Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 144.


__ADS_3

Puas bercengkrama di luar sana, Elkan kemudian mengajak Yuna masuk ke dalam rumah lalu duduk di meja makan menikmati sarapan pagi yang sudah terhidang di atas meja.


"Jadi Yuna setuju kan jadi brand ambassador produk terbaru kita," ucap Elkan sambil mengunyah makanannya.


"Iya, tapi Yuna mau bayaran yang tinggi." jawab Yuna enteng dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan.


"Hahahaha... Dasar matre, belum apa-apa sudah minta bayaran tinggi." Elkan tertawa terbahak-bahak. "Memangnya Yuna mau bayaran berapa?" imbuh Elkan setelah menghentikan tawanya.


"Terserah Abang saja, tapi harus tinggi dari bayaran sebelumnya." sahut Yuna.


"Oke, kalau bulan ini penjualan kita meningkat, Abang janji akan memberikan berapapun yang Yuna mau."


"Hehehehe... Deal," Yuna tersenyum sumringah penuh kemenangan. Kapan lagi menekan suaminya itu? Jarang-jarang Yuna dapat kesempatan bagus seperti ini, pikir Yuna dalam hati.


Usai sarapan, Elkan masuk ke ruang kerja sambil menunggu Amit yang baru saja keluar dari kamar. Yuna kemudian membuatkan kopi untuk suaminya itu dan membawanya ke ruang kerja Elkan.


"Ini kopinya," ucap Yuna sambil meletakkan cangkir itu di atas meja.


"Sini sayang, duduk dulu!" pinta Elkan sambil mendorong kursinya ke belakang, lalu menepuk pahanya.


Yuna yang tadinya ingin keluar, akhirnya urung meninggalkan ruangan. Dia mendekat dan duduk di atas pangkuan suaminya itu lalu mengalungkan tangannya di tengkuk Elkan.


"Ada apa lagi?" tanya Yuna dengan manja.


Elkan mengerutkan keningnya. "Kenapa masih bertanya? Yuna lupa sudah membuat Abang tidak tidur semalaman?"


"Yang larang Abang tidur siapa?" Yuna menautkan alisnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Tidak ada yang larang, tapi Yuna sudah membuat kesalahan sama Abang." jelas Elkan.


"Mana ada?" Yuna mengerucutkan bibirnya. "Abang yang sudah bikin kesalahan sama Yuna. Bisa-bisanya Abang mencari model lain dan mengatakan ingin buka-bukaan di depan wanita itu. Apa memang itu yang Abang inginkan? Menjijikkan sekali," Yuna menggembungkan pipinya dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Apa salahnya? Kan cuma buka-bukaan doang, sentuh-sentuh dikit tidak masalah kan. Yang penting punya Yuna ini aman." seloroh Elkan sambil menunjuk bagian bawahnya.

__ADS_1


"Tuh kan, memang dasar Abangnya saja yang genit. Bagaimana kalau posisi kita dibalik? Yuna yang pakai baju terbuka terus disentuh sama pria lain, apa Abang rela?" Yuna berkata dengan nada menekan.


Elkan membulatkan matanya dengan sempurna. "No sayang, mana mungkin Abang rela. Yang boleh nyentuh Yuna cuma Abang seorang." tegas Elkan dengan tatapan mengintimidasi.


"Makanya jangan seenak udel Abang sendiri kalau ngomong! Itu juga yang Yuna rasakan, Yuna tidak rela kulit suami Yuna disentuh wanita lain." terang Yuna dengan air muka cemberut.


"Hehehehe... Iya iya, jangan cemberut gitu dong. Abang cuma bercanda, lagian Abang tidak ada niat buat nyari model lain. Hanya Yuna yang pantas jadi model produk kita."


Setelah mengatakan itu, Elkan menarik Yuna hingga tubuh keduanya semakin merapat. Elkan kemudian mengesap bibir istrinya itu penuh kelembutan, rasanya seperti ada yang kurang jika belum menyedot bisa mematikan Yuna yang menjadi candunya itu.


"Cukup Bang! Apa Abang tidak bosan mengesap bibir Yuna terus?" keluh Yuna setelah menjauhkan diri.


"Tidak ada kata bosan sayang, Abang sangat suka dengan bibir tebal Yuna ini. Lembut dan manis, sangat nikmat." sanjung Elkan, lalu mengesap nya kembali.


Di luar sana, Amit sudah selesai menyantap sarapan paginya. Sembari menunggu Elkan keluar dari ruangan kerjanya, Amit duduk di samping si kembar yang tengah bermain dengan sendirinya.


Kedua bocah mungil itu nampak begitu menggemaskan dengan posisi tengkurap dan tersenyum dengan lucunya saat Amit merayu keduanya.



Sejak tinggal di rumah itu, Amit memang merasa sangat bahagia karena dikelilingi orang-orang yang baik dan penyayang, dia seperti memiliki keluarga sendiri yang selama ini sangat dia rindukan.


Dari Elkan dan Yuna dia seakan mendapat kasih sayang layaknya seorang anak dan adik, begitu juga dari Beno. Mereka semua tidak pernah menganggap Amit seperti orang asing, terlihat seperti satu keluarga yang memiliki ikatan darah padahal tidak sama sekali.


"Sudah siap?"


Suara Elkan tiba-tiba membuat lamunan Amit memudar. Hampir saja air matanya menetes saat mengingat jalan hidupnya yang menyedihkan.


"Sudah Kak,"


Amit mengusap wajahnya dan tersenyum ke arah Elkan dan Yuna. Dia kembali mengecup pipi gembul Elga dan Edgar secara bergiliran.


"Dah sayang, Om Amit kerja dulu ya. Doain Om tampan kalian ini agar bisa sukses seperti Papa, oke!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Amit langsung bangkit dari duduknya.


"Hahahaha... Narsis banget sih kamu," Yuna tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan Amit barusan, lucu saja menurutnya.


"Bukan narsis Kak Yuna, tapi begitulah faktanya. Bukankah aku ini memang tampan? Untung Kak Yuna sudah punya Kak Elkan, kalau belum pasti Kak Yuna bakalan naksir sama aku." Amit bicara dengan penuh percaya diri hingga membuat ubun-ubun Elkan menggelegak.


"Hei bocah ingusan, hati-hati kalau bicara! Setampan apapun kau, istriku tidak akan pernah tertarik padamu." ketus Elkan dengan air muka menggelap. Apa dia cemburu mendengar itu? Entahlah...


"Hahahaha... Kak Elkan cemburu ya?" Amit tertawa terpingkal-pingkal. "Tenang, tenang, aku sama sekali tidak tertarik dengan istri orang." imbuh Amit sambil memegangi perutnya menahan geli yang menggelitik.


"Dasar bocah edan. Ayo cepat, jangan banyak tingkah jika tidak ingin aku pecat!" geram Elkan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hahahaha... Dasar bos kejam, baru kerja sehari saja sudah mau dipecat." Amit kembali tertawa setelah mengatakan itu, dia kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Yuna. "Aku pergi dulu ya Kak," ucap Amit, lalu berjalan menuju halaman rumah.


"Sayang, Abang pergi dulu ya. Baik-baik di rumah!" Elkan memeluk Yuna dan mengecup kening istrinya itu dengan sayang, setelah itu Elkan berjongkok dan mengecup pipi gembul Edgar dan Elga secara bergantian. "Papa pergi dulu ya Nak, jangan nakal sama Mama!"


Setelah berpamitan dengan istri dan kedua buah hatinya, Elkan menyusul Amit menuju halaman rumah lalu keduanya masuk ke dalam mobil.


"Kau bisa menyetir?" tanya Elkan yang sudah duduk di bangku kemudi.


"Tidak Kak, belajar dari mana? Aku kan bukan orang kaya," jawab Amit apa adanya.


"Memangnya cuma orang kaya saja yang bisa menyetir?" Elkan mendengus kesal.


"Maksudnya bukan begitu Kak. Aku kan tidak punya mobil, jadi kapan belajarnya?" jelas Amit.


"Kalau begitu, kau harus belajar menyetir setelah ini. Enak sekali hidupmu kalau aku terus yang menyetir, makan gaji buta itu namanya." ketus Elkan yang masih bertahan dalam mode kesalnya.


"Hahahaha... Kalau Kak Elkan mau mengajariku, tentu saja aku mau." ucap Amit penuh semangat.


"Huhhh... Siapa juga yang mau mengajarimu? Belajar sama Pak Zul saja nanti!" jelas Elkan.


"Tidak masalah belajar dengan siapa pun, intinya sama-sama belajar kan?" sahut Amit sambil tersenyum sumringah.

__ADS_1


Setelah berdebat cukup lama, Elkan kemudian menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.


Bersambung...


__ADS_2