Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 56.


__ADS_3

Pagi hari, Aditama tiba di rumah sakit setelah mendapat kabar dari Elkan. Dia datang sendiri karena Reynold tengah berada di luar negeri. Dia juga tidak memberitahu Reynold tentang keadaan Yuna saat ini, takut keponakannya itu kepikiran hingga mengganggu pekerjaannya.


Sesaat setelah membuka pintu ruangan, air mata Aditama mengalir begitu saja. Sebagai seorang ayah, dia tentunya sangat terpukul melihat keadaan putrinya yang tengah sekarat di atas brankar. Bahkan begitu banyak alat medis yang terpasang di tubuh Yuna.


Meski berat, Aditama berusaha kuat mengayunkan kakinya. "Apa yang terjadi Nak? Kenapa jadi seperti ini?" lirih Aditama.


Elkan tersadar dan terbangun dari tidurnya. Semalaman dia tidak bisa tidur menjaga Yuna, takut kejadian tadi malam terulang lagi. Baru setelah subuh matanya terpejam dan kini sudah terbangun kembali.


"Ayah...," Elkan melepaskan tangannya yang masih setia menggenggam tangan Yuna, lalu dengan cepat bangkit dari duduknya.


Tanpa berpikir, Elkan langsung saja menekuk kakinya dan menumpukan lututnya di dasar lantai.


"Maafkan Elkan Yah, Elkan emang salah. Tidak ada sedikitpun niat Elkan untuk menyakiti Yuna. Semua terjadi begitu cepat, Elkan bahkan belum sempat menjelaskan apa-apa pada Yuna." lirih Elkan sembari menyentuh kaki Aditama. Dia bahkan sudah siap menerima kemarahan dan amukan dari mertuanya itu.


"Bangunlah!" pinta Aditama sembari menarik lengan Elkan. Marah, tentu saja iya. Tapi kemarahan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.


Elkan bangkit dan menundukkan pandangannya, tidak ada keberanian untuk menatap wajah Aditama sedikitpun.


"Jika kalian tidak bahagia dengan pernikahan ini, sebaiknya kembalikan saja Yuna pada Ayah! Ayah masih bisa membahagiakan dia, Ayah juga masih sanggup menjaga dia. Untuk apa bertahan jika akhirnya akan ada yang tersakiti?"


Tak terasa air mata Aditama kembali menetes menyaksikan raga putrinya yang terbaring lemah tak berdaya.


"Maafkan Elkan Yah, Elkan tau Ayah marah dan kecewa. Tapi Elkan sangat mencintai Yuna Yah, Elkan tidak bisa hidup tanpa Yuna. Semua ini terjadi hanya karena salah paham, Yuna terlalu dini mengambil kesimpulan." jelas Elkan.


"Begitulah wanita, hatinya terlalu lembut untuk disakiti. Kenapa tidak jujur saja sebelumnya? Untuk apa menyembunyikan kenyataan itu darinya? Beginilah akibatnya," ucap Aditama.


"Elkan benar-benar minta maaf Yah. Tolong beri Elkan kesempatan untuk menebus semuanya. Jangan ambil Yuna dari Elkan, Elkan mohon!" Elkan menekuk kakinya lagi di dasar lantai, lalu menangkup kedua tangannya memohon maaf.


"Sudahlah, ayo bangun! Semua keputusan ada pada Yuna, biarkan dia yang menentukan!" Aditama kembali menatap Yuna dengan sendu, berharap putrinya akan sadar secepatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terang berganti gelap, gelap pun berganti terang. Hari-hari, Elkan lalui di rumah sakit menemani Yuna yang sudah dinyatakan koma oleh dokter. Benturan yang cukup keras membuat otak Yuna tak bisa berfungsi dengan normal. Hanya keajaiban yang bisa mengembalikan segalanya.


Sementara itu, tanggung jawab perusahaan sudah Elkan limpahkan kepada Beno. Elkan tidak ingin memikirkan itu, baginya kesembuhan Yuna adalah hal paling penting.


Setiap 3 hari sekali, Beno datang membawakan pakaian bersih untuk Elkan. Sementara pakaian kotor, dibawanya lagi pulang ke rumah. Begitulah seterusnya.


Sedangkan untuk makan, Elkan memesannya di kantin rumah sakit. Setiap jam makan tiba, akan ada orang yang mengantarnya ke ruangan Yuna. Begitupun seterusnya.


Elkan tak pernah meninggalkan Yuna meski sedetik pun. Bahkan untuk keluar ruangan saja Elkan sangat jarang kecuali dalam keadaan mendesak.

__ADS_1


Elkan benar-benar mengurus istrinya dengan sabar. Mengelap dan mengganti pakaian Yuna setiap paginya. Bahkan dia juga yang membuang kantong kencing istrinya yang harus diganti setiap pagi.


Seiring berjalannya waktu, Elkan semakin menunjukkan rasa sayangnya terhadap Yuna, berharap bidadari cantik itu akan bangun secepatnya.


Untuk urusan Laura, Elkan sudah meminta Beno menyelesaikannya. Tidak ada tempat lagi di hati Elkan untuk wanita lain, meski kemungkinan Yuna akan sadar sangatlah kecil. Namun Elkan yakin Yuna akan kembali padanya, tidak peduli berapa lama Elkan harus menunggu.


Hari ini tepat 3 bulan Yuna terbaring dalam komanya, selama itu pula Elkan tak pernah meninggalkannya.


"Permisi Pak Elkan, Dokter Adi meminta Anda untuk datang ke ruangannya." ucap Suster Siska yang baru saja masuk untuk memeriksa keadaan Yuna.


"Baik Sus, bisakah Anda menunggu istri saya sebentar?" jawab Elkan.


"Dengan senang hati," balas Suster Siska.


Sebelum meninggalkan ruangan, Elkan mengecup kening Yuna dengan sayang. Kemudian berlalu menuju ruangan Dokter Adi yang bertugas menangani Yuna.


"Tok Tok Tok"


Elkan mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam sana, Elkan pun mendorong pintu hingga terbuka lebar.


"Permisi Dok, apa Anda memanggil saya?" tanya Elkan yang masih berdiri di ambang pintu.


"Iya, masuklah!" jawab Dokter Adi, ada Dokter Cindy juga yang duduk di hadapannya.


"Ada apa ya Dok?" tanya Elkan penasaran.


"Hehe, jangan tegang begitu! Apa Anda mau minum dulu biar rileks?" seloroh Dokter Adi mencairkan suasana.


"Tidak usah Dok, terima kasih." sahut Elkan menolak dengan sopan.


Dokter Adi memperbaiki posisi duduknya, menarik kursi yang dia duduki dan melipat tangannya di atas meja.


"Sebenarnya ini di luar nalar kami sebagai dokter. Setelah tadi pagi saya memeriksa istri Anda, saya menemukan sedikit kejanggalan di tubuh pasien." jelas Dokter Adi.


"Kejanggalan bagaimana? Istri saya baik-baik saja kan Dok?" Mata Elkan membulat sempurna, takut yang akan dikatakan Dokter Adi adalah kabar buruk.


"Begini, saya menemukan detak jantung lain di tubuh istri Anda." ungkap Dokter Adi.


"Maksud Dokter?" Elkan mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Menurut dugaan saya, istri Anda tengah mengandung. Jadi untuk itulah saya memanggil Dokter Cindy kemari. Beliau adalah Dokter Kandungan. Jika dugaan saya benar, maka Dokter Cindy bisa memeriksa keadaan pasien secara menyeluruh."

__ADS_1


"Deg!"


Mendadak jantung Elkan berdegup kencang secepat kilat menyambar. Percaya, tapi tidak yakin. Tidak percaya, tapi begitulah penilaian dokter. Apa benar Yuna tengah mengandung? Apa bisa sebongkah janin tumbuh di dalam perut wanita yang masih terbaring koma?


"Jangan kaget begitu! Ini memang terdengar sedikit aneh, tapi ini adalah mukjizat yang diberikan Tuhan untuk Anda. Bisa jadi janin inilah yang membuat istri Anda bertahan hingga detik ini." imbuh Dokter Adi.


"Apa ini mungkin Dok?" Elkan masih tidak percaya akan hal ini.


"Untuk memastikan itu, Dokter Cindy akan memeriksa pasien. Itupun kalau Anda setuju,"


"Tidak masalah, saya setuju." ucap Elkan penuh keyakinan.


"Baiklah, kalau begitu kembalilah ke ruangan istri Anda!"


Setelah berbicara panjang lebar, Elkan meninggalkan ruangan lebih dulu. Bahagia, tentu saja. Siapa yang tidak bahagia mengetahui kehamilan istrinya. Tapi yang menjadi pertanyaannya, apa janin itu bisa berkembang?!


Elkan berdiri di dekat jendela saat suster membawa peralatan medis ke dalam ruangan. Keadaan Yuna yang masih memprihatinkan, tidak memungkinkan untuk dibawa ke sana kemari.


Setelah menyalakan alat untuk melakukan USG, Dokter Cindy pun mulai memeriksa keadaan Yuna. Benar saja prediksi Dokter Adi tadi. Bukan hanya satu, tapi ada dua janin yang tumbuh di rahim Yuna. Bahkan detak jantung janin tersebut sudah terdengar, hanya saja jenis kelaminnya belum bisa dipastikan.


"Sungguh mukjizat yang sangat luar biasa. Sejak menjabat sebagai dokter, baru kali ini saya menemukan keunikan seperti ini."


"Maksud Dokter?"


"Coba Anda lihat monitor itu!" Dokter Cindy menunjuk monitor yang menyala di hadapannya.


"Ini janinnya, ada dua sekaligus. Sangat sehat, detak jantungnya juga normal. Usia kehamilan istri Anda sudah memasuki 14 minggu." jelas Dokter Cindy.


"Dua Dok?"


"Ya,"


Elkan rasanya tak sanggup lagi untuk berdiri, kakinya mendadak lemah tak bertenaga. Apa ini adalah buah dari kesabarannya menjaga Yuna? Tidak pernah terbersit di pikirannya akan menjadi calon ayah dalam keadaan seperti ini.


"Karena pasien masih belum sadarkan diri, jadi kami akan memberikan vitamin dan nutrisi melalui cairan infus. Namun semua itu tergantung persetujuan Anda."


"Lakukan saja yang terbaik Dok!"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Terima kasih, Dok."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2