
Elkan turun dari dalam mobil berbarengan dengan Amit, kedatangan keduanya disambut oleh seorang satpam yang langsung membungkukkan punggungnya setelah membukakan pintu tadi.
"Selamat datang, Tuan." sapa satpam itu.
"Terima kasih," sahut Elkan sambil mengangkat sebelah tangannya.
Elkan melanjutkan langkahnya menuju lobby dan disusul oleh Amit yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Saat hendak masuk ke dalam lift, seorang petugas keamanan menghampirinya hingga langkah Elkan terhenti di depan pintu lift.
"Maaf Tuan, apa kita bisa bicara sebentar?" ucap petugas keamanan itu sambil membungkukkan punggungnya.
"Ya, boleh." angguk Elkan.
"Amit, kau duluan saja ke atas! Periksa jadwal Kak Elkan hari ini, jangan sampai ada kesalahan!" titah Elkan sambil menajamkan tatapannya.
Amit menganggukkan kepalanya. "Baik, Kak."
Setelah Amit masuk ke dalam lift, Elkan berjalan menuju koridor bagian samping. Petugas keamanan tadi mengikuti dan berjalan di sampingnya.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan! Apa sudah ada titik terang mengenai penyusup itu?" tanya Elkan dengan mode seriusnya.
Petugas keamanan itu menghentikan langkahnya. "Pria itu suruhan seseorang, sepertinya orang itu sengaja ingin menghancurkan perusahaan."
"Siapa?" Elkan mengerutkan keningnya. Dia mencoba berpikir tentang siapa orang yang tega melakukan itu. Perasaannya mengatakan bahwa dirinya tak memiliki musuh selama ini.
"Perusahaan yang katanya pernah mengajukan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita, tapi ditolak mentah-mentah oleh Tuan Beno." jelas petugas keamanan itu.
Elkan kembali mengerutkan keningnya, matanya tiba-tiba menyipit sambil mengingat perusahaan mana yang pernah ditolak oleh Beno sebelumnya.
Siapa sebenarnya orang itu? Apa motifnya melakukan hal ini kepada perusahaan? Elkan benar-benar bingung, beberapa waktu yang lalu dia sempat vakum dari kantor karena harus menjaga Yuna di rumah sakit.
Setelah cukup lama bergelut dengan pemikirannya, Elkan mendengus kesal dengan air muka yang mendadak terlihat keruh. Dia menghela nafas berat lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sial, kenapa aku tidak kepikiran sampai ke sana?"
__ADS_1
Elkan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Apa mungkin orang itu? Elkan masih ragu, tapi dia juga yakin karena selama ini dia tidak merasa memiliki musuh satu pun. Siapa lagi kalau bukan dia?
"Dimana pria itu?" tanya Elkan penuh selidik.
"Di kantor polisi Tuan, semalam dia ditangkap di tempat persembunyiannya." jawab petugas keamanan itu.
"Baiklah, siang nanti aku akan ke sana untuk memastikannya."
Setelah mengatakan itu, Elkan meninggalkan koridor dan masuk ke dalam lift menuju ruangannya yang ada di lantai lima belas.
Elkan berpikir keras akan hal ini. Jika yang dia duga benar, berarti Elkan harus waspada dengan orang itu. Elkan tidak bisa lengah seperti biasanya mengingat orang itu cukup berbahaya dan bisa menghancurkan perusahaan yang sudah dia kembangkan dengan susah payah.
Sesampainya di lantai lima belas, Elkan langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan air muka yang terlihat gundah gulana.
"Amit, kemarilah!" seru Elkan sambil menggerakkan tangannya di udara.
Amit menganggukkan kepalanya, lalu melangkahkan kakinya dan berdiri di depan meja. "Iya Kak,"
"Duduklah!" suruh Elkan.
Elkan terdiam untuk sejenak, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menumpukan kedua tangannya di atas meja.
"Selain memperbaiki sistem yang eror, apa lagi yang kau bisa?" tanya Elkan yang ingin tau keahlian apa saja yang dimiliki bocah ingusan itu.
Amit menancapkan pandangannya ke arah langit-langit ruangan sambil mengetuk pelipis dahinya dengan ujung telunjuk.
"Tidak tau Kak, setahuku aku hanya bisa melakukan hal-hal kecil saja. Sebelumnya bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak memiliki keahlian apa-apa, awalnya cuma iseng saja." jelas Amit apa adanya.
"Tapi Kak Elkan sangat yakin kau bisa lebih dari itu. Belajarlah, tingkatkan keahlian mu! Ini akan sangat menguntungkan bagimu." ucap Elkan memberi semangat pada bocah itu.
"Akan ku coba," Amit menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri.
"Bagus, Kak Elkan suka dengan semangatmu. Yakinlah kalau kau itu bisa," Elkan mengukir senyum di bibirnya. Dia sangat yakin bahwa Amit akan menjadi pria sukses dikemudian hari jika bocah itu mau mengembangkan diri.
__ADS_1
"Oh ya, kalau Kak Elkan tidak salah dengar, kemarin kau bilang memiliki anti virus ciptaan mu sendiri. Jika kau bisa membuat anti virus sendiri, itu artinya kau juga bisa membuat virusnya bukan?" imbuh Elkan dengan seringai tipis yang melengkung di sudut bibirnya.
"Masih dalam proses Kak, semoga saja berhasil. Tapi aku mengalami kesulitan karena tidak memiliki laptop," jawab Amit dengan jujur.
"Bodoh, kenapa tidak bilang dari kemarin?" Elkan mengeratkan rahang sambil menajamkan tatapannya, lalu dia bangkit dan melangkah menuju kamar pribadinya.
Elkan membuka laci yang ada di sudut kamar, sebuah laptop berwarna hitam keluar dari dalam sana. Masih sangat bagus dan terlihat seperti baru, hanya saja Elkan jarang sekali menggunakannya.
Setelah mendapatkan laptop itu, Elkan meninggalkan kamar dan menutup kembali pintunya. Dia menghampiri Amit dan menyodorkan laptop itu ke tangannya. "Ini, ambillah!"
"Apa ini Kak?" Amit membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tau itu laptop, tapi kenapa diberikan padanya?
"Ini namanya kue lapis, bisa dimakan dan juga ditelan tanpa dikunyah. Coba saja kalau kau tidak percaya!" Elkan menajamkan tatapannya. "Dasar bocah bodoh, apa matamu sudah tidak berfungsi?" imbuh Elkan penuh kekesalan.
Elkan menaruh laptop itu di hadapan Amit, lalu mengitari meja dan duduk di kursinya.
"Kembali ke mejamu!" titah Elkan sambil memfokuskan diri pada layar laptop miliknya yang masih menyala di atas meja.
Amit mengangguk lemah. Dia mengambil laptop yang diberikan Elkan tadi, lalu berbalik dan kembali ke mejanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dasar bodoh, kerja begitu saja tidak becus." hardik seorang wanita yang tengah berada di kantor polisi untuk membesuk seseorang. Tatapannya menyala seperti bara api.
"Maaf bos, ini diluar ekspektasi saya. Tadinya saya sudah hendak pergi melarikan diri, tapi saya kurang cepat. Beberapa orang polisi sudah mengepung tempat persembunyian saya terlebih dahulu, mau bagaimana lagi?" jawab pria itu.
"Ingat, nanti saat polisi menginterogasi mu, jangan pernah sekali pun menyinggung namaku! Jika itu sampai terjadi, aku pastikan kau akan membusuk di penjara ini untuk selamanya!" ancam wanita itu penuh penekanan. Dia tidak ingin masuk penjara sebelum menuntaskan rencana liciknya yang sudah dia susun dengan sangat rapi.
"Aku tau, aku tidak akan pernah menyeret namamu. Tapi tolong bantu aku agar terbebas dari tempat ini!" pinta pria itu sambil menangkup tangannya.
Dia tidak kuat berlama-lama di dalam jeruji besi itu. Selain sempit dan banyak nyamuk, dia juga tidak ingin menjadi sasaran kebiadaban para napi lainnya.
"Kau tenang saja, aku sudah membahas ini dengan pengacara. Sebentar lagi kau pasti akan keluar dari tempat ini."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, seringai tipis melengkung di sudut bibir wanita itu. Dia langsung berdiri dan segera meninggalkan tempat itu. Wajahnya yang ditutupi masker membuatnya sangat sulit untuk dikenali.
Bersambung...