Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 158.


__ADS_3

Usai sarapan semua orang kembali ke ruang tengah. Yuna dan Reni masih menetap di ruang makan membereskan meja, begitu juga dengan Reynold yang masih duduk bersama Laura. Reynold ingin memberi kesempatan agar istrinya bisa berbicara dengan Yuna.


"Yun, kemari lah!" panggil Reynold sembari menggerakkan tangannya di udara, lalu menarik kursi.


"Ya Rey, tunggu sebentar!" angguk Yuna, kemudian berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya hingga bersih. Setelah itu Yuna menghampiri Reynold dan duduk di kursi yang tadi ditarik Reynold.


Setelah Yuna duduk, Reynold mengusap kepala adiknya itu dan mengacak rambutnya hingga berantakan.


"Rey, apaan sih? Rambutku kusut kan jadinya," keluh Yuna dengan bibir mengerucut.


"Tetap cantik kok, tidak usah cemberut gitu!" seloroh Reynold sambil menarik hidung Yuna.


"Cukup Rey! Apa kamu tidak malu dilihat Mbak Laura?" geram Yuna sambil memukul tangan Reynold.


Melihat kedekatan antara kedua kakak beradik itu, Laura pun tersenyum kecil. Ada sisi lain yang dia temukan dari diri Reynold dan juga Yuna. Apa dia saja yang terlalu berlebihan selama ini? Takut Yuna menyimpan dendam dan tak bisa menerimanya di keluarga mereka.


"Iya, iya, aku pergi dulu. Kalian bicaralah!" Reynold bangkit dari duduknya dan mengusap kepala Laura dengan sayang. "Mas mau menemui Elkan dan Beno dulu, bicaralah dari hati ke hati!"


Setelah mengatakan itu, Reynold melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua termasuk Reni yang masih sibuk membereskan meja.


Laura menekuk wajahnya, dia bingung harus memulai dari mana. Yuna yang melihat itu langsung membuka suara.


"Kenapa Mbak? Mbak ingin bicara apa?" tanya Yuna dengan ciri khasnya yang lembut.


Mendengar itu, Laura langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Yuna dengan tatapan sayu. "Yuna..." lirih Laura.


"Iya Mbak, kenapa?" jawab Yuna.


"Ma-Maaf..." Laura mulai gugup dan tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Maaf untuk apa Mbak?" Yuna menautkan alisnya.


"Maaf untuk kesalahan yang sudah aku lakukan padamu." Laura meraih tangan Yuna dan menggenggamnya dengan erat, getaran tangannya sangat terasa di tangan Yuna.


"Apa yang Mbak katakan? Mbak tidak punya salah apa-apa," Yuna menepuk-nepuk punggung tangan Laura. "Seharusnya aku yang minta maaf sama Mbak, aku sudah merebut pria yang Mbak cintai. Aku minta maaf, aku sudah menghancurkan harapan kalian. Harusnya aku menolak pernikahan itu sejak awal, aku tidak tau kalau Elkan mencintai wanita lain. Aku yang salah,"


"Tidak Yuna, kamu tidak salah. Sebelum kalian menikah, hubungan kami sudah berakhir sejak lama." Laura mempererat genggaman tangannya. "Maaf untuk kejadian waktu itu, gara-gara kedatanganku kamu jadi mengalami kecelakaan. Aku benar-benar minta maaf, waktu itu aku tidak tau kalau Elkan sudah menikah."

__ADS_1


"Mbak, semua itu sudah takdir. Kita tidak bisa menolak kehendak Tuhan. Jangan menyalahkan diri sendiri!" ucap Yuna.


"Tapi aku tetap salah Yuna, aku yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi." lirih Laura.


"Tidak Mbak, aku juga salah. Harusnya aku tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Waktu itu aku pikir Elkan mengkhianati ku, aku cemburu hingga kehilangan akal sehat ku."


"Mbak tidak perlu merasa bersalah, awal pernikahan kami memang tidak sehat. Aku terpaksa menikah dengan Elkan dan Elkan memanfaatkan aku untuk membalaskan rasa sakit di hatinya."


"Takdir sudah membawa kita kepada pria yang tidak kita inginkan, tapi percayalah bahwa Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuk kita. Aku dan Elkan sudah memiliki anak, aku harap Mbak bisa menerima kenyataan ini. Aku juga berharap Mbak bisa memulai hidup yang baru bersama Reynold. Dia sangat mencintai Mbak, kita semua sekarang sudah menjadi satu keluarga." ucap Yuna panjang lebar.


"Iya, kamu benar. Kamu tidak perlu takut, aku tidak punya perasaan apa-apa lagi pada Elkan, dia lebih pantas bersamamu. Aku sekarang sudah bahagia bersama kakakmu, aku menyayanginya." ungkap Laura.


"Mbak yakin?" Yuna mencoba memastikan.


"Iya, aku sangat yakin. Aku dan kakakmu sudah menikah, aku sangat nyaman bersamanya. Hanya dia yang aku inginkan." terang Laura.


Mendengar itu, seringai tipis melengkung di sudut bibir Yuna. Tentu saja dia sangat bahagia mendengar pengakuan Laura itu. Selain Elkan sudah aman bersamanya, Yuna juga senang karena Reynold sudah mendapatkan hati Laura.


"Makasih ya Mbak," Yuna beranjak dari duduknya dan memeluk Laura dengan erat.


"Jangan panggil Mbak lagi, panggil Laura saja!" timpal Laura sambil membalas pelukan Yuna. Keduanya saling tersenyum penuh kebahagiaan.


Memang seharusnya begitu kan? Tidak ada gunanya berlarut-larut dengan masa lalu, sekarang keduanya sudah memiliki kehidupan masing-masing dan berada di dalam satu keluarga. Sudah saatnya menatap masa depan dan mengubur masa lalu sedalam-dalamnya.


"Kita ke depan yuk! Aku mau nyusuin si kembar dulu, mereka pasti haus." ajak Yuna.


"Kamu duluan saja, tolong bilangin sama Reynold kalau aku memintanya ke sini!" jawab Laura.


"Tidak usah, biar aku saja yang bantuin! Kamu sudah bisa jalan kan?" tanya Yuna.


"Bisa kalau dipegangi," jawab Laura.


"Sini, biar aku bantu!" Reni ikut menimpali dan menghampiri keduanya.


Yuna dan Reni membantu Laura berdiri dan melingkarkan tangan mereka di setiap sisi pinggang Laura, Laura pun mengalungkan tangannya di pundak Yuna dan Reni. Ketiganya melangkah perlahan menuju ruang tengah.


Dari jarak beberapa meter dari sofa, Reynold sudah melihat kedatangan istrinya dan kedua wanita cantik yang tengah memapahnya. Reynold langsung berdiri dan segera menyusul mereka.

__ADS_1


"Kenapa malah berjalan? Harusnya panggil Mas saja, biar Mas gendong!" tanya Reynold sembari mengambil alih istrinya dari tangan Yuna dan Reni.


"Tidak apa-apa Mas, kalau digendong terus kapan bisa jalannya?" jawab Laura.


"Iya ih, lebay banget." timpal Yuna mencibir.


"Hust... Ikut campur saja," geram Reynold sembari menjitak kening Yuna.


"Aww... Sakit Rey," Yuna mengerucutkan bibirnya sambil mengelus keningnya dengan pelan. "Dasar tidak tau terima kasih!" Yuna menajamkan tatapannya.


Setelah mengatakan itu, Yuna mengayunkan langkah besar menuju sofa dan menghempaskan bokongnya tepat disamping Elkan dengan wajah cemberut nya. Hal itu membuat Elkan bingung sambil mengerutkan keningnya.


"Ada apa sayang? Datang-datang kenapa mukanya kusut begini?" tanya Elkan.


"Reynold jahat," Yuna melingkarkan tangannya di lengan Elkan dan merebahkan kepalanya di sana.


"Jahat kenapa?" Elkan bertanya lagi.


"Yuna dan Reni sudah bantuin Laura jalan sampai sini. Bukannya berterima kasih, kepala Yuna malah dijitak olehnya. Kurang ajar kan?" Bibir Yuna semakin maju beberapa senti.


Elkan ingin sekali tertawa melihat ekspresi istrinya itu, tapi dia tahan agar Yuna tidak ikut menyalahkannya.


Elkan kemudian memutar lehernya ke arah Reynold yang sudah duduk di hadapan mereka. "Rey, awas kau ya! Berani sekali kau menjitak kepala istriku, tidak akan aku ampuni kau nanti!" Elkan mengedipkan sebelah matanya.


"Kau pikir aku takut padamu, duel saja kalau begitu!" tantang Reynold.


"Oke, siapa takut?" sahut Elkan.


"Ide yang bagus, biar aku yang jadi wasitnya." timpal Beno.


"Wasit, wasit. Kalau begitu kamu saja yang duel sama Reynold, aku tidak mau suamiku terluka." ketus Yuna.


"Aku juga tidak mau," selang Reni yang juga tidak ingin suaminya terluka.


"Hahahaha... Dasar suami takut istri!" ledek Reynold mencibir.


"Mas..." Laura melirik suaminya itu sambil mengedipkan mata. Nyali Reynold langsung menciut dibuatnya.

__ADS_1


"Hahahaha... Pakai acara ngatain orang segala, kau sendiri juga takut sama istrimu." ejek Elkan dan Beno bersamaan. Gelak tawa pecah mengisi seisi rumah.


Bersambung...


__ADS_2