
Reynold masih berada di depan IGD menunggu Aditama yang sedang ditangani oleh dokter. Kepalanya seakan ingin pecah memikirkan dua orang tersayangnya yang terbaring lemah tak berdaya.
Sementara itu, Beno sudah kembali ke ruang operasi. Baru saja dia menempelkan bokongnya di kursi, sedetik kemudian berdiri lagi saat pintu ruangan terbuka lebar. Matanya terbelalak mendengar suara tangisan bayi yang sahut menyahut dengan lantangnya.
"Tunggu Sus!" Beno segera menghampiri kedua suster yang tengah menggendong masing-masing bayi di tangannya.
"Apa ini anaknya Yuna?" imbuh Beno sembari menatap wajah keduanya secara bergantian.
"Iya Pak, ini putra dan putrinya Ibu Yuna. Sepasang bayi kembar yang sangat tampan dan juga cantik." sahut seorang suster sembari tersenyum kecil.
Beno bergeming dengan kaki bergetar hebat, tak menyangka bayi itu bisa lahir dengan selamat. Padahal mereka tumbuh di rahim wanita yang sudah tidur selama berbulan-bulan. Ternyata keajaiban itu memang ada, mukjizat yang tak disangka-sangka. Beno rasanya ingin menangis, tanpa diduga dia sudah menjadi seorang paman dari dua orang bayi sekaligus.
"Boleh saya menggendongnya Sus?" tanya Beno dengan tangan bergetar.
"Maaf Pak, kami harus membawa mereka ke ruang bayi. Bapak sabar dulu ya!" Suster pun melanjutkan langkahnya.
Beno terduduk lesu dengan mata berkaca-kaca, betapa Tuhan sangat menyayangi Yuna dan Elkan. Memberi mereka malaikat kecil penyempurna kebahagiaan keduanya. Semoga saja bayi itu bisa menjadi penyemangat untuk Yuna agar kembali bangun dari tidur panjangnya.
Di dalam sana, keadaan Yuna melemah setelah menjalani operasi barusan. Tubuhnya sempat mengejang hingga membuat Elkan panik bukan kepalang. Dokter pun berusaha keras mengambil tindakan.
"Yuna, kamu jangan begini sayang! Tolong yang kuat, aku mohon!" Tangisan Elkan pecah, dia terus saja menggenggam tangan Yuna dengan eratnya.
"Pak Elkan, bisakah Anda menunggu di luar?" pinta Dokter Cindy.
"Tidak Dok, biarkan saya di sini! Saya harus tetap di sini menemani istri saya!" tolak Elkan dengan isak yang menyesakkan dada. Tidak hanya air mata, ingusnya pun ikut keluar saking tak kuasa menahan diri.
Yuna tidak boleh pergi darinya, Yuna harus bertahan demi putra dan putri mereka. Bayi itu membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Elkan akan lemah tanpa Yuna. Dia tidak akan sanggup berdiri tanpa istri yang sangat dia cintai itu.
"Dok, selamatkan istri saya! Tolong, selamatkan dia!" Elkan sampai bersimpuh memohon agar istrinya diselamatkan.
"Kami hanya bisa berusaha, tapi semuanya kami kembalikan lagi kepada Sang Pencipta."
Elkan masih terduduk di dasar lantai, sementara para dokter tengah berupaya keras menangani Yuna. Hingga pada akhirnya, alat pendeteksi jantung yang terpasang di tubuh Yuna pun membentuk garis lurus.
__ADS_1
"Deg!"
Begini kah yang dinamakan kiamat? Jantung Elkan seakan berhenti berdetak mendengar suara yang keluar dari layar monitor. Bahkan untuk menghela nafas saja rasanya begitu sulit.
Sakit bak dihujam ribuan cambuk, nyeri bak ditusuk ratusan belati. Begitulah remuknya Elkan saat ini. Jiwa dan raganya ikut mati melihat sang istri yang sudah tak bernyawa.
"Aaaaaa... Yunaaaaa...," Raungan Elkan menggelegar mengisi kehampaan ruang operasi.
"Yunaaaa... Bangun sayang! Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan kami! Aku tidak bisa membesarkan bayi kita sendirian, aku butuh kamu. Bangunnnn!" isak Elkan dengan suara yang nyaris menghilang, dia pun mengguncang tubuh Yuna dengan kasar. Berharap Yuna masih bisa merespon dirinya.
Semua dokter tertunduk lesu melihat betapa hancurnya Elkan saat ini. Mereka sudah berusaha memberikan yang terbaik, namun Tuhan berkehendak lain. Mungkin inilah yang dinamakan takdir, jodoh, rejeki, maut ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang tau kapan, dimana, dan dengan cara apa Tuhan mengambil kita kembali.
Sementara Dokter Cindy sendiri ikut menangis melihat Elkan yang benar-benar terpukul melihat kepergian istrinya. Dia sendiri yang menjadi saksi atas perjuangan Elkan menjaga Yuna setiap harinya.
Elkan sendiri yang membersihkan tubuh Yuna setiap pagi, Elkan juga yang menggantikan pakaiannya. Tidak sekalipun Elkan meninggalkannya meski harapan itu sudah tidak ada. Tidak pernah juga Elkan mengeluh walau sedetik saja.
Berbulan-bulan Elkan tinggal di rumah sakit, selama itu pula dia tak pernah lagi melihat dunia luar. Dia bahkan dengan entengnya menelantarkan semua tanggung jawabnya hanya demi menjaga Yuna, menunggu dan terus menunggu kapan Yuna akan sadar dari komanya.
Sekarang, apa lagi yang bisa dia lakukan? Kesabaran itu akhirnya berbuah luka, pedih, pilu, menyayat hingga relung hati terdalam.
Elkan mengusap kepala Yuna dengan tangannya yang bergetar tak menentu, beralih mengusap pipi Yuna dengan air mata yang terus saja mengalir tanpa ada batasannya. Kemudian menempelkan bibirnya di telinga Yuna.
"Tolong, bawa aku bersamamu! Aku tidak sanggup hidup tanpamu, aku ingin menemanimu dimana pun kamu berada. Kita pergi sama-sama ya!" bisik Elkan dalam keputusasaan.
Yuna tengah berlari di dalam ruangan yang sangat gelap, buntu, pengap, dan juga panas. Semakin dia berlari, semakin sesak pula yang dia rasakan.
"Yuna, sudah saatnya Nak. Ayo, ikut Ibu!"
Setitik cahaya terang muncul seiring suara yang memanggilnya. Yuna tersenyum dan mengayunkan langkahnya ke arah cahaya.
"Ibu, Yuna rindu Ibu."
Yuna memeluk sang ibu dengan sangat erat. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, akhirnya Yuna bisa merasakan kehangatan pelukan wanita yang sudah melahirkan dirinya itu.
__ADS_1
"Ayo, Yuna ikut Ibu ya! Kita akan pergi ke tempat yang sangat jauh, tempat yang sangat indah dan juga damai."
"Iya, kali ini Yuna akan ikut dengan Ibu."
"Anak manis,"
Kedua wanita yang mengenakan gaun berwarna putih itu berjalan menyusuri lorong cahaya yang ada di depan mereka.
"Tunggu!"
Langkah kaki Yuna terhenti saat mendengar teriakan anak laki-laki yang menahan dirinya untuk pergi.
"Mama, jangan pergi!"
Seorang anak perempuan yang sangat cantik tiba-tiba sudah berdiri di samping Yuna dan menarik gaun yang dia kenakan.
"Mama tidak boleh pergi, Mama harus kembali! Kami membutuhkan Mama, kami ingin dicium dan dipeluk sama Mama. Jangan pergi!"
"Siapa kalian?"
"Kami anak Mama, kami putra dan putri Mama, anak kembar Mama dan Papa. Ayo, Mama harus kembali bersama kami! Ayo, Ma!"
"Aku tidak punya anak, kalian siapa?"
"Huuuu... Huuuu...,"
"Mama jahat, Mama tidak sayang sama kami. Mama meninggalkan kami dan melupakan kami begitu saja. Mama jahat, hanya Papa Elkan yang sayang sama kami, bukan Mama!"
"Papa Elkan?"
Kedua anak kecil itu menangis dan berlari mengejar sang papa yang masih menangis melepas kepergian Yuna.
"Ayo, Pa! Bawa kami pergi dari sini! Kami tidak ingin melihat Mama lagi!"
__ADS_1
Elkan pun berbalik dan menggendong kedua anaknya, sementara Yuna masih terpaku di tempatnya berdiri.
Bersambung...