
Di sebuah rumah sakit swasta yang ada di pusat kota, Reynold tengah mendorong kursi roda yang diduduki istrinya menuju parkiran. Reynold baru saja menemani Laura melakukan terapi yang disarankan oleh beberapa dokter yang pernah mereka kunjungi. Semuanya menganjurkan hal yang sama hingga Reynold dan Laura sepakat memilih pengobatan tersebut.
Setelah satu minggu menjalani terapi tersebut, kondisi Laura mulai menampakkan kemajuan. Kini dia sudah bisa menggerakkan kaki dan berdiri sendiri jika memiliki tumpuan tempatnya berpegang. Sedikit lagi, Laura akan sembuh seperti sedia kala. Tentu saja Reynold sangat senang melihat kemajuan istrinya itu.
Setelah membantu Laura duduk di sebelah bangku kemudi, Reynold melipat kursi roda milik istrinya itu dan menyimpannya di dalam bagasi. Dia segera masuk dan melajukan mobil itu meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan pulang, Reynold sesekali melirik istrinya sambil tersenyum tipis. Hal itu membuat Laura menjadi salah tingkah, rasanya sedikit aneh saat diperhatikan oleh pria setampan suaminya itu.
Laura memang belum bisa mengartikan perasaannya, tapi dari lubuk hati yang paling dalam dia mulai merasa nyaman berada di sisi suaminya itu. Kelembutan dan perhatian Reynold mampu meluluhkan hatinya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, mobil yang dikendarai Reynold masuk ke dalam pekarangan rumah. Reynold turun lebih dulu dan segera menurunkan kursi roda milik Laura, lalu membantunya duduk dan mendorongnya memasuki rumah.
"Rey, kalian sudah pulang?" sapa Aditama yang tengah duduk di ruang tengah. Pria paruh baya itu memang sengaja menunggu mereka berdua pulang karena ada yang ingin dia sampaikan kepada Reynold dan juga Laura.
"Sudah Yah, Ayah butuh sesuatu?" Reynold mendorong kursi roda Laura mendekati ayahnya itu. Setelah keduanya menyalami dan mencium punggung tangan Aditama, Reynold duduk di sampingnya.
"Barusan adikmu menelepon Ayah, katanya weekend ini mereka semua mau nginap di sini. Sekalian ingin melihat kondisi Laura katanya," ucap Aditama.
"Maksud Ayah Yuna dan Elkan mau ke sini dan nginap di sini?" Reynold menyipitkan matanya.
"Iya, bukan mereka saja tapi Beno dan Reni juga." jelas Aditama.
Reynold mengukir senyum di bibirnya, tentu saja dia sangat senang mendengarnya. Tapi tidak dengan Laura yang justru sangat terkejut mendengar itu. Dia rasanya belum siap bertemu Elkan, apalagi dengan Yuna yang kini sudah jelas menjadi adik iparnya.
"Baguslah kalau begitu, jadi malam ini kita semua bisa menghabiskan waktu bersama lagi. Rey juga sudah rindu sama si kembar," ungkap Reynold yang terlihat sangat antusias.
"Ayah juga, kedua bocah itu pasti sudah semakin lincah sekarang." sambung Aditama mengingat wajah lucu cucu kembarnya itu.
"Tentu saja, pasti keduanya nurunin Yuna yang kecilnya seperti belut. Tidak mau diam," seloroh Reynold sambil tersenyum mengingat masa kecil adiknya itu.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah ke kamar dulu. Sebentar lagi mereka semua pasti datang. Ayah mau mandi dulu biar wangi, Ayah juga sudah menyuruh Minah menyiapkan makan malam buat kita." Aditama bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan mereka berdua di sana.
__ADS_1
Setelah punggung Aditama menghilang dari pandangan keduanya, Laura menarik tangan Reynold dan meminta suaminya itu membawanya ke kamar.
"Mas, aku belum siap bertemu mereka. Nanti kalau mereka datang, aku di kamar saja ya!" pinta Laura setelah keduanya tiba di dalam kamar, air mukanya nampak memelas.
"Loh, kenapa begitu?" Reynold mengerutkan kening hingga membuat matanya menyipit. "Kamu tidak dengar apa yang dikatakan Ayah tadi, mereka semua ingin melihat keadaan kamu." Reynold mengulangi ucapan Aditama tadi, berharap istrinya bisa mengerti.
"Tapi Mas-"
"Kenapa? Apa kamu masih mencintai Elkan?" potong Reynold dengan tatapan tajam menuntut penjelasan.
"Mas..." Laura meninggikan suaranya.
Reynold menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Terserah kamu saja, Mas tidak ingin berdebat soal ini."
Reynold meninggalkan Laura dan memilih masuk ke dalam kamar mandi. Jika dikatakan kecewa, dia memang kecewa mendengar ucapan istrinya itu. Tapi bagaimanapun dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya jika Laura tidak mau bertemu Elkan dan Yuna. Reynold tau Elkan sudah tidak punya perasaan lagi pada Laura, tapi entah bagaimana dengan istrinya itu.
Setengah jam kemudian, Reynold keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Tanpa menghiraukan Laura yang sedang memperhatikannya, Reynold langsung saja membuka pintu lemari dan mengambil pakaian yang ingin dia kenakan.
"Mas..."
"Ssstttt... Tidak usah banyak bicara! Sekarang mandi dulu, biar Mas bantu!" Reynold menghampiri Laura dan membantunya berdiri, lalu menggendongnya ke dalam kamar mandi.
Seperti biasa, Reynold mendudukkan Laura di atas kursi yang sengaja dia letakkan di bawah shower. Setelah itu Reynold meninggalkan Laura sendirian di dalam sana.
Bukannya Reynold tidak ingin memandikannya, tapi memang begitulah yang diinginkan oleh Laura. Mungkin wanita itu masih malu memperlihatkan tubuhnya pada Reynold yang jelas adalah suaminya.
"Mas..."
Saat mendengar Laura memanggilnya, Reynold kembali masuk dan menggendongnya meninggalkan kamar mandi lalu mendudukkannya di sisi ranjang.
"Ini pakaiannya, kalau begitu Mas turun dulu." Reynold menaruh pakaian itu di atas paha Laura, dia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Laura yang melihat itu hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata, dia tau Reynold marah tapi dia juga tidak tau harus berbuat apa. Dia belum siap bertemu Elkan dan juga istrinya yang kini adalah adik iparnya.
Baru saja Reynold menginjakkan kaki di ujung tangga, suara keributan sudah menggema dari bawah sana. Reynold mempercepat langkahnya dan menyambut kedatangan semuanya dengan penuh suka cita.
"Selamat datang adikku yang paling cantik," Reynold memeluk Yuna dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Selamat datang Elkan," Reynold beralih memeluk Elkan lalu berlanjut memeluk Beno, terakhir menyalami Reni.
Lalu Reynold berjongkok dan mencium pipi gembul Edgar dan Elga yang tengah tertidur di dalam stroller. "Selamat datang sepasang boneka kecil Om Rey, lucu banget sih kalian. Om jadi pengen gigit," seloroh Reynold gemas.
"Jangan digigit Om Rey, sakit." jawab Yuna menirukan suara anak kecil, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha..." Semua orang ikut tertawa melihat kelucuan ibu dua anak itu.
"Ayo duduk dulu Ben, Reni, anggap saja rumah sendiri!" ucap Reynold, dia mengambil alih stroller si kembar dan mendorongnya ke ruang keluarga. Yang lain mengikutinya dari belakang.
"Bagus juga rumahmu ternyata," ucap Beno sambil mengamati setiap pojok rumah itu.
"Bukan rumahku, ini rumah Ayah." jawab Reynold merendahkan diri. Dari awal rumah itu memang sengaja dibelinya untuk Aditama. Karena tidak tega membiarkan Aditama tinggal sendiri, Reynold akhirnya ikut tinggal di rumah itu.
Setelah semuanya duduk, Reynold meminta Minah membuatkan kopi dan membawa cemilan untuk teman ngobrol mereka semua. Sayangnya wajah Reynold terlihat sedikit murung karena tak ada Laura di sampingnya.
"Laura mana Rey?" tanya Yuna, dia penasaran karena tak melihat Laura sejak tadi.
"Ada, di kamar lagi tidur. Kami baru pulang dari rumah sakit, Laura terlalu kelelahan setelah terapi tadi." jawab Reynold dengan alasan yang cukup masuk akal, dia tidak ingin Yuna tersinggung jika tau alasan sebenarnya.
Yuna manggut-manggut setelah mendengar itu, bisa jadi Laura memang kelelahan karena harus melakukan terapi untuk memulihkan kondisi kakinya.
Tidak lama, Aditama keluar dari kamar dan bergabung dengan semua anak-anaknya itu. Satu persatu dari mereka menyalami dan mencium punggung tangan Aditama yang kini sudah menjadi sosok ayah untuk mereka semua. Berbeda dengan Yuna yang malah berhamburan memeluk ayahnya itu.
Bersambung...
__ADS_1