
"Ben, apa kalian gak ada rencana buat mengadakan resepsi pernikahan? Mumpung masih pengantin baru loh, kapan lagi?" tanya Elkan yang kini sudah duduk di samping Yuna dan bersandar di lengan istrinya itu.
Beno mengerutkan kening dan menatap Elkan dengan intens, beberapa detik kemudian dia beralih memandang Reni yang ada di dalam lingkaran ketiaknya. "Menurut kamu gimana sayang?"
Reni mendongak hingga pandangan mereka saling bertemu. "Gak usah Mas, buang-buang duit aja. Yang penting kan udah sah,"
"Kenapa gak usah? Kamu ragu sama suamimu ini?" Beno lagi-lagi mengerutkan keningnya. "Asal kamu tau aja, duit suamimu ini lebih banyak dari pada Elkan. Elkan memang pemilik sebagian besar kekayaan ini tapi keuangan ada di tangan suamimu ini." imbuh Beno.
"Kok bisa?" Reni memutar pandangannya ke arah Elkan. Elkan membalasnya dengan senyuman.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari arah pintu utama.
"Oh, jadi kau lah yang sudah mengendalikan putraku selama ini. Dasar tidak tau terima kasih. Ingat, kau itu hanyalah anak pungut! Jangan berlagak seperti bos besar!"
Suara Elena terdengar sangat lantang dan menekan hingga membuat dua pasang suami istri itu terlonjak kaget, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Elkan bertanya sambil memalingkan wajahnya, dia sangat malas melihat wajah wanita tua itu.
"Elkan... Aku ini Ibumu, bersikap sopan lah padaku!" bentak Elena yang sudah kehilangan kesabaran setelah mendengar ucapan Beno tadi.
"Ibu...? Hahahaha..." Elkan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Aku rasa aku tidak pernah memiliki Ibu." Setelah mengatakan itu, Elkan menoleh ke arah Elena. Tatapan matanya terlihat membunuh. "Ibuku sudah mati!" imbuh Elkan penuh penekanan.
"Elkan..." Elena berteriak dengan tangan mengepal erat. Matanya memerah seakan ada api yang menyala di dalamnya.
"Jangan berteriak padaku!" Elkan beranjak dari duduknya, lalu mengambil Edgar dari pangkuan Reni. "Sayang, ikut Abang ke atas yuk!" ajak Elkan sambil mengulurkan tangannya ke arah Yuna. Dia sama sekali tak peduli dengan keberadaan wanita yang mengaku ibu kandungnya itu.
"Tapi Bang-"
__ADS_1
"Ikut aja! Suasana di sini membuat kepala Abang pusing. Abang butuh Yuna," desak Elkan, lalu menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Elkan... Jangan kurang ajar kamu! Ibu belum selesai bicara," bentak Elena sambil mendekat dan menarik ujung jas yang melekat di tubuh Elkan.
"Singkirkan tangan kotor mu itu, jangan lancang menyentuhku!" Elkan menepis tangan Elena. "Asal kau tau saja, semua warisan kakek Bram sudah jatuh ke tangan Beno. Sekarang Beno lah pemilik semua ini, apa yang kau harapkan dariku?" kesal Elkan dengan mata berapi-api.
Tiba-tiba Elena bergeming untuk beberapa saat. Mana mungkin semua warisan kakek Bram jatuh ke tangan Beno. Bukankah yang lebih berhak atas semuanya adalah Elkan, dia cucu kandung dari kakek Bram.
"Yang dikatakan Elkan itu benar. Dia tidak memiliki apa-apa lagi saat ini. Semua aset yang tersisa adalah milikku, Elkan hanya menumpang di rumah ini."
Beno meluruskan kata-kata Elkan barusan, tentu saja mereka berdua sudah merundingkan ini sebelumnya. Elkan tau pasti bagaimana watak wanita tua itu, dia tidak akan tinggal diam sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.
Berharap dapat bagian, enak saja. Memangnya dia siapa? Elkan lebih rela membagi hartanya kepada fakir miskin dari pada harus memberikannya pada wanita yang tidak punya hati itu.
Elena benar-benar murka setelah mendengar semua itu. Mana mungkin harta sebanyak itu bisa jatuh ke tangan Beno yang hanya seorang anak angkat. Jelas tidak masuk akal baginya.
Dengan amarah yang kian membuncah, Elena berbalik dan meninggalkan rumah itu tanpa sepatah katapun. Dia tidak mungkin percaya begitu saja, tapi untuk saat ini lebih baik dia mengalah dan mencari cara untuk mendapatkan harta itu kembali.
"Dasar wanita tamak! Datang-datang selalu saja mengungkit tentang harta. Apa dia tidak sedikitpun memikirkan perasaanku? Bahkan dia tidak pernah memandang cucunya sama sekali. Apa pantas wanita seperti itu dipanggil ibu?" lirih Elkan dengan mata berkaca.
Yuna yang mendengar itu langsung menarik Elkan ke dalam dekapannya. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Elkan saat ini. "Cukup sayang, gak usah diambil hati!"
Elkan menyembunyikan wajahnya di pundak Yuna, ingin sekali dia menangis tapi tak sanggup mengeluarkan air matanya.
"Ben, mulai besok tambah keamanan di rumah ini! Jangan biarkan wanita itu menginjakkan kakinya lagi di rumah ini!" seru Elkan dengan suara tertahan.
"Oke, kau tenang saja!" angguk Beno.
Setelah menghadapi drama yang cukup menegangkan itu, kepala Elkan tiba-tiba seakan ingin pecah. Sudah dua hari berturut-turut wanita tua itu datang mengganggu ketenangannya. Entah apa lagi yang akan dia lakukan setelah ini?
__ADS_1
Tidak lama, terdengar derap langkah kaki dari arah pintu utama. Elkan ingin sekali berteriak sekencangnya, namun saat menoleh bibirnya tidak jadi mengeluarkan suara.
"Sore Pak, Bu, Kak Reni, Kak Beno."
Ternyata Sari dan Amit yang baru pulang dari sekolah. Keduanya menyalami dan mencium punggung tangan dua pasang suami istri itu secara bergiliran.
"Jangan panggil Pak lagi, panggil Kakak saja!" ucap Elkan.
"Benar, sepertinya ketuaan kalau dipanggil Pak. Hehehe..." timpal Yuna sambil tertawa kecil.
Elkan mengerutkan kening dan mengapit Yuna di belahan ketiaknya. "Siapa yang kamu bilang tua?"
"Bukan... Maksudku bukan begitu." sanggah Yuna sambil meronta membebaskan diri. "Ketuaan Bang, bukan tua." imbuh Yuna menjelaskan.
Seulas senyum terurai di bibir Elkan, dia melepaskan Yuna dan menatapnya penuh makna. "Awas aja kalau berani bilang suamimu ini tua. Tiga hari tiga malam Abang makan tanpa jeda."
"Hust... Ngomong apa sih Bang? Ada anak kecil loh di sini," geram Yuna, kemudian melayangkan cubitan kecil di perut Elkan.
"Aduh, sakit loh sayang." Elkan membalas Yuna dengan menggigit pundak istrinya itu.
"Aaaaa... Dasar vampir."
Melihat kehangatan diantara Yuna dan Elkan, garis bibir Beno seketika melengkung. Sepertinya sudah tidak ada lagi beban yang harus dia pikul.
Elkan sudah menemukan belahan jiwanya, wanita yang benar-benar bisa menjadi tulang rusuk untuknya. Tidak hanya menjadi seorang istri tapi juga seorang ibu yang siap membesarkan generasi penerus keluarga Bramasta.
Dan kini warisan keluarga Bramasta juga sudah diambil alih oleh Elkan. Tinggal menunggu bagaimana cara mereka mengelolanya.
Setelah cukup lama menatap Elkan, Beno mengalihkan pandangannya ke arah Reni. Lagi-lagi garis bibirnya melengkung menatap dalam jelmaan bidadari itu.
__ADS_1
Beno berpikir sejenak, dalam hatinya dia sudah tidak sabar ingin mempunyai anak agar mereka bisa tumbuh bersama dengan Edgar dan Elga. Lucu saja jika tiba-tiba rumah itu menjadi ramai dengan suara tangisan anak-anak. Nantinya mereka juga bisa kompak mengelola perusahaan seperti yang dilakukan Elkan dan Beno saat ini.
Bersambung...