Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 168.


__ADS_3

Pagi menjelang siang, rutinitas di kantor terlihat begitu padat. Semua karyawan nampak mondar mandir dengan kesibukan masing-masing. Begitu juga dengan bagian pemasaran yang baru saja mendapatkan data yang dikirimkan oleh Ferry.


Setelah merespon kebutuhan pelanggan, divisi pemasaran mulai membagi tugas. Ada yang mengelola kampanye pemasaran dan ada yang mengawasi agen beserta vendor. Hari ini beberapa produk mulai didistribusikan ke beberapa distributor tertentu dengan pengamanan yang cukup ketat.


Sementara bagian lain sudah mulai memasang iklan di beberapa televisi nasional, media cetak, blog dan media sosial pribadi milik perusahaan. Bahkan di jalanan sudah mulai dipasang banner dan baliho yang memampangkan model iklan produk terbaru mereka. Hal itu menjadi warna baru sehingga mampu mencuri perhatian pasar dan konsumen.


Setelah memeriksa hasil kerja divisi pemasaran, Elkan dan Beno kembali ke lantai lima belas. Elkan masih harus menandatangani beberapa dokumen penting yang baru saja diletakkan Amit di atas meja kerjanya.


Rencana Elkan sepertinya agak lari dari target awal, tentu saja hal itu membuat Elkan tersenyum sumringah di atas kursi kebesarannya. Padahal rencananya promosi akan dilakukan esok hari, tapi tak disangka pagi-pagi sekali Ferry sudah membuat geger bagian pemasaran sehingga mau tak mau hari ini juga mereka semua sudah berjibaku mengejar target pencapaian yang sempat tertunda.


Setelah selesai menandatangani semua dokumen yang ada di atas meja kerjanya, Elkan berjalan meninggalkan ruangannya dan memasuki ruangan Beno.


Tanpa mengetuk pintu, Elkan tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kerja Beno. Hal itu membuat Beno terperanjat di tempat duduknya seperti tengah melihat hantu tampan yang datang tanpa diundang.


"Ais, kau ini mengagetkan ku saja. Apa kau menguasai jurus pelebur raga? Sejak kapan kau berdiri di situ?" cerca Beno dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat Elkan tak hentinya tertawa melihat raut wajah panik saudaranya itu.


"Anggap saja begitu," Elkan menjawabnya dengan enteng kemudian duduk di hadapan Beno sambil melipat kakinya.


"Untuk apa ke sini? Bukankah pekerjaanmu masih banyak? Jangan mengulur-ngulur waktu dan menggangguku, aku sibuk!" Beno berbicara tanpa melihat Elkan, dia masih sibuk dengan laptop yang masih menyala di atas meja kerjanya.


"Jangan sok sibuk! Aku tau semua pekerjaan kita sudah beres." Elkan tersenyum sinis. "Oh ya, bagaimana persiapan untuk acara nanti malam?" imbuh Elkan yang sudah melimpahkan tanggung jawab itu kepada Beno.


Beno memutar manik matanya. "Sudah diatur, kau tenang saja. Pihak hotel baru saja menghubungiku. Persiapan di sana sudah berjalan 90%, sisanya akan selesai dalam beberapa jam ke depan."


"Baguslah, kalau begitu hari ini kita pulangnya lebih awal. Bawa semua anggota keluarga ke hotel! Setelah launching selesai mereka bisa memanfaatkan waktu untuk bersantai." ucap Elkan.


Dia memang ingin menyenangkan hati semua orang untuk dua hari ke depan. Bagaimanapun Elkan sudah menganggap mereka semua seperti keluarga sendiri. Elkan tidak pernah membedakan mereka, semuanya sama rata di mata pria itu.


"Terserah kau saja, kalau sudah selesai pergilah! Aku masih sibuk, otakku sedang berusaha berkonsentrasi." usir Beno yang mulai mengucurkan keringat di dahinya. Dari tadi dia berusaha mengamankan laptopnya tapi sepertinya ada yang sengaja mengirim virus untuk merusak data yang tersimpan di dalamnya.

__ADS_1


Elkan mengerutkan keningnya saat menyaksikan keringat Beno yang mulai berjatuhan. "Kau kenapa? Kalau sakit perut jangan ditahan! Berbahaya itu,"


Beno mendongakkan kepalanya dan menatap Elkan seperti singa yang tengah kelaparan. "Siapa yang sakit perut?"


"Lalu?" Elkan memusatkan pandangannya ke arah tatapan Beno. "Dari tadi aku lihat matamu tak hentinya menatap laptop itu. Apa kau sedang nonton film...? Oh, aku tau. Dasar jorok, di kantor masih berani-"


"Diam kau!" Beno meninggikan suaranya. "Pikiranmu yang jorok, untuk apa aku menonton film itu? Kalau aku mau, aku bisa mempraktekkannya di rumah secara langsung."


Seketika Elkan tertawa terbahak-bahak, tak disangka Beno langsung mengerti kemana arah pembicaraannya.


"Ada yang mengirim virus ke laptopku, aku sedang berusaha memperbaikinya." imbuh Beno sambil menyeka keringat di dahinya.


"Dasar bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi? Sudah jelas otakmu hanya secuil, mana mungkin sanggup melakukan itu?" ejek Elkan dengan nada bicara merendahkan. Lalu Elkan meraih telepon yang ada di hadapannya dan menghubungi ruangannya sendiri.


"Halo," ucap Amit dari seberang sana.


"Kak Elkan dimana?" tanya Amit.


"Di ruangan kakak iparmu yang bodoh ini, cepatlah!"


Setelah mengatakan itu, Elkan langsung menutup teleponnya secara sepihak.


Selang beberapa detik saja Amit sudah berdiri di ambang pintu setelah mengetuk dan mendorongnya. "Kak Elkan memanggil Amit?"


Elkan mengangguk. "Iya, kemarilah!"


Setelah Amit sampai di hadapannya, Elkan langsung mengusir Beno dari tempat duduknya dan meminta Amit mengambil alih posisinya.


"Laptop itu bermasalah, ada yang sengaja mengirim virus. Periksalah!" titah Elkan. Beno yang mendengar itu nampak tercengang dengan mata membulat besar. Sedangkan Amit sendiri mulai memainkan otak dan jemarinya dengan cepat.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Aku saja tidak mampu mengatasinya, apalagi Amit." Beno yang belum tau keahlian adik iparnya itu tentu saja tidak langsung yakin dengan kemampuan Amit.


"Tidak usah banyak bicara, lihat dulu baru komentar! Apa kau ingin bertaruh denganku?" tawar Elkan sambil tersenyum sinis.


"Bertaruh apanya?" Beno mengerutkan keningnya.


"Kalau Amit bisa, apa kalian mau bertukar posisi?" tegas Elkan menakuti saudaranya itu.


"Hah?" Beno membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga. "Apa kau yakin?" Beno mencoba memastikan.


Elkan mengukir senyum hingga memperlihatkan barisan giginya yang sangat rapi. "Tentu saja yakin, apa kau keberatan?"


Mendadak air muka Beno berubah keruh setelah mendengar itu. Apa itu artinya bahwa dia akan turun jabatan menjadi asisten pribadi Elkan dan Amit menjadi...?


Tidak, tidak, Beno mengusap wajahnya dengan kasar. Bukannya tidak profesional, tapi Beno mana bisa satu ruangan sama Elkan. Yang ada mereka berdua akan bertengkar setiap detik hanya untuk hal-hal yang tidak penting.


"Kenapa tidak diturunkan jadi satpam saja sekalian?" Setelah menanyakan itu, Beno menjauh dan memilih duduk di atas sofa yang ada di sudut ruangan.


Elkan yang melihat itu hanya tersenyum sambil memutar manik matanya. Ada kepuasan tersendiri di hatinya saat menyaksikan wajah gusar saudaranya itu. Tentu saja Elkan hanya bercanda, mana mungkin dia menukar Amit yang baru seumur jagung dengan Beno yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi.


"Selesai..." ucap Amit sambil menepuk meja, lalu menatap Elkan dan Beno secara bergiliran. Saking fokusnya dengan layar laptop tersebut, Amit sampai tidak ngeh dengan apa yang terjadi barusan. Keningnya mengerut seperti orang kebingungan.


"Ini sudah selesai Kak Beno, silahkan dilihat dulu!" seru Amit. Sayangnya Beno tak merespon karena hatinya masih mendongkol setelah mendengar ucapan Elkan barusan.


"Dia sudah bosan berada di ruangan ini. Mulai sekarang, kau saja yang menggantikannya!" Elkan kemudian meninggalkan ruangan itu sambil menahan tawanya.


Amit yang tidak tau apa-apa semakin bingung melihat suasana menegangkan itu. Dia bahkan tidak mengerti maksud ucapan Elkan sebenarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2