Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 115.


__ADS_3

Keesokan harinya semua orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Para dekorator kembali datang untuk menyelesaikan tugas mereka. Masih ada waktu sebelum jam makan siang nanti karena acara syukuran si kembar akan diselenggarakan pukul dua siang sampai selesai. Pukul tujuh malam barulah dilanjutkan dengan perjamuan penting, acara yang ditunggu-tunggu oleh Elkan dan Beno.


Ruang tengah sudah didekorasi dengan sangat indah. Kain tile berwarna putih dipadu dengan warna merah muda dan biru muda. Balon dengan warna warni ditata sedemikian rapi dan indah, ditambah bunga-bunga yang bermekaran di setiap sudut. Box bayi pun dihias sangat cantik dan elegan. Merah muda untuk Elga dan biru muda untuk Edgar.


Usai menyantap makan siang, semua orang bersiap-siap di kamar masing masing. Tema mereka siang ini bernuansa putih yang melambangkan kesucian. Si kembar pun ikut memakai pakaian yang berwarna sama.


Pukul dua siang para tamu mulai berdatangan, anak-anak dari berbagai yayasan juga sudah hadir untuk meramaikan acara syukuran si kembar. Tidak terbilang betapa bahagianya Yuna dan Elkan menyambut mereka, begitu juga dengan Beno dan Reni. Apalagi Beno sendiri berasal dari tempat yang sama.


Semua anggota keluarga menyambut mereka dengan sangat antusias, tak terkecuali Aditama yang menjadi tetua di rumah itu. Meski diusia yang sudah tidak muda lagi, tapi semangatnya tak kalah dari yang lainnya.


Acara dimulai dengan kata sambutan yang dibuka oleh Aditama, lalu sedikit kata sambutan dari Elkan.


Setelah acara dibuka, mereka menyerahkan tanggung jawab kepada MC yang bertugas mengisi acara.


Dimulai dari pengajian, shalawatan, cukur rambut dan ceramah dari Ustadz ternama tanah air. Terakhir doa bersama dan berlanjut dengan acara ramah tamah.


Setelah semua acara selesai dilaksanakan, para tamu mulai berpamitan. Semua anggota keluarga berbaris rapi di teras rumah, termasuk Amit, Sari, Diah dan juga Lili. Sedangkan si kembar ada di gendongan Yuna dan Reni.


Saat bersalam-salaman, Beno membagikan bingkisan kepada masing-masing anak. Sementara Elkan membagikan amplop untuk mereka semua secara bergiliran.


Tepat pukul empat sore, ruangan sudah kembali sunyi dan hanya menyisakan keluarga inti saja. Para pelayan dari katering mulai merapikan sisa-sisa makanan dan piring kotor. Diah dan Lili turut serta membantu mereka, begitupun dengan Amit dan Sari yang tidak mau bermalas-malasan. Mereka sangat senang melakukan pekerjaan itu meski Elkan sudah melarang.


"Yah, Ayah istirahat di kamar dulu ya. Nanti jam tujuh malam masih ada acara lagi, jangan sampai Ayah kelelahan." ucap Yuna, dia langsung berdiri dan menggandeng tangan Aditama, lalu mengantarnya ke dalam kamar.


Setelah Aditama berbaring, Yuna segera mengambilkan vitamin dan segelas air putih lalu membantu Aditama menyeruputnya. Seringai tipis melengkung di sudut bibir Aditama, kemudian dia mengusap kepala Yuna dengan sayang.


"Apa kamu bahagia?" tanya Aditama.

__ADS_1


Yuna mengukir senyum di bibirnya. "Tentu saja Yuna bahagia, sangat bahagia malahan. Kenapa Ayah bertanya seperti itu?"


"Sekedar bertanya saja, kalau kamu bahagia Ayah juga bahagia melihatnya." ucap Aditama. Sebagai putri satu-satunya, Aditama tentu ingin yang terbaik untuk anaknya.


"Udah, Ayah gak usah mikir aneh-aneh. Ayah harus sehat demi kedua cucu Ayah!"


Setelah mengatakan itu, Yuna mengecup pipi Aditama dan meninggalkannya untuk beristirahat. Baru saja Yuna menutup pintu, dia langsung terperanjat saat membalikkan badan.


"Abang ih, bikin kaget aja." keluh Yuna saat mendapati tubuh jangkung Elkan yang sudah berdiri di hadapannya.


"Hahaha..." Elkan menarik Yuna ke dalam dekapan dadanya. "Ayah udah istirahat, sekarang giliran kita." Lalu Elkan menggendong Yuna menaiki anak tangga.


"Turunin Yuna Bang, Elga dan Edgar masih di bawah!" pinta Yuna sambil menggeliat membebaskan diri.


"Mereka sama Amit dan Sari, biarin aja dulu!" ucap Elkan sambil terus mengayunkan langkahnya.


"Sssttt... Mau Abang lempar?" gertak Elkan dengan mata melotot tajam.


"Lempar aja kalau Abang tega!" Yuna memajukan bibirnya beberapa senti.


"Oke, tapi nanti di kamar ya." goda Elkan dengan senyuman nakal.


Sesampainya di kamar, Elkan benar-benar melempar Yuna ke kasur. Untung saja kasur mereka memiliki kualitas tertinggi jadi tidak berpengaruh sama sekali bagi Yuna.


Segera Elkan menindihnya dan mengunci tubuh Yuna hingga tak mampu mengelak lagi.


"Apa yang Abang lakukan? Jangan sekarang ya!" tolak Yuna yang mulai ketakutan melihat air muka buas suaminya. Seperti serigala liar yang siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


"Abang pengen sekarang sayang, gak bisa ditahan lagi." gumam Elkan dengan suara berat. Deru nafasnya terdengar memburu saat menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Yuna yang putih mulus.


Elkan mengecupnya lembut dan menjilatinya. Saat ingin menggigitnya, Elkan tersadar bahwa di acara nanti Yuna akan mengenakan gaun yang terbuka di bagian leher. Elkan pun urung meninggalkan jejaknya.


Segera Elkan melahap bibir Yuna dan mengesap nya dalam. Bibir Yuna yang tebal di **** dengan sangat lembut hingga Yuna tak berdaya lagi menolaknya. Tubuhnya seketika melemah, apalagi saat tangan Elkan masuk ke dalam pakaian yang melekat di tubuhnya. Sentuhan itu membuat sekujur tubuh Yuna merinding, bahkan meloloskan de*sahan kecil dari mulutnya.


"Aughhhh... Abang..." Yuna berniat menolak tapi sentuhan Elkan benar-benar membuatnya terlena.


Satu menit kemudian, pakaian yang melekat di tubuh keduanya pun hilang entah kemana. Elkan meremas gundukan kenyal Yuna hingga mengeluarkan ASI yang masih tersimpan di dalamnya, lalu Elkan menjilatinya dan menghisapnya seperti si kembar yang tengah kehausan.


Sambil bergelayut di dada istrinya itu, tangan Elkan mulai bergerak menekuk kedua kaki Yuna lalu menyelipkan jemarinya di atas sebongkah bukit tandus yang terdapat di bawah sana. Yuna dibuat tak berdaya saat ibu jari Elkan mengitari kelopak bunga berwarna pink itu.


Rasa yang entah bercampur dengan sengatan yang membuat Yuna merinding hingga mengangkat bokongnya berulang kali. Seperti berada di atas ketinggian yang membuatnya melayang tak tentu arah.


"Aughhhh... Hmm... Umm... Uhh... Ahh..."


Yuna tak henti meracau sehingga membuat Elkan mengukir senyum di bibirnya. Segera Elkan turun dan menjilati inti Yuna yang sudah basah.


Setelah itu Elkan langsung mengarahkan senjatanya yang sudah siap tempur. Menekan inti Yuna bertubi-tubi dengan pergerakan keluar masuk dengan leluasa.


Puas dengan posisi itu, Elkan beralih dengan posisi miring dan menekan inti Yuna dari arah belakang. Lalu beralih dengan posisi tengkurap, merangkak, dan duduk.


Berbagai macam style diperagakan oleh mereka layaknya pemain profesional kelas Eropa. Yuna sampai kewalahan hingga ngos-ngosan dan bercucuran keringat.


Pada akhirnya, Elkan menyerah dan menumpahkan semua lahar panasnya di dalam inti Yuna. Akhirnya pertempuran panas itu selesai, Yuna memeluk Elkan dengan erat saat merasakan kakinya masih bergetar setelah berkali-kali mencapai puncak kepuasannya.


Kian hari gairah Elkan kian tak terkendali sehingga mau tak mau Yuna harus pasrah menerima keinginan suaminya itu. Bagaimanapun Yuna tau bahwa melayani suami adalah tugasnya sebagai seorang istri. Tidak apa-apa capek asalkan Elkan puas dan tidak berpaling ke lain hati. Banyak sumber yang mengatakan bahwa selingkuhnya seorang suami berawal dari hubungan ranjang yang tidak lagi memuaskan. Yuna takut Elkan merasakan itu dan mencari pelarian lain di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2