
**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam
Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**
**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya
Happy Reading**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian kantor, Elkan duduk di sisi ranjang menunggu Yuna yang masih berada di kamar mandi.
Kali ini dia sungguh bahagia karena Yuna sudah kembali ke sisinya. Perasaan yang selama ini kosong, kini tengah berbunga-bunga layaknya ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.
Tidak lama, Yuna keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terurai panjang. Elkan yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya kasar.
Kian hari hatinya semakin mengecut melihat istrinya, dia baru menyadari bahwa Yuna lebih cantik dari dugaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Jangan melihatku seperti itu!" seru Yuna tersipu malu, kemudian duduk di depan cermin menghias diri.
Elkan bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Yuna, lalu tersenyum sembari berdiri di belakang istrinya. Pantulan tubuh keduanya terpampang jelas di depan kaca.
Elkan membungkukkan tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher Yuna, lalu mengecup ujung kepala Yuna yang masih basah. Aroma shampoo yang dipakai Yuna membuat Elkan lemah tak berdaya.
"Lepasin aku Elkan! Gimana cara bergerak kalau kamu seperti ini?" pinta Yuna sembari menatap Elkan dari pantulan cermin.
"Gak usah bergerak! Lagian untuk apa berdandan? Seperti ini aja udah cantik," sanjung Elkan dengan tatapan tak biasa.
"Gombal," Yuna mengulum senyumannya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Siapa yang gombal? Kamu emang cantik, aku aja yang terlambat menyadarinya." ungkap Elkan, kemudian menarik hidung Yuna saking gemasnya.
Melihat sikap Elkan yang seperti ini, Yuna tak henti menebar senyum. Dia merasa dihargai sebagai seorang istri, berbeda dengan sebelumnya yang selalu mendapatkan makian dan hinaan yang menyayat hati.
Yuna sadar, ini bukan salah Elkan sepenuhnya. Mungkin trauma yang dialami Elkan di masa lalu begitu menyakitkan. Sebab itulah Elkan tak bisa melihatnya dari sisi yang positif.
"Hari ini ikut aku ke kantor ya!" ajak Elkan.
Yuna menautkan alisnya. "Untuk apa?"
"Gak usah banyak nanya, ikut aja!" tegas Elkan, kemudian mengacak rambut Yuna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pukul 8 pagi, Elkan dan Yuna keluar dari kamar. Keduanya nampak rapi dengan pakaian yang melekat di tubuh masing-masing.
Setibanya di meja makan, Elkan menarik kursi untuk Yuna. Setelah keduanya duduk, mereka mulai mencicipi makanan yang sudah terhidang di atas meja.
"Pagi Tuan, pagi Nyonya. Senang melihat Nyonya kembali ke rumah ini." sapa Diah sembari tersenyum, lalu meletakkan secangkir kopi di hadapan Elkan.
"Pagi juga Diah, terima kasih. Mungkin sudah takdirku berada di rumah ini." sahut Yuna sembari membalas senyuman Diah.
"Nyonya jangan pergi lagi ya! Rumah ini terasa sepi tanpa Nyonya," pinta Diah.
"Semua itu tergantung pemilik rumah, aku di sini hanya tamu." sahut Yuna, kemudian menoleh ke arah Elkan.
Mendengar itu, mata Elkan tiba-tiba memerah, menyala bak bara api.
"Diah, apa kau sudah bosan bekerja di sini?" tanya Elkan memotong pembicaraan mereka.
"Ti_tidak Tuan, aku permisi dulu!" sahut Diah terbata, kemudian beranjak dari ruang makan.
Setelah Diah menghilang, keduanya kembali melanjutkan makan. Seketika, mata Elkan membulat menatap Yuna yang tengah asik mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Jadi, kamu masih merasa sebagai tamu di rumah ini?" tanya Elkan sembari mengacak makanan yang ada di piringnya.
"Makan aja! Untuk apa membahas itu?" sahut Yuna dengan santainya.
"Kenapa marah? Bukankah kenyataannya seperti itu?" tanya Yuna sembari menautkan alisnya.
Jawaban Yuna barusan membuat darah Elkan mendidih seketika, bagaimana mungkin Yuna bisa berkata seperti itu di hadapannya.
Elkan menghentikan suapannya. Setelah meneguk segelas air mineral, dia bangkit dari duduknya dan menggenggam tangan Yuna, lalu menariknya menaiki anak tangga.
"Elkan, lepasin aku! Sakit," rengek Yuna sembari menarik tangannya.
Elkan tak mengindahkan permintaan Yuna, dia terus saja berjalan dengan wajah masam menyimpan kekecewaan.
Sesampainya di kamar, Elkan segera mengunci pintu, lalu membopong tubuh Yuna dan menjatuhkannya di atas kasur.
Melihat wajah beringas Elkan, Yuna mulai ketakutan. Entah apa yang akan Elkan lakukan padanya.
"Elkan, apa yang kamu lakukan?" gumam Yuna sembari beringsut menjauhkan diri.
Mata elang Elkan menyala tajam. Sepertinya emosi Elkan sedang memuncak. Dia melepaskan jas yang melekat di tubuhnya, lalu membuangnya ke sembarang tempat.
Kini dada Elkan sudah polos tanpa sehelai benang pun, yang tersisa hanyalah celana panjang yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Yuna semakin ketakutan saat Elkan merangkak naik mengukung tubuhnya. Dadanya berdegup kencang bak gemuruh petir. Deru nafasnya terdengar memburu menatap wajah Elkan yang semakin dekat dengan bibirnya.
"Elkan...,"
Belum sempat Yuna melanjutkan ucapannya, Elkan sudah lebih dulu melahap habis bibir istrinya tanpa ampun.
Yuna hanya bisa memejamkan matanya, sentuhan lembut Elkan membuatnya tak berdaya untuk menolak.
Yuna mengalungkan tangannya di leher Elkan, lalu membalas setiap sentuhan yang dilayangkan suaminya itu. Tidak hanya saling melu*mat, kini keduanya tengah asik membelit lidah dan masuk semakin dalam.
Sadar akan reaksi Yuna yang seakan memberi lampu hijau, Elkan mulai menggerakkan tangannya pada permukaan dada Yuna yang menjulang tinggi. Benda kenyal itu membuat Elkan semakin kehilangan kendali.
Seketika, tubuh Yuna bergetar hebat bak disengat aliran listrik. Dadanya berdegup kencang secepat kilat menyambar. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, sentuhan Elkan membuatnya serasa melayang bak di atas awan.
"Akhh," Lenguhan manja Yuna mengalun merdu di telinga Elkan, hal itu membuat li*bi*do Elkan kian memuncak. Bahkan pusaka keramat miliknya seketika menegang di bawah sana.
Elkan membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Yuna. Sesaat, detak jantungnya seakan terhenti menatap 2 balon kenyal yang menjulang tinggi di depan matanya.
Yuna tak membuka matanya sedikitpun, deru nafasnya kian berpacu dengan detak jantung yang sudah tak beraturan, seakan sudah pasrah dengan apa yang ingin Elkan lakukan padanya.
Melihat istrinya yang begitu, Elkan mengecup kening Yuna dengan sayang, lalu menenggelamkan wajahnya di leher Yuna.
"Maafkan aku, aku tidak sanggup menahan diri. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Apa aku salah?" gumam Elkan dengan suara bergetar, bahkan sekujur tubuhnya ikut bergetar menahan syah*wat yang sudah di ujung tanduk.
Mendengar itu, seulas senyum terpahat indah di wajah Yuna. Dia meremas rambut Elkan dan menekannya dengan kuat. Dia sendiri juga sudah terlanjur terbawa dengan permainan lembut suaminya.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! Aku tak punya alasan lagi untuk menolak," ucap Yuna memberi lampu hijau kepada suaminya.
Elkan mengangkat kepalanya, dadanya berdenyut ngilu mendengar jawaban Yuna barusan.
"Apa kamu yakin?" tanya Elkan memastikan, dia tidak ingin memaksakan diri jika Yuna belum siap menerimanya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Yuna balik, tatapannya nampak sendu menatap lekat wajah Elkan.
"Kenapa masih bertanya? Aku tidak akan berani menyentuh wanita manapun, kecuali wanita yang sangat aku cintai." jelas Elkan dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Apa itu artinya akulah wanita pertama yang kamu sentuh?" tanya Yuna ingin tau. Jika benar, berarti keduanya sangat beruntung karena sama-sama masih bersegel.
"Ya, kamu benar. Tubuh ini masih bersih, kamulah wanita pertama yang melihatnya dan menyentuhnya. Kenapa? Apa kamu meragukan ku?" tanya Elkan sembari menautkan alisnya.
"Tidak, aku percaya padamu." Yuna mengukir senyum di wajahnya, lalu mengalungkan tangannya di leher Elkan, dia melu*mat bibir suaminya penuh kelembutan.
Elkan tak tinggal diam, dia membalas setiap aksi yang dilayangkan Yuna. Pagutan keduanya semakin memanas, bahkan deru nafas keduanya terdengar sahut menyahut memenuhi seisi kamar.
__ADS_1
Bersambung...