
Beno terlonjak dan memutar lehernya beberapa derajat. "Eh, ada adik kecil. Kamu yang tinggal di sini ya?" tanya Beno dengan lembutnya.
"Bukan Om, orangnya sedang pulang kampung. Om mau ngapain?" jawab anak itu dengan congkaknya.
"Oh, Om ke sini mau minta mangga muda itu. Boleh diambil gak ya?" tanya Beno sambil menunjuk pohon mangga yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Boleh Om, ambil saja! Satunya 100 ribu ya," jawab anak itu.
Lagi-lagi Beno terlonjak dengan mata terbelalak. "Mahal amat 100 ribu, kamu mau malak Om?"
"Terserah! Kalau mau ambil, gak mau juga gak papa!" jawab anak itu dengan santainya, lalu mengayunkan langkahnya begitu saja.
Jika saja Beno memiliki taring tajam, ingin sekali dia menggigit anak itu dan menghisap darahnya sebanyak-banyaknya. Kecil-kecil sudah begitu, gimana kalau dewasa?
"Ok, ok, Om akan bayar. Sekarang temani Om ngambil buahnya dulu!" pinta Beno dengan keterpaksaan.
"Oh, gak bisa. Uangnya dulu dong!" sahut anak itu dengan entengnya.
"Hah, bayar di muka? Gak bisa COD aja?" tawar Beno. Lama-lama tanduknya bisa keluar menghadapi kelakuan preman ingusan itu.
"Gak ada tawar menawar!" Kembali anak itu berkacak pinggang dengan sebelah tangan yang diulurkan ke arah Beno.
"Bocah tengik! Kecil-kecil sudah begini, mau jadi apa kau jika besar nanti hah?" ketus Beno. Terpaksa Beno mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang ratusan sebanyak lima lembar.
"Mau jadi polisi dong." jawab anak itu dengan santainya. Segera dia mengambil uang yang diberikan Beno dan menyimpannya di dalam kantong celana.
"CK, jangan harap bisa jadi polisi kalau kelakuanmu seperti ini! Tugas polisi itu mengayomi masyarakat, bukan memalak sepertimu!" geram Beno dengan wajah bersungut-sungut.
"Hahaha, ini bukan pemalakan tapi perjanjian jual beli. Bukankah kedua belah pihak sama-sama setuju?" terang anak itu layaknya orang dewasa.
"Terserah kau saja lah, ayo temani Om!" Beno mengayunkan langkahnya, jika berdebat terus gak akan ada habisnya melawan bocah ingusan itu.
"Panjat aja pagarnya! Aku akan menunggu Om di sini,"
Beno mengusap wajahnya berkali-kali, lalu menarik nafas sebanyak-banyaknya. Sabar, hanya kata itulah yang terlintas di benaknya saat ini.
__ADS_1
Beno mulai memanjat pagar yang ada di samping pohon. Baru saja menapakkan kaki di pekarangan rumah, seekor anjing menggonggong dengan lantang.
"Guk Guk!"
"Deg!"
Tamat sudah riwayat Beno kali ini. Jantungnya bergemuruh kencang serasa ingin keluar dari tempatnya. Kaki bergetar dengan mata terbelalak. Tanpa berpikir, Beno langsung saja memanjat pohon tersebut saat mata anjing itu mengarah padanya.
"Bocah sialan! Kau mengerjai aku hah?" teriak Beno sembari bergelayut di dahan pohon. Dosa apa yang sudah dia lakukan sehingga hari apes nya datang juga bertubi-tubi.
"Hahahaha... Sabar Om, nikmati saja hidup ini! Aku pergi dulu," Bocah itu pun melenggang dengan santainya, tak ada rasa bersalah sedikitpun di hatinya melihat Beno yang sudah berkeringat di atas sana.
"Hei, kau mau kemana? Jangan pergi!" teriak Beno lagi. Sayangnya anak itu tak meresponnya sama sekali.
"Sialan, aku ditinggal sendiri. Gimana cara turun kalau begini?" batin Beno penuh kekesalan.
Sementara itu, anjing masih saja menggonggong karena wilayahnya merasa terancam.
"Guk Guk!"
"Sssttt... Jangan marah ya! Anjing pintar," Beno sudah seperti orang gila saja yang berbicara dengan binatang.
"Guk Guk!"
Dengan cepat Beno memetik beberapa buah mangga dan melemparnya ke luar pagar. Namun seketika keningnya mengerut melihat anjing yang ternyata diikat oleh pemiliknya.
"Huffft...," Beno menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
Perlahan dia mencoba turun dengan pelan, berharap anjing itu tidak terusik karenanya. Baru saja kaki Beno menyentuh tanah, anjing itu kembali menggonggong.
"Guk Guk!"
"Mati aku," Segera Beno berlari dan melompati pagar tak tentu arah.
"Bug!"
__ADS_1
Sial sekali nasib Beno hari ini. Sudah dipalak sama anak kecil, di gonggong anjing, sekarang malah nyungsep ke dalam got dengan kepala yang meluncur lebih dulu.
"Brengsek! Bau apa ini?" gumam Beno setelah bangkit dan keluar dari got. Seketika, Beno pun terbatuk-batuk dan memuntahkan isi perutnya.
"Hueeeek...,"
"Hahahaha...,"
Terdengar tawa anak kecil tadi dari kejauhan. Membuat Beno semakin kesal dan mengeluarkan taring panjangnya. "Sini kau!" hardik Beno.
Anak kecil itu pun mendekat, lalu mengguyur tubuh Beno dengan seember air bersih. "Impas ya!" ucap anak itu, lalu melenggang pergi begitu saja.
"Bocah sialan! Awas kalau bertemu lagi, aku cincang kau jadi sate!" gerutu Beno, lalu berdiri dan memungut buah mangga yang diambilnya tadi.
Beno masuk ke dalam mobil dengan pakaian basah. Dia sudah tak sabar ingin segera tiba di rumah dan mengganti pakaian, dia juga ingin berendam untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang menurutnya sangat menjijikkan.
Pukul 8 malam, Beno keluar dari kamar dengan pakaian bersih dan wangi. Sangat tampan, sayang sekali masih jomblo hingga saat ini. Bukannya tidak ada yang mau dengan pria itu, hanya saja pikirannya belum sampai ke sana.
Usai makan malam, Beno meninggalkan rumah dengan tujuan rumah sakit. Tak lupa pula dia membawa mangga muda yang sudah dia dapatkan dengan segala rintangan yang ada. Beno lebih memilih diberi tugas sebanyak mungkin di kantor dari pada harus menuruti keinginan Elkan lagi.
Setengah jam kemudian, Beno tiba di rumah sakit dan bergegas menuju ruangan Yuna. Tatapannya sangat tajam saat baru saja membuka pintu, seperti ada iblis yang bertengger di manik matanya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Elkan yang tengah duduk di sisi ranjang.
"Ambil ini!" Beno melempar kantong kresek yang dia bawa ke muka Elkan, untung saja Elkan dengan sigap menangkapnya.
"Apa-apaan kau ini? Datang-datang udah main lempar aja, untung wajah tampanku ini gak kena." gerutu Elkan dengan tatapan tak kalah tajamnya.
"Dasar gak tau diri! Masih untung aku mau berbaik hati mewujudkan keinginanmu. Bukannya berterima kasih malah ngomel kayak ibu-ibu arisan." geram Beno sembari melangkah menuju sofa.
"Kalau gak ikhlas jangan di tolongin! Masih banyak orang lain yang mau membantuku." kesal Elkan yang mulai tersulut emosi.
"Mana? Buktinya kau minta tolong padaku, bukan orang lain kan?" balas Beno.
"Sudahlah Ben! Kalau kau ke sini hanya untuk berdebat denganku, maka pulanglah! Aku sudah lelah, jangan membuat mood ku hilang!" keluh Elkan.
__ADS_1
Elkan menaruh kantong kresek tadi di atas meja, kemudian berdiri di depan wastafel dan mengguyur wajahnya dengan air. Lelah hati, lelah fisik, begitulah yang Elkan rasakan saat ini. Sampai kapan dia harus menanggung beban ini sendirian? Kapan Yuna akan sadar dan kembali tersenyum padanya? Apa harapan itu sudah tidak ada lagi? Apa Elkan akan selamanya melihat Yuna seperti ini? Rasanya Elkan ingin menyerah dengan keadaan.
Bersambung...