
Usai menyusui kedua buah hatinya, Yuna meninggalkan mereka dan turun ke bawah. Kebetulan Sari sudah menunggu di ruang tengah, mereka berdua berfoto di depan dekorasi syukuran si kembar tadi siang. Tak lupa juga Sari mengambil video singkat mereka berdua.
Setelah itu mereka meninggalkan ruang tengah dan bergabung dengan anggota keluarga lain yang masih duduk di area outdoor.
Melihat Yuna yang sudah keluar dari rumah, Diah dan Lili langsung bangkit dari duduk mereka. Keduanya meninggalkan acara dan memilih menemani si kembar di kamar mereka. Lagian mereka berdua merasa tidak cocok duduk di acara itu, acara orang kaya yang membuat mereka terlihat sangat canggung.
Tidak lama, Aditama juga ingin pergi meninggalkan acara. Tubuhnya sudah sangat lelah sehingga ingin beristirahat secepatnya. Yuna pun mengantarkan sang ayah ke kamarnya.
Setelah kembali, Yuna duduk bersama Sari dan Amit. Sementara Elkan, Beno dan Reni tengah asik berbincang dengan para tamu penting di depan sana.
Awalnya Yuna terlihat biasa saja, lama kelamaan dia mulai suntuk dan ingin meninggalkan acara. Lagian dia tidak merasa diperlukan lagi di sana. Acara inti sudah selesai dan satu persatu para tamu sudah mulai meninggalkan rumah mereka.
Saat Yuna hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba suara Elkan membuat langkahnya terhenti. "Mau kemana sayang?"
Yuna berbalik dengan wajah datar bak jalan tol. "Mau ke atas, sudah waktunya istirahat."
Elkan mengerutkan keningnya. "Kok ke atas sih, temani Abang dulu menjamu tamu!"
"Kan udah selesai, siapa lagi yang mau dijamu? Lagian Abang kan udah mengenalkan aku tadi, untuk apa lagi aku di sini?" ketus Yuna.
Dia merasa kesal karena hampir setengah jam duduk tapi tidak diacuhkan oleh suaminya itu. Elkan malah sibuk sendiri dengan tamunya.
"Kok ngomongnya gitu?" Elkan meraih tangan Yuna dan membawanya ke dalam dekapan dadanya. "Maafin Abang ya, tadi Abang pikir Yuna masih di atas sama si kembar." imbuh Elkan.
Yuna memajukan bibirnya beberapa senti. "Ini mau ke atas, Abang pergi aja. Gak usah peduli sama aku, mereka lebih penting bagi Abang kan?"
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan. "Bodoh banget sih, mereka itu tamu penting Abang. Induk perusahaan, kolega dan rekan bisnis. Kalau gak ada mereka, mana mungkin perusahaan kita bisa maju. Sedangkan Yuna itu hidup Abang, kalau gak ada Yuna Abang bisa mati."
__ADS_1
"Apaan sih Bang? Kok ngomongnya gitu?" Yuna lagi-lagi memanyunkan bibirnya.
"Makanya jangan bodoh! Masa' gitu aja marah, tadi Abang kan gak tau kalau Yuna udah turun." Elkan mengusap rambut Yuna dan mengecup keningnya. "Sekarang ikut Abang ya, banyak yang nanya Yuna tadi." imbuh Elkan.
Usai mendengar penjelasan Elkan, seringai tipis melengkung di sudut bibir Yuna. Dia melingkarkan tangannya di lengan Elkan, lalu keduanya menghampiri para tamu.
Elkan mengenalkan Yuna kepada satu persatu tamu penting yang masih tinggal di acara itu. Yuna mengulurkan tangannya sembari tersenyum mengenalkan dirinya.
"Ternyata Bu Yuna lebih cantik dari yang kami lihat di media sosial, pantas saja Pak Elkan terpikat dengan Ibu." sanjung Pak Romi.
"Hehe... Biasa aja Pak, mungkin sudah jodohnya." jawab Yuna tersipu malu.
"Jodoh yang sangat ideal. Pak Elkan tampan dan Bu Yuna cantik, pasti anak kalian berdua juga tampan dan cantik seperti kedua orang tuanya." puji Pak Dika.
"Kalian memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Semoga rumah tangga kalian senantiasa diberi kebahagiaan dan langgeng sampai maut memisahkan." timpal Pak Muji.
Setelah bercengkrama cukup lama, mereka bertiga juga berpamitan mengikuti para tamu lainnya. Elkan dan Yuna menyalami mereka, begitupun dengan Beno dan Reni. Tamu yang lain juga ikut pamit setelah itu.
Tepat pukul 11 malam, kediaman Elkan sudah sepi. Hanya tinggal pelayan dan petugas lain yang bertanggung jawab membereskan sisa-sisa pesta tersebut.
Saat mereka berempat ingin masuk ke dalam rumah, mendadak seorang satpam memanggil Yuna hingga langkahnya terhenti. "Tunggu Nyonya!" Elkan, Beno dan Reni juga ikut menghentikan langkah mereka.
"Maaf Nyonya, ada seorang pria yang mencari Nyonya di luar sana." ucap sang satpam.
"Siapa?" tanya Elkan dengan tatapan curiga, keningnya terlihat mengerut.
"Saya juga tidak tau Tuan, orangnya tampan, tinggi, seperti aktor film. Katanya, dia ingin bertemu dengan Nyonya. Dia juga bilang sangat merindukan Nyonya. Dia minta maaf karena datang terlambat." jelas sang satpam.
__ADS_1
Mendadak air muka Elkan berubah gelap. Dia menilik wajah Yuna dengan tatapan tajam dan menyala. Yuna yang melihat itu bergidik ngeri dan mundur beberapa langkah. Dia sangat takut melihat ekspresi Elkan yang jelas sekali menunjukkan kemarahan, tapi Yuna sendiri tidak tau siapa pria itu.
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku gak-"
"Gak apa...?" potong Elkan sebelum Yuna selesai berbicara.
"Elkan, kenapa musti marah? Mungkin Yuna emang gak tau siapa pria itu. Dari pada asal tuduh, lebih baik lihat dulu siapa orangnya!" timpal Beno.
"Kau saja yang lihat!" Elkan menghadap Beno untuk sesaat, kemudian menatap Yuna kembali. "Awas aja kalau aku tau bahwa pria itu mencari mu karena ada sesuatu diantara kalian!" ancam Elkan dengan tatapan buas seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
Yuna menekuk wajahnya, dia tidak berani menatap wajah Elkan walaupun sedetik. Dia sendiri tidak tau siapa pria itu, bisa-bisanya Elkan mencurigainya tanpa alasan yang jelas.
Beno menyuruh Reni masuk ke dalam rumah bersama Yuna, kemudian dia berjalan menuju gerbang. Beno sendiri penasaran siapa pria itu, tapi dia sama sekali tidak percaya kalau Yuna memiliki pria lain di luar sana. Setahunya Yuna bukan tipe wanita seperti itu.
Sesampainya di luar gerbang, Beno malah tersenyum saat mendapati seorang pria yang dia kenal sebelumnya. Segera Beno meminta satpam membukakan pintu gerbang dan menyuruhnya masuk ke dalam.
Setelah mobil Aston Martin itu masuk ke pekarangan rumah, Beno langsung menyuruh satpam menutup pintu gerbang.
Seorang pria berperawakan tinggi gagah turun dari mobil sport tersebut. Beno langsung menyambutnya dan mereka pun saling berjabat tangan.
"Ternyata aku terlambat, sepertinya acara sudah selesai." ucap pria itu merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa terlambat dari pada tidak datang sama sekali." jawab Beno sambil tersenyum, kemudian membawa pria itu masuk ke dalam rumah.
Di dalam, suasana hati Elkan masih dipenuhi kecurigaan yang tidak mendasar. Tatapannya masih sama seperti tadi. Cemburu, tentu saja. Dia tidak ingin Yuna didekati oleh pria manapun. Hanya dia yang berhak atas diri Yuna begitupun sebaliknya. Baru kali ini hatinya dibuat tidak karuan seperti ini.
Bersambung...
__ADS_1