Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 150.


__ADS_3

Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian, Elkan meminta Yuna membuatkan kopi untuknya. Yuna menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar pribadi suaminya itu.


Saat Yuna melewati meja kerja Amit, dia tersenyum dan melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan. Amit menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, otaknya dibuat travelling kemana-mana saat melihat rambut basah Yuna yang terurai panjang.


"Ya ampun, otakku." Amit menepuk keningnya untuk menghilangkan pemikiran aneh yang berkeliaran di kepalanya. Bocah ingusan seperti dia mana boleh memikirkan hal itu.


Tidak lama, Yuna kembali dengan secangkir kopi yang baru saja dia seduh untuk Elkan. Dia melewati meja kerja Amit dan melenggang ke kamar pribadi suaminya.


"Ini kopinya," ucap Yuna, lalu menaruhnya di atas meja.


"Sini dulu sayang, duduk sama Abang!" pinta Elkan sambil menepuk pahanya.


Mau tidak mau Yuna terpaksa menurut dan duduk di atas pangkuan suaminya itu. Elkan melingkarkan tangannya di perut Yuna dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk istrinya itu.


"Abang kenapa sih sebenernya? Apa yang Abang pikirkan?" tanya Yuna membuka pembicaraan. Dia mengalungkan tangannya di leher Elkan dan menatap mata suaminya itu dengan intim.


"Tidak apa-apa, sayang." jawab Elkan.


"Jangan bohong, ayo cerita sama Yuna!" desak Yuna menuntut kejujuran.


Elkan menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Tidak apa-apa sayang, Abang hanya pusing memikirkan kerjaan yang menumpuk."


"Bohong..." timpal Yuna dengan tatapan tajam.


"Hehehe... Maksa banget sih, sayang." Elkan tertawa kecil dan mengecup pipi Yuna. "Abang lagi mikirin wanita itu, ternyata kejadian malam itu adalah ulahnya. Tadi Abang mendatangi perusahaannya bersama Amit, dia meminta bagian di perusahaan. Mana Abang mau,"


Yuna menautkan alis hingga membuat matanya menyipit. "Maksud Abang wanita yang mengaku Ibu itu?"


"Iya, Yuna benar." lirih Elkan.


"Katakanlah bahwa dia Ibu yang melahirkan Abang, tapi apakah seorang Ibu harus seperti itu pada anaknya? Setelah sekian lama tak bertemu, dia bukannya merindukan Abang tapi malah memikirkan soal harta. Ibu macam apa itu? Dia bahkan tidak berniat melihat wajah kedua cucunya, apa Abang salah jika Abang tidak menganggapnya sebagai seorang Ibu? Apa Abang anak durhaka?" imbuh Elkan dengan mata berkaca.


"Bang..." Yuna menarik tengkuk Elkan dan membawanya ke dalam dekapan dadanya. "Abang yang sabar ya, Yuna tau ini berat buat Abang tapi Abang harus kuat. Abang punya Yuna dan anak-anak, Abang tidak boleh lemah seperti ini!"

__ADS_1


Sejenak ucapan Yuna barusan membuat hati Elkan menjadi sedikit tenang, dia memeluk Yuna dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada istrinya itu.


"Abang cuma punya kalian, berjanjilah untuk tidak meninggalkan Abang sendirian!" lirih Elkan menitikkan air matanya.


"Abang ngomong apa sih? Mana mungkin Yuna dan anak-anak meninggalkan Abang? Apapun yang terjadi, Yuna akan tetap di sisi Abang asalkan Abang tidak selingkuh dari Yuna."


"Selingkuh?" Elkan mengulangi kata itu sambil mendongak dan menilik manik mata Yuna dengan intim. "Abang tidak mungkin melakukan itu, Abang sayang dan cinta sama Yuna. Yuna sudah sangat sempurna bagi Abang, tidak ada tempat lagi buat wanita lain."


"Kalau begitu Abang tidak boleh sedih lagi, anggap saja ini ujian agar Abang bisa lebih dewasa lagi dalam bersikap."


Yuna menangkup tangannya di pipi Elkan dan mengecup pipi suaminya itu dengan lembut.


"Satu lagi dong sayang, masa' cuma sebelah doang. Nanti pipi Abang bisa berat sebelah," seloroh Elkan sambil menyeringai.


"Hehehe... Alasan aja," Yuna kemudian mengecup pipi Elkan yang satunya lagi.


"Nah, gitu dong. Itu baru imbang," Elkan tertawa terbahak-bahak setelah berhasil mengerjai istri polosnya itu.


Setelah hatinya cukup tenang, Elkan meraih cangkir yang terletak di atas meja lalu menyuruh Yuna meminumnya. "Yuna minum duluan!"


"Minum aja!" desak Elkan sambil menyodorkan cangkir itu ke mulut Yuna. Mau tidak mau Yuna terpaksa meneguknya.


Elkan kemudian memutar cangkir itu dan menempelkan bekas bibir Yuna ke mulutnya. "Manis," ucap Elkan sambil tersenyum lebar.


Hal itu membuat Yuna tertawa geli. "Hahahaha... Ada-ada aja ih,"


Setelah Elkan menaruh cangkir itu di atas meja, Yuna merebahkan kepalanya di pundak Elkan dan memeluknya dengan erat.


"Love you," gumam Yuna penuh kebahagiaan.


"Love you to," jawab Elkan sembari membelai rambut panjang Yuna yang tergerai.


Di luar sana, Amit mulai bosan menunggu sepasang suami istri yang entah sedang apa di dalam sana. Dia kemudian meninggalkan ruangan itu dan menitipkan pesan kepada Andin bahwasanya dia akan pulang menggunakan taksi. Lagian sudah tidak ada lagi kerjaan yang harus dia selesaikan karena jam kantor sudah usai.

__ADS_1


Sementara di dalam sana Elkan dan Yuna masih asik bersenda gurau seperti ABG yang baru pertama kali melakukan kencan buta. Suara tawa keduanya pecah berkali-kali memenuhi seisi ruangan. Mereka bahkan sampai lupa bahwa hari sudah sore dan sudah waktunya untuk pulang.


"Sayang, kalau kita nambah anak lagi gimana? Biar rumah kita makin ramai, ditambah lagi nanti ada anaknya Beno. Pasti seru," seloroh Elkan yang masih setia memangku Yuna.


Yuna membulatkan matanya, lalu memelototi Elkan. "Jangan dulu Bang, Elga dan Edgar masih terlalu kecil. Yuna takut tidak bisa membagi waktu, kalau Yuna hamil nanti waktu Yuna akan berkurang untuk mereka."


Elkan memajukan bibirnya beberapa senti. "Kan bisa nambah baby sister, masing-masing mereka akan punya satu pengasuh."


"Bukan masalah pengasuh Bang, tapi ini lebih kepada kasih sayang. Biarkan mereka besar dulu, minimal satu tahun. Yuna tidak mau si kembar merasa terabaikan karena nantinya Yuna akan lebih fokus pada adik mereka."


"Hmm... Iya juga ya," Elkan manggut-manggut pertanda mengerti maksud ucapan istrinya itu. "Ya sudah, terserah Yuna saja kalau begitu." imbuh Elkan.


"Abang gak marah kan?" Yuna menatap manik mata Elkan dengan intim.


"Tidak sayang, kenapa harus marah? Abang tau Yuna sayang sama si kembar, Yuna pasti ingin yang terbaik buat mereka berdua." jelas Elkan.


Yuna menganggukkan kepalanya. Dia sebenarnya ingin sekali hamil untuk yang kedua kalinya agar bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu, tapi dia tidak boleh egois. Elga dan Edgar baru berusia empat bulan, keduanya masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian darinya.


"Pulang yuk Bang, dada Yuna nyeri banget nih!" Yuna meringis saat dadanya mulai membengkak.


"Kenapa sayang?" Elkan mengerutkan keningnya.


"Sakit Bang, ASI nya sudah penuh. Sudah waktunya si kembar buat menyusu." lirih Yuna sembari menyentuh dadanya yang mulai mengeras.


"Kalau sakit buka saja, biar Abang sedot!" ucap Elkan.


"Tapi Bang-"


"Tadi katanya sakit, ayo buka!" desak Elkan.


"Kalau dibuka nanti Abang minta lagi," keluh Yuna dengan bibir mengerucut.


"Itu mah resiko Yuna, siapa suruh begitu menggoda jadi istri?" Elkan tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Tuh kan, Yuna gak mau Bang. Masa' mandi lagi, pulang aja yuk!" ajak Yuna sambil bangkit dari duduknya dan menjauh dari Elkan. Kalau dituruti, Elkan tidak akan ada bosannya menjajah tubuh Yuna.


Bersambung...


__ADS_2