Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 161.


__ADS_3

Usai makan malam bersama, Yuna berpamitan kepada Aditama, Reynold dan juga Laura. Sudah saatnya mereka pulang karena besok pagi Elkan dan Beno harus masuk kantor seperti biasanya.


Air muka Aditama mendadak lesu saat Yuna memeluknya dan mencium pipinya. Dia sebenarnya belum puas berkumpul bersama anak menantu dan cucunya, tapi Aditama mencoba ikhlas karena bagaimanapun putrinya sudah memiliki kehidupan sendiri.


Begitu juga dengan Reynold yang sebenarnya masih ingin berlama-lama berkumpul bersama mereka semua. Laura yang tengah duduk di kursi roda juga merasakan hal yang sama, dia merasa sedih karena baru saja mendapat keluarga baru seperti Yuna dan Reni yang begitu baik dan perhatian padanya.


Setelah semuanya berpamitan, Aditama dan Reynold mengantarkan mereka semua sampai halaman rumah. Reynold mendorong kursi roda Laura agar istrinya juga ikut melepas kepergian mereka.


"Dah Ayah, Rey, Laura, sampai jumpa lagi." seru Yuna sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil.


"Kami pulang dulu Yah, Rey, weekend depan kami akan berkunjung lagi." sambung Elkan yang duduk di samping Yuna.


"Iya, kalian hati-hati ya!" sahut Aditama yang ikut melambaikan tangannya.


"Dah semuanya," tambah Reni dan Beno yang juga melambaikan tangannya.


"Hati-hati," sahut Reynold dan Laura bersamaan, keduanya ikut melambaikan tangan.


Setelah mobil yang dikendarai Beno melaju meninggalkan gerbang, Aditama dan Reynold kembali masuk ke dalam rumah. Reynold lagi-lagi mendorong kursi roda Laura dari belakang.


"Hmm... Sepi lagi deh," keluh Reynold dengan wajah lesu nya.


"Makanya cepat kasih cucu buat Ayah biar rumah ini jadi ramai!" sahut Aditama sambil melenggang menuju pintu kamar.


"Apaan sih Yah? Jangan ngelawak, Ayah tidak lihat istriku masih sakit." ketus Reynold sedikit kesal.


"Apa hubungannya? Buat nya kan tidak pakai kaki," seloroh Aditama sambil tertawa kecil, lalu mendorong pintu kamar dan menutupnya dengan cepat.


Reynold mengepalkan tangan saking jengkel nya mendengar guyonan Aditama yang membuatnya malu di depan sang istri.


"Sudah Mas, Ayah hanya bercanda." ucap Laura sambil meraih tangan Reynold.


"Bercanda apanya? Bikin Mas malu saja," geram Reynold.


"Mas malu sama siapa? Tidak ada orang lain di sini selain kita berdua," tanya Laura.


"Ya sama kamu lah, sama siapa lagi?" jawab Reynold.

__ADS_1


"Hahahaha... Mas ada-ada saja ih, masa' sama istri sendiri pakai acara malu segala." Laura tertawa cekikikan.


"Kamu berani menertawakan Mas?" Reynold menajamkan tatapannya.


"Kenapa tidak? Habisnya Mas aneh sih," Laura kembali tertawa sambil menutup mulutnya.


"Laura... Jangan mancing kemarahan Mas ya!" ancam Reynold dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Melihat air muka Reynold yang berubah aneh, Laura langsung terdiam dan melajukan kursi rodanya menuju anak tangga. Dia meraih pagar besi dan mencoba berdiri sekuat yang dia bisa.


"Jangan sok-sokan, ini tangga loh. Kalau kamu jatuh nanti bisa-"


"Bisa mati?" potong Laura.


"Ngomong apa sih?" Reynold menyipitkan matanya dan membawa Laura ke dalam gendongannya, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Reynold membaringkan Laura di atas ranjang. Dia kemudian membuka pakaian yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan celana pendek saja, lalu berbaring di sebelah Laura dan memeluknya dengan erat.


"Mas..." panggil Laura.


"Hmm... Kenapa sayang?" sahut Reynold.


"Kenapa menanyakan itu?" Reynold mengerutkan keningnya.


"Cuma nanya saja kok Mas, tidak ada maksud apa-apa." balas Laura.


"Sepupu sayang, Ayah kandung Mas itu adiknya Ayah Aditama. Sejak kedua orang tua Mas dan Ibunya Yuna meninggal, kami berdua dibesarkan oleh Ayah. Ayah Aditama sudah lebih dari Ayah kandung bagi Mas, dia segalanya dalam hidup Mas. Kami berdua dibesarkan dengan kasih sayang yang sama." jelas Reynold.


Laura manggut-manggut mendengar itu. "Apa Mas tidak pernah suka sama Yuna, dia wanita yang sangat baik dan juga cantik."


Seringai tipis melengkung di sudut bibir Reynold setelah mendengar itu. "Tentu saja suka, dia wanita yang hebat."


Mendadak air muka Laura berubah keruh, entah apa yang dia pikirkan?


Reynold menilik manik mata Laura dan tersenyum dengan gagah hingga memperlihatkan barisan giginya yang sangat rapi. "Kenapa mukanya jadi masam begitu? Cemburu?"


"Ti-Tidak, untuk apa cemburu?" bantah Laura gelagapan.

__ADS_1


"Jujur saja, kamu cemburu kan? Hahahaha..." Reynold tertawa terbahak-bahak.


"Tidak, siapa juga yang cemburu?" Laura mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Reynold gemas dan mengesap bibir istrinya itu dengan lahap.


"Jangan bodoh! Mas memang suka dan sayang sama Yuna tapi sebagai adik, tidak lebih." Reynold beralih mengecup kening Laura. "Wanita yang Mas cintai cuma kamu. Kamu wanita pertama dan satu-satunya yang ada di hati Mas." imbuh Reynold, lalu mempererat pelukannya.


Setelah mendengar itu, pipi Laura tiba-tiba bersemu merah. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya, lalu dia menenggelamkan wajahnya di dada Reynold. Kehangatan tubuh pria itu membuat Laura merasa sangat nyaman, dia mengakui bahwa rasa cinta itu mulai tumbuh di hatinya.


"Kalau kakiku tidak sembuh, apa Mas akan meninggalkan aku?" gumam Laura dengan suara tertahan tapi masih terdengar jelas di telinga Reynold.


Reynold menyipitkan matanya dan mengangkat dagu Laura hingga tatapan keduanya saling bertemu. "Tidak akan! Bagaimanapun keadaan kamu, Mas akan tetap setia berada di sisi kamu."


"Mas yakin?" Laura mencoba memastikan.


"Tentu saja Mas yakin. Jika tidak, untuk apa Mas bersusah payah mencari kamu sampai ke Purwokerto?" jawab Reynold.


"Hehehehe... Makasih ya Mas, maaf kalau waktu itu aku sudah merepotkan Mas."


Laura mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Reynold dengan bibir lembutnya. Hal itu membuat mata Reynold menyipit seketika itu juga. "Jangan mancing-mancing sayang, kamu tau kan bahwa suamimu ini sangat sensitif!"


Laura tak mendengarnya, dia malah semakin aktif dan kembali mengecup bibir Reynold lalu melu*matnya bak permen kiss yang menyegarkan. Matanya perlahan terpejam dan masuk semakin dalam hingga keduanya asik membelit lidah.


"Mas..." gumam Laura dengan nafas tersengal, matanya mendadak terlihat sayu.


"Hmm... Ada apa?" Reynold sengaja sok jual mahal padahal dia tau Laura tengah menginginkan dirinya.


"A-Aku..." Laura terbata-bata dan urung melanjutkan kata-katanya. "Tidak jadi,"


Laura menundukkan kepalanya dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Reynold, lalu memicingkan matanya dan memilih tidur.


Reynold yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak hingga membuat Laura kembali membuka matanya. Manik mata wanita itu menggelinding liar kebingungan. "Mas kenapa?"


Reynold tak menyahut, dia malah beranjak dan menindih tubuh Laura di bawah kungkungan nya. Dia langsung mengecup kening istrinya dan turun ke hidung lalu mengesap bibir ranum istrinya itu dengan penuh kelembutan.


Laura menikmatinya dan terbuai dalam permainan lidah panas Reynold yang tengah asik merenangi rongga mulutnya. Sedikit lenguhan manja terdengar di telinga Reynold sehingga membangkitkan gairahnya yang sedari tadi sudah menggelora.


Dalam hitungan detik pakaian keduanya sudah beterbangan kemana-mana. Pertempuran panas itu mulai membara seperti api yang tengah berkobar-kobar membakar gairah keintiman mereka.

__ADS_1


Desa*han dan jeritan kecil keluar dari mulut Laura saat Reynold tengah gencar menekan inti istrinya itu, pergerakan pinggul Reynold semakin cepat seiring ritme permainan yang semakin menegangkan.


Bersambung...


__ADS_2