
Tepat setelah makan malam usai, Ferry dan ketiga tim nya sudah tiba di kediaman Bramasta. Setelah memarkirkan mobil, mereka berempat langsung turun dan berjalan menuju paviliun.
Di dalam rumah, Elkan dan Yuna sudah bersiap-siap dan menitipkan si kembar pada Reni dan Beno. Setelah meminta sampel produk terbaru mereka pada Amit, keduanya langsung berjalan menuju paviliun.
"Malam Tuan, Nyonya." sapa Ferry dan yang lainnya bersamaan.
"Malam juga, bagaimana? Bisa dimulai sekarang?" sahut Elkan.
"Bisa Tuan, semua sudah standby. Silahkan!" Ferry langsung menyiapkan kamera dan menyalakan lampu sorot.
Pertama giliran Yuna yang harus mengambil gambar untuk iklan skincare keluaran terbaru mereka, kurang lebih ada dua puluh pose yang harus diperagakan oleh Yuna.
Saat pengambilan video, barulah Elkan masuk sebagai penyempurna. Elkan harus berakting sebagai pria asing yang kepincut saat melihat muka glowing Yuna yang menyilaukan mata.
Untuk produk kedua yaitu lipstik, Yuna harus mengganti baju terlebih dahulu dan kembali memperagakan beberapa pose untuk pengambilan foto dan satu video tanpa Elkan.
Lanjut produk ketiga yaitu lotion pemutih, kali ini Yuna harus berpakaian sedikit terbuka hingga Elkan mendengus kesal saat melihatnya. Dia tidak rela kulit putih mulus dan bagian tertentu Yuna dilihat banyak orang, lalu Elkan meminta Yuna mengganti pakaian.
Kali ini Elkan sendiri yang memilihkan pakaian untuk Yuna, Elkan memilih dress tanpa lengan yang tertutup di bagian dada. Bagi Elkan hanya dirinya yang boleh melihat bagian sensitif istrinya itu.
Setelah membantu Yuna menutup resleting bagian belakang, Elkan kemudian menyibakkan rambut panjang istrinya itu ke belakang.
"Nah, begini saja sudah cantik. Kenapa harus memakai pakaian kurang bahan itu?" ucap Elkan sambil tersenyum kecil.
"Terserah Abang saja," sahut Yuna sambil geleng-geleng kepala.
Keduanya kemudian keluar dari kamar dan melanjutkan pemotretan. Lagi-lagi Elkan sendiri yang jadi model prianya.
Adegan kali ini menuntut keintiman mereka berdua, Elkan harus memeluk Yuna dan mencium aroma tubuh istrinya setelah membalurkan lotion itu di tangannya. Tentu saja hal itu tidak sulit bagi keduanya.
Setelah pengambilan video selesai, lanjut untuk produk yang terakhir yaitu roll on pria yang harus diperagakan oleh Elkan sendiri.
Awalnya Elkan harus membuka seluruh pakaiannya dan hanya mengenakan boxer saja, tapi Yuna tidak mengizinkannya dan meminta Elkan mengenakan celananya kembali. Yuna juga tidak mau benda pusaka milik suaminya yang menonjol itu dilihat banyak orang. Akhirnya Elkan memilih bertelanjang dada saja dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Seketika Maya dan Rina tergugu saat melihat tubuh atletis bos mereka itu. Mata keduanya melotot memperhatikan dada bidang dan perut kotak Elkan yang terlihat begitu menggoda. Sadar akan kebodohan mereka itu, keduanya kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ferry yang sudah standby dengan kameranya langsung mengambil posisi saat Elkan sudah duduk di atas sofa, lalu mengambil beberapa pose yang memperlihatkan otot jenjang bos nya itu. Berlanjut dengan pengambilan video bersama Yuna.
Tepat pukul sebelas malam, pemotretan sudah dihentikan. Ferry memeriksa satu persatu hasil foto dan video yang sudah dia ambil. Elkan dan Yuna ikut menyaksikannya.
"Bagaimana?" tanya Elkan yang tengah berdiri di belakang Ferry.
"Aku rasa sudah cukup, tinggal diedit sedikit maka hasilnya akan sempurna." sahut Ferry.
"Baguslah kalau begitu, besok semua hasilnya sudah harus diserahkan kepada bagian pemasaran. Kau harus menyelesaikan semuanya malam ini juga." perintah Elkan.
"Tidak masalah, kami akan lembur." balas Ferry.
Setelah mengemasi semua barang-barang yang berserakan di mana-mana, Ferry dan yang lainnya berpamitan. Mereka semua akan melanjutkan pekerjaan di rumah Ferry.
Elkan dan Yuna ikut mengantarkan mereka sampai halaman depan. Setelah mobil yang dikendarai Ferry menghilang, keduanya langsung memasuki rumah.
"Amit, kau belum tidur?" seru Elkan setelah menapakkan kakinya di ruang keluarga.
"Loh, kok gitu? Kalau mereka rewel bagaimana?" selang Yuna khawatir.
"Biarkan saja Kak! Kapan lagi mereka berdua belajar ngurusin bayi?" Setelah mengatakan itu, Amit pamit dan melangkah ke kamarnya.
Yuna memutar lehernya ke arah Elkan. "Bang, gedor saja yuk!"
"Apaan sih? Masa' gedor-gedor kamar orang, tidak sopan tau." Elkan menajamkan tatapannya.
"Tapi nanti si kembar rewel Bang," keluh Yuna dengan bibir mengerucut.
"Biarkan saja! Siapa suruh menidurkan si kembar di kamar mereka? Kalau rewel biar mereka berdua yang urus!" jawab Elkan dengan entengnya.
"Tapi Bang-"
__ADS_1
"Sudah sayang, biarkan saja untuk malam ini! Nanti kalau rewel pasti diantar ke kamar kita, Yuna tidak usah khawatir. Lagian selama ini mereka juga jarang sekali bangun malam." potong Elkan.
"Abang yakin?" Yuna menautkan alisnya.
"Iya sayang, lebay banget sih. Toh masih di rumah yang sama, apa yang Yuna takutkan?" Elkan berusaha meyakinkan istrinya itu, lalu menggendong Yuna dan membawanya ke lantai atas.
Sesampainya di kamar, Elkan mendudukkan Yuna di sisi ranjang. Dia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar, mata Elkan membulat dengan sempurna. Tak disangka Yuna akan menyuguhkan pemandangan indah tepat di depan matanya.
Elkan meneguk air liurnya dengan susah payah, lalu menghampiri Yuna yang tengah duduk di depan cermin sambil membalurkan lotion di tubuhnya. Lingerie tipis yang dikenakan Yuna memperlihatkan bagian intinya yang polos tanpa pengamanan. Tentu saja hal itu membuat otak Elkan jadi kusut tak menentu.
Elkan kemudian berdiri di hadapan Yuna, dia tersenyum nakal sambil mematut istrinya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Lihat apaan?" tanya Yuna sambil mengulum senyumannya.
Elkan membungkukkan punggung dan menyentuh dagu Yuna. "Malah bertanya, sengaja ya godain Abang?"
"Tidak, siapa yang godain? Biasanya juga gini kan kalau mau tidur," tampik Yuna.
"Hmm... Gitu ya, ya sudah. Kalau gitu Abang tidur dulu, capek soalnya." Elkan meluruskan punggungnya dan berjalan menuju ranjang, lalu berbaring dan memejamkan matanya.
Yuna mengerucutkan bibirnya melihat itu, tentu saja dia sangat kesal karena merasa diabaikan begitu saja. Apa Elkan tidak tertarik sama sekali melihat penampilannya yang sudah seperti itu?
Dengan air muka penuh kekesalan, Yuna bangkit dari duduknya dan menyusul Elkan ke ranjang. Dia berbaring dan sengaja memunggungi suaminya itu.
Elkan yang menyadari itu langsung tersenyum dengan lebar, lalu beringsut dan memeluk pinggang Yuna.
"Jangan diganggu, Yuna ngantuk!" ketus Yuna sambil memukul tangan Elkan.
Elkan lagi-lagi hanya tersenyum melihat kemarahan istrinya itu. Dia tau Yuna menginginkan dirinya tapi gengsi memintanya lebih dulu.
Lalu tangan Elkan menyelinap masuk ke dalam lingerie itu dan bergerak menyentuh permukaan inti Yuna. Yuna terperanjat dan mencoba menahan diri, tapi permainan tangan Elkan membuatnya tak sanggup untuk menolak. Sekujur tubuhnya merinding saat tangan Elkan memainkan kelopak bunga berwarna pink miliknya itu.
"Aughhh..." Sedikit lenguhan kecil lolos dari mulut Yuna saat merasa basah pada intinya. Elkan yang mendengar itu semakin gencar memainkannya, dia ingin Yuna yang berinisiatif memintanya lebih dulu.
__ADS_1
Bersambung...