
Siang hari Aditama masuk ke kamarnya untuk beristirahat, begitu juga dengan Beno dan Reni yang masih merasa letih setelah pulang dari Istanbul kemarin. Perbedaan cuaca membuatnya agak sedikit meriang hingga Beno harus menemaninya di kamar.
Sementara itu Elkan masih duduk di depan televisi bersama Yuna yang tengah menyusui si kembar, ada Reynold dan Laura juga di sana menemani mereka.
Sekilas Elkan terlihat biasa saja tanpa ada beban di hatinya, berbeda dengan Laura yang masih canggung berhadapan dengan mantan kekasihnya itu. Bagaimanapun mereka berdua pernah bersama selama lima tahun lamanya, tentu ada sedikit kejanggalan di hati Laura saat berkumpul bersama seperti itu.
Laura tak hentinya memeluk lengan Reynold, mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan yang sudah berbeda dari sebelumnya.
Dulu Elkan dan Laura adalah pasangan couple yang paling dikagumi di sekolah. Elkan yang begitu tampan sangat cocok dengan Laura yang sangat cantik, keduanya menjadi incaran para siswa dan siswi di sekolah mereka.
Banyak pasang mata yang merasa iri melihat kedekatan mereka berdua, apalagi keduanya pernah mengikuti drama musikal dalam perlombaan antar sekolah. Mereka berdua meraih juara satu diantara pasangan lainnya karena memiliki chemistry yang berbeda, tentu saja karena keduanya mempunyai hubungan spesial yang membuat drama itu terlihat nyata.
Tapi kini semua sudah berbeda. Sejak Laura memutuskan hubungan dengan Elkan dan memilih pergi ke luar negeri, cinta Elkan lenyap seketika. Apalagi yang Elkan tau Laura sudah menikah dengan orang lain yang lebih kaya darinya, hal itu memupuk kebencian di hati Elkan hingga Yuna lah yang menjadi korbannya.
Elkan berpikir bahwa semua wanita itu sama saja, gila harta dan pembohong. Dia menikahi Yuna bukan atas dasar cinta tapi hanya untuk mengikuti wasiat kakek Bram agar harta warisan keluarga Bramasta jatuh ke tangannya.
Seiring berjalannya waktu cinta itu akhirnya tumbuh dan bersemi di hati Elkan, sekarang hanya Yuna lah yang ada di dalam hatinya. Dia bahkan sangat takut kehilangan istrinya itu, apalagi sudah ada Edgar dan Elga diantara mereka. Kehadiran bayi kembar itu semakin memperkokoh dinding cinta Elkan untuk Yuna.
Kehadiran Laura sudah tak ada arti apa-apa lagi bagi Elkan selain sebagai istri dari kakak iparnya yang tak lain adalah Reynold. Elkan juga ikut bahagia karena Laura mendapatkan suami sebaik Reynold, Elkan yakin keduanya bisa hidup bahagia seperti dia dan Yuna.
Lama mereka berempat terdiam tanpa bicara sepatah kata pun hingga akhirnya Reynold membuka suara.
"Kamu tidak lelah? Mau Mas antar ke kamar?" tawar Reynold kepada Laura yang masih bergelayut di lengannya.
"Tidak usah Mas, aku di sini saja sama Mas. Suntuk di kamar terus," jawab Laura sambil merebahkan kepalanya di pundak Reynold.
Elkan yang melihat itu nampak biasa saja dan malah selonjoran di atas sofa, dia bersandar di lengan Yuna sambil memakan kuaci yang ada di tangannya. Yuna tersenyum sumringah dan mengurut kepala Elkan sambil menonton film yang sedang tayang di televisi.
"Sayang, buatin Abang kopi dong!" pinta Elkan sambil menengadahkan kepalanya ke dagu Yuna.
"Mau yang manis apa pahit?" tanya Yuna sambil menekuk wajahnya hingga manik mata keduanya saling bertemu.
__ADS_1
"Yang sedang-sedang saja sayang, manisnya sudah ada di depan mata Abang." bual Elkan sembari tersenyum lebar hingga menampakkan barisan giginya yang sangat rapi.
"Apaan sih Bang? Bikin malu saja," ketus Yuna dengan air muka mengecut.
"Kenapa harus malu? Kita di sini punya pasangan masing-masing, iya kan Rey?" Elkan melemparkannya pada Reynold sambil memutar lehernya.
"Iya, iya, terserah kau saja Mr Bucin!" Reynold menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol adik iparnya itu.
"Tuh kan, Rey saja tidak masalah. Masa' istri Abang sendiri keberatan?" Elkan kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Yuna.
"Iya, iya, minggir dulu dong! Gimana cara Yuna berdiri kalau Abang seperti ini terus?" geram Yuna dengan pipi menggembung.
"Oh iya, Abang lupa." Elkan tertawa kecil sambil meluruskan posisi duduknya. Yuna pun segera bangkit dan melangkah menuju dapur.
Reynold dan Laura ikut tersenyum melihat itu, keduanya saling menatap untuk sejenak.
Dalam hati, Laura merasa iri melihat kehangatan sepasang suami istri itu. Bukan iri dalam hal cemburu, tapi karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk melayani Reynold seperti yang dilakukan Yuna terhadap Elkan.
Reynold yang menyadari perubahan air muka istrinya itu langsung mengusap kepala Laura dengan sayang. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa Mas," jawab Laura, lalu mempererat pelukannya.
"Maaf kalau kelakuanku tadi membuat kalian tidak nyaman, tapi begitulah aku." ucap Elkan merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, kami mengerti. Iya kan sayang?" jawab Reynold sambil menangkup tangannya di pipi Laura.
"Iya, tidak apa-apa kok." sahut Laura.
Tidak lama, Yuna kembali dengan dua cangkir kopi yang ada di atas nampan lalu meletakkannya di atas meja.
"Minum Rey," tawar Yuna.
__ADS_1
"Taruh dulu, masih panas kan?" jawab Reynold.
"Kok cuma Rey saja yang ditawarkan, Abang tidak?" Elkan menggembungkan pipinya.
"Iya sayang, ini buat Abang." sahut Yuna sembari menyodorkan cangkir itu ke tangan Elkan.
"Hehe... Taruh dulu sayang, nanti bibir Abang melepuh," seloroh Elkan sambil tertawa kecil.
Yuna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan mengintimidasi, baru saja Elkan meminta kopinya lalu menyuruhnya menaruh kopi itu di atas meja. Benar-benar menjengkelkan hingga membuat Yuna sangat geram.
Untung saja di sana ada Reynold dan juga Laura, jika tidak sudah dia jambak rambut suaminya itu dan dia cakar mukanya seperti kucing liar.
"Kenapa melihat Abang seperti itu? Yuna belum pernah lihat orang tampan ya?" seloroh Elkan sambil tersenyum sumringah, lalu meraih tangan Yuna dan membawanya duduk di sebelahnya.
"Sekali-sekali bisa serius tidak Bang? Bercanda mulu kerjanya, apa Abang tidak punya malu?" gerutu Yuna dengan jemari yang sudah standby ingin mengacak-acak muka Elkan.
"Sssttt... Jangan marah-marah sayang, nanti cepat tua!" seloroh Elkan yang lagi-lagi membuat Yuna naik pitam.
"Makanya jangan bercanda mulu!" ketus Yuna yang sudah sampai pada puncak kesabarannya.
Akhirnya jari-jari lentik Yuna menempel di pinggang dan perut Elkan secara bergantian, Yuna mencubit nya sekuat tenaga saking jengkel nya melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya itu.
Elkan sampai menggeliat ke sana kemari untuk menjauhkan diri, tapi Yuna malah semakin gencar mencubiti nya.
"Aww... Ampun sayang, sakit." keluh Elkan sambil mengusap pinggang dan perutnya.
"Tidak ada kata ampun!" tegas Yuna yang terus saja menyiksa suaminya itu. Mata Elkan sampai berkaca menahan rasa panas di permukaan kulitnya.
Reynold dan Laura yang melihat itu hanya bisa tertawa sampai terpingkal-pingkal. "Makanya jangan pecicilan jadi orang!" ejek Reynold sambil tersenyum miring.
"Diam kau!" ketus Elkan sambil melemparkan bantal ke muka Reynold.
__ADS_1
Bersambung...