa musti malu? Bukankah aku ini suamimu?"
Mendengar itu, Yuna pun melepaskan pelukannya. Elkan bisa melihat kembali dada Yuna yang menggantung indah di depan matanya.
Elkan membaringkan Yuna di kasur, lalu merangkak naik mengukung tubuh istrinya yang sudah polos, hanya tersisa segitiga pengaman di bagian intinya.
Yuna memejamkan matanya saat tangan Elkan meremas kedua balon kenyal miliknya, tanpa disengaja mulutnya mengeluarkan desa*han manja nan menggoda.
Yuna semakin tak berdaya saat lidah Elkan menari-nari di ujung dadanya, apalagi saat Elkan menggigitnya dan melahapnya, membuat tubuh Yuna menegang dan bergetar bak disengat aliran listrik.
"Akhh..., Elkan...," de*sah Yuna sembari menyebut nama suaminya.
Elkan tersenyum kecil melihat Yuna yang sudah terbuai dalam permainannya. Dadanya berdenyut ngilu saat pusaka miliknya menegang di bawah sana.
Elkan melepaskan hisapannya, kemudian membuka boxer yang menutupi senjata pusaka nya, lalu melucuti segitiga pengaman yang masih tersisa di tubuh Yuna.
Sebelum masuk ke dalam permainan selanjutnya, Elkan kembali mengesap bibir Yuna dengan lahap. Keduanya nampak asik membelit lidah.
"Akhh," Lagi-lagi Yuna mende*sah manja sembari menggigit ujung jarinya.
Tak tahan melihat ekspresi Yuna yang begitu menggoda, Elkan pun melepaskan hisapannya, bibirnya semakin turun mengecup perut datar istrinya, lalu memainkan lidahnya di pusar Yuna.
Yuna menggeliat geli sembari menggigit ujung bibirnya, tubuhnya kian melemah tak berdaya. Apalagi saat bibir Elkan tenggelam di intinya. Membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat merasakan nikmat yang sungguh luar biasa.
"Akhh..., Elkan...,"
Yuna menjerit kecil sembari meremas rambut Elkan, tubuhnya mengejang saat sesuatu mengalir dari dalam sana.
Melihat Yuna yang sudah lemas tak berdaya, Elkan kembali naik dan melu*mat bibir Yuna dengan rakus. Deru nafas keduanya menyatu memecah kesunyian malam.
Tanpa melepaskan pagutannya, tangan Elkan bergerak menuntun pusaka nya memasuki lorong sempit yang ada di bawah sana.
Saat benda keras itu sudah berada di depan pintu, Yuna menjerit sembari mencengkram lengan Elkan sekuat tenaga. Tak terasa butiran bening di matanya mengalir begitu saja menahan rasa sakit yang menyiksa.
"Pelan-pelan Elkan, sakit." rengek Yuna dengan mata terpejam.
__ADS_1
Melihat istrinya yang seperti itu, Elkan jadi tidak tega melanjutkan aksinya.
"Maaf sayang, aku gak akan melanjutkannya!" lirih Elkan menahan li*bi*do nya yang sudah memuncak.
Yuna membuka matanya perlahan. Melihat raut wajah Elkan yang tengah menahan syah*watnya, Yuna pun jadi tak tega menyiksa suaminya.
"Aku siap Elkan, ayo lanjutkan!"
"Tapi aku gak tega melihatmu kesakitan,"
"Cepat atau lambat, kita akan tetap melakukannya. Tunggu apa lagi!"
Setelah beberapa kali mencoba, pusaka Elkan akhirnya berhasil menerobos masuk ke dalam sarangnya. Jeritan Yuna menggelegar dengan cairan bening yang mengalir di sudut matanya.
Elkan mengecup kening Yuna dengan sayang, seulas senyum terukir jelas di wajah Yuna.
"Maafkan suamimu ini sayang," gumam Elkan sembari mengayun pinggulnya perlahan.
Yuna hanya bisa tersenyum, tidak lama senyuman itu berubah menjadi de*sahan tiada henti.
Kini Yuna mulai menikmati gerakan yang dilayangkan suaminya. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksa, berubah menjadi nikmat yang sungguh luar biasa.
Desa*han dan erangan keduanya berpacu seiring tempo permainan Elkan yang bergerak semakin cepat.
Satu jam berpacu dengan keringat yang mengucur deras, Elkan akhirnya tumbang di atas tubuh Yuna. Lumpur panas itu menyembur di dalam dinding hangat milik istrinya.
"Akhh," erang Elkan dengan tubuh bergetar hebat. Begitupun dengan Yuna yang merasakan getaran hebat di sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa saat, Elkan menarik pusaka nya yang mulai mengecut di dalam sana. Keduanya terkulai lemas dengan posisi saling memeluk.
Elkan tersenyum lebar melihat wajah lelah istrinya, kemudian mengecup kening Yuna dengan sayang.
"Maafkan suamimu ini ya," gumam Elkan sembari menyentuh pipi Yuna.
Yuna tak menyahut sebab dadanya masih menyisakan rasa sesak. Dia menyentuh tangan Elkan dan mengecupnya, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Elkan.
Sesaat, suasana di kamar menjadi hening. Keduanya larut dalam kehangatan tubuh masing-masing. Elkan mengusap pucuk kepala Yuna dengan lembut, lalu mengecupnya dengan sayang.
Bersambung...
__ADS_1