
Gelap berganti terang, matahari mulai muncul menyinari seisi alam. Pelan-pelan mata Yuna terbuka saat pantulan sinar mentari menembus sela-sela jendela kamar.
Yuna menarik selimut hingga menutupi keseluruhan wajahnya, entah kenapa pagi ini rasanya mager sekali untuk bangun. Dia malah menyelinap ke dalam pelukan Elkan dan menyembunyikan wajahnya di belahan ketiak suaminya.
Sontak saja Elkan terbangun saat merasakan geli di area sensitif nya itu.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Geli tau,"
Elkan mendorong kepala Yuna agar menjauh dari ketiaknya, sayangnya Yuna salah menanggapi.
Yuna langsung berbalik dan memunggungi Elkan dengan air muka mengandung kekecewaan.
"Sayang, kok malah berbalik sih. Maksud Abang bukan begitu," Elkan mencoba menjelaskan, namun Yuna malah menutupi telinganya dengan bantal.
"Huhuhuuuu..."
"Loh, kok malah nangis sih? Ayo sini, peluk Abang lagi!" bujuk Elkan sambil meraih pundak Yuna.
"Gak mau, huhuhuuuu..."
"Ya ampun sayang, gitu aja kok marah sih? Tadi itu geli, bukannya gak boleh meluk." jelas Elkan.
Elkan mengikis jarak diantara mereka dan menarik pundak Yuna hingga berbalik dan saling berhadapan, lalu membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya.
"Bodoh ih, masa' gitu aja marah." Elkan mendekap Yuna dengan erat dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Kenapa didorong? Kalau gak boleh meluk bilang aja!" keluh Yuna dengan bibir mengerucut.
"Hehe... Maaf sayang, bukannya gak boleh meluk tapi geli. Suami lagi tidur juga," jawab Elkan enteng.
"Ya udah, lain kali aku gak akan peluk-peluk lagi. Aku juga gak akan sentuh-sentuh lagi, juga-"
"Umm..."
Kesal mendengar celotehan Yuna yang tidak jelas itu, Elkan pun membungkam mulut Yuna dan menggigitnya hingga memerah. "Awas ngomong gitu lagi! Gak hanya Abang gigit, tapi Abang kunyah sampai habis."
"Nanggung, kenapa gak dibunuh aja sekalian?" gerutu Yuna sambil memegangi bibirnya.
__ADS_1
"Gak lah, masa' istri sendiri dibunuh. Ntar gak ada lagi yang nemenin Abang tidur," Elkan mempererat pelukannya.
"Tinggal cari yang baru, apa susahnya?" ucap Yuna.
"Apaan sih sayang? Abang gak mau yang lain, Abang cuma mau Yuna seorang." balas Elkan.
"Huh, sekarang berani bilang gitu. Dulu katanya aku murahan dan gak akan pernah tertarik sama aku."
"Hust... Ngomong apa sih? Yang lalu biar berlalu, jangan diungkit lagi! Anggap aja dulu Abang gak waras, yang penting sekarang semuanya udah berubah." sela Elkan.
"Berubah sih berubah, tapi tetap aja hinaan itu masih terngiang-ngiang di telinga. Murahan dari mana nya, bersentuhan sama laki-laki aja gak pernah." omel Yuna dengan air muka masam.
"Iya, Abang tau. Kan Abang yang nyentuh Yuna pertama kali, bahkan hingga detik ini. Maafin Abang ya, Abang janji gak akan kasar lagi sama Yuna. Abang sayang, Abang cinta sama Yuna." jelas Elkan.
"Hmm..."
Yuna tak menyahut lagi, dia hanya bergumam sambil memejamkan mata di dalam dekapan suaminya.
Dulu pernikahan mereka memang diawali dengan sebuah perjanjian, tapi hati manusia tidak ada yang tau. Tuhan yang berkuasa membolak-balikkan hati seseorang.
Elkan sendiri tidak pernah menyangka kalau hatinya akan terpaut pada Yuna. Wanita biasa yang hanya tamatan SMA, namun berhasil menjadi salah satu selebgram terfavorit di tanah air.
Apalagi kini namanya semakin dikenal setelah pernikahannya terungkap di depan publik. Beberapa televisi swasta, radio, bahkan media cetak tengah heboh membicarakan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 9 pagi, Yuna dan Elkan sudah turun ke bawah menggendong si kembar yang kini sudah semakin aktif dan lincah. Apalagi Elga yang tak henti meracau hingga bibir mungilnya selalu basah seperti buah ceri.
Berhubung weekend jadi hari ini Elkan tidak kemana-mana, lagian Beno sudah menghubungi pihak dekorasi untuk menghias rumah. Beno juga sudah menghubungi pihak katering, tak lupa pula Beno memesan nasi kotak dan beberapa bingkisan yang nantinya akan dibagikan kepada beberapa orang anak yatim dan fakir miskin yang sengaja diundang untuk acara syukuran si kembar. Sedangkan malamnya khusus untuk menjamu tamu penting mereka.
Usai sarapan bersama, Amit dan Sari sudah meninggalkan rumah. Seperti biasa, mereka diantar oleh Pak Zul yang ditugaskan untuk mengantar jemput keduanya setiap hari.
Dua pasang suami istri itu duduk di ruang keluarga, Yuna dan Reni asik bermain dengan si kembar sementara Elkan dan Beno asik mengisi amplop yang nantinya akan dibagikan kepada anak yatim dan fakir miskin.
"Gak terasa umur si kembar udah dua bulan aja, begitu cepat waktu berlalu. Bahkan aku gak tau gimana rasanya hamil dan melahirkan. Momen yang seharusnya menjadi kebahagiaan tersendiri untuk seorang Ibu, aku malah gak merasakan itu sama sekali." lirih Yuna dengan mata berkaca.
Bukannya tidak bersyukur tapi Yuna merasa ada yang hilang dari hidupnya. Dia bahkan tidak tau bagaimana perkembangan si kembar saat itu, dia juga tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mengidam.
__ADS_1
Elkan yang mendengar itu langsung meninggalkan pekerjaannya dan beranjak dari duduknya. Reni pun segera menghindar dan memberi ruang agar Elkan bisa duduk di samping Yuna.
"Jangan sedih, semua ini sudah kehendakNya. Tunggu si kembar besar dulu, nanti kita buat lagi biar kamu bisa merasakan jadi Ibu yang sesungguhnya." ucap Elkan sambil mengusap kepala Yuna.
"Ibu yang sesungguhnya?" Beno menimpali. "Emangnya sekarang istrimu bukan Ibu beneran? Ibu ibuan apa Ibu mainan?" seloroh Beno mencairkan suasana.
"Hahahaha..."
Seketika suara gelak tawa menggelegar di ruangan itu. Yuna yang tadinya lesu tiba-tiba kembali bersemangat setelah mendengar guyonan Beno barusan.
"Besok-besok kalau mau hamil jangan dalam keadaan koma lagi ya! Sungguh merepotkan," imbuh Beno.
"Merepotkan?" Yuna mengulangi kata itu dengan air muka penuh tanda tanya.
"Iya, sangat merepotkan. Istri yang hamil tapi malah suaminya yang ngidam. Permintaannya aneh-aneh," ungkap Beno.
"Hah...?" Yuna menautkan alisnya.
"Asal kamu tau aja, gara-gara suami tercintamu itu minta mangga muda, aku sampai celaka tiga kali berturut-turut."
Beno menjeda ucapannya dan mengarahkan pandangannya ke atas. Dia mengingat kembali bagaimana sengsaranya dia saat mencarikan mangga muda untuk Elkan saat itu.
"Pertama, aku dikerjai habis-habisan sama bocah ingusan. Lima biji buah mangga dihargai dua ratus ribu. Gila gak tuh, beli yang matang aja dapat sepuluh kilo." Beno menghela nafas berat.
"Kedua, aku disuruh manjat pagar. Sialnya, ternyata ada anjing di rumah itu. Untung aja anjingnya diikat dengan rantai, kalau gak... Kalian pasti bisa menebak endingnya gimana." Beno mengusap wajahnya berkali-kali.
"Dan sialnya lagi, saat keluar dari pagar aku malah nyungsep ke dalam got. Duluan kepala pula lagi tuh. Hueek... Menjijikkan sekali," Beno sampai mual mengingat kejadian itu.
"Hahahaha..."
Elkan, Yuna dan Reni malah tertawa berjamaah mendengar pengakuan Beno barusan.
"Jangan ketawa!" ketus Beno kesal.
"Hahaha... Lucu tau Mas, gimana gak ketawa?" sela Reni yang masih setia melanjutkan tawanya.
Sementara Elkan dan Yuna sudah terpingkal-pingkal sembari memegangi perut mereka. Yuna bahkan sampai kencing di celana saking tak kuat menahan geli yang menggelitik di perutnya.
__ADS_1
Bersambung...