
Keesokan harinya, Elkan mendapat telepon dari Beno yang memintanya mengirim sopir ke bandara. Akhirnya sepasang suami istri itu mendarat di ibukota dengan selamat setelah terjebak di negeri orang selama sepuluh hari lamanya.
Rencana menghabiskan bulan madu dengan mengelilingi kota Istanbul akhirnya sirna karena iklim di kota tersebut tidak mengizinkan mereka. Selama sepuluh hari mereka hanya mengurung diri di dalam hotel karena tak bisa kemana-mana.
Tepat pukul sepuluh pagi Amit dan Pak Zul sudah tiba di depan pintu bandara. Berhubung hari ini weekend jadi Amit sendiri yang datang menjemput mereka.
Baru saja Amit keluar dari mobil, suara Reni sudah terdengar di telinganya. Amit langsung berhamburan ke dalam pelukan Reni saking rindunya dengan kakaknya itu. Setelah itu Amit beralih memeluk Beno dan mencium punggung tangan mereka berdua secara bergantian.
"Aku pikir kalian berdua akan menetap di sana, lama sekali bulan madunya." keluh Amit.
"Rencananya sih begitu, tapi kakakmu tidak mau. Katanya di sana sangat dingin, dia tidak kuat." sahut Beno menyindir istrinya.
"Apaan sih Mas? Mas kali yang tidak kuat, enak saja nyalahin aku." timpal Reni dengan bibir mengerucut. Beno dan Amit sontak tertawa melihat ekspresi Reni itu.
"Selamat datang Tuan, Nyonya." sapa Pak Zul sambil membungkukkan punggungnya.
"Makasih Pak," sahut keduanya bersamaan.
Setelah menyapa keduanya, Pak Zul segera mengambil alih koper Beno, Amit pun begitu. Dia mengambil alih koper Reni dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, lalu mereka semua ikut masuk dan pulang ke kediaman Bramasta.
"Kau tidak sekolah?" tanya Beno yang duduk di bangku belakang bersama Reni.
"Tidak Kak, aku sudah selesai ujian. Sambil menunggu hasil ujian ku keluar, aku sekarang bekerja di perusahaan. Kak Elkan menjadikan ku asisten pribadinya." jawab Amit.
"Apa?" Beno membulatkan matanya, begitu juga dengan Reni yang seakan tak percaya dengan ucapan Amit barusan.
Amit menoleh ke arah belakang. "Kenapa wajah kalian jadi aneh begitu? Ada yang salah?" tanya Amit penasaran.
"Tidak, tidak ada yang salah. Tapi kenapa Kak Elkan menjadikanmu asisten pribadinya? Kau tidak mempunyai pengalaman sama sekali, Kak Elkan biasanya paling tidak suka sama pegawai yang tidak tau apa-apa. Dia bisa marah besar, itulah sebabnya selama ini dia tidak punya asisten maupun sekretaris. Semua pekerjaan dilimpahkan sama Kak Beno." Beno masih kebingungan menelaah kata-kata Amit barusan.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin Kak Elkan lebih percaya padaku. Kak Beno siap-siap saja, sebentar lagi aku akan merebut posisi Kakak. Hahahaha..."
Amit tertawa terbahak-bahak dan kembali meluruskan pandangannya ke arah depan. Lagian siapa suruh pergi bulan madu begitu lama, salah sendiri pikir Amit menjahili kakak iparnya itu.
Sesampainya di kediaman Bramasta, mereka semua turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah. Amit menarik dua koper sekaligus di tangannya.
"Pengantin baru pulang," seloroh Amit dengan suaranya yang lantang.
Elkan dan Yuna yang tengah bermain dengan si kembar langsung menoleh ke arah mereka.
"Pulang juga, kenapa tidak menetap di sana saja sekalian?" sindir Elkan dengan senyum mengejek.
Beno mengerutkan keningnya. "Apa aku tidak boleh pulang ke rumah ini lagi? Aku bisa pulang ke apartemen kalau begitu,"
"Kenapa tidak langsung ke sana saja? Ngapain malah pulang ke sini?" Elkan memajukan bibir sambil mengangkat bahunya.
"Ya sudah, pergi saja! Lagian aku tidak membutuhkanmu lagi, sekarang sudah ada Amit bersamaku." Elkan tak mau kalah.
"Enak saja, kau lupa siapa Amit? Kalau aku pergi, dia juga akan ikut bersamaku." Beno mencoba menekan Elkan.
Elkan mengalihkan pandangannya ke arah Amit. "Amit, bagaimana menurutmu? Kau mau ikut kakak iparmu itu apa ikut sama Kak Elkan?"
"Aku?" Amit mengerutkan keningnya, mana bisa dia memilih. Sungguh pilihan yang sulit baginya.
"Apaan sih Bang? Kok malah berantem gini sih? Seperti anak kecil saja," timpal Yuna yang sedari tadi sudah kebingungan melihat perdebatan kedua pria dewasa itu.
"Iya ih, Mas juga. Sudah tau salah masih saja ngegas, mengalah dikit kenapa?" Reni ikut menimpali, hal itu membuat Beno langsung terdiam.
Melihat Beno yang begitu, Elkan sontak tertawa terbahak-bahak. Percuma melawan Elkan jika dirinya tengah bersama Reni, ujung-ujungnya dia sendiri yang akan disalahkan oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Iya, iya, aku minta maaf. Kami berdua terjebak di sana, boro-boro mau jalan, keluar dari hotel saja tidak bisa." Beno akhirnya mengaku salah dan meminta maaf kepada Elkan.
"Makanya jangan bodoh! Sudah tau sekarang bulan November, masih saja kekeh mau ke sana. Seperti tidak ada tempat lain saja," cibir Elkan.
"Mana aku tau, aku pikir tidak akan separah itu. Kalau aku tau, aku tidak mungkin membawa Reni ke sana." Beno mencoba membela diri.
"Sudahlah Ben, tidak usah dilayani! Kamu seperti tidak mengenal suamiku saja. Sekarang pergilah ke kamarmu, bersih-bersih dulu! Nanti kita bicarakan lagi," selang Yuna.
"Kak Yuna benar, ayo ke kamar dulu! Aku sudah tidak sabar ingin main bersama si kembar, sepuluh hari terasa begitu lama." timpal Reni, lalu menarik kopernya ke dalam kamar. Mau tidak mau, Beno terpaksa mengikuti istrinya itu dari belakang.
Setelah kepergian Beno dan Reni, Elkan lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Yuna geram dan mencubit perut kotak suaminya itu sekuat hati.
"Aduh, sayang apaan sih? Sakit tau," keluh Elkan sembari meringis kesakitan.
"Rasain, makanya jangan usil! Bercanda boleh tapi harus tau tempatnya, kalau mereka berdua tersinggung bagaimana? Abang mau melihat Beno benar-benar pergi dari rumah ini?" gerutu Yuna menajamkan tatapannya.
"Gak gitu juga sayang, mana mungkin Abang tega membiarkan Beno pergi dari rumah ini. Bagaimanapun Beno adalah saudara Abang, kami tidak akan pernah berpisah sesuai permintaan kakek. Lagian dia juga punya hak atas rumah ini." jelas Elkan.
"Nah, makanya lain kali kalau mau bercanda lihat situasi dulu! Orang baru pulang sudah dijajal dengan kata-kata, kalau Abang yang begitu gimana?" tegas Yuna.
"Hahahaha... Emangnya dia berani?" Elkan malah tertawa hingga membuat Yuna semakin geram.
"Iya, dia tidak berani karena dia itu menghargai Abang. Harusnya Abang sadar, dulu waktu Yuna di rumah sakit siapa yang ngurus perusahaan? Beno kan? Tidak hanya sepuluh hari tapi berbulan-bulan lamanya, apa dia pernah mengeluh?" Yuna mengingatkan Elkan akan jasa Beno.
"Iya, iya, Abang tau itu kok. Abang kan cuma bercanda sayang." Elkan menarik Yuna ke dalam dekapannya. "Sudah, jangan dibahas lagi!" imbuh Elkan.
Elkan tau bagaimana pentingnya Beno di dalam hidupnya. Sejak kecil mereka sudah bersama merasakan suka duka kehidupan. Hingga mereka dewasa dan tua nanti pun, mereka akan tetap bersama layaknya kakak adik yang tidak akan terpisahkan.
Bersambung...
__ADS_1