Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 154.


__ADS_3

Aditama mengerutkan kening saat tak melihat menantu perempuannya di bawah sana, dia menilik manik mata Reynold dan menangkap sesuatu yang ganjal di dalamnya. "Rey, Laura mana Nak? Kenapa tidak dibawa turun menemui adikmu?"


Reynold mendadak bergeming, dia bingung harus menjawab apa. Selama ini dia tidak pernah berbohong kepada ayahnya itu. Apa yang harus dia katakan?


"Laura tidur Yah, terapi tadi membuatnya kelelahan."


Lagi-lagi Reynold terpaksa mengatakan itu untuk menutupi kenyataan yang terjadi sebenarnya. Dia tidak ingin Elkan salah paham, apalagi Yuna yang sudah berbesar hati menerima mantan kekasih suaminya itu menjadi kakak iparnya.


"Lihat dulu gih, siapa tau Laura sudah bangun." suruh Aditama sambil mengisyaratkan sebuah kedipan mata.


"Iya Yah," angguk Reynold, lalu meninggalkan mereka semua di bawah sana.


Reynold benar-benar bingung memikirkan keadaan ini. Di satu sisi dia harus memikirkan perasaan istrinya, di sisi lain dia juga harus menimbang perasaan Yuna yang tak lain adalah adiknya.


Terpaksa Reynold memasuki kamar meski dalam keadaan dilema sekali pun. Semoga saja Laura benar-benar tidur hingga alasan ini bisa menjadi senjata baginya untuk mengelabui semua orang.


Baru saja menginjakkan kaki di dalam kamar, Reynold harus menahan nafas saat mendapati Laura yang masih mengenakan handuk di tubuhnya.


"Kenapa bajunya tidak dipasang?" tanya Reynold sambil menutup pintu dengan pelan.


Laura terperanjat saat mendengar suara Reynold, lalu mengenakan bajunya terburu-buru. Hal itu sontak membuat Reynold mengerutkan kening seakan dirinya merupakan orang asing di mata Laura.


"Kenapa sampai segitunya saat melihatku?" tanya Reynold dengan tatapan yang sulit dimengerti, lalu berjalan menuju sofa.


"Tidak apa-apa, aku hanya kaget." jawab Laura dengan wajah memucat.


"Kaget atau tidak rela saat aku melihat tubuhmu? Sepertinya aku ini tidak ada artinya sama sekali di matamu. Apa kamu menyesal hidup bersamaku?"


Reynold akhirnya menyadari bahwa dirinya tak berarti apa-apa bagi istrinya. Apa Elkan segitu berharga nya di mata Laura sehingga dia tidak memikirkan perasaan suaminya sama sekali?

__ADS_1


"Ngomong apa sih Mas?" Laura menautkan alisnya.


"Tidak ada, mungkin perasaanku saja yang terlalu sensitif." Reynold menekuk kakinya di ujung sofa, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Ayah memintaku membawamu turun ke bawah, itupun kalau kamu tidak keberatan. Kalau mau tetap di kamar juga tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu untuk menemui mereka." imbuh Reynold dengan tatapan sendu.


"Aku di kamar saja, katakan pada mereka kalau aku sedang tidur!" jawab Laura dengan santainya.


"Tidak masalah, mungkin sebaiknya begitu. Cinta memang sulit dimengerti, seberapa keras kita berusaha kalau yang namanya cinta ya tetap cinta. Kalau tidak ya tidak," Reynold memalingkan pandangannya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Laura lagi-lagi menautkan alisnya. "Apa maksud Mas?"


"Tidak ada," jawab Reynold enteng.


"Mas..."


"Tidak perlu bicara lagi, biarkan saja seperti ini!" Reynold memilih bangkit dari duduknya dan menatap Laura dengan intim. "Tidak masalah jika kamu tidak ingin hidup bersamaku, tapi tolong jangan mengharapkan Elkan lagi! Dia sudah bahagia bersama adikku, mereka berdua saling mencintai. Sudah cukup Yuna menderita selama ini, aku tidak akan membiarkan orang lain merebut kebahagiaannya." tekan Reynold dengan tatapan tajam bak mata elang.


Reynold tersenyum kecut dan berjalan menuju pintu, seketika langkahnya terhenti dan segera berbalik. "Oh ya, aku akan bertanggung jawab sampai kakimu sembuh. Setelah itu aku akan melepasmu, aku tidak bisa hidup dalam bayangan orang lain. Lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini sebelum kamu semakin menderita bersamaku!"


"Mas... Apa yang kamu katakan? Tolong berpikir dulu sebelum berucap!" Laura meninggikan suaranya.


"Tenang saja, aku sudah memikirkannya dengan matang. Siapkan saja dirimu!" Reynold melanjutkan langkahnya hingga menghilang dari pandangan Laura.


"Mas..." teriak Laura, sayangnya tak terdengar oleh Reynold yang sudah tiba di ujung tangga.


"Astaga Mas, setan apa yang merasukimu sehingga tega bicara seperti itu padaku. Aku tidak mencintai Elkan lagi, aku hanya belum siap bertemu dia dan istrinya. Aku takut, bagaimanapun aku pernah membuat adikmu celaka." lirih Laura dengan mata berkaca.


Laura merasa bersalah karena sudah membuat Yuna celaka tanpa disengaja. Andai saja waktu itu dia tidak datang menemui Elkan, tentu saja kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Dia yang seharusnya bertanggung jawab atas kecelakaan itu, semua itu terjadi karena dirinya.


Di bawah sana, Reynold kembali bergabung bersama Aditama dan yang lainnya. Terpaksa dia harus berbohong demi menutupi sikap istrinya.


"Mana Laura Rey?" tanya Yuna yang tidak melihat kakak iparnya sama sekali.


"Masih tidur, biarkan saja dia istirahat dulu!" jawab Reynold.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kita makan dulu! Ngobrolnya nanti saja dilanjutkan!" ajak Aditama yang sengaja mengalihkan perhatian semua orang, terutama Reynold yang jelas sekali terlihat galau. Aditama bisa membaca air mukanya.


"Minah, apa makan malamnya sudah siap?" tanya Reynold sambil menoleh ke arah meja makan.


"Sudah Tuan, silahkan!" sahut Minah sambil membungkukkan punggungnya.


"Elkan, Yuna, Beno, Reni, ayo Nak!" ajak Aditama sambil bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu menuju meja makan.


"Nyonya, biar saya saja yang menjaga si kembar. Nyonya makan saja dulu," Minah berjalan mendekati sofa dan duduk di samping Elga dan Edgar yang tengah bermain di atasnya.


"Makasih ya Mbak," ucap Yuna dengan penuh kelembutan.


Minah mengukir senyum manis di bibirnya, Yuna pun membalasnya dengan senyum yang tak kalah manisnya.


Setelah semuanya duduk di meja makan, Aditama membuka acara makan malam keluarga itu dengan senyuman penuh kebahagiaan. Yuna menyendok kan nasi ke piringnya dan mengambilkan lauk untuknya, lalu mengisi piring Elkan juga dengan nasi dan lauk yang sama. Reni pun melakukan hal sama untuk Beno suaminya.


Melihat pergerakan Yuna dan Reni yang begitu perhatian kepada suami-suami mereka, air muka Reynold sontak berubah dibuatnya. Ada perasaan senang bercampur iri di dalam hatinya, dia sadar nasib cintanya berbeda dengan mereka.


Reynold tidak meminta lebih atas hubungannya dengan Laura, dia hanya ingin dihargai sebagai seorang suami meski pernikahannya tidak diinginkan oleh istrinya sendiri.


Jika saja Reynold bisa memilih, dia tidak ingin menikahi Laura dengan cara seperti ini. Tapi semua sudah terjadi, Reynold tidak bisa berbuat apa-apa. Semua salahnya yang sudah membawa Laura ke dalam hubungan tidak jelas ini.

__ADS_1


Andai saja malam itu dia bisa mengendalikan diri, dia tidak akan mungkin merusak masa depan gadis itu. Tapi nasi sudah jadi bubur, enak tidak enak Reynold terpaksa menelannya. Kini dia benar-benar terjebak dengan perasaannya sendiri, dia bahkan tidak sanggup menyudahi pernikahan ini. Apa yang harus dia lakukan?


Bersambung...


__ADS_2