Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 186.


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh malam mobil yang dikendarai Elkan sudah masuk ke dalam garasi. Setelah mematikan mesin mobil, Elkan turun sambil menenteng tiga kantong kresek yang dia bawa. Satu kantong Elkan berikan kepada Pak Zul untuk dimakan dengan pekerja lain yang tengah nongkrong di pos penjaga. Dua kantong lagi dia bawa ke dalam rumah.


"Ada cemilan nih dari sih bos, ayo makan dulu!" seru Pak Zul sambil meletakkan kantong itu di atas meja.


"Wah, tumben. Tidak biasanya si bos keluar malam seperti ini, apalagi sejak menikah." ucap Pak Sukur yang merupakan tukang kebun di rumah itu.


"Mungkin ada urusan, jangan julid gitu! Ayo buka, sepertinya isinya martabak. Cocok nih ditemani sama kopi hitam." timpal Pak Agung yang merupakan satpam gerbang utama.


"Iya, makan saja. Tidak baik nyinyir di depan makanan, nanti berkahnya hilang." sambung Pak Pari yang merupakan satpam dua.


"Sudah, sudah, ayo makan!" Pak Zul membuka kedua box yang berisi martabak itu, lalu memakannya bersama-sama.


Keempat pria itu asik menyantap martabak dengan dua rasa itu. Satunya toping keju susu dan satunya lagi toping coklat kacang. Diantara keempat pria itu hanya wajah Pak Zul seorang yang masih bersih sedangkan tiga orang lainnya sudah seperti tikus baru keluar dari tepung. Putih semua karena dihukum saat kalah bermain remi.


Di dalam sana, Elkan mendapati Yuna yang masih duduk di depan televisi. Sebenarnya Yuna sudah sangat mengantuk sedari tadi, tapi demi menghargai suaminya dia terpaksa menunggu sampai Elkan pulang. Beruntung yang lainnya mau menemani Yuna, jadi wanita itu tidak kesepian menunggu sendirian.


"Malam sayang," sapa Elkan. Setelah menaruh bawaannya di atas meja, Elkan duduk di samping Yuna dan tak lupa mengecup kening istrinya.


"Lama banget, Yuna hampir saja ketiduran nungguin Abang." keluh Yuna dengan bibir mengerucut.


"Kan nungguin martabaknya matang dulu sayang, jangan cemberut gitu dong!" bujuk Elkan sambil mencubit pipi Yuna gemas.


Sementara Elkan masih asik membujuk Yuna, Beno sudah lebih dulu menyambar martabak itu dan membukanya.


"Wah, rejeki nomplok nih. Sayang, kamu mau gak?" tanya Beno pada Reni.


"Mau, sepertinya enak." sahut Reni.


Beno dan Reni berpindah duduk di lantai, begitu juga dengan Amit dan Sari, tidak terkecuali Diah dan juga Lili. Mereka semua berebut mengambil potongan demi potongan martabak yang memiliki empat rasa itu.


"Mmm... Enak," ucap Reni dengan mulut yang dipenuhi makanan. "Kak Yuna, sini!" panggil Reni.


Yuna yang tadinya cemberut, kini nampak mengukir senyum saat menyaksikan mulut Reni yang menggembung mengunyah martabak itu.


"Enak ya?" tanya Yuna.


"Enak banget Kak. Ayo sini, gabung sama kita." timpal Amit.


Melihat semua orang yang makan dengan lahap, air selera Yuna ikut mengalir dibuatnya. Segera Yuna pindah ke lantai dan mengambil sepotong martabak dengan rasa jagung keju, lalu memakannya. "Iya, enak. Tidak sia-sia nunggu lama,"


Elkan yang melihat itu langsung tersenyum dan ikut duduk di samping Yuna. "Suapi Abang dong sayang," pinta Elkan, lalu membuka mulut lebar-lebar.

__ADS_1


Yuna mengambil sepotong martabak lagi dan memasukkannya ke mulut Elkan.


"Haak..."


Mata Elkan membulat saking besarnya martabak yang masuk ke mulutnya, hampir saja dia tersedak gara-gara kelakuan nakal Yuna.


"Astaga sayang, Yuna mau bunuh Abang secara perlahan?" keluh Elkan setelah berhasil mengunyah dan menelan martabak yang memenuhi mulutnya itu.


"Hahahaha..."


Bukannya menjawab, Yuna malah tertawa melihat air muka suaminya yang membagongkan. Yang lain ikut ketawa hingga seisi rumah jadi bergemuruh.


Lalu Yuna mengikis jarak diantara mereka dan berbisik di telinga Elkan. "Bagaimana rasanya? Tidak enak kan, begitu juga Yuna saat dipaksa menyodok pisang Abang sampai tenggorokan. Hihihi..." Yuna menjauhkan diri dan mengulum senyum.


Tiba-tiba air muka Elkan menggelap setelah mendengar bisikan istrinya itu. Pipinya memerah dengan tangan mengepal kuat.


Lalu Elkan mengikis jarak diantara mereka dan balas berbisik di telinga Yuna. "Tunggu beberapa saat lagi, jangan harap Abang akan mengampuni Yuna! Akan Abang tunjukkan bagaimana rasanya saat macan mengamuk sampai Yuna tak akan sanggup lagi untuk berdiri." Seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan, lalu menjauhkan diri dari Yuna.


"Kenyang..." seru Amit sambil menepuk perutnya yang sudah membesar.


"Sari juga kenyang," sambung gadis remaja itu.


"Kami ke kamar dulu, ngantuk banget. Makasih martabaknya ya Kak, sering-sering saja seperti ini." seloroh Amit. Dia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Sari, lalu keduanya menghilang memasuki kamar masing-masing.


"Beno, kau di sini dulu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Elkan.


Beno yang sudah separuh berdiri kembali duduk setelah mendengar ucapan Elkan.


"Sayang, kalau kamu ngantuk, Mas antar ke kamar ya. Mas mau bicara sebentar sama Kak Elkan." ucap Beno pada Reni.


"Tidak usah diantar, aku sendiri saja. Nanti bawain air putih ke kamar ya Mas!" sahut Reni. Karena mengantuk, Reni malas sekali ke dapur untuk mengambil minum.


"Iya, langsung tidur ya." balas Beno.


"Hmm..." angguk Reni, lalu meninggalkan ruang tengah.


"Yuna juga ke kamar ya Bang," ucap Yuna.


"Nanti dulu sayang, Abang mau bicara dengan kalian berdua." tahan Elkan.


"Bicara apa sih Bang? Tidak bisa besok saja," Yuna menyipitkan mata.

__ADS_1


"Tidak bisa sayang, ini mengenai Nyonya Elena." ungkap Elkan.


"Nyonya Elena?" Beno mengerutkan kening. "Maksudmu wanita yang mengaku ibumu itu?" imbuh Beno.


"Iya, banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tapi akhir-akhir ini kau terlalu sibuk mengurus Reni. Aku tidak mau mengganggu kalian, aku tau Reni sedang membutuhkanmu saat ini tapi aku juga tidak mungkin mengambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi dengan kalian." jelas Elkan.


"Memangnya ada apa? Apa dia berulah lagi?" cerca Beno.


"Jadi gini..."


Elkan mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir sejak kejadian di hotel malam itu. Mendadak Beno tersentak dengan mulut sedikit menganga, tidak dengan Yuna yang memang sudah tau sejak mereka masih berada di hotel.


"Kau punya adik?" Beno membulatkan mata dengan sempurna.


"Hmm... Awalnya aku tidak percaya, tapi dia begitu mirip denganku. Bahkan sangat mirip dengan Papa," lirih Elkan.


Yuna yang melihat itu ikut terbawa lirih, dia menempelkan pipinya di lengan Elkan dan mengusap punggung Elkan naik turun.


"Sekarang aku bingung, wanita itu ingin tinggal di sini. Katanya untuk mengisi sisa-sisa umurnya yang tidak akan lama lagi. Mana mungkin aku mau mengizinkannya, aku bahkan belum menerimanya sebagai ibuku. Aku juga tidak bisa mempercayainya, aku yakin ada sesuatu yang dia rencanakan."


"Aku tidak masalah jika Edward yang ingin tinggal di rumah ini, dia juga punya hak yang sama denganku. Tapi Elena-"


"Tunggu Elkan!" potong Beno. "Aku rasa ini ide yang cukup bagus. Biarkan saja dia tinggal di rumah ini, dengan begitu kita akan lebih mudah mengawasinya. Kita bisa memasang kamera tersembunyi dimana-mana. Kalau dia berulah, kita tidak akan kesulitan karena ada bukti yang bisa menjadi kekuatan untuk kita." terang Beno.


"Itu cukup berbahaya Beno. Bagaimana jika dia nekat menyakiti istri dan anakku, istrimu juga lagi hamil. Aku tidak berani mengambil resiko." ucap Elkan.


"Aku yakin dia tidak akan berani menyakiti orang lain. Kita bisa memberi amanat kepada semua orang yang ada di sini untuk waspada dan memperhatikan gerak gerik nya. Diah dan Lili juga pasti mau bekerja sama dengan kita." ujar Beno.


"Bang, Yuna setuju dengan Beno. Tidak apa-apa, Yuna bisa jaga diri. Jika dia benar-benar sudah berubah bagaimana? Apa Abang tidak akan menyesal jika dia meninggalkan dunia ini lebih dulu?"


"Tapi sayang-"


"Coba saja dulu! Jika dia macam-macam, tinggal kita tendang dari rumah ini." timpal Beno.


"Ya sudah, terserah kalian saja. Besok pasang kamera pengintai dimana-mana! Mulai dari halaman, teras, ruang tamu, ruang keluarga, ruang tengah, ruang makan, tangga, dapur, toilet, kamar, pokoknya setiap pelosok." titah Elkan.


"Iya, iya, kau tenang saja. Tapi kamar sama toilet jangan lah, nanti kelihatan yang aneh-aneh. Pintu kamar saja udah cukup." seloroh Beno menahan tawa.


"Iya, iya, terserah kau saja." sahut Elkan.


Setelah mereka bertiga sepakat, obrolan pun diakhiri. Ketiganya meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2