
Keesokan harinya Reni sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Karena dia melahirkan secara normal jadi tak butuh waktu lama dirawat di rumah sakit.
"Selamat datang Mama Reni dan adik tampan," seru Yuna yang sangat antusias menyambut kedatangan Reni dan bayinya.
Nampak Beno tengah memapah Reni memasuki rumah, sedangkan baby boy mereka ada di gendongan Diah. Tadi pagi Diah dan Pak Zul sengaja menjemput mereka ke rumah sakit.
"Makasih Mama Yuna, Elga, Edgar." sahut Reni yang masih terlihat sangat lemah.
"Cie, akhirnya ponakan Aunty pulang juga." sorak Sari tak kalah antusiasnya dari Yuna. Sejak kemarin dia belum sempat melihat Reni dan keponakannya karena harus menjaga si kembar di rumah.
"Jangan teriak-teriak Sari, nanti baby nya kaget!" ujar Reni.
"Hehehe... Maaf Kak, habisnya terlalu senang." Sari tertawa kecil.
Setelah Beno mendudukkan Reni di sofa, dia meluruskan kaki istrinya itu agar tidak terjuntai di lantai. Dia kemudian mengambil putranya dari gendongan Diah. "Makasih ya Diah," ucap Beno setelah mengambil alih putranya.
Putra tampan itu diberi nama Bertrand. Beno masih ragu mau memberi nama belakang sesuai namanya atau nama Bramasta. Nanti saja dia pikirkan lagi, dia juga belum sempat komunikasi dengan Elkan.
"Wah, cucu Oma sudah pulang? Oma boleh gendong gak?" sapa Elena yang baru saja keluar dari kamar, dia kemudian duduk di samping Reni.
"Boleh Oma," sahut Beno. Dia memberikan putranya ke tangan Elena.
"Aduh, tampan sekali cucu Oma. Mirip Papa ya," ujar Elena sesaat setelah Bertrand berada di gendongannya.
"Kenapa banyak banget yang bilang mirip Mas Beno sih Ma, lalu aku cuma dapat capeknya doang. Gak adil banget sih," keluh Reni dengan bibir mengerucut.
"Hahaha... Kebanyakan memang gitu Reni, anak laki-laki itu lebih dominan menyalin wajah ayahnya." Elena terkekeh mendengar penuturan Reni.
"Tapi kan gak adil Ma, enak banget jadi Mas Beno." Reni lagi-lagi mengerucutkan bibir.
"Sabar, bikin saja satu lagi. Kalau perempuan siapa tau mirip kamu," seloroh Elena.
"Mama apaan sih, baru juga lahiran. Masa' bikin lagi," sahut Reni.
"Hehehehe... Sudahlah, terima nasib saja!" timpal Yuna menertawakan kebagongan Reni.
...****************...
Hari demi hari berjalan dengan indah tanpa ada lagi kewaspadaan di hati Elkan terhadap Elena. Wanita itu benar-benar menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Dia tidak pernah menuntut apa-apa atas aset yang dimiliki Elkan saat ini, dia juga memperlihatkan kasih sayangnya terhadap semua anggota keluarga.
Sementara Edward sendiri sekarang sudah diberi kepercayaan oleh Elkan untuk mengelola perusahaan. Bagaimanapun Edward juga mempunyai hak yang sama seperti dirinya. Perusahaan juga berjalan baik sejak Edward ikut bergabung.
Kini Elkan sudah jarang ke perusahaan, kecuali jika ada hal penting yang mengharuskan dirinya untuk datang. Elkan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan membantu Yuna mengurusi si kembar.
Apalagi sekarang Yuna sudah kembali aktif di media sosial miliknya. Hampir setiap hari dia mempromosikan produk BMS Beauty Glow dan membuat lapak sendiri. Yuna juga memiliki karyawan yang bertugas sebagai admin dan bagian packing. Dari sana Yuna mendapatkan keuntungan sendiri dan uangnya dia tabung buat jaga-jaga.
Satu bulan kemudian, Laura menyusul Reni. Dia melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Resha Azzura. Bayi mungil itu lahir dengan bobot 3,5 kg yang dilahirkan secara normal.
__ADS_1
Cinta Reynold dan Laura semakin terikat kuat karena kehadiran bayi cantik itu. Reynold juga semakin bersemangat mengelola bisnisnya yang sekarang sudah berkembang dengan pesat.
Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Aditama yang sudah semakin menua.
Aditama turut senang melihat kedua anaknya yang sudah bahagia bersama pasangan mereka masing-masing. Apalagi sekarang dia sudah menjadi kakek dari empat cucu yang sangat manis dan menggemaskan.
Satu hari setelah Laura pulang dari rumah sakit, Yuna dan anggota keluarga lain berkunjung ke kediaman Aditama. Semua anggota keluarga berkumpul tanpa terkecuali, termasuk Elena dan Edward.
Malam itu semua menginap di kediaman Aditama. Sekarang dua rumah itu sudah menjadi keluarga besar yang harmonis.
Setelah makan malam selesai, mereka semua berkumpul di ruang tengah. Karena sofa tidak cukup untuk diduduki, Yuna menggelar permadani di lantai. Ada yang duduk di sofa, ada juga yang memilih selonjoran di lantai.
Berbeda dengan Sari dan Amit yang tengah asik bermain dengan si kembar di taman depan rumah, di sana ada ayunan besi tempat bersantai.
Karena Edward merasa suntuk di dalam rumah, dia ikut keluar dan izin bergabung bersama Sari, Amit dan si kembar yang kini sangat aktif hingga membuat Sari dan Amit kewalahan.
Di dalam sana, Yuna berbaring di kaki Elkan yang tengah selonjoran di lantai. Di sampingnya ada beberapa cemilan yang tadi sengaja mereka beli di supermarket. Sementara Beno dan Reni duduk tak jauh dari mereka, ada Bertrand juga di pangkuan Beno.
Di sofa sana ada Laura yang duduk dengan posisi selonjoran, nampak baby cantik itu tengah terlelap di pangkuan Laura. Reynold duduk di sampingnya bersama Aditama dan Elena.
"Huweeek..."
Semua orang terperanjat dan menoleh ke arah Yuna.
"Ma-Maaf..." lirih Yuna.
"Huweeek... Huweeek..."
Yuna merasa sesak hingga matanya memerah dan berair.
"Kenapa sayang?" Elkan menepuk-nepuk punggung Yuna pelan.
"Pahit Bang," lirih Yuna dengan tatapan nanar. Tidak hanya mengeluarkan makanan yang dia makan, Yuna juga mengeluarkan cairan kuning dari perutnya. Rasanya sangat pahit.
Seketika Elkan bergeming sejenak, ada sesuatu yang tengah menari di pikirannya.
"Apa Yuna ndung?" tanya Elkan antusias, dia ingat beberapa bulan ini tak pernah puasa menyosor istrinya.
"Ndung apaan sih Bang? Bicara yang jelas!" sahut Yuna.
"Maksud Abang..." Elkan mengusap perut rata Yuna dengan lembut. "Apa Yuna hamil? Yuna sudah tidak KB kan? Terus sejak lepas KB Yuna juga tidak pernah haid. Apa itu artinya...?"
"Apaan sih Bang? Mana mungkin Yuna hamil?" sanggah Yuna.
"Kenapa tidak mungkin? Orang tiap malam gelayutan mulu di pisang Abang." terang Elkan.
"Masa' sih?" Yuna menautkan alis.
__ADS_1
"Jangan bilang Yuna amnesia!" kesal Elkan.
"Hihihihi... Bisa jadi," Yuna tertawa kecil.
Setelah Yuna enakan, Elkan membantu istrinya itu berjalan ke ruang tengah.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Aditama.
"Tidak apa-apa Ayah, mungkin masuk angin." jawab Yuna.
"Masa' masuk angin sampai segitunya, jangan-jangan..." Elena menghentikan ucapannya.
"Hamil mungkin Ma, Reni awalnya juga gitu." timpal Reni.
"Iya, Mama pikir juga gitu." sahut Elena.
"Apaan sih Reni, Ma, mana mungkin-"
"Yuna, tes saja dulu. Aku masih ada tespek di kamar. Mas, tolong ambilkan ya di laci." Laura ikut menimpali dan meminta Reynold mengambilnya.
Reynold mengangguk dan meninggalkan ruang tengah. Lima menit kemudian dia kembali dan memberikan tespek itu pada Yuna.
"Ini, tes saja dari pada main tebak-tebakan!" ucap Reynold.
"Tapi Rey-"
"Sudah sayang, tes saja!" Elkan yang penasaran langsung mengangkat Yuna ke gendongannya. Semua orang tertawa melihat itu.
Sesampainya di kamar mandi, Elkan menurunkan Yuna dan mengambil wadah kecil. Yuna kemudian menampung air seni nya dan memberikan wadah itu pada Elkan. Elkan sendiri yang mencelupkan alat tes kehamilan itu ke dalam wadah.
Dengan jantung yang berdetak tak menentu, Elkan menghela nafas berat sesekali. Dia memeluk Yuna dari belakang dan menatapnya dari pantulan cermin.
"Positif please, ayo garis dua!" gumam Elkan penuh harap.
"Bang, jangan terlalu berharap! Nanti-"
Seketika ucapan Yuna terhenti saat samar-samar tespek itu memperlihatkan garis dua.
"Yes," Elkan mengangkat tinju dan memeluk Yuna dengan sangat erat.
Kemudian Elkan membalikkan tubuh Yuna dan mengangkatnya, lalu mendudukkannya di sisi wastafel.
"Terima kasih sayang. Mmuach... Mmuach... Mmuach..."
Elkan menciumi Yuna dengan membabi buta, tak terbilang betapa bahagianya dia saat ini. Akhirnya keinginan untuk memiliki banyak anak tercapai juga. Beruntung sekali dia memiliki Yuna walau pada awalnya pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian semata.
TAMAT...
__ADS_1