
"Saya terima nikah dan kawinnya Reni Yuliana binti Anton Pramono dengan mas kawin tersebut, tunaiiii."
"Sah..."
"Sah..."
Para saksi berkata sah setelah Beno mengucap ijab dengan jelas dan lantang. Amit dan Sari nampak begitu bahagia melihat Reni yang sudah resmi diperistri oleh Beno.
Pernikahan sederhana dan hanya disaksikan beberapa orang itu berjalan dengan lancar. Reni mencium tangan Beno dan Beno pun membalasnya dengan mencium kening Reni.
Reni sebenarnya sedih karena pernikahannya tidak dihadiri oleh kedua orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah menganggap mereka tidak ada. Apalagi sang ayah yang sudah begitu tega menjual dirinya hanya demi uang.
"Selamat ya Beno, Reni," ucap Elkan dan Yuna secara bersamaan.
Keduanya tidak sempat hadir mengingat si kembar yang tidak bisa ditinggal. Tapi keduanya bisa melihat pernikahan Beno melalui video call. Sebelum ijab di mulai, telepon mereka sudah terhubung lebih dulu dan Amit lah yang bertugas memegang ponsel.
"Makasih Elkan, Yuna. Jaga si kembar dengan baik, aku pinjam pengasuhnya dulu. Syukur-syukur, kami bisa segera memberi mereka adik." seloroh Beno tanpa malu sedikitpun.
"Beno, apaan sih?" Reni mencubit perut suaminya dengan pipi merona merah. Bisa-bisanya dia menikah dengan pria tak tau malu seperti itu.
"Hahaha... Kamu harus terbiasa dengan sikap suamimu itu Reni, dia dan Elkan sama aja. Sama-sama menjengkelkan, tapi ngangenin loh." seloroh Yuna sembari tertawa terbahak-bahak.
"Sayang, kok malah aku yang dibawa-bawa?" keluh Elkan sembari mengerutkan keningnya.
"Kan emang sama." Yuna melirik Elkan sejenak, sedetik kemudian menatap layar ponselnya lagi. "Ya udah, aku matiin dulu ya. Selamat berbulan madu, yang kuat ya Reni." Yuna mematikan sambungan video call mereka sembari tersenyum kecil.
Elkan menatap Yuna dengan intim. "Mikirin apa hah? Orang yang bulan madu kamu yang senyum-senyum sendiri. Pasti mikir jorok ya?" tuding Elkan.
__ADS_1
"Gak kok, siapa yang mikir jorok? Gak nyangka aja ternyata mereka berjodoh. Mudah-mudahan Beno bisa memperlakukan istrinya dengan baik dan menyayanginya dengan tulus. Jangan sampai malam pertama Reni dipenuhi ancaman dari suaminya sendiri!" jelas Yuna dengan gamblang.
"Kamu nyindir aku?" Elkan mengerutkan keningnya dengan gigi menggertak kuat.
"Gak juga, tapi kalau kamu merasa tersinggung apa boleh buat. Bukankah kenyataannya begitu?" Yuna menaruh ponselnya di atas nakas dan memilih berbaring di atas kasur.
Elkan sama sekali tak mengerti dengan sikap istrinya. Apa kejadian waktu itu masih membekas di ingatan Yuna sehingga tanpa sadar dia kembali membuka luka lama itu.
"Sayang, apa kamu masih dendam padaku gara-gara kejadian itu?" tanya Elkan pilu.
"Mana ada, lagian untuk apa dendam? Bukankah emang kenyataannya aku ini hanya jodoh di atas kertas bagimu." lirih Yuna sembari memejamkan matanya.
"Sayang, kok jadi gini sih? Itu kan dulu, tapi kenyataannya kertas itu sudah membuat kita benar-benar berjodoh." jelas Elkan dengan tatapan sendu.
"Iya," jawab Yuna singkat.
"Maafin aku ya, aku terlambat menyadari perasaanku padamu. Aku salah karena sudah memanfaatkan keadaan ayah untuk kepentingan pribadiku." Elkan ikut berbaring di samping Yuna dan memeluknya erat.
Namun ternyata keadaannya malah berbanding terbalik, dia justru lebih takut kehilangan Yuna dari pada harta yang dia perjuangkan mati-matian. Kini dia sadar bahwa keluarga adalah segalanya, uang bisa dicari namun kebahagiaan tidak akan bisa untuk dibeli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beno dan Reni tiba di apartemen setelah mengantarkan Amit dan Sari ke rumah mereka. Untuk sementara, Beno terpaksa membiarkan mereka tinggal di sana menjelang Beno menemukan solusi untuk keduanya.
Saat memasuki kamar, Reni bergeming melihat suasana kamar yang jauh berubah dari sebelumnya. Kamar sudah ditata sangat rapi dan cantik layaknya kamar pengantin pada umumnya. Cahaya lampu nampak redup dengan hiasan lilin dan bunga mawar yang bertebaran di mana-mana, bahkan di atas ranjang juga terdapat taburan bunga mawar berbentuk hati. Bau aroma terapi menyeruak membuat penciuman menjadi nyaman.
Melihat istrinya yang masih setia dalam mode patung, Beno pun mengangkatnya dan berjalan menuju ranjang lalu membaringkannya di atas kasur.
__ADS_1
Beno menindih sebagian tubuh Reni dan menumpukan sebelah tangannya pada permukaan kasur, sementara tangan lainnya asik menyentuh pipi istrinya dengan lembut. Reni mulai kelimpungan dengan nafas tersengal. Manik matanya menatap Beno dengan intim, rasanya seperti mimpi yang datang dengan tiba-tiba.
"Beno..." lirih Reni dengan suara seraknya.
"Apa sayang?" jawab Beno dengan suara lembutnya.
"A-aku..." Reni tergugu tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Reni tak menyangka bahwa Beno benar-benar menepati janjinya dan menikahinya secepat ini. Reni pikir Beno hanya ingin mempermainkan dirinya saja, apalagi saat Beno meminta sesuatu yang sangat berharga di dirinya.
"Kenapa sayang? Kamu masih takut saat kita berada di ranjang yang sama? Bukankah aku ini sudah resmi menjadi suamimu?" ucap Beno sembari mematut kecantikan istrinya yang begitu alami. Hanya sedikit riasan saja sudah membuat Beno klepek-klepek memandangi keindahan yang terpajang di depan matanya itu.
"Bisakah kamu bergeser sedikit? Nafasku rasanya sesak banget Beno." gumam Reni menahan panas dingin yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
Memang bukan pertama kali Beno menindih Reni seperti ini, tapi kali ini rasanya begitu berbeda. Ada magnet yang seakan menarik dirinya untuk mendekat, namun dia masih sangat canggung berhadapan dengan suaminya itu.
"Kenapa masih malu-malu sayang? Ingat, aku ini suamimu! Pria yang akan menjagamu dan melindungi mu dari apapun. Mulai hari ini, kamu milikku dan aku milikmu. Jangan ada keraguan lagi di hatimu untukku!" jelas Beno sembari tersenyum lebar dan membelai rambut Reni dengan lembut.
"Maaf Beno, aku hanya belum terbiasa. Boleh aku ke kamar mandi sebentar, aku kebelet pipis." lirih Reni dengan pipi merona merah. Tatapan mata Beno membuatnya bergidik ngeri, bahkan tangannya sampai basah mengandung keringat dingin.
Mendengar itu, Beno pun tersenyum kecut sembari beranjak dari tubuh Reni. "Pergilah, mandi aja sekalian biar segar! Sebentar lagi kita akan berolahraga dalam waktu yang gak bisa ditentukan. Jadi pastikan tubuhmu rileks dulu biar kuat!" ucap Beno sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih Beno? Jangan membuatku takut gini dong!" geram Reni dengan tatapan tajam. Ingin sekali dia mengeluarkan taringnya dan menggigit Beno sampai mampus.
"Jangan takut sayang! Suamimu ini gak akan pernah nyakitin kamu, yang ada aku akan membuatmu melayang terbang tinggi me-"
"Cukup Beno! Dasar suami sinting, gila!" umpat Reni kesal.
__ADS_1
"Ya Tuhan, dosa apa yang udah aku lakuin hingga mendapatkan suami seperti ini?" gerutu Reni sembari bangkit dari pembaringannya, kemudian berjalan menuju kamar mandi dan membanting pintu dengan kasar. Belum apa-apa saja Beno sudah membuatnya ingin mati berdiri, gimana nanti? Reni bahkan tak berani membayangkannya.
Bersambung...