
Usai sarapan, Reni membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Walaupun Beno sudah melarang, tapi Reni tetap kekeh karena menurutnya hal itu merupakan tugasnya sebagai seorang istri. Tidak apa-apa susah jalan asalkan dia tidak melalaikan kewajibannya. Apalagi dia tau sendiri siapa Beno, Reni tentunya harus berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya itu.
Sementara Reni tengah asik berjibaku di dapur, Beno nampak membuka ponselnya dan melakukan video call dengan Elkan. Beno tengah membicarakan tentang istri dan kedua adiknya kepada saudara angkatnya itu, dia berharap Elkan bisa membantunya mencari solusi yang terbaik untuk mereka.
"Siapa sayang?" tanya Yuna yang baru saja keluar dari kamar si kembar. Dia ikut duduk di samping Elkan hingga wajah keduanya terpampang jelas di layar ponsel Beno.
Yuna melambaikan tangannya saat melihat wajah Beno, Beno pun membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
"Beno, Reni mana?" tanya Yuna yang sudah sangat merindukan pengasuh si kembar itu. Apalagi sekarang Reni bukan hanya seorang pengasuh, tapi sudah menjadi anggota keluarga mereka.
"Ada, lagi beresin dapur." jawab Beno sembari memutar layar ponselnya ke arah Reni.
"Jahat kamu ih, masa' abis malam pertama istrinya udah disuruh beresin dapur. Sakit tau, kasihan Reni." seru Yuna menceramahi saudara suaminya itu.
"Gak ada yang nyuruh, dia aja yang ngeyel. Katanya pengen jadi istri yang baik agar suaminya gak tergoda sama pelakor." seloroh Beno sembari tertawa kecil.
"Alasan aja, pelakor gak akan berkembang kalau si pria nya sendiri gak ngasih kesempatan. Jangan salahi pelakor nya aja, salahi juga prianya yang gatal!" jelas Yuna sembari menoleh ke arah Elkan yang begitu dekat dengannya.
Elkan mendengus kesal sembari mengerutkan keningnya. "Gatal sih gatal, tapi liatnya jangan ke aku juga sayang! Emangnya aku gatal?" keluh Elkan yang merasa tersinggung mendengar ucapan Yuna.
"Aku setuju sama kamu, Elkan emang harus diawasi. Ingat Yuna, dia masih cinta loh sama mantannya. Ntar kalau dia datang lagi, pasti Elkan bakalan luluh sama dia. Dulunya Elkan cinta mati loh sama dia, kamu harus hati-hati!" Beno malah memanasi Yuna hingga membuat Elkan menggertakkan giginya kuat.
"Ben, kau jangan jadi provokator dong! Udah tau istriku ini cemburuan," geram Elkan dengan tatapan membunuhnya.
"Siapa yang jadi provokator?" Beno malah acuh tak acuh seakan tak bersalah sama sekali.
"Gak papa jika Elkan melakukan itu lagi. Palingan kali ini aku bakalan pergi membawa si kembar, kami akan pergi sejauh mungkin dan gak akan kembali lagi." jawab Yuna enteng tanpa ekspresi.
__ADS_1
Mendengar itu, rahang Elkan mengerat kuat. Dia mematikan sambungan video call itu dan melempar ponselnya ke sofa, lalu menggotong Yuna ke kamar mereka. Enak saja Yuna mau pergi darinya, sampai kiamat pun dia tidak akan pernah melepaskan istrinya itu.
Seperti biasa, Elkan akan meluapkan kekesalannya dengan memakan istrinya sampai tak sanggup berdiri lagi.
Beno menyeringai saat Elkan mematikan ponselnya, dia kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Reni yang baru saja akan melangkah meninggalkan dapur.
"Masih sakit?" tanya Beno saat mendapati air muka Reni yang mengecut menahan perih.
"Gak papa kok, pedih dikit doang." jawab Reni sembari tersenyum kecil.
"Yakin gak papa?" tanya Beno yang dibalas anggukan kepala oleh Reni.
Beno melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Reni dan menuntunnya berjalan menuju sofa.
Setelah keduanya duduk, Beno malah beringsut dan membaringkan diri di atas sofa. Beno menjadikan paha Reni sebagai bantalan dan menatap wajah istrinya itu dengan intim.
Beno masih tak menyangka bahwa kini dirinya sudah resmi berstatus sebagai suami orang. Seorang pria yang harus bertanggung jawab untuk keluarga dan harus menjaga mereka dengan sepenuh jiwa dan raga seperti yang pernah diajarkan oleh kakek Bram semasa hidupnya.
Meski hanya berstatus anak angkat, tapi sang kakek tak pernah membedakan dirinya dan cucu kandungnya yang tak lain adalah Elkan. Keduanya tumbuh bersama dan mendapatkan kasih sayang yang sama pula.
Apa yang Elkan makan, itu juga yang dia makan. Apa yang Elkan pakai, itu juga yang dia pakai. Dia dan Elkan sempat dikira anak kembar karena sering menggunakan pakaian dan aksesoris yang sama. Keduanya juga bersekolah di tempat yang sama.
Hanya saja Beno lebih pendiam, sementara Elkan sendiri sedikit bandel semasa kecilnya. Beno selalu menurut tapi Elkan sering membangkang terhadap sang kakek, namun keduanya tak pernah berantem karena saling melindungi satu sama lain.
Disisa hidup Bram, dia menitipkan Elkan pada Beno. Hanya Beno lah satu-satunya yang dia percayai untuk menjaga cucunya itu. Dia juga menceritakan sebuah rahasia yang sampai saat ini belum bisa Beno ungkapkan kepada saudaranya itu.
Beno harus menutupnya rapat-rapat hingga saatnya tiba. Dan hal itulah yang membuat Beno belum mau membuka hatinya untuk seorang wanita, dia harus memastikan Elkan menemukan wanita yang pantas untuk menjadi nyonya Bramasta terlebih dahulu.
__ADS_1
Kini Beno bisa bernafas dengan lega, dia yakin Yuna adalah wanita yang tepat untuk Elkan. Dan dia pun bisa memulai biduk rumah tangganya bersama Reni.
"Beno, kenapa melamun?" Reni mengelus pipi suaminya itu dengan jemarinya yang lembut.
Beno terperanjat dan mengedipkan matanya beberapa kali. "Hah? Kenapa sayang?"
Seulas senyum terurai di bibir Reni. "Mikirin apa? Pagi-pagi udah melamun aja,"
Beno pun mengukir senyum di bibirnya. "Gak ada apa-apa. Rencananya aku mau ngajakin kamu keluar, tapi kalau masih sakit gak usah dulu. Besok aja kalau gitu,"
"Emangnya mau kemana?" tanya Reni ingin tau.
"Jemput Amit sama Sari, aku mau ngajakin mereka ke rumah." jawab Beno.
"Ngapain?" Reni menautkan alisnya.
"Kepo banget sih," Beno menarik hidung Reni gemas.
"Wajar lah aku kepo, mereka kan adik aku." Reni memanyunkan bibirnya.
"Enak aja, adik aku juga kali." Beno menggembungkan pipinya.
Reni menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, lalu memijit kepalanya yang mulai terasa pusing. Bukan pusing karena penyakit melainkan pusing karena perangai suaminya yang tak mau mengalah sedikitpun.
"Ya udah, aku siap-siap bentar." Reni mengangkat kepala Beno dari pahanya dan segera berjalan menuju kamar.
Beno menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Entah kenapa sejak bertemu Reni dia menjadi lebih cerewet dari biasanya.
__ADS_1
Beno tiba di kamar dan memeluk Reni dari belakang. Reni yang tengah menguncir rambut seketika terlonjak dan hampir saja berteriak saking kagetnya.
Bibir Reni langsung mengerucut, lama-lama dia bisa jantungan dibuat begini oleh suami gilanya itu. Sementara Beno sendiri malah tertawa terpingkal-pingkal melihat air muka Reni yang sangat menggemaskan.