
Keesokan harinya, Elkan mendatangi perusahaan yang dikelola oleh Elena. Seperti biasa Amit akan selalu setia menemani kemana pun dia pergi karena memang sudah menjadi tugasnya sebagai asisten pribadi Elkan.
Elkan memasuki bangunan berlantai empat itu dengan perawakannya yang begitu mempesona. Semua mata tertuju padanya, apalagi para gadis yang dia lewati saat di lobby.
Aura ketampanan Elkan memang selalu mampu menghipnotis semua mata yang menatapnya, apalagi mereka semua tau bahwa Elkan adalah owner BMS Beauty Glow yang terkenal dengan kualitas produknya yang menjadi salah satu brand andalan tanah air.
"Permisi, kami ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan ini." sapa Amit dengan gagahnya. Hari ini dia mengenakan setelan jas berwarna navy, aura ketampanannya nampak menonjol meski di usia yang masih sangat muda.
"Apa kalian sudah membuat janji?" tanya seorang gadis yang berdiri di meja resepsionis.
"Tidak perlu janji, tolong antar kami ke ruangannya!" timpal Elkan dengan suara bariton nya, ditambah tatapan tajam seperti mata elang yang membuat nyali wanita itu langsung menciut saat menatapnya.
Wanita itu mengangguk lemah, lalu menoleh ke arah pegawai lain yang duduk tak jauh darinya. Keduanya seakan berbicara dengan bahasa isyarat dan saling menganggukkan kepala.
"Mari saya antar," ucap wanita itu sambil melangkah meninggalkan meja kerjanya.
Wanita itu berjalan lebih dulu beberapa langkah, Elkan dan Amit menyusul di belakang. Mereka bertiga masuk ke dalam lift dan berhenti di lantai tiga. Lalu wanita itu mengantarkan Elkan dan Amit sampai pintu ruangan Elena.
"Tok Tok Tok"
"Masuk!"
Setelah mendapat sahutan dari dalam sana, wanita itu langsung mendorong pintu dan membungkukkan punggungnya.
"Siang Bu, ada yang ingin bertemu." ucapnya.
"Siapa?" Elena menilik dengan tatapan penasaran, keningnya mengernyit.
__ADS_1
"Saya," Suara bariton Elkan terdengar jelas hingga membuat Elena terperanjat dengan wajah memucat seakan tengah menghadapi mimpi buruk.
"Bisa tinggalkan kami sebentar!" imbuh Elkan, dia menatap wanita itu dan beralih menatap seorang wanita yang ada di ruangan itu juga.
Elena menganggukkan kepala dengan sedikit kedipan mata, dua wanita itu langsung mengerti dan meninggalkan ruangan itu.
"Amit, tunggu Kak Elkan di luar!" titah Elkan kepada Amit.
"Iya Kak," angguk Amit mengerti.
Elkan mendekati meja kerja Elena dengan sedikit senyum ala kadarnya, tanpa disuruh dia langsung duduk dan menyilangkan kaki dengan begitu santai tanpa beban sedikit pun.
Elena tersenyum sumringah, dia merasa menang karena sudah berhasil menarik Elkan sampai ke perusahaannya. Tentu saja dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Elkan, kau datang Nak." ucapnya penuh haru, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Tidak perlu berbasa-basi!" Elkan menajamkan tatapannya. "Katakan apa yang kau inginkan dariku! Kau butuh uang berapa? Aku akan memberikannya untuk pertama dan terakhir kali, tapi setelah itu jauhi aku dan keluargaku, termasuk perusahaan ku!"
"Elkan..."
Melihat Elkan yang terburu-buru seperti itu, seringai tipis melengkung di sudut bibir Elena. "Aku ingin separuh dari Bramasta Corp,"
Elkan tersenyum kecut. "Atas dasar apa aku harus memberimu separuh dari Bramasta Corp?"
"Karena aku ini Ibumu, aku berhak mendapatkan itu." jawab Elena santai.
"Hahahaha... Asal kau tau saja, Ibuku sudah mati." Elkan tertawa dan berkata dengan penuh penekanan. "Sekarang pilihan ada di tanganmu, mau menerima uang dariku atau tidak sama sekali."
__ADS_1
"Aku tidak ingin uangmu, aku hanya ingin separuh Bramasta Corp." jawab Elena.
"Jelas, kalau begitu bersiaplah untuk melihat kehancuran perusahaan ini. Aku tidak akan tinggal diam setelah apa yang kau lakukan kepada perusahaan ku. Kau salah jika berpikir bahwa aku tidak tau apa-apa tentangmu, bukti kejahatan mu sudah ada di tanganku. Sekali lagi kau bertindak licik seperti itu, aku tidak akan segan-segan membawamu ke jalur hukum!" ancam Elkan dengan tatapan membunuhnya.
"Hahahaha... Kau tidak akan berani melakukan itu pada Ibumu, aku wanita yang sudah melahirkan mu." Elena sama sekali tidak takut dengan ancaman Elkan.
"Hmph... Kenapa tidak berani?" Elkan mencibir. "Harus berapa kali ku katakan padamu, aku tidak punya Ibu. Kalau pun benar bahwa kau yang sudah melahirkan ku, aku sangat berterima kasih padamu. Tapi sayangnya diantara kita tidak ada ikatan lain, hanya melahirkan dan membuangnya seperti sampah. Apa yang bisa yang bisa ku banggakan dari wanita sepertimu?"
"Elkan..." Elena meninggikan suaranya.
"Jangan berani membentak ku! Ingat, aku tidak pernah meneguk air susumu, apa pantas kau dipanggil Ibu? Seorang Ibu akan berjuang demi anak-anaknya meski di masa tersulit sekali pun, bukan menelantarkannya dan memilih pergi dengan laki-laki lain. Ibu seperti apa itu?" Elkan menajamkan tatapannya dengan rahang mengerat kuat.
"Ingat apa yang ku katakan barusan! Kali ini aku memaafkan mu tapi tidak setelah ini!" Setelah mengatakan itu, Elkan langsung berdiri dan meninggalkan ruangan itu dengan amarah yang memuncak.
Elkan tak habis pikir, kenapa bisa ada wanita seperti itu di dunia ini. Setelah meninggalkan dan menelantarkan seorang anak, kini dia malah kembali mengharapkan harta yang sama sekali bukan hak nya. Manusia seperti apa dia?
Jika memang dia adalah seorang ibu, tidak mungkin isi kepalanya hanya harta, harta dan harta saja. Dia bahkan tidak pernah menanyakan bagaimana kabar dan perkembangan cucunya, apa dia pantas di panggil ibu?
"Amit, ayo pergi!" ajak Elkan setelah keluar dari ruangan Elena.
Amit menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Elkan menuju lift. Dia sengaja tak banyak bicara karena tau kondisi hati Elkan sedang tidak baik saat ini, terlihat jelas dari air muka Elkan dan cara berjalannya yang terburu-buru.
Setelah keluar dari perusahaan itu, Elkan melajukan mobilnya menuju kantor. Sepanjang perjalanan wajahnya nampak murka sambil sesekali menggertakkan gigi, dia tak menyangka hidupnya akan ditimpa masalah seberat ini.
Jika saja Elkan boleh memilih, dia tidak ingin dilahirkan dari rahim wanita itu. Wanita gila harta yang tidak punya belas kasih sama sekali.
Setelah kurang lebih dua puluh lima tahun tak bertemu, tidak ada sedikit pun kerinduan di hati wanita itu untuknya. Jangankan untuk memeluknya, menanyakan kabarnya saja tidak. Hal itu membuat Elkan merasa bersalah terhadap sang kakek.
__ADS_1
Saat mengetahui kebenaran itu, Elkan sempat marah karena merasa dibohongi oleh kakeknya sendiri. Tapi kini dia sadar, kakek Bram tidak salah. Dia berniat melindungi Elkan dari wanita itu. Wanita yang ternyata memang tidak pantas menjadi ibunya.
Bersambung...