
Malam yang ditunggu-tunggu sudah tiba, para tamu mulai berdatangan memenuhi area outdoor yang sudah dihias sedemikian rupa. Cantik namun tetap elegan dengan warna putih yang senada dengan cahaya lampu tabur yang berkedip. Lilin elektrik menyala di atas meja ditemani bunga mawar putih yang bermekaran.
Dewan direksi, pemegang saham dan para karyawan kantor sudah mengambil tempat duduk pada barisan yang sama. Sementara relasi dan kolega Bramasta Corp mengambil tempat duduk di barisan lainnya. Belum lagi teman-teman Elkan dan Beno, rekan bisnis dan beberapa pejabat daerah sekitar yang sengaja diundang sebagai tamu kehormatan.
Ketika Elkan, Yuna, Beno dan Reni keluar dari rumah, para tamu bertepuk tangan menyambut kedatangan mereka. Elkan dan Beno terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitam yang melekat di tubuh mereka. Sekilas nampak seperti anak kembar tetapi memiliki gaya rambut yang berbeda. Elkan menggunakan gaya rambut front puff sedangkan Beno menggunakan gaya rambut taper fade.
Sementara Yuna dan Reni terlihat seperti dua bidadari yang jatuh dari kayangan. Makeup flawless yang menghias di wajah mereka membuat tampilan keduanya terlihat sangat cantik dan anggun. Yuna dibaluti gaun mewah berwarna krem dengan taburan swarovski sedangkan Reni dibaluti gaun mewah berwarna baby peach dengan taburan yang sama. Berkilauan dan sangat cocok di kulit mereka yang putih bersih.
Tidak lama, anggota keluarga lainnya menyusul ke luar dan duduk di meja khusus keluarga inti. Edgar dan Elga pun turut menyaksikan acara tersebut karena keduanya berada dalam gendongan Amit dan Sari.
Setelah MC membuka acara, lagi-lagi Aditama diminta untuk memberikan kata sambutan sebagai tetua di rumah itu. Aditama merasa terharu dan sempat menitikkan air mata saat menyampaikan sepatah dua patah kata di hadapan para tamu. Dia berharap keluarga kecil anaknya bisa bahagia hingga maut memisahkan mereka.
Aditama sendiri sadar bahwa umurnya tidak akan lama lagi, jadi sebelum waktu itu tiba dia ingin melihat putri dan kedua cucunya bahagia di tangan pria yang tepat. Pria yang mampu menjaga dan melindungi mereka dari apapun jua.
Usai memberikan kata sambutan, Aditama kembali duduk di bangkunya. Yuna memeluknya erat dengan mata berkaca. Dia sendiri tau bahwa Aditama selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya selama ini.
Pemandangan itu membuat suasana di meja mereka menjadi haru saat tatapan semua orang mengarah pada mereka berdua.
MC kembali melanjutkan acara, kali ini giliran Elkan dan Beno yang di minta memberikan kata sambutan. Keduanya maju ke depan dan saling melempar pertanyaan.
"Katakan... Apa yang ingin kau katakan?" tanya Elkan.
"Kau sendiri bagaimana? Apa yang ingin kau sampaikan?" jawab Beno dengan pertanyaan pula.
__ADS_1
Tentu saja kekonyolan mereka membuat para tamu tertawa terbahak-bahak. Bukannya memberi kata sambutan, mereka malah berdebat seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.
"Hahahaha... Kalian berdua ini konyol sekali." timpal MC yang memandu jalannya acara.
Elkan dan Beno saling menatap dan ikut tertawa beberapa saat.
"Baiklah, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan kalian semua menghadiri perjamuan malam ini. Seperti yang kalian tau, baru-baru ini istri saya sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bahkan sampai viral ke media massa. Kembali saya ingin meluruskan bahwa Yuna adalah istri saya yang sah sejak satu tahun yang lalu, para karyawan di kantor juga sudah mengetahui ini sebelumnya." Elkan mengarahkan pandangannya kepada Yuna, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.
"Sayang... Kemarilah!" Elkan meminta Yuna maju ke depan, suara tepuk tangan pun bergemuruh menyambut sepasang suami istri itu.
Yuna bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Elkan, lalu Elkan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Yuna. "Kenalkan, ini istri saya Yuna. Wanita terhebat sekaligus Ibu yang sangat luar biasa untuk anak kami si kembar."
"Halo semuanya, perkenalkan nama saya Yuna." Yuna memperkenalkan diri sembari melambaikan tangannya di udara.
"Halo..." Para tamu ikut melambaikan tangan mereka, lalu bertepuk tangan melihat pemandangan itu.
Beno tentu saja tidak mau kalah dengan Elkan, dia juga memiliki istri yang tidak kalah cantiknya dengan Yuna. Apalagi pernikahan mereka belum dipublikasikan kepada publik.
"Perkenalkan, ini istri saya Reni." seru Beno sambil melingkarkan tangannya di pinggang Reni.
"Hai semuanya, saya Reni." Reni juga melambaikan tangannya di udara, para tamu langsung membalasnya. Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar seiring hembusan angin malam.
Usai memperkenalkan istri-istri mereka, mereka berempat kembali ke meja. Acara dilanjutkan dengan beberapa rangkaian acara yang sudah tersusun rapi sebelumnya.
__ADS_1
Para tamu juga sudah dipersilahkan menyantap hidangan yang terhidang di atas meja. Bahkan di meja prasmanan juga tersedia berbagai macam kuliner dan beberapa macam minuman dan makanan penutup lainnya. Mereka bebas mengambil apa saja yang mereka inginkan. Bahkan beberapa pelayan siap melayani mereka yang malas berdiri dari tempat duduknya.
Mengingat malam semakin larut, Yuna pamit meninggalkan meja lebih dulu. Dia mau menidurkan si kembar, lagian angin malam tidak baik buat kedua bayinya yang baru berumur dua bulan.
Yuna mengambil Edgar dari tangan Amit, lalu meminta Sari mengantarkan Elga ke kamar.
Sesampainya di atas, Sari membaringkan Elga di dalam box. Saat hendak meninggalkan kamar, langkahnya seketika terhenti. Dia berbalik dan menatap Yuna dengan intens.
"Kak, jadi akun atas nama @Yunanda_Caroline20 itu adalah Kak Yuna?" tanya Sari mencari tau. Dia termasuk salah satu fans berat Yuna, apalagi dia suka sekali menonton live Yuna saat melakukan tutorial makeup.
Yuna yang tengah menyusui Edgar langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, emangnya kenapa? Beda ya saat di kamera sama aslinya?"
"Lumayan beda, soalnya Kak Yuna gak pernah pakai makeup saat di rumah. Sejak siang tadi aku sebenarnya udah curiga, tapi gak berani bertanya." jawab Sari dengan polosnya.
"Hehe... Kenapa gak berani? Apa muka aku terlihat menakutkan?" seloroh Yuna sambil tertawa kecil.
"Gak Kak, bukan begitu. Aku takut salah orang,"
Sari tersenyum kecut saat menyadari kebodohannya. Padahal dia sudah lama sekali berharap bisa bertemu dengan Yuna dan meminta foto. Eh, giliran sudah bertemu orangnya, dia malah tidak mengenalinya sama sekali.
"Kak, aku boleh minta foto gak? Teman-teman di sekolah juga banyak yang mengidolakan Kak Yuna. Aku ingin pamer sama mereka bahwa aku udah ketemu sama Kakak. Abisnya mereka selalu mengejekku lantaran aku miskin. Mereka bilang selebgram sekelas Kak Yuna pasti gak akan mau foto bareng sama gadis dekil seperti aku." jelas Sari.
"Hehe... Boleh kok, tapi nanti dulu ya. Di bawah aja biar dapat view yang bagus. Sekarang Kakak mau menidurkan si kembar dulu, kamu duluan aja ke bawah." sahut Yuna.
__ADS_1
"Hmm... Oke baiklah, aku tunggu di bawah." Air muka Sari mendadak berbinar saking senangnya melihat seorang Yunanda secara langsung. Jika dari awal dia ngeh, mungkin keadaannya sudah berbeda.
Bersambung...