Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 167.


__ADS_3

"Tok Tok Tok"


Setelah mengetuk pintu, Yuna menekan kenop pintu itu dan mendorongnya perlahan. Manik mata Yuna langsung menangkap keberadaan Elkan yang tengah duduk di atas sofa dengan mata tertutup rapat.


Yuna melangkahkan kakinya dan menutup pintu itu, lalu menghampiri Elkan dengan membawa nampan yang ada di tangannya. "Kenapa malah duduk di sini sih Bang? Abang tidak lapar?" Lalu Yuna menaruh nampan itu di atas meja dan duduk di samping Elkan.


Elkan sama sekali tak menyahut, membuka mata saja tidak. Hal itu membuat Yuna kebingungan sambil menautkan alisnya.


Yuna berpindah ke pangkuan suaminya itu dan mengalungkan tangannya di tengkuk Elkan, lalu merebahkan kepalanya di pundak Elkan. "Abang marah ya sama Yuna?"


Lagi-lagi Elkan tak menyahut dan hanya membeku seperti patung. Tentu saja hal itu membuat Yuna kesal dengan bibir mengerucut.


"Ya sudah kalau tidak mau bicara, mending tidak usah bicara saja selamanya!" ketus Yuna, lalu melepaskan kalungan tangannya dan bangkit dari pangkuan Elkan.


"Ya sudah, pergi saja kalau begitu! Masih banyak kok wanita lain yang mau sama Abang. Untuk apa punya istri yang tidak mau mengakui ketampanan suaminya sendiri?" sahut Elkan tak kalah ketusnya.


"Bug!"


Baru saja Elkan menghentikan ucapannya, sebuah pukulan bantal sudah mendarat di pipinya. Tidak hanya sekali, Yuna bahkan melakukannya berkali-kali.


"Banyak wanita lain ya, mana? Coba bawa wanita itu ke sini!" geram Yuna yang sekarang tengah bersemangat mencubit kulit Elkan.


"Apaan sih? Sakit tau," keluh Elkan yang sudah terbaring di atas sofa sambil menggeliat menghindari serangan beruntun Yuna.


"Masih bisa merasakan sakit?" Yuna menajamkan tatapannya.


"Ya bisa lah, emang Abang patung?" Elkan mengerutkan keningnya sambil mengusap perutnya yang baru saja dihujam seribu cubitan yang mematikan.


"Bukan patung, tapi siluman. Dasar tidak tau malu, sudah punya istri masih saja memikirkan wanita lain." Yuna menjauhkan diri dari Elkan. "Mulai malam ini, kita pisah kamar saja!" tegas Yuna penuh penekanan.


Pisah kamar? Elkan langsung terperanjat mendengar itu. Mana sanggup dia pisah kamar dengan Yuna, sebentar saja tak melihat Yuna sudah membuat otaknya eror. Mana bisa dia tidur tanpa Yuna? Waktu itu saja dia sampai tidak tidur semalaman.


Elkan segera meluruskan posisi duduknya dan menarik Yuna ke atas pangkuannya, lalu mengunci tubuh istrinya itu dengan erat. "Jangan pisah kamar ya sayang! Abang tidak akan sanggup,"


"Tidak ada tawar menawar, kalau Yuna bilang pisah ya pisah!" tekan Yuna.


"Abang tidak mau," Elkan mengerucutkan bibirnya dan mendekap Yuna dengan erat. "Abang tadi cuma bercanda kok sayang, mana ada wanita lain? Abang cuma ingin memanasi Yuna saja, kenapa malah Abang yang dihukum?"


"Pokoknya keputusan sudah-"


Mendadak ucapan Yuna terhenti saat Elkan menggigit bibir istrinya itu dan melu*matnya dengan rakus. Tangan Elkan menyelinap masuk ke dalam baju Yuna dan meremas dua gundukan kenyal itu hingga memuntahkan isinya.


"Bang-"


"Sepertinya hari ini Abang tidak jadi ke kantor, Abang mau memakan Yuna saja sepuasnya sampai Yuna tidak sanggup lagi berdiri!" ancam Elkan sambil terus meremas dada Yuna.


"Jangan Bang, Yuna tidak mau!" tolak Yuna dengan air muka memelas.

__ADS_1


"Kalau begitu tarik lagi kata-katanya!" Elkan tersenyum sinis meminta itu.


"Iya, iya, tidak jadi pisah kamar." Yuna terpaksa menyetujui permintaan Elkan itu.


Mendengar itu, seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan. Karena kepalang tanggung, Elkan pun mengangkat baju Yuna dan menghisap ujung dada istrinya itu secara bergiliran.


"Bang-"


"Sssttt... Diam saja!"


Setelah menyelang ucapan Yuna, Elkan kembali menghisap ujung dada istrinya itu dengan lahap seperti si kembar yang tengah kehausan.


"Sekali lagi ya!" pinta Elkan sambil mendongakkan kepalanya.


"Loh, jangan Bang! Abang kan harus ke kantor," tolak Yuna mencari alasan.


"Ada Beno sama Amit, biar mereka duluan saja. Nanti Abang menyusul,"


Elkan kemudian meraih ponsel yang ada di atas meja dan mengirim pesan pada Beno.


Elkan : ["Kau dan Amit duluan saja ke kantor! Nanti aku menyusul,"]


Sembari menunggu balasan dari Beno, Elkan kembali menghisap ujung dada Yuna dan membuat beberapa tanpa kepemilikan di sana.


Beno : ["Apa kau sudah gila? Bukankah kau sudah siap tadi?]


Beno : ["Alasan, bilang saja kalau kau ingin bermain di ruang kerja mu itu!]


Elkan : ["Hahaha... Anggap saja begitu,"]


Beno : ["Dasar gila,"]


Elkan tersenyum sumringah dan mematikan ponselnya, lalu mengesap bibir Yuna dan masuk semakin dalam hingga lidah keduanya saling bertautan. Elkan menghisapnya dan menelan air ludah mereka yang sudah membaur jadi satu.


"Bang, sebenarnya-"


Elkan tak memberi kesempatan istrinya untuk berbicara, dia kembali memagut bibir Yuna dengan penuh kelembutan.


"Bang, dengar Yuna dulu!" Yuna meninggikan nada bicaranya.


"Apa lagi sayang? Dari dari Bang Bang mulu," Elkan nampak kesal dan membulatkan matanya.


"Makanya dengar Yuna dulu!" Yuna menajamkan tatapannya. "Yuna kedatangan tamu bulanan, mana boleh melakukan itu?"


Seketika ucapan Yuna itu membuat air muka Elkan berubah gelap. "Jangan nyari-nyari alasan!"


"Tidak Bang, Yuna serius. Baru saja datang pagi ini." Yuna memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Elkan menyipitkan matanya, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Astaga sayang, kenapa tidak ngomong dari tadi?" Tentu saja Elkan sangat kecewa dibuatnya.


"Kok nyalahin Yuna sih?" Yuna menautkan alisnya. "Abang tuh yang dari tadi tidak memberi kesempatan Yuna untuk bicara, kenapa nyalahin Yuna?"


"Hehhh... Entahlah, pusing kepala Abang gara-gara Yuna." Elkan memijat dahinya yang memang terasa pusing menahan gejolak nafsu yang sudah membara di dirinya.


Yuna yang melihat itu langsung mengulum senyumannya. "Maafin Yuna ya, nanti kalau sudah bersih Yuna kasih triple." bujuk Yuna, lalu membantu Elkan memijat dahinya.


Elkan mengerlingkan manik matanya. "Janji ya!"


"Iya, Yuna janji." Yuna memeluk tengkuk Elkan dan mengecup pipinya. "Sekarang sarapan dulu ya, Yuna sudah bawain makanan untuk Abang!"


Yuna bangkit dari pangkuan Elkan dan mengambil piring yang ada di atas nampan.


"Suapi!" pinta Elkan dengan manja.


"Hehe... Iya, buat Abang apa sih yang enggak." Yuna mengukir senyum melihat tingkah manja suaminya itu.


Setelah suapan terakhir, Elkan meneguk kopi hitam yang dibuatkan Yuna untuknya lalu keduanya meninggalkan ruangan itu.


Sesampainya di ruang keluarga, Elkan menghampiri si kembar sedangkan Yuna langsung ke dapur menaruh nampan yang dia bawa.


Beno yang melihat kedatangan Yuna langsung mengerutkan keningnya. Apa dia tidak salah lihat? Bukankah tadi Elkan bilang bahwa mereka berdua akan menyelesaikan misi penting? Kenapa Yuna malah melenggang dengan santainya memasuki dapur?


Setelah menyelesaikan makannya, Beno beranjak menuju ruang keluarga. Lagi-lagi dia dibuat bingung saat menangkap keberadaan Elkan yang tengah bermain dengan si kembar.


"Ayo Amit, kita ke kantor duluan!" ajak Beno tanpa mempedulikan Elkan.


"Oke, ayo!" sahut Amit.


Elkan yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya. "Kalian mau meninggalkan aku?"


Sontak Beno memutar lehernya dan menatap Elkan dengan intens. "Katanya mau menyelesaikan misi penting terlebih dahulu?"


"Gatot, puas kau." Elkan mendengus kesal dan bangkit dari duduknya, lalu mengayunkan kakinya menuju pintu utama.


Tentu saja hal itu membuat Beno semakin penasaran hingga akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. "Kasihan sekali kau Elkan," sorak Beno hingga membuat Elkan berbalik.


"Diam, atau ku tonjok mukamu itu!" ancam Elkan sambil mengacungkan tinjunya ke arah Beno.


"Hahahaha... Makanya jadi orang jangan-"


Ucapan Beno mendadak terhenti saat Elkan melenggang menghampiri dirinya. "Santai bro, aku hanya bercanda."


Elkan kembali berbalik dan melangkah meninggalkan rumah, Beno dan Amit menyusul di belakang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2