Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 108.


__ADS_3

Usai rapat berlangsung, Elkan dan Beno memutuskan untuk makan siang di kantin perusahaan. Dan sekitar pukul setengah dua siang mereka mendatangi aula untuk melakukan konferensi pers yang sudah dijanjikan kepada beberapa awak media.


Saat memasuki aula, semua wartawan dari berbagai media sudah standby di sana. Di atas meja juga sudah tersusun alat pengeras suara.


Berbagai macam pertanyaan mulai terdengar setelah Elkan membuka suara dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya. Satu persatu pertanyaan dijawab dengan begitu santai oleh Elkan.


"Maaf Tuan Elkan, apakah benar selebgram yang bernama Yunanda Caroline itu istri Anda?" tanya seorang wartawan dari salah satu televisi swasta.


"Ya benar,"


"Kalau boleh kami tau, sejak kapan kalian menikah?" tanya wartawan dari televisi swasta lainnya.


"25 Oktober 2021, dua hari lagi tepat satu tahun pernikahan kami."


"Kenapa Anda menyembunyikan ini dari semua orang?" tanya wartawan dari salah satu media cetak.


"Tidak ada yang menyembunyikan. Beberapa waktu lalu kami sudah sepakat untuk mengadakan resepsi dan memberitahukannya kepada publik, tapi sebelum niat itu terwujud istri saya sempat mengalami kecelakaan."


"Kecelakaan apa?" tanya wartawan dari media cetak lainnya.


"Jatuh dari tangga perusahaan ini,"


"Lalu bagaimana keadaan istri Anda saat ini?" tanya wartawan dari salah satu radio swasta.


"Sudah membaik,"


"Berarti desas-desus di media sosial itu tidak benar ya?" tanya wartawan dari salah satu televisi swasta.


"Tentu saja tidak, pernikahan kami sah secara hukum dan agama. Tidak ada yang namanya hamil di luar nikah apalagi anak haram. Pagi tadi saya juga sudah melakukan klarifikasi di akun media sosial milik istri saya, buktinya juga sudah saya beberkan di sana. Jika masih ada yang berani membully istri dan anak saya, maka saya tidak akan segan-segan membawa kasus ini ke jalur hukum!"


"Baiklah, kami mengerti. Mungkin itu hanya sekelompok orang yang kurang kerjaan saja." ucap seorang wartawan.


"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan? Jika tidak, saya-"


"Ada Tuan,"


Ucapan Elkan terpotong saat seorang wartawan kembali bersuara.


"Silahkan!"


"Apa benar istri Anda melahirkan anak kembar?" tanya wartawan itu.


"Ya benar, tepatnya sepasang."


"Boleh kami tau siapa nama mereka?" tanya wartawan itu lagi.


"Edgar dan Elga,"


"Wow, nama yang bagus. Pasti keduanya sangat tampan dan cantik. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya kan?" sanjung wartawan itu.


"Hahaha... Kalian bisa saja,"


"Katanya beberapa waktu lalu istri Anda sempat menjadi brand ambassador produk Anda sendiri. Apa kalian terlibat cinta lokasi?" tanya wartawan lainnya.

__ADS_1


"Tidak! Sebelum istri saya menjadi brand ambassador, kami sudah lebih dulu menikah. Hanya saja waktu itu saya tidak tau kalau istri saya akan bergabung dengan perusahaan. Kan bukan bidang saya,"


"Baiklah, kami mengerti. Kalau begitu selamat untuk Anda dan istri Anda." seru beberapa orang wartawan bersamaan.


"Terima kasih. Apa masih ada yang ingin bertanya?"


"Sepertinya cukup," jawab wartawan yang duduk di barisan depan.


"Satu pertanyaan lagi Tuan," seru seorang wartawan yang ada di barisan belakang.


"Ya, silahkan!"


"Menurut info yang kami dengar, katanya Anda tidak pernah dekat dengan wanita lain selain mantan Anda. Lalu bagaimana bisa Anda kenal dan menikah dengan Yuna?"


Pertanyaan yang cukup rumit karena menyinggung nama seorang mantan, namun Elkan menyikapinya dengan begitu santai.


"Itulah yang dinamakan jodoh. Tidak ada yang tau bagaimana, kapan dan kemana hati kita akan berlabuh."


"Hmm... Apa Anda menikahi Yuna berdasarkan cinta?" tanya wartawan itu.


"Tidak semua hubungan harus berlandaskan cinta. Apa cinta menjamin kebahagiaan?... Tidak kan? Biarkan cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu!"


"Apa itu artinya Anda mencintai Yuna?" tanya wartawan itu lagi.


"Sangat, saya sangat mencintai istri saya."


"Love you sayang,"


Elkan mengarahkan pandangannya ke kamera salah satu stasiun televisi swasta sambil menautkan telunjuk dan ibu jarinya.


"Hahahaha... Tidak juga,"


"Kalau begitu cukup sampai di sini dulu ya!"


"Oke, terima kasih untuk waktunya. Semoga keluarga kalian senantiasa selalu bahagia." ucap seorang wartawan menyudahi konferensi pers kali ini.


"Aamiin... Terima kasih,"


Setelah konferensi pers berakhir, Elkan langsung meninggalkan aula. Disusul oleh Beno dan beberapa petugas keamanan yang ikut mengawalnya.


Berhubung hari ini jadwal mereka sudah kosong, Elkan dan Beno pun akhirnya memilih pulang untuk menemui istri masing-masing.


Di rumah, ternyata Yuna dan Reni sudah sedari tadi duduk di depan televisi. Keduanya menyaksikan konferensi pers yang secara langsung ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta tanah air itu.


Mendadak dada Yuna bergemuruh seakan jantungnya ingin melompat dari tempatnya, apalagi saat Elkan menyatakan cintanya di depan semua wartawan tadi.


Ada perasaan senang, sedih, malu, bahkan terharu mendengar jawaban demi jawaban yang dilontarkan oleh Elkan. Yuna benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya pernikahan mereka diketahui juga oleh semua orang. Setelah tadi pagi Yuna dibuat hampir jantungan, siang ini dia mendadak ingin pingsan saja untuk menutupi perasaan haru yang bersemayam di hatinya.


"Cie cie, ada yang malu-malu nih." seloroh Reni menggoda majikan sekaligus iparnya itu.


"Apaan sih Reni?" Yuna melayangkan tangannya di udara, seketika rona pipinya memerah bak tomat matang.


Sebelumnya Reni memang sudah mengetahui kisah cinta Elkan dan Yuna dari Beno. Beno menceritakan bagaimana awalnya mereka bisa menikah hingga akhirnya saling jatuh cinta. Perjalanan yang cukup panjang dan sempat menguras emosi. Tapi pada dasarnya perbedaan itulah yang membuat keduanya bisa bersatu hingga melahirkan bayi kembar yang kini ada di pangkuannya.

__ADS_1


"Ternyata Papanya si kembar itu romantis juga ya," ucap Reni sambil tersenyum kecil.


"Romantis apanya? Tadi itu palingan cari sensasi doang, mentang-mentang lagi disorot kamera. Aslinya mah..." Yuna mengangkat sudut bibirnya. "Entahlah, susah dijelasin dengan kata-kata." imbuhnya.


Air muka Yuna mendadak masam saat mengatakan itu semua. Romantis dari mananya?


"Aslinya gimana?"


"Deg!"


Yuna terperanjat ketika tiba-tiba saja mendengar suara Elkan dari arah belakang. Segera Yuna memutar lehernya dan mendapati Elkan yang sudah berdiri sambil berpangku tangan.


"Hehe... Abang udah pulang?" Senyuman Yuna berubah kecut saat menyadari kesalahannya dalam berucap barusan.


"Jawab dulu pertanyaan Abang! Aslinya gimana?" desak Elkan dengan tatapan aneh, seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.


"Gak gimana-gimana, tadi cuma bercanda doang kok. Iya kan Reni?" Yuna memutar lehernya kembali dan memberi isyarat kepada Reni dengan kedipan mata.


Sayangnya Reni tak menyahut, dia malah mengangkat bahu sambil mengerucutkan bibirnya seakan tak tau apa-apa.


Sementara Yuna sendiri mulai kelimpungan dan menyibukkan diri dengan Elga yang ada di pangkuannya.


Elkan yang menyadari itu langsung mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Yuna.


"Jadi suamimu ini gak romantis sama sekali, begitu? Terus cari sensasi doang di depan kamera, begitu?" ucap Elkan tepat di telinga Yuna.


"Apaan sih Bang? Lepas, malu tau!" keluh Yuna sambil menekuk wajahnya.


"Malu sama siapa? Reni? Dia mah juga punya suami, kenapa harus malu?" ucap Elkan dengan santainya.


"Walaupun dia punya suami, tetap aja malu. Ngapain mesra-mesraan di sini?" ketus Yuna sambil mendorong wajah Elkan agar menjauh darinya.


"Oh gitu, jadi maunya dimana? Di kamar aja? Ayo!" goda Elkan yang sudah tak sanggup menahan tawanya.


"Dasar suami gila! Gak punya malu sedikitpun, di sini ada orang lain loh. Bisa jaga sikap gak?" geram Yuna yang mulai kehilangan kesabaran.


"Ngapain kalian? Baru ketemu udah ribut aja," timpal Beno yang baru saja masuk setelah memasukkan mobil ke garasi.


Beno langsung menghampiri Reni dan duduk di sampingnya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Reni dan mengecup kening istrinya itu dengan santai.


"Tuh liat, mereka aja gak malu sama kita. Ngapain kita harus malu sama mereka?" ucap Elkan sembari memutar kepala Yuna menghadap Reni dan Beno yang tengah duduk berpelukan.


"Kenapa sih?" tanya Beno penasaran.


"Gak papa Mas, Kak Yuna merasa canggung saat Kak Elkan mendekatinya. Katanya malu sama kita," jelas Reni.


"Hahaha... Suami sendiri kenapa musti canggung? Yang penting gak main kuda-kudaan aja di depan kami," seloroh Beno menertawakan kebodohan Yuna yang hakiki.


"Apaan sih Mas? Punya mulut dijaga dikit ngapa," sela Reni sambil menutup mulut Beno.


"Maaf sayang, Mas bercanda doang kok."


"Hahahaha..."

__ADS_1


Beno melepaskan tawanya hingga membuat Reni, Yuna dan Elkan ikut ketularan. Seketika suasana di ruangan itu sejenak menjadi hangat dan damai.


Bersambung...


__ADS_2