
Pukul tiga sore Elkan sudah tiba di rumah bersama Amit, tidak dengan Beno yang masih sibuk menghandle pekerjaan di perusahaan.
Elkan memasuki rumah dan mendapati si kembar yang tengah bermain dengan Reni. Elkan menghampiri mereka dan duduk di atas kasur santai, lalu mengendong kedua buah hatinya itu dan mengecup pipi gembul keduanya secara bergantian.
"Sayangnya Papa belum pada mandi ya? Bau banget sih," seloroh Elkan yang membuat kedua bayi mungil itu tersenyum dengan lucunya, apalagi Elga yang sampai menjulurkan lidahnya hingga air liurnya mengalir sampai ke jas yang melekat di tubuh Elkan.
"Belum Pa, bentar lagi. Tunggu Mama dulu!" sahut Reni.
Elkan memutar lehernya ke arah Reni. "Memangnya Yuna kemana Reni?"
"Ada Kak, masih di belakang sama orang-orang kantor." jawab Reni.
"Belum selesai juga?" Elkan mengerutkan keningnya.
"Sepertinya belum, tapi entahlah." Reni mengangkat bahunya.
Elkan kembali memutar lehernya dan menatap si kembar secara bergantian. "Kalian ikut Papa ya, kita lihat Mama ke belakang dulu!"
Elkan kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur lalu menyisir area pekarangan hingga kakinya menginjak taman belakang.
Baru saja Yuna ingin berjalan ke depan, seringai tipis sudah melengkung di sudut bibirnya saat menangkap kedatangan Elkan dan dua buah hatinya yang tengah bergelayut di gendongan suaminya itu. "Papa sudah pulang?"
Elkan membalas senyuman Yuna dan menghampirinya, lalu mengecup kening istrinya itu dengan sayang. Yuna kemudian mengambil Elga yang tengah merentangkan tangannya minta di gendong.
"Belum selesai juga ya?" tanya Elkan sambil memeluk pundak Yuna.
"Sudah Bang, mereka masih di dalam membersihkan sisa-sisa properti yang berserakan." jawab Yuna.
"Oh, syukurlah kalau begitu." Elkan mengayunkan kakinya memasuki paviliun bersama Yuna yang berjalan di sampingnya.
Ferry dan yang lainnya menyapa sambil membungkukkan punggung saat melihat kedatangan bos besar mereka itu. "Sore Tuan,"
__ADS_1
"Sore Ferry, Agung, Maya, Rina, bagaimana? Apa ada kesulitan?" tanya Elkan sambil memutar manik matanya ke segala arah.
"Tidak Tuan, semuanya aman. Persiapan sudah selesai sesuai dengan permintaan. Sekarang kami pamit dulu, kami akan kembali pukul tujuh malam nanti." jawab Ferry.
"Ya sudah, jangan sampai telat ya! Pemotretan kali ini harus selesai malam ini juga. Lusa iklan sudah harus muncul di media, bagian pemasaran juga sudah standby menunggu hasil darimu. Kita semua harus bekerja sedikit ekstra agar kerugian perusahaan dapat diatasi." jelas Elkan.
"Iya Tuan, kami mengerti." angguk Ferry.
Setelah berpamitan, Ferry menghampiri keduanya dan menyapa si kembar yang terlihat sangat gemoy. Siapa saja akan gemas melihat kedua bocah gembul itu.
"Halo sayang, gemesin banget sih kalian." Ferry ingin mencium keduanya tapi urung karena merasa tidak enak dengan Elkan.
Berbeda dengan Maya dan Rina yang langsung mendekat dan mengecup pipi bakpao Elga yang masih berada di gendongan Yuna.
"Halo sayang, ini aunty Maya. Cantik banget sih kamu," Lalu Maya beralih mencubit pipi Edgar yang ada di gendongan Elkan.
"Dan ini aunty Rina. Kalian gemesin banget sih, jadi pengen gigit."
"Hahahaha..." tawa Yuna, Maya dan juga Rina akhirnya pecah bersamaan. Elkan dan Ferry ikut tertawa dibuatnya.
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu! Dah sayang, malam nanti ketemu lagi ya!" Ferry menyudahi obrolan singkat itu dan mencubit pipi Edgar dan Elga secara bergiliran, lalu mengayunkan kakinya meninggalkan paviliun. Maya dan Rina menyusulnya dari belakang begitu juga dengan Elkan dan Yuna.
Setelah mobil Ferry meninggalkan kediaman Bramasta, Elkan dan Yuna masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mereka.
Elkan menaruh Edgar di atas kasur, lalu membuka jas, dasi, kemeja dan celana yang melekat di tubuhnya. Dengan menggunakan celana pendek saja Elkan kemudian berbaring di atas kasur dan menaruh Edgar di atas perut kotaknya.
Elga yang baru saja ditaruh Yuna juga tak mau kalah dengan sang kakak. Dia merangkak menaiki dada sang papa, manik mata anggur gadis mungil itu berputar-putar seperti orang kebingungan. Dia mencongkel ujung dada sang papa dan mengesap nya, hal itu membuat Elkan terkekeh menahan geli.
"Hahahaha..."
Yuna yang melihat itu langsung tertawa terpingkal-pingkal. Dia rasanya pengen kencing di celana saking tak kuat menahan geli yang menggelitik di perutnya. Namun pada akhirnya Yuna harus berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah air itu mengalir dari intinya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Yuna keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia membuka pintu lemari dan segera mengenakan celana yang baru.
"Wkwkwk... Kalian bertiga sama saja, suka ngompol di celana." seloroh Elkan sambil tertawa kecil. Dia takut kedua buah hatinya terperanjat karena masih duduk di atas perutnya.
"Mau bagaimana lagi Bang? Habisnya Elga lucu banget sih. Masa' ne*nen sama Papa, mana ada airnya?" sahut Yuna sambil berjalan menghampiri mereka bertiga, lalu berbaring di samping Elkan.
"Padahal itu jatahnya Mama loh Nak, masa' mau diembat juga sama Elga?" timpal Elkan sambil tersenyum nakal ke arah Yuna.
"Hust... Ngomong apa sih Bang? Masa' bicara seperti itu di depan anak," Yuna menggertakkan gigi sambil mencubit ujung dada suaminya itu.
"Aww... Sakit loh sayang, kok malah dicubit sih?" keluh Elkan sambil meringis kesakitan.
"Makanya ngomong tuh yang baik-baik saja di depan anak. Cukup papanya saja yang pecicilan seperti ini, anaknya jangan sampai. Repot nanti kalau sudah dewasa," gerutu Yuna mengerucutkan bibirnya.
"Ya enggak lah sayang, papanya kan pria baik-baik. Tidak mungkin anaknya berandalan." sahut Elkan sambil mencubit pipi Yuna.
"Baik dari Hongkong, ingat bagaimana perlakuan Abang sama Yuna waktu itu!" tegas Yuna menajamkan tatapannya.
"Loh, kok jadi bahas itu lagi sih? Yuna masih dendam sama Abang?" Elkan menyipitkan matanya menilik manik mata Yuna dengan intim.
"Dendam sih tidak, tapi teringat terus. Apalagi saat dibilang wanita mur-"
"Sssttt... Cukup sayang, jangan dilanjutkan lagi!" potong Elkan sambil menaruh telunjuknya di bibir Yuna.
Elkan menurunkan Edgar dan Elga dari perutnya, lalu membaringkan keduanya di tengah-tengah mereka. Kemudian Elkan memiringkan tubuhnya dan menatap Yuna dengan mata sayu nya.
"Maafin Abang ya, waktu itu Yuna tau sendiri kan bagaimana posisi Abang? Abang terjebak dalam kebencian sehingga menganggap semua wanita itu sama saja. Abang tau Abang salah, tapi sekarang semuanya sudah berubah kan. Yuna adalah satu-satunya wanita terbaik yang sangat Abang cintai. Tolong lupakan kenangan buruk itu, ingat yang baik-baik nya saja!" lirih Elkan menyesali kesalahan yang sudah pernah dia perbuat terhadap Yuna.
"Hmm..."
Yuna hanya bergumam dan mengerucutkan bibirnya. Lalu menyibukkan diri dengan si kembar yang tengah asik memanjat tubuh keduanya.
__ADS_1
Bersambung...