
"Selamat malam semuanya, maaf terlambat."
Seruan pria itu membuat Elkan mengeratkan rahang, lalu memutar lehernya beberapa derajat.
"Deg!"
Wajah Elkan yang tadinya seperti seekor harimau liar, kini berubah seperti anak kucing yang menggemaskan. Mendadak seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. Elkan langsung bangkit dari duduknya. Saat hendak menyalami pria itu, Yuna mendorongnya dan berhamburan ke dalam pelukan pria itu.
"Rey, tenyata kamu." Yuna memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya lagi. Mata Yuna berkaca dengan bibir mengerucut. "Rey, bawa aku dan anakku pergi dari sini! Suamiku sendiri mencurigai ku mengundang pria lain. Emangnya aku ini istri apaan?" rengek Yuna.
Reynold langsung tertawa saat mendengar permintaan Yuna yang konyol itu. Menurutnya Yuna tidak pernah berubah sejak dulu, masih saja manja dan cengeng saat bertemu dengan dirinya.
"Apa yang Elkan lakukan padamu? Jika dia menyakitimu, aku akan menghajarnya sekarang juga!"
Reynold melepaskan pelukannya. Saat hendak mendekati Elkan, Yuna dengan cepat menahannya. "Jangan dihajar, bawa saja aku pulang ke rumahmu! Untuk apa tinggal sama suami seperti itu?"
Mendengar itu, Elkan mengerutkan keningnya. "Enak saja main pergi, kamu pikir aku akan melepas mu begitu saja. Sorry, tidak semudah itu!"
"Tuh kan Rey, dia itu jahat. Tadi dia mencurigai ku ada hubungan dengan pria lain, sekarang dia malah ingin menahan ku di sisinya." adu Yuna seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen.
"Hahahaha..."
Reynold tak sanggup lagi menahan tawanya, dia sampai terpingkal-pingkal sembari memegang perutnya.
"Yakin mau pulang bersamaku? Nanti mewek lagi kalau gak ketemu suami jahat mu itu." seloroh Reynold hingga membuat pipi Yuna memerah.
"Bodoh, gak usah ngomong gitu juga di depan dia. Nanti dia bisa besar kepala," geram Yuna dengan tatapan tajam.
"Loh, kenapa marah? Bukankah kenyataannya begitu?" Reynold mengerutkan kening dengan bibir melengkung indah.
Elkan menertawai Yuna dan segera menjabat tangan Reynold, lalu menyuruhnya duduk.
Setelah Reynold duduk, Yuna pun ikut duduk di sampingnya. Dia sengaja memeluk lengan Reynold dan merebahkan kepalanya di lengan sepupunya itu.
__ADS_1
Elkan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Udah, jangan sok dramatis begitu. Lebih baik buatin minum buat Reynold."
Beno yang duduk di ujung sofa langsung memberi kode kepada Reni, Reni pun mengangguk dan bangkit dari duduknya.
Beberapa menit berlalu, Reni kembali membawa tiga cangkir kopi di atas nampan lalu meletakkannya di atas meja.
Makin malam obrolan mereka semakin hangat saja. Reynold menceritakan perjalanannya selama di luar kota. Dia bertemu seorang gadis cantik yang sepertinya sengaja menjauh dari ibukota.
Gadis itu bekerja di perusahaan cabang sebagai sekretaris, entah kenapa dia merasa tertarik dengan wanita itu. Reynold berencana memindahkannya ke kantor pusat untuk dijadikan sekretarisnya. Lalu Reynold menyebutkan namanya hingga membuat Elkan tersedak saat itu juga.
"Siapa tadi namanya?" tanya Yuna memastikan.
"Laura... Laura Fransiska," jelas Reynold dengan santai.
Yuna menautkan alisnya dan menatap Elkan dengan intim. Dari ekspresi wajah Elkan, Yuna sudah bisa menebak bahwa suaminya terlihat gelisah setelah mendengar nama itu. Berbeda dengan Beno yang hanya tersenyum mendengarnya.
"Kenapa air muka Abang jadi berubah begitu? Apa Laura yang dimaksud Reynold adalah wanita yang sama dengan mantan pacar Abang?" tanya Yuna memastikan.
"Deg!"
"Aku rasa wanita yang dimaksud Reynold itu mungkin saja orang yang sama. Mantan pacar Elkan namanya juga Laura Fransiska." timpal Beno yang malah membuat suasana menjadi canggung.
Sementara Reynold sendiri nampak kebingungan dengan kening mengerut. Dia masih belum paham maksud ucapan mereka.
"Rey, aku mendukungmu dengan wanita manapun. Tapi jangan wanita itu juga, apa kamu gak malu dapat bekas suamiku?" ucap Yuna kepada sepupunya itu.
Elkan mengeratkan rahangnya kesal. "Bekas apanya? Aku bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali, cuma mantan pacar gak lebih."
"Sama aja, disentuh gak disentuh tetap aja dia mantan Abang. Aku gak mau wanita itu masuk ke dalam kehidupan keluargaku. Ingat, aku pernah celaka gara-gara dia! Jika Abang bertemu dia lagi, apa Abang yakin gak akan ada sedikitpun perasaan yang tersisa? Gak mungkin," terang Yuna dengan wajah cemberut nya.
"Dasar bodoh! Mantan ya mantan aja, gak ada hubungannya sama Abang. Kalau Reynold menyukainya, harusnya kamu senang. Itu artinya wanita itu gak akan berharap lagi pada suamimu ini." jelas Elkan.
Reynold menghela nafas berat, kini dia mulai mengerti maksud ucapan mereka. "Kamu yakin gak ada perasaan lagi sama dia?" Reynold menatap Elkan dengan intens.
__ADS_1
"Kalian adik kakak sama aja bodohnya." Elkan mencibir. "Jika aku masih punya perasaan sama dia, untuk apa aku menahan wanita bodoh ini agar tetap di sisiku? Pertanyaan aneh,"
Beno yang mendengar itu lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Dia kemudian meninggalkan ruangan untuk sesaat dan kembali membawa sebotol minuman beralkohol dan beberapa gelas kecil.
"Obrolan yang seru, kalau gitu minum dulu. Kopi udah gak enak lagi untuk saat ini."
Beno menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas. Elkan dan Reynold segera meneguknya hingga tak bersisa.
Setelah menghabiskan satu botol, Beno mengambil sebotol lagi dan terus saja menuangkannya ke dalam gelas. Elkan dan Reynold pun meneguknya tanpa henti hingga mereka bertiga mulai mabuk dan bertele-tele.
"Mas, cukup! Kalian udah kebanyakan minum," ucap Reni kepada suaminya itu.
"Gak apa-apa sayang, Mas cuma minum dikit kok. Mereka yang lebih banyak," jawab Beno enteng dengan mata memerah, lalu memeluk Reni dan bersandar di dadanya.
Elkan pun melakukan hal yang sama. Dia menarik Yuna dan mendudukkannya di atas pangkuannya, lalu memeluknya erat.
"Percaya sama Abang, cuma Yuna wanita yang ada di hati Abang saat ini. Jangan pernah ragukan kesetiaan Abang sama Yuna, Abang sangat mencintai Yuna." gumam Elkan dengan suara beratnya.
"Hey, apa kalian sudah gila? Tolong hargai perasaan jomblo sepertiku!" keluh Reynold yang merasa iri melihat kehangatan dua pasang suami istri itu.
"Hahahaha... Kasihan sekali kau ini, ternyata tampan saja tidak cukup membuatmu bahagia. Makanya carilah pendamping hidup seperti kami agar kau tidak kesepian." sindir Elkan dengan tawa mengejek.
"Dasar adik ipar tidak tau diri, berani sekali kau menghinaku. Ingat, jika aku mau, aku bisa saja mengambil Yuna darimu. Bodoh sekali dia karena mencintai pria sepertimu. Hahahaha..." Reynold mulai kehilangan kendalinya dan tertawa terpingkal-pingkal hingga tubuhnya merosot ke lantai.
Semua orang sontak terkejut, bukannya membantu Reynold, mereka malah menertawakan pria yang kini masih betah menyandang status jomblonya itu.
"Dasar bodoh! Aku akan menguliti mu jika kau berani mengambil istriku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan wanita cantik ini, dia milikku. Hanya aku yang berhak atas dirinya, cintanya dan tubuhnya."
Elkan meracau dengan tatapan yang mulai kabur, kepalanya terasa berkunang-kunang bahkan tubuhnya mulai terasa gerah. Ingin sekali dia memakan Yuna saat itu juga, untung saja Yuna cepat tanggap dan menahan wajah Elkan seketika itu juga.
Yuna mendorong dada Elkan hingga terguling di atas sofa. "Reni, bawa suamimu ke kamar! Mereka sudah mabuk, tidak baik dibiarkan berlama-lama di sini."
Reni mengangguk lemah dan segera memapah tubuh suaminya menuju kamar. Yuna kemudian membantu Reynold dan membawanya ke kamar tamu. Setelah itu Yuna memapah Elkan ke kamar mereka.
__ADS_1
"Merepotkan sekali," umpat Yuna penuh kekesalan melihat wajah mabuk suaminya yang menjengkelkan.
Bersambung...