
Elkan tengah mengendarai mobilnya menuju kantor. Saat melewati sebuah apotik, dia kembali teringat dengan Yuna. Tanpa berpikir, Elkan memutar stir dan memarkirkan mobilnya di depan apotik.
Setelah membeli obat pereda nyeri dan salep, Elkan memutar stir mobilnya menuju arah pulang.
Sesampainya di halaman rumah, Elkan mematikan mesin mobil dan bergegas turun, lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Di kamar, Yuna tengah berbaring di ranjang. Saat mendengar bunyi pintu bergeser, Yuna terperanjat dan memutar tubuhnya mengarah pintu.
"Elkan, kenapa kembali?" tanya Yuna menautkan alisnya.
"Kenapa? Emangnya aku gak boleh pulang ke rumahku sendiri?" jawab Elkan dengan pertanyaan pula, lalu menghampiri Yuna dan duduk di sisi ranjang.
"Kok jawabnya gitu sih?" Yuna bangkit dari tidurnya dengan bibir sedikit maju.
Melihat wajah cemberut istrinya, Elkan merasa gemas. Dia mengacak rambut Yuna lalu mengesap bibir manyun istrinya nan menggoda. Entah kenapa, dia merasa ada yang kurang jika belum mencicipi manisnya bibir Yuna.
"Ini ambillah! Tadi aku mampir dulu di apotik," tutur Elkan sembari menyodorkan kantong plastik ke tangan Yuna.
"Apa ini?" tanya Yuna sembari meraih kantong tersebut, perasaan dia tak meminta Elkan membelikan sesuatu untuknya.
"Di dalamnya ada salep dan obat pereda nyeri. Jangan lupa diminum, trus salepnya jangan lupa diolesin, biar cepat sembuh!" jelas Elkan.
"Niat banget, gak minum obat pun bakalan sembuh sendiri kok." papar Yuna sembari mengulum senyumannya.
"Lama sayang, aku gak bisa nunggu. Bila perlu malam ini sudah sembuh, aku belum puas menikmatinya." ungkap Elkan dengan senyum miring menampakkan rahangnya yang tegas.
"Itu lagi, itu lagi, kenapa isi otakmu jadi kotor seperti ini?" keluh Yuna geram, ingin sekali dia mencakar dan mencabik mulut suaminya yang selalu berkata seakan tak punya malu, namun hal itu tak mungkin dia lakukan.
Elkan hanya menanggapi ucapan Yuna dengan senyuman. "Ya sudah, aku pergi dulu. Salepnya dioles setiap 2 jam sekali ya, gak usah pakai ****** ***** dulu!"
Elkan mengesap kembali bibir merah merekah Yuna, lalu mengakhirinya dengan kecupan sayang di kening Yuna.
Setelah punggung Elkan menghilang dari pandangannya, Yuna melompat turun dari ranjang lalu bergegas mengunci pintu, kepalanya menggeleng-geleng memikirkan sikap Elkan yang menurutnya sangat menjengkelkan.
Entah apa yang ada di benak Elkan, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya pasti mengarah pada hal negatif yang membuatnya tak kuasa menahan malu.
"Kenapa aku harus dihadapkan dengan suami seperti dia? Apa otaknya sudah tidak waras?" gerutu Yuna penuh tanda tanya, kemudian memijit dahinya yang terasa sedikit pusing.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Yuna membuka kantong plastik yang dibawakan Elkan sembari menepi di ujung kasur. Seulas senyum nampak jelas di wajahnya, meski sikap Elkan terkadang menjengkelkan, tapi Yuna merasa senang mendapatkan perhatian dari suaminya itu.
Sesuai arahan Elkan tadi, Yuna menekuk kakinya di sisi ranjang, lalu mengoleskan salep tersebut pada permukaan benda sensitifnya. Dia juga tidak lupa meminum obat untuk menghilangkan rasa nyeri yang menyiksa.
Setengah jam berlalu, Yuna akhirnya tertidur. Mungkin pengaruh obat yang dia minum tadi jadi membuat matanya sangat mengantuk.
Di perusahaan, wajah Elkan nampak bercahaya dengan rahang terpahat sempurna. Setelah menyelesaikan pekerjaan, dia teringat dengan kejadian semalam. Seketika, jantungnya bergemuruh seakan merasakan kembali hangatnya penyatuan tubuh mereka.
Untuk pertama kali Elkan merasakan nikmat sebagai seorang pria dewasa, hal itu membuatnya terpaku dalam pemikirannya sendiri. Andai saja Elkan tidak menganggap Yuna sama seperti mantan kekasihnya, mungkin sudah sejak lama dia menjadikan Yuna sebagai istrinya yang nyata.
"Astaga, apa yang aku pikirkan?" gumam Elkan sembari menjitak kepalanya sendiri, sepertinya Yuna sudah berhasil menggeser otaknya.
"Tok Tok Tok"
Elkan terperanjat saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar, seketika lamunannya memudar dan menurunkan pandangannya menatap pintu.
"Siapa?" seru Elkan dengan suara terdengar lantang.
"Aku," sahut Beno dari luar sana.
"Masuk saja! Kenapa musti mengetuk pintu?" teriak Elkan agar Beno bisa mendengarnya dengan jelas.
Pintu terbuka lebar, nampak Beno tengah melangkah dengan sedikit senyum yang menghias di wajahnya.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Beno sembari menarik kursi dan duduk di hadapan Elkan.
"Bagaimana menurutmu?" Elkan mengangkat bahunya dengan bibir sedikit maju.
Dari bahasa tubuh yang diperlihatkan Elkan, Beno sudah bisa membaca pergerakannya.
"Kenapa? Apa ada yang ingin kau bahas denganku?" tanya Elkan dengan santainya, bahkan senyum tipis masih setia menetap di bibirnya.
Beno mengerutkan keningnya, ada yang aneh dari pancaran wajah Elkan. Tidak biasanya Elkan terlihat begitu ceria dan selalu mengumbar senyum tanpa alasan yang jelas.
"Ada apa denganmu? Dari tadi aku perhatian wajahmu tak henti tersenyum. Apa kau baru memenangkan lotre?" terka Beno dengan tatapan semakin bingung.
"Lebih dari itu," Elkan kembali tersenyum dan menjawab pertanyaan Beno dengan santai.
__ADS_1
"Ah, sudahlah! Pusing aku melihatmu, seperti TTS saja." Beno mengusap wajahnya kasar.
"Oh ya, tadi aku baru saja mendapat email dari agency model. Katanya sudah ada model yang bersedia menjadi brand ambassador kita. Bagaimana menurutmu, apa aku perlu mengatur jadwal pertemuan dengan mereka?" tanya Beno yang mulai fokus dengan tujuan awal kedatangannya.
Elkan lagi-lagi tersenyum. "Batalkan!"
Jawaban singkat dan tegas yang keluar dari mulut Elkan membuat Beno semakin kelimpungan. Entah apa yang terjadi dengan pria itu sebenarnya, kadang-kadang entahlah, Beno hanya bisa menghela nafas berat.
"Ada lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Elkan sembari mengetuk-ngetuk permukaan meja.
"Tidak, hanya itu saja. Apa kau yakin ingin membatalkannya?" Beno mencoba memastikan.
"Tentu saja yakin, sekarang kembalilah ke ruanganmu! Biarkan ini menjadi urusanku!" tandas Elkan.
"Sejak kapan kau berminat mengurusi bagian ini?" tanya Beno penasaran hingga menimbulkan banyak kerutan di dahinya.
"Kepo ya?" Elkan tertawa begitu lepas, dia sampai terpingkal menyaksikan ekspresi wajah Beno yang membagongkan.
"Bodoh, untuk apa lagi mencari model? Kau lupa siapa istriku?" Elkan berusaha meredam tawanya, perutnya sampai sakit menahan geli yang menggelitik.
"Jadi maksudmu Yuna akan kembali menjadi model kita? Apa dia bersedia?" cecar Beno dengan pertanyaan. Dia sedikit sangsi, takut Yuna menolak. Sementara Elkan sudah mengutusnya membatalkan tawaran dari agency model yang mereka pilih.
"Dia pasti bersedia jika aku yang memintanya, serahkan saja padaku!" Elkan tersenyum sumringah penuh keyakinan.
"Ok, terserah kau saja!" Beno segera berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
"Tunggu Ben!" tahan Elkan yang membuat langkah Beno terhenti.
"Apa lagi?" sahut Beno sembari berbalik lalu mengerutkan keningnya.
"Temani aku makan siang dulu! Aku sudah lapar," ajak Elkan mengutarakan keinginannya. Dia bangkit dari duduknya dan melenggang menyusul Beno yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Elkan, Elkan! Jika aku yang menjadi dirimu, aku akan meminta Yuna membawakan makan siang untukku. Kenapa musti repot makan siang di luar?"
Celetukan Beno barusan membuat Elkan sedikit berpikir. "Kau benar, nanti aku akan membicarakannya dengan Yuna. Sekarang dia sedang tidak enak badan."
"Yuna sakit?" Beno menautkan alisnya, kemudian melangkah disusul Elkan yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak, hanya sedikit... Ah, sudahlah!" Elkan menghentikan ucapannya, tidak mungkin dia menceritakan rahasia rumah tangganya kepada Beno, apalagi hal ini terlalu sensitif.
Bersambung...