
Pagi ini Elkan hampir saja membuat Yuna terkena serangan jantung karena membeberkan pernikahan mereka kepada publik. Yuna pikir Elkan hanya main-main dengan ucapannya tapi tak disangka ternyata Elkan benar-benar serius membungkam mulut nyinyir netizen hingga tak berkutik.
Dari puluhan ribu mata memandang, tak sedikit dari mereka yang berkomentar. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang mendoakan, ada juga yang julid mengatai Yuna membesarkan anak haram.
Namun saat wajah Elkan masuk ke dalam live, satu persatu komentar negatif pun mulai menghilang, apalagi saat Elkan mengungkapkan bahwa Yuna adalah istri sah nya, istri yang sah secara hukum dan agama.
Elkan bahkan menunjukkan bukti surat nikah mereka agar tak ada lagi yang mencela istri dan kedua anaknya di kemudian hari.
Setelah mengakhiri siaran langsung tersebut, Elkan meyakinkan Yuna bahwa mulai hari ini tidak akan ada lagi yang berani mencemooh dirinya. Elkan juga berjanji akan menjaga Yuna dan melindunginya dari apapun termasuk dari wanita tua yang kemarin menghinanya tanpa alasan yang jelas.
Elkan tau kedepannya akan ada banyak rintangan yang menghadang kehidupan rumah tangga mereka, apalagi sejak kemunculan wanita tua yang secara terang-terangan meminta hak atas warisan keluarga Bramasta.
Elkan tentunya tidak akan tinggal diam begitu saja, dia segera menghubungi pengacara keluarga Bramasta untuk mengambil alih semuanya sesuai wasiat kakek Bram sebelum beliau meninggal dunia.
Dalam dokumen tersebut, tertulis jelas bahwa Elkan akan mewarisi semua aset keluarga Bramasta setelah pernikahannya memasuki usia tiga bulan. Syarat sudah terpenuhi, bahkan usia pernikahannya sudah menginjak usia satu tahun. Jelas sudah melebihi syarat yang diajukan kakek Bram padanya.
Usai sarapan bersama, Elkan dan Beno meninggalkan kediaman mereka. Siang ini semua permasalahan harus dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Tidak akan ada seorangpun yang bisa menentang keputusannya termasuk Beno sekalipun.
Di perusahaan, awak media sudah berkumpul memenuhi parkiran Bramasta Corp. Tentu saja kedatangan mereka untuk meminta klarifikasi atas pengakuan Elkan di media sosial pagi ini. Berita tersebut viral sampai ke penjuru negeri, bahkan menjadi tranding topik di setiap platform resmi.
Baru saja Elkan menginjakkan kaki di parkiran Bramasta Corp, dia sudah diserbu oleh para awak media dengan berbagai macam pertanyaan. Begitu pula dengan Beno, keduanya tidak memiliki ruang gerak sedikitpun untuk menghindari mereka.
Beruntung para petugas berhasil mengawal mereka hingga terbebas dari kerumunan tersebut.
Setibanya di lobby, Elkan menginstruksikan untuk menyiapkan konferensi pers setelah jam makan siang nanti. Itu pun hanya untuk beberapa perwakilan media saja.
Setelah perwakilan perusahaan menyampaikan pesan tersebut kepada awak media, satu persatu dari mereka mulai menjauh dari parkiran. Butuh beberapa jam lagi untuk menunggu konferensi pers dilangsungkan.
"Ben, instruksikan kepada dewan direksi dan pemegang saham, pukul sepuluh nanti semuanya harus berkumpul di ruang rapat! Dan tolong pastikan pengacara sampai di sini dengan aman dan tepat waktu!"
"Oke," angguk Beno.
Setelah mengatakan itu semua, Elkan meninggalkan lobby dan segera masuk ke dalam lift menuju lantai lima belas.
Baru saja keluar dari lift, Elkan langsung disambut oleh sekretaris Beno dan beberapa karyawan lainnya. Andin membungkukkan punggungnya, yang lain juga mengikuti.
"Pagi Tuan," seru Andin dan yang lainnya.
"Pagi, tolong buatkan kopi hitam dan antar ke ruangan ku! Setelah itu, ambilkan map hijau yang ada di rak ruangan Tuan Beno!"
__ADS_1
"Baik Tuan," angguk Andin.
Setelah Elkan melanjutkan langkahnya, Andin langsung bergerak sesuai perintah Elkan.
Selama ini Elkan memang tidak memiliki sekretaris sendiri karena dia paling tidak suka berdekatan dengan wanita. Baginya Beno saja sudah cukup menjadi apa yang dia mau.
Di waktu yang bersamaan, Elena nampak murka di ruangannya. Berita pagi ini membuat asma nya kambuh seketika itu juga. Bukannya berpihak padanya, Elkan justru terang-terangan menentang dirinya hingga memperkenalkan Yuna kepada publik. Tentu saja Elena tidak terima diabaikan oleh putranya sendiri.
"Anak tidak tau diri! Berani sekali dia menentang ku seperti ini."
Kemarahan Elena semakin menjadi-jadi saat tau bahwa Elkan akan melakukan konferensi pers siang ini. Berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri.
"Tidak akan aku biarkan wanita itu menang dariku! Dasar parasit, berani sekali dia mempengaruhi putraku. Wanita tidak berpendidikan seperti dirimu tidak pantas mendampingi putraku!"
Setelah merutuki Yuna, Elena meraih ponsel yang ada di atas meja dan menghubungi seseorang. Entah siapa yang dia hubungi, author sendiri tidak tau. Samar-samar terdengar suara pria dari balik telepon yang tengah terhubung, percakapan tersebut berlangsung cukup lama dan terlihat begitu serius.
Di Bramasta Corp, semua dewan direksi dan pemegang saham sudah menunggu di ruang rapat. Pak Ardi yang merupakan pengacara pribadi keluarga Bramasta juga sudah duduk di kursinya dengan beberapa dokumen penting yang tersusun di atas meja.
Beberapa menit kemudian, Elkan dan Beno pun ikut bergabung bersama mereka. Rapat yang diadakan secara tertutup itu dibuka oleh Elkan sendiri yang merupakan petinggi Bramasta Corp.
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kesediaan kalian semua untuk menghadiri rapat dadakan ini. Saya juga minta maaf jika membuat kalian semua terkejut,"
"Tidak apa-apa, hanya saja kami masih penasaran. Dalam rangka apa kita semua berkumpul seperti ini, apa perusahaan memiliki masalah?" sahut Pak Dika yang merupakan seorang dewan direksi.
Mendengar itu, pandangan semua orang langsung mengarah pada pria paruh baya yang tengah membuka dokumen yang ada di atas meja.
"Oke baiklah, untuk mempersingkat waktu, saya langsung saja pada intinya." seru Pak Ardi.
Pak Ardi mulai menguraikan satu persatu dokumen yang tersusun di atas meja. Awalnya Pak Ardi membacakan wasiat kakek Bram yang tertulis sebanyak dua halaman, kemudian membacakan rincian kepemilikan perusahaan dan aset Bramasta Corp.
"Hari ini saya akan mengalihkan semua aset Bramasta Corp kepada pewaris tunggal keluarga Bramasta yaitu Tuan Elkan sendiri. Tujuh puluh lima persen kepemilikan akan jatuh ke tangan Tuan Elkan dan dua puluh lima persen akan jatuh ke tangan Tuan Beno."
Pak Ardi menjeda ucapannya dan membuka dokumen lainnya.
"Di sini juga tertulis hak dan tanggung jawab yang harus dijalani Tuan Elkan sebagai petinggi perusahaan. Berapa persen bagian dewan direksi dan berapa persen bagian pemilik saham. Semua jelas tertulis di sini, silahkan dibaca dulu! Jika ada yang keberatan, boleh mengajukan keluhan."
Pak Ardi memberikan dokumen tersebut kepada Pak Muji yang duduk di sebelahnya, kemudian dokumen tersebut mengitari meja hingga kembali ke tangannya.
"Bagaimana? Apa ada yang keberatan?" seru Pak Ardi sembari menatap satu persatu dari mereka secara bergiliran.
__ADS_1
"Saya rasa tidak ada," jawab Pak Dika.
"Sama," jawab Pak Muji.
"Apapun keputusan Pak Bram, saya rasa semuanya sudah yang terbaik. Selanjutnya kami serahkan kepada Tuan Elkan, apa dia sanggup mengemban tanggung jawab ini?" seru Pak Romi sembari menatap Elkan dengan intens.
Elkan mengurai senyum di bibirnya. "Tentu saja saya sanggup. Apa kalian lupa siapa yang sudah membesarkan perusahaan ini?"
Semua mata tertegun untuk sesaat. Semua juga tau bahwa Elkan dan Beno lah yang membuat Bramasta Corp berkembang pesat hingga menembus pasar internasional. Tidak seorangpun yang meragukan kemampuannya.
"Di sana hanya tertulis poin-poin intinya saja. Itu hanya angka minimal yang akan kalian terima setiap bulannya, tapi tentu saja ada bagian lain jika perusahaan mendapatkan keuntungan melebihi target awal." imbuh Elkan.
Mendengar itu, tentu saja semua mata merasa tertarik. Apalagi setiap bulannya penghasilan perusahaan selalu melebihi target awal mereka.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu apalagi." seru semuanya bersamaan.
Pak Ardi mengeluarkan dokumen pengalihan aset dari dalam map. Selain meminta tanda tangan Elkan dan Beno, Pak Ardi juga meminta tanda tangan dari para dewan direksi dan juga pemegang saham.
Setelah semuanya menandatangani dokumen tersebut, satu persatu dari mereka mengucapkan selamat kepada Elkan dan Beno yang sudah resmi mengambil alih seluruh aset kekayaan Bramasta yang mencapai triliunan rupiah.
"Selamat untuk kalian berdua," ucap Pak Muji.
"Terima kasih," sahut Elkan dan Beno bersamaan.
"Kalau begitu jangan lupa perjamuannya! Saya dengar kalian berdua sudah menikah secara diam-diam." ucap Pak Dika.
"Bukan diam-diam, tapi belum sempat saja mengumumkannya. Beberapa waktu lalu istri saya mengalami kecelakaan," jawab Elkan.
"Ya, saya juga sempat mendengar semua itu dari karyawan. Bagaimana keadaan istri Anda saat ini?" tanya Pak Romi.
"Sudah membaik, tunggu saja undangan dari kami! Saya memang ingin mengenalkan istri saya kepada kalian semua, sekalian syukuran kedua bayi saya." jelas Elkan.
"Hmm... Jadi berita yang beredar di sosial media itu benar?" tanya Pak Romi.
"Iya benar, saya sudah mengklarifikasi berita itu di media sosial. Siang ini saya juga akan melakukan konferensi pers bersama awak media. Saya tidak ingin istri dan anak saya dibully lagi oleh masyarakat," tegas Elkan.
"Baguslah, memang seharusnya seperti itu. Mulut netizen memang payah, mereka hanya bisa membully tanpa tau kebenarannya." balas Pak Muji.
"Ya begitulah,"
__ADS_1
Setelah semuanya clear, mereka semua saling berjabat tangan dan mulai meninggalkan ruangan.
Bersambung...