Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 157.


__ADS_3

Laura terperangah di dalam pelukan Reynold, nafasnya tersengal dengan keringat jagung yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Begitu juga dengan Reynold yang sudah kehilangan tenaga usai berpacu memuaskan hasrat istrinya itu. Laura dibuat menjerit berkali-kali saat benda keras itu menekan intinya tanpa henti.


Laura melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Reynold dan sebelahnya lagi menangkup pipi pria tampan itu. "Mas..."


"Hmm..." gumam Reynold dengan mata terpejam.


"Lihat aku Mas! Kenapa matanya malah ditutup?" pinta Laura sambil mengelus pipi suaminya itu.


Reynold membuka matanya perlahan dan menatap Laura dengan intim. "Iya, kenapa?"


"Apa Mas masih marah?" Laura menautkan alisnya. "Maafin aku ya Mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Demi Tuhan aku tidak ada perasaan apa-apa lagi sama Elkan, aku hanya belum siap berhadapan dengan mereka. Aku merasa bersalah karena sudah menyebabkan Yuna kecelakaan waktu itu."


Reynold mengerutkan keningnya. "Dari mana kamu tau bahwa Yuna pernah kecelakaan?"


"Aku ada di sana waktu itu." Laura menilik manik mata Reynold dan menghela nafas berat. "Waktu itu aku tidak tau kalau Elkan sudah menikah. Aku mendatanginya ke perusahaan dan Yuna melihatnya. Yuna salah paham dan berlari meninggalkan ruangan Elkan, saat itulah dia terjatuh. Aku benar-benar tidak sengaja, kalau aku tau Elkan sudah menikah, aku tidak mungkin datang menemuinya."


Reynold menyipitkan matanya dan menatap lekat manik mata Laura untuk mencari kebohongan, tapi tak menemukannya sedikit pun.


"Mas... Tolong percaya padaku! Sejak kejadian itu aku benar-benar sudah berusaha melupakan Elkan, aku tidak ingin menjadi orang ketiga diantara mereka. Itulah sebabnya aku pergi dari kota ini dan menetap di Bali."


"Aku berani bersumpah bahwa aku tidak mencintainya lagi. Aku sudah membuka hatiku untuk Mas, tolong jangan ceraikan aku! Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Mas, kemana aku akan pergi jika Mas mencampakkan aku? Tidak akan ada yang mau menerima janda lumpuh sepertiku,"


Laura terisak di dada Reynold, air matanya terus mengalir tanpa henti. "Aku akan menemui mereka setelah ini, aku janji. Tolong jangan ceraikan aku, aku sayang sama Mas!" imbuh Laura sambil memeluk Reynold dengan erat.


Reynold mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Sudah selesai bicaranya?" ucap Reynold yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Laura.


"Sudah, jangan cengeng! Mas tidak akan pernah menceraikan kamu, kamu istri Mas dan sampai kapan pun akan tetap menjadi istri Mas."


Reynold mendekap tubuh ringkih istrinya itu dengan erat, kemudian mengusap rambutnya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. "Maafin Mas ya, kemarin Mas emosi. Mas tau Mas salah, tidak seharusnya Mas berkata seperti itu. Mas sayang sama kamu, Mas juga tidak mau kehilangan kamu."


"Janji!" Laura mendongakkan kepalanya.


"Iya, Mas janji. Hanya kamu wanita yang Mas inginkan di dunia ini. Dari awal melihat kamu, Mas sudah berjanji akan menjadikan kamu satu satunya wanita di hidup Mas. Sekali lagi Mas minta maaf karena sudah menghancurkan masa depan kamu, malam itu Mas benar-benar tidak sadar. Mas-"


"Tidak usah membahas itu lagi, aku tidak marah ataupun menyesal. Mungkin itulah cara Tuhan untuk mempersatukan kita. Sekarang aku sudah jadi istri Mas, aku bahagia. Tolong jangan tinggalkan aku!" potong Laura.


"Tidak sayang, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu. Jadilah istri yang penurut!" balas Reynold.


"Iya, kalau aku sudah sembuh aku janji akan melayani Mas selayaknya seorang istri. Aku janji tidak akan membuat Mas marah lagi, aku sayang sama Mas." Laura mempererat pelukannya dan mengecup bibir Reynold dengan lembut.


"Mau lagi?" seloroh Reynold sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Mau, tapi nanti saja. Sekarang kita mandi dulu yuk, aku mau turun menemui mereka semua!" jawab Laura.


"Kamu yakin?" Reynold mencoba memastikan.


"Iya, aku yakin. Tidak ada gunanya bersembunyi seperti ini. Nanti saat di bawah, Mas jangan jauh-jauh dari aku ya!" pinta Laura.


"Oke, Mas tidak akan jauh-jauh. Bila perlu Mas akan mengikatmu di pinggang Mas." seloroh Reynold sambil tertawa terbahak-bahak.


"Apaan sih Mas? Tidak begitu juga kali," Laura mengerucutkan bibirnya hingga membuat Reynold gemas dan melu*matnya penuh kelembutan.


Sekarang kekhawatiran di hati Reynold sudah lenyap setelah mendengar pengakuan istrinya itu. Dia kemudian turun dari ranjang dan menggendong Laura ke dalam kamar mandi.


"Mas mandiin ya!" tawar Reynold setelah mendudukkan Laura di atas kursi plastik.


"Iya," angguk Laura sambil tersenyum. Dia tidak malu lagi meski dalam keadaan polos sekalipun. Untuk apa malu? Reynold bahkan sudah mencicipi tubuhnya tanpa ada yang terlewat.


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya istri Tuan tampan Reynold." seloroh Reynold yang kembali tertawa terbahak-bahak.


"Ish, kepedean banget sih. Tampan dari mananya?" ledek Laura sambil menjulurkan lidahnya.


"Jangan melet-melet gitu, nanti Mas gigit baru tau rasa." goda Reynold sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ogah," Laura membulatkan matanya hingga membuat tawa Reynold lenyap seketika.


Di bawah sana, Aditama dan yang lainnya baru saja pulang dari lari maraton mereka. Kebetulan Yuna membeli sarapan pagi di warung yang ada di gerbang kompleks.


Ada lontong sayur, bubur ayam, nasi uduk dan beberapa macam sarapan pagi lainnya.


"Minah, tolong dihidangkan ya! Kami mau mandi sebentar," ucap Yuna setelah menaruh dua kantong kresek itu di atas meja makan.


"Baik Nyonya," jawab Minah sambil menganggukkan kepalanya.


Minah berjalan menuju meja makan, lalu menyalin satu persatu makanan itu ke dalam piring dan menatanya di atas meja. Dia juga meletakkan nasi goreng yang baru saja dibuatnya lengkap dengan telur mata sapi, kerupuk udang, sosis dan nugget goreng. Lalu Minah menyeduh kopi dan teh di dalam ketel dan menaruh beberapa cangkir kosong di atas sana.


Setengah jam kemudian, Aditama sudah keluar dari kamar dan disusul oleh Beno dan juga Reni. Sembari menunggu Elkan dan Reynold turun, mereka bertiga duduk di sofa ruang tengah lebih dulu.


Di atas sana, Reynold dan Laura sudah sama-sama rapi dan wangi. Reynold kemudian menggendong Laura turun menuju lantai bawah.


"Pagi Yah, Beno, Reni," sapa Reynold dengan senyuman yang sungguh menawan.


Hal itu membuat Beno mengerutkan keningnya, air muka Reynold nampak berbeda sekali dari semalam. Beno yakin sudah terjadi pertempuran panas diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Pagi Yah, Beno, Mbak," sapa Laura setelah didudukkan Reynold di atas sofa.


"Pagi sayang, bagaimana kakinya?" jawab Aditama dengan pertanyaan pula.


"Sudah jauh lebih baik Yah," sahut Laura sedikit gugup.


"Syukurlah kalau begitu, semoga secepatnya kamu bisa jalan lagi seperti semula." balas Aditama.


"Aamiin," jawab Laura dan Reynold bersamaan.


Laura terus saja menggenggam tangan Reynold dengan erat, bagaimanapun dia masih canggung bertemu Elkan dan Yuna nantinya. Reynold yang menyadari itu berusaha menenangkan Laura sambil menepuk-nepuk punggung tangannya.


"Kenalkan, ini istriku Reni." Beno memperkenalkan Reni pada Laura.


Laura mengulurkan tangannya. "Senang bertemu dengan Mbak, saya Laura."


"Jangan panggil Mbak, panggil Reni saja!" Reni mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Laura.


Tidak lama, Elkan turun dari tangga sembari menggendong Edgar dan Yuna nampak menggendong Elga menuju ruang tengah.


"Pagi semuanya," sapa Yuna dengan senyuman penuh kebahagiaan.


"Pagi sayang," sahut Aditama dengan senyuman yang sama.


Elkan dan Yuna bergeming saat mendapati Laura yang tengah duduk di samping Reynold. Keduanya saling melirik untuk sesaat dan memilih duduk di hadapan mereka semua.


"Ini Mbak Laura ya, cantik sekali. Kenalkan, aku Yuna adiknya Reynold." Yuna mengulurkan tangannya tanpa beban sedikit pun.


"Laura," sahut istri Reynold itu sambil menjabat tangan Yuna.


"Pantas saja Reynold sampai tergila-gila sama Mbak, orangnya cantik begini." seloroh Yuna mencairkan suasana.


"Terima kasih, kamu juga cantik." sahut Laura dengan muka memucat, dia masih belum berani menatap wajah Elkan yang tengah duduk di samping Yuna.


"Bagaimana kakimu?" Elkan akhirnya membuka suara.


"Sudah membaik, kata dokter hanya butuh waktu agar pulih seperti semula." jawab Laura gugup.


"Syukurlah," balas Elkan dengan santainya, lalu kembali fokus dengan Yuna dan si kembar.


"Ya sudah, sekarang kita semua sarapan dulu. Ayah sudah lapar, bicaranya nanti saja dilanjutkan!" Aditama mengajak semuanya ke meja makan menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2